Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
135. Ke Taman Baru


__ADS_3

Happy Reading..


___


Tak terlalu jauh Iqbal membawa Shelvia pergi hanya di suatu taman yang tak jauh dari kota. Tepatnya taman yang baru beberapa hari di buka, namun sudah terlihat tertata rapi jika dilihat, bahkan di beberapa titik masih terlihat para pekerja yang sedang mengerjakannya menanam bunga.


Udah nya memang lebih sejuk di banding di kota, ya karena tempat itu bisa di sebut tempat yang hampir di pedesaan.


Shelvia yang berjalan di depan sangat menikmati tempat itu, benar-benar sangat indah di pandang mata dan begitu memanjakan paru-parunya dengan oksigen gratis yang begitu banyak tersedianya.


Iqbal terus membuntuti kemana Shelvia melangkah, dia akan bahagia jika gadisnya itu bahagia tentunya.


"Bagaimana, apa kamu suka tempat ini?" tanya Iqbal penasaran.


Shelvia mengangguk sembari menoleh, senyum yang keluar membuat Iqbal begitu bahagia. Tak sia-sia dia mengajak Shelvia datang ke tempat yang baru ini, yang belum banyak orang yang tau.


"Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya," jawab Shelvia begitu antusias.


Shelvia kembali berjalan, kembali fokus dengan keindahan yang ada di hadapannya.


Iqbal terdiam sejenak hingga akhirnya dia kembali berbicara dan membuat Shelvia terdiam dan bingung, "bagaimana dengan orang yang mengajakmu ke sini, apa kamu juga menyukainya? tanyanya.


"Hem..," Shelvia terdiam, dia berusaha mencerna kata-kata yang terucap dari Iqbal barusan. Cukup bingung untuk Shelvia menjawabnya, dia belum tau sebenarnya seperti apa hatinya, Entah menyukainya atau tidak, yang jelas Shelvia merasa nyaman saat berada di dekat Iqbal.


Mungkin Iqbal suka resek, dia suka mengatakan hal-hal yang tak wajar menurutnya tapi itu tak menutup kenyataan kalau Shelvia nyaman dengan itu semua.


"Apa kamu menyukai orang yang mengajakmu ke sini juga?" tanya Iqbal mengulangi ucapannya.


Iqbal membutuhkan jawaban dari Shelvia, dia ingin tau sebenarnya seperti apa hatinya entah suka atau sebaliknya. Apapun yang ada pada Shelvia Iqbal akan menerimanya dengan lapang dada.


"Aku..., aku..., aku belum tau," jawab Shelvia dengan wajah tertunduk dan menghentikan langkahnya.


Iqbal kembali melangkah dan berhenti di hadapan Shelvia yang masih tak mau mengangkat wajahnya. Dengan begitu intens Iqbal terus memandangi Shelvia namun gadis itu masih malu dan tetap tak mau menatap nya.


"Mungkin kemarin-kemarin aku hanya bercanda, Via. Tapi tidak untuk sekarang, aku ingin serius menjalin hubungan dengan mu, aku ingin kita bersatu seperti Rico juga Aisyah. Aku ingin kita juga bahagia seperti mereka," ucapan Iqbal terjeda.

__ADS_1


Iqbal menarik nafas dalam sebelum dia kembali melanjutkan kata-katanya di hadapan sang pujaan hati. Mengatakan maksud dan tujuannya mengajaknya datang ke tempat yang indah ini, karena Iqbal berharap akan ada akhir yang indah setelah mereka pulang dari sana.


Iqbal berlutut di hadapan Shelvia tangannya mengambil sesuatu yang ada di sakunya entah apa yang dia ambil.


Setelah Iqbal sodorkan dengan tangan yang terangkap di hadapan Shelvia baru bisa di ketahui itu benda apa. Sebuah kotak kecil berbahan kain beludru berwarna merah. Iqbal membukanya pelan, dan terlihatlah sebuah cincin permata yang duduk manis di dalamnya. Permata nya sontak bersinar saat terkena pancaran matahari sore, atau seakan permata itu tersenyum melihat Shelvia yang masih diam dengan penuh keraguan.


"Shelvia Anggraini, maukah kamu menjadi bidadari ku di dunia hingga di akhirat kelak? membangun bahtera rumah tangga yang indah laksamana nya surga? " ucap Iqbal.


Wajah Iqbal masih terus terangkat, karena Shelvia menunduk akhirnya netra bulat mereka saling bertemu satu sama lain.


"Apakah kamu mau menjadi bagian hidupku? menjadi tulang rusukku satu-satunya hingga sampai Jannah-Nya?"


