Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
149. Cemburu


__ADS_3

Happy Reading...


______


Sesampainya di rumah sakit lagi-lagi Shelvia ingin di gendong oleh Alfian, tapi kali ini seperti tidak akan terjadi karena pria yang mencintainya datang dan buru-buru mendekati mobil Alfian.


"Biar saya saja yang menggendong Via," ucap Iqbal. Dengan cepat Iqbal menerobos Alfian begitu saja saat ingin menggendong Shelvia, mana mungkin Iqbal akan membiarkan pria lain menyentuh gadisnya untuk kedua kali dan tepat di depan matanya, tak akan lagi.


"Kamu siapa?" tanya Alfian. Bingung juga si Alfian, dia tidak mengenal pria ini dan tiba-tiba datang dan memaksa untuk menggendong Shelvia. Bagaimana mungkin Alfian akan diam saja, tidak kan?


Shelvia diam memandangi keduanya bergantian, pasti akan salah paham kan karena perlakuan lembut dari Alfian. Dan benar saja, Iqbal terlihat sangat cemburu berat karena itu.


"Saya calon suaminya. Kenapa, apa ada masalah?" Iqbal balik tanya. Perkataannya terdengar sangat angkuh mungkin karena cemburu melanda hatinya yang tengah terbuai akan cinta.


"Oh, seharusnya kamu bilang dari tadi kalau kamu adalah calon suaminya. Jadi saya tidak akan membiarkan Shelvia lama-lama di sini, dia harus segera di obati," ucap Alfian. Sudut bibir pria itu terangkat dia tau apa yang tengah terjadi pada Iqbal. Dia salah paham padanya dan Shelvia.


"Maaf," jawab Iqbal. Iqbal hendak mengangkat Shelvia tapi gadis itu sepertinya sungkan, "kenapa? apa kamu tidak mau aku gendong?" tanya Iqbal pada Shelvia, wajahnya langsung masam begitu saja, kenapa Shelvia tidak mau dia gendong sementara tadi dia mau begitu saja saat Alfian yang menggendongnya.


"Bukan seperti itu, Kak," jawab Shelvia, sebenarnya bukan itu yang Shelvia takutkan, tapi ya sudah lah daripada Iqbal akan marah dan salah paham nantinya, dan kali ini Shelvia menurut saja saat Iqbal mau mengangkatnya.


Iqbal membawa Shelvia ke dalam, baru saja masuk sudah ada Airin yang melihatnya. Airin begitu terkejut saat melihat Shelvia yang di gendong oleh Iqbal.


"Astaghfirullah hal 'azim. Sayang, kamu kenapa?!" tanya Airin yang terlihat panik. Airin langsung menghadang mereka dengan wajah yang khawatir.


"Tadi Shelvia jatuh dari motor, Tan." jawab Alfian yang juga ikut masuk.


Sebenarnya David merasa tak nyaman dengan kedatangan Alfian, kenapa juga dia harus ikut masuk sih, membuat hati Iqbal benar-benar di landa kekacauan.


"Kok bisa sih, Sayang." ucap Airin. Tangannya sambil menuntun David untuk membawa Shelvia masuk ke dalam ruangan untuk mendapatkan pengobatan.


Iqbal menurunkan Shelvia dengan sangat pelan, dan setelah itu Airin meminta Iqbal juga Alfian untuk keluar. Karena tak mungkin mereka tetap berada di dalam saat Airin melihat luka di kaki Shelvia, itu akan memperlihatkan auratnya kepada keduanya.


"Lebih baik kalian tunggu di luar sebentar, biar tante memeriksa Shelvia," ucapnya dengan penuh harap.


Keduanya langsung ikut saja apa yang Airin katakan. Sebenarnya Iqbal ingin tetap di sana menunggu Shelvia di periksa dan melihat kalau dia benar-benar baik-baik saja, tapi Iqbal tak mau sampai Alfian juga bersikeras nantinya dan ikut melihat aurat Shelvia juga.


"Baik, Tante," jawab Iqbal.


Airin mengangguk dan kedua pria itu benar-benar keluar dari ruang itu.


"Kenapa bisa seperti ini sih, Sayang." tanya Airin. Perlahan-lahan Airin membuka sepatu flat yang Shelvia pakai, melepaskan kaus kakinya juga dan melihat ada beberapa luka yang mengeluarkan darah di sana.

__ADS_1


Shelvia terus meringis saat Airin mulai mengobatinya, rasanya sangat perih. Sesekali Shelvia juga menarik kakinya karena tak tahan dengan rasa sakitnya.


"Sebentar lagi, Sayang," ucap Airin.


"Cerita sama Mama, sebenarnya apa yang terjadi? " Airin begitu tak sabar, dia ingin mendengarkan langsung apa yang terjadi pada anak gadisnya itu.


"Tadi..., tadi Shelvia tidak kehilangan fokus saat mengendarai motor, Ma. Dan tak tau kalau di depannya ada lubang," suara Shelvia terdengar sangat menyesal tak seharusnya ini terjadi padanya. Apalagi kehilangan fokus saat mengendarai motor akan sangat berbahaya kan.


Untung saja Shelvia jatuh di saat jalan tidak terlalu ramai, kalau pas ramai kan lebih berbahaya lagi. Pasti akan sangat parah kan akhirnya.


