
Happy Reading...
_________
Hari telah berganti malam, surya matahari kini telah berubah menjadi surya rembulan. Malam yang begitu syahdu, gema sholawat terus beradu dengan di iringi alunan musik dari terbang yang di hasilkan dari tangan para santri yang menyambut malam bahagia di pernikahan Aisyah.
Semua tampak berbahagia menyambut hari yang sakral dan sangat suci ini, semua begitu antusias. Senyum dan tawa terpancar jelas di wajah semua orang yang mengikuti acara itu semua sudah menempati tempat mereka masing-masing begitu juga dengan para tamu.
Dengan gaun berwarna putih, selendang panjang dari atas kepala yang menjuntai ke bawah menambah anggun dan juga indah, di tambah lagi dengan mahkota berwarna silver yang bertengger manis di atas kepala Aisyah juga beberapa bunga melati sebagai pelengkap penampilan dirinya.
Aisyah terlihat begitu cantik, dia benar-benar seperti bidadari yang memancarkan sinarnya di hari pernikahan ini, meskipun tercetak jelas semburat kecewa namun itu tak berarti sama sekali karena tertutup dengan semua kelebihannya.
Aisyah baru saja selesai di rias, bahkan sang perias juga sudah pergi meninggalkan dia sendiri di kamarnya. Aisyah tidak akan keluar sekarang tentunya, karena dia akan keluar setelah dia di jemput sendiri oleh suaminya yang sudah sah.
Aisyah duduk terdiam, menatap pantulan dirinya sendiri dari kaca rias yang besar. Aisyah sangat memuji keindahan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini, semua pas sesuai dengan takarannya, hidung mancung, mata bulat, alis begitu indah, bibir kecil yang terlihat manis dan juga wajahnya yang sangat sempurna.
Aisyah tersenyum pilu, apa yang dia miliki ini nantinya akan di miliki oleh orang yang sama sekali tidak ada di dalam hatinya.
Tak dia sengaja, air mata lolos begitu saja dari matanya. Sedih? Itu pasti sangat dia rasakan. Apa yang terjadi sebentar lagi bukan dari bagian mimpi yang ingin dia wujudkan.
"Wajah ini, bibir ini, mata ini, hidung dan semua ini, sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, Bang. Sebentar lagi bang Rico tidak akan di halalkan untuk melihat semua ini, karena sebentar lagi ini menjadi milik Kak Farel."
Tangan aisyah terangkat menunjuk satu persatu anggota tubuh yang dia sebutkan. Ucapannya terdengar sangat sendu tak mengisyaratkan kebahagiaan sebagaimana pengantin semestinya yang akan selalu bahagia.
Aisyah membiarkan air matanya terus mengalir deras tak peduli lagi dengan riasan yang akan rusak atau wajahnya nanti akan terlihat buruk.
Waktu sudah semakin dekat dengan berlangsungnya acara ijab qobul, suara sholawat telah berhenti berganti dengan suara pembukaan untuk acara malam ini.
Aisyah yang mendengar hanya terus diam dalam tubuh yang lemah dan tak kuasa, Aisyah melipat tangan di atas meja lalu menempelkan salah satu pipinya di sana. Namun telinganya terus mendengar dari semua kata dari tempat acara berlangsung.
Meskipun tidak begitu dekat namun Aisyah bisa mendengarkannya dengan sangat jelas, karena dipasang sebuah pengeras.
__ADS_1
"Ikhlas... Ikhlas... Ikhlas... "
Hanya satu kata itu yang terus keluar dari bibir Aisyah hingga berkali-kali. Dia terus mengatakan itu dengan di iringi air mata yang mulai membasahi gaun tepat di lengannya.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘫𝘢𝘣 𝘲𝘰𝘣𝘶𝘭 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? "
Terdengar suara yang sangat keras masuk ke dalam telinga Aisyah membuatnya menutup mata seketika.
"Ikhlas ikhlas ikhlas... "
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. "
Jawaban dari Rayyan membuat jantung Aisyah terasa ingin berhenti berdetak. Dadanya terasa sangat sesak, nafasnya begitu susah. Aisyah semakin sesenggukan karena begitu menderita dengan takdir yang sebentar lagi akan dia dapatkan.
Rasanya Aisyah ingin menutup telinga supaya dia tidak bisa mendengarkannya, namun dia sadar meskipun dia menutup mata dan telinganya dia akan tetap sah menjadi istri dari orang yang akan mengucapkan ijab qobul sebentar lagi.
"𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯, 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢? " 𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘭𝘶.
"𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢. " 𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯.
"Papa, kenapa papa begitu tega dengan Aisyah."
"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢. " 𝘗𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.
"𝘏𝘦𝘮... "
Aisyah begitu tegang dengan acara ini,"Sebentar lagi, sebentar lagi aku harus mengubur mimpi ku dalam-dalam, mimpi bersama bang Rico. Selamat tinggal bang, selamat tinggal."
Apalagi yang bisa Aisyah katakan, dia tak bisa berkata-kata lagi setelah itu.
"𝘈𝘯𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘍𝘦𝘳𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯 𝘚𝘶𝘮𝘢𝘳𝘯𝘰, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘙𝘢𝘩𝘮𝘢 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘣𝘪𝘯𝘵𝘪 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳, 𝘛𝘶𝘯𝘢𝘪! "
__ADS_1
"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘙𝘢𝘩𝘮𝘢 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘣𝘪𝘯𝘵𝘪 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳, 𝘛𝘜𝘕𝘈𝘐. "
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪, 𝘴𝘢𝘩? "
"𝘚𝘈𝘏𝘏.... "
𝘈𝘓𝘏𝘈𝘔𝘋𝘜𝘓𝘐𝘓𝘓𝘈𝘏....
Mata Aisyah terbelalak mendengar ijab qobul yang terdengar barusan, Rico Ferdian? Bukankah seharusnya adalah Farel Arkana? Apakah Aisyah salah dengar karena dia terlalu berharap Rico yang mengatakan itu, apakah Aisyah tengah berhalusinasi? Apakah Aisyah mulai tidak waras sekarang?.
"Aku pasti salah dengar, tidak mungkin bang Rico yang menikahi ku, tidak mungkin," Aisyah menggeleng kasar dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku sudah mulai gila. Hem.. Hem... Aku sudah mulai gila.. " Aisyah memegangi kepalanya sendiri dengan kuat, dia pikir kalau dia mulai tidak waras, dan akhirnya dia akan gila hanya karena cinta.
"Aku gila, aku gila.. " Tangisan Aisyah semakin pecah dengan tangan yang terus menekan kepalanya sendiri, "aku sudah gila... Hiks.. Hiks.. Hiks..., aku gila.. "
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
Pintu di ketuk dari luar mungkin itu adalah suami Aisyah yang sah, yang baru saja mengikrarkan ijab qobul.
Pelan-pelan Aisyah melepaskan tangannya, dia mulai berdiri, memandangi pintu kamarnya itu yang perlahan mulai terbuka. Aisyah terus diam, dia sama sekali tak mengaca lagi entah seperti apa dirinya sekarang.
"Assalamu'alaikum... "
Mata Aisyah menatap dengan lebar, ternyata dia benar-benar salah dengar tadi. Karena yang datang adalah Farel yang lengkap dengan jubah putih yang serasi dengan gaun yang Aisyah pakai.
"Wa- Wa'alaikumsalam... "
"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳. " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘪𝘭𝘶.
__
__ADS_1
𝘉𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨...
______