"𝘒𝘢𝘬 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭, 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘬𝘶? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪?...., 𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶, " batin Shelvia bingung.


Shelvia masih diam membisu, tangannya terus memainkan tali tasnya. Sementara Iqbal, dia kini juga diam menunggu jawaban dari Shelvia. Tekatnya sudah bulat, ini adalah waktu yang tepat untuknya dia tak mau memperpanjang lagi penantian ini, dia ingin secepatnya mengakhiri hal yang belum pasti menjadi sebuah kepastian.


"Shelvia Anggraini?" Iqbal semakin tak sabar, bukan karena dia lelah berlutut di hadapan Shelvia, melainkan dia tak sabar dengan jawaban yang akan dia dengar.


"A-aku...?" ucapan Shelvia tersendat. Dia masih butuh keyakinan di dalam hatinya.


"Jika kak Iqbal serius, datang lah ke rumah beserta orang tua, Kak Iqbal. Minta baik-baik pada Mama juga Papa. Jika mereka merestui Shelvia akan bersedia," sambungnya.


Meskipun belum mendapatkan jawaban yang jelas dan pasti Iqbal sangat senang kali ini, seenggaknya dia sudah mendapatkan lampu hijau dari Shelvia sendiri dan tinggal orang tuanya saja yang Iqbal yakini juga akan merestuinya.


"Baik, aku akan segera datang ke rumah dengan Mama. Aku akan melamar mu dengan baik-baik dan akan segera membawamu pulang, menjadikan nyonya Iqbal selamanya," ucap Iqbal percaya diri.


"Tapi saya mohon, terima cincin ini. Simpanlah dengan baik, jaga cincin itu sampai aku datang dan memakainya padamu di saat yang sudah tepat," pinta Iqbal.


"Tapi, Kak? " Shelvia masih terlihat ragu. Meski dia hanya menyimpannya saja tapi rasanya ada sebuah beban tanggung jawab yang harus dia penuhi.


"Aku mohon," Iqbal begitu memohon pada Shelvia, berharap Shelvia mau menerima dan menyimpannya sebelum dia bisa memakainya.


"Hem.. " Shelvia tersenyum, tangannya terulur mengambil kotak cincin itu dari Iqbal, "aku akan menyimpannya," ucapnya.


Iqbal begitu bahagia hatinya tengah berbunga-bunga karena Shelvia mau menerima cincin pemberiannya. Senyum Iqbal begitu lepas hatinya terus berseru '𝘺𝘦𝘴 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢' dan kedua kata itu terus dia ulang-ulang dalam hatinya.

__ADS_1


Cie cie cie....!


Suara keras dari pengunjung lain mengejutkan keduanya, membuat Shelvia juga Iqbal malu. Wajah Shelvia kembali tertunduk dengan pipi yang merona sementara Iqbal kini berdiri, meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Halalin, Bang! bawa ke penghulu secepatnya! " terdengar teriakan lagi membuat keduanya semakin salah tingkah.


Iqbal menoleh ke sumber suara di lihatlah seorang ibu-ibu yang menuntun anaknya yang masih kecil. Iqbal mengangguk dengan malu-malu membuat ibu itu juga tersenyum karena nya, "Bu.. " sapa Iqbal dengan ragu. Ya anggap saja tak ingin di cap sebagai orang yang sombong jadi menyapa sedikit tak masalah.


Ibu itu kembali tersenyum.


"Mari, Bu," pamit Iqbal dengan anggukan kecilnya.


Iqbal hendak merangkul pundak Shelvia untuk mengajak pergi dari sana, awalnya Shelvia diam karena belum merasakan tangan Iqbal menyentuh bahunya, namun setelah berhasil tersentuh Shelvia langsung berjalan cepat menghindar dari Iqbal.


"Lah! kok di tinggal! " ucap Iqbal terkejut.


Shelvia terus nyelonong maju terus tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan Iqbal yang sadar dan akhirnya mengejar dia juga.


"Maaf, tadi reflek," ucap Iqbal menyesal.


"Hem.. " jawab Shelvia memaklumi. Karena bukan hanya Iqbal saja yang grogi dan salah tingkah sekarang tapi Shelvia juga sama sepertinya. Bahkan jantung Shelvia masih terus senam sore hingga sekarang.


"Aku mau pulang," ucap Shelvia.


"Baik, aku akan antar kamu pulang? kamu pulang ke mana, ke pesantren atau ke rumah?" tanya Iqbal.


"Ke rumah," jawab Shelvia yang masih enggan untuk melihat Iqbal.


"Hem.. "


___


Bersambung...


_________

__ADS_1


__ADS_2