"Astaghfirullah hal 'azim, Sayang. Besok-besok kamu tidak boleh seperti itu lagi ya, kalau sampai terjadi lagi maka Mama tidak akan perbolehkan kamu mengendarai motor, kamu harus di antar jemput oleh sopir saat ke kampus," ucap Airin.


Mana mungkin dia akan mengizinkan anaknya mengendarai motor lagi kalau dia tak bisa menjaga dirinya sendiri, Airin begitu menyayangi Shelvia dia tak ingin kehilangan.


"Maaf, Ma. Shelvia janji tidak akan mengulangi ini lagi. Ini adalah yang terakhir kalinya, Ma," jawab Shelvia. Dia benar-benar sangat menyesal, dia juga sadar ini tidak seharusnya terjadi tapi Shelvia juga tak mengerti saja kenapa dia tiba-tiba kehilangan fokus dan jatuh begitu saja hanya karena lubang kecil.


"Kamu harus hati-hati," sentuhan terakhir di berikan oleh Airin, dia sudah selesai membersihkan luka Shelvia, mengobatinya dan juga membalutnya dengan perban, "alhamdulillah, sudah," imbuhnya.


"Kamu istirahat dulu di sini nanti biar Papa yang mengantarkan kamu pulang. Sekarang Mama keluar dulu untuk memberitahukan keadaanmu dengan Iqbal, dia pasti sangat mencemaskan mu," ucap Airin. Airin membelai lembut pipi putrinya itu, tersenyum kecil baru dia benar-benar keluar.


"Iya, Ma." jawab Shelvia.


Shelvia merebahkan tubuhnya dengan tenang, meskipun jantungnya masih terus berdetak cepat karena masih terkejut tapi dia sudah lebih tenang sekarang.


____


"Shelvia baik-baik saja, Iqbal. Hanya luka luar saja, kalau lukanya kering juga sudah sembuh, kamu jangan terlalu mencemaskan nya ya, Shelvia akan baik-baik saja," jawab Airin.


"Apakah Iqbal boleh menemui Via, Tan?" tanya Iqbal sebagai izin.


"Boleh, silahkan." Airin langsung menyetujuinya.


"Terima kasih, Tan." Dengan cepat Iqbal masuk, dia sudah tak sabar ingin melihat keadaan Shelvia, meskipun Airin sudah mengatakan itu bukan luka yang besar tapi dia tetap khawatir.


"Assalamu'alaikum, Tan." sapa Alfian setelah Iqbal masuk ke ruangan Shelvia.


"Wa'alaikumsalam.. Kamu.., kamu Alfian kan! anaknya Mitha?! " sepertinya Airin juga sedikit lupa, maklumlah sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


"Iya, Tan." jawab Alfian.


"Subhanallah, sudah lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan Mamamu, dan kapan kamu kembali? "

__ADS_1


"Mama baik-baik saja, Tan. Saya kembali juga belum lama sih, baru beberapa bulan saja,"


"Hemm..., ada apa nih, tiba-tiba kembali, apa ada sesuatu yang ingin kamu kejar di sini? " tanya Airin menyelidiki, "masalah kerjaan, atau..., seorang gadis?"


"Apa sih, Tan. Masalah kerjaan kok, kebetulan Alfian di terima kerja di sini jadi datang ke sini. Tapi..., Tante juga tidak salah sih, Alfian sedang mengejar seorang gadis. Doain ya, Tan, semoga lancar," jawab Alfian.


"Amin, Tante selalu doain semoga kamu sukses dalam karier juga dalam percintaan mu,"


"Terima kasih, Tan." jawab Alfian.


_____


Shelvia terkejut saat melihat Iqbal yang masuk ke ruangannya, dengan cepat dia menyelimuti kakinya yang belum menggunakan kaus kaki.


"Kak Iqbal," Shelvia begitu terkejut.


"Bagaimana keadaan mu, kamu benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Iqbal, dia tak sanggup melihat gadisnya itu kesakitan, dia ikutan lemas begitu saja.


"Via baik-baik saja kok, Kak. Kata Mama juga lukanya akan cepat kering dan Via juga cepat sembuh," jawab Shelvia.


"Alhamdulillah," jawab Iqbal merasa tenang. "Hem.., Shelvia, pria tadi..? dia siapa? " wajah Iqbal seketika berubah masam lagi saat menanyakan tentang Alfian.


"Oh dia, dia kak Alfian. Dia anaknya sahabat Mama dan Papa." jawab Shelvia.


"Apa..., apakah kalian pernah ada perasaan..?" pertanyaan Iqbal begitu lirih mungkin karena dia sangat ragu untuk bertanya, tapi Shelvia tetap mendengarnya.


Shelvia tersenyum simpul, seperti Iqbal benar-benar salah paham padanya juga Alfian.


"Tidak, Kak. Kami tidak pernah ada perasaan apapun selain perasaan sayang sebagai adik dan kakak saja. Tidak lebih," ucapan Shelvia terdengar sangat meyakinkan, tapi kenapa Iqbal tetap tidak yakin, apa karena dia benar-benar tengah cemburu?


"Alhamdulillah kalau begitu," ucapnya di bibir, tapi sepertinya berbeda yang ada di dalam hatinya, "sekarang kami istirahatlah, aku akan menunggumu di sini."


"Apa kak Iqbal tidak bekerja? "


"Pekerjaan bisa nanti-nanti kan. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, jadi sekarang istirahatlah," ucapnya.


"Hemm... "


___


Bersambung...

__ADS_1


_____


__ADS_2