
____
Happy Reading..
"Assalamu'alaikum," ucap Farel saat masuk ke dalam Rumah kediaman Marco.
Farel datang tidak sendiri, dia datang dengan Felisha sebagaimana permintaan dari Nara untuk mengajaknya datang. Meskipun awalnya Felisha ragu tapi dia tetap menyetujui permintaan Farel padanya.
Felisha ingin sekali menjauh dari Farel, tapi selalu saja ada cara untuk mereka berdua di pertemukan. Mungkin memang itulah kehendak Tuhan kepada mereka berdua.
Farel berjalan di belakang Felisha, menggiringnya yang tadi tak mau masuk.
"Wa'alaikumsalam, eh kalian sudah datang, sini!" Nara yang kebetulan ada di ruang tengah langsung menyambut kedatangan mereka berdua. Tentunya juga dengan Ara, gadis kecil yang katanya sangat merindukan Felisha.
Ara yang melihat Felisha langsung menaruh mainannya, dia tersenyum, beranjak dari tempat dan berlari ke arah Felisha ternyata gadis kecil itu benar-benar ingin bertemu dengannya bukan orang lain yang ingin bertemu.
"Kak Feli!! " teriaknya begitu antusias. Ara langsung menubruk Felisha dan memeluknya dengan erat, kebetulan Felisha juga sudah berjongkok dan juga merentangkan tangan menyambut Ara.
Felisha langsung memeluk erat gadis kecil itu, mencium pipi gembulnya berkali-kali tentunya bergantian kanan dan kiri dengan seimbang.
"Kak Feli, Ara punya mainan baru loh! sini Ara kasih lihat," ucapnya dengan begitu lucu. Ara langsung melepaskan pelukannya dia menarik satu jari Felisha dan mengajaknya ke tempat dia bermain tadi.
Felisha mengangguk, yang jelas dia juga tersenyum begitu manis menyambut Ara dengan bahagia. Felisha berdiri, mengikuti kemana Ara akan membawanya.
Sebelum benar-benar melangkah Felisha menoleh sekejap ke arah Farel dan langsung mendapatkan senyum simpul juga anggukan kecil darinya.
"Hem," Felisha menjawab senyuman yang sama lalu benar-benar mengikuti Ara setelah itu.
Mata Farel tak diam begitu saja, dia masih terus mengamati gadis beda usia itu.
__ADS_1
"Dia cantik ya? dia juga sudah berubah tidak seperti waktu itu," ucapan Nara berhasil membangunkan Farel dari lamunannya. Farel tergagap dia tak mengatakan apapun tapi terlihat jelas kalau Farel salah tingkah karena kata-kata dari Nara.
Farel langsung melewati Nara pergi ke ruang tengah dan duduk di sana. Farel tak lagi memandangi Felisha juga Ara yang sudah asyik dengan mainannya, dia tak mau sampai Nara akan salah paham padanya.
"Kak, Kak Marco di mana? apa belum pulang dari kantor?" tanya Farel mengalihkan.
"Sebentar lagi dia pulang, katanya sudah ada di perjalanan," jawab Nara seraya melangkah menyusul dan akhirnya duduk di satu lingkar sofa yang sama.
Farel kembali diam dia hanya manggut-manggut sebagai tanda dia sudah mengerti.
Tak lama mereka diam seorang pembantu datang membawa minum juga camilan, menyajikannya untuk Farel juga Felisha yang ada di bawah, yang hanya duduk di lantai beralaskan tikar tebal.
"Di minum dulu sembari nunggu Mas Marco," ucap Nara kepada Farel, lalu beralih ke arah Felisha, "Feli, minum dulu," Imbuhnya.
"Iya, Kak," jawab Farel juga Felisha hampir bersamaan.
"Sudah mulai kompak nih ya," gurau Nara.
Begitu juga dengan Farel, dia juga belum ada rasa berlebih tapi ada sih sebatas mengagumi saja, itu karena Felisha yang benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik.
"Hem," Farel hanya menjawab dengan senyuman, matanya melirik ke arah Felisha yang sudah menunduk karena malu.
Farel beralih ke arah meja, tangannya mengambil cangkir berisi teh itu lalu meminumnya beberapa teguk saja, setelah itu dia kembali menaruhnya lagi.
"Assalamu'alaikum...! "
Semuanya menoleh dan ternyata Marco yang datang, wajah lelahnya terlihat jelas dan saat itu Nara langsung sigap kembali berdiri untuk menghampirinya.
"Wa'alaikumsalam...," jawab Nara. Nara berjalan dan berhenti tepat di depan Marco, menyambut tangan suaminya dan mengecupnya dan yang jelas mendapatkan kecupan sayang di keningnya oleh Marco, "Sini tasnya, Mas," Nara langsung meminta tasnya setelah itu juga membantu melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Pemandangan yang sangat indah bagi Farel juga Felisha. Meskipun mereka belum tau kelak akan berdampingan dengan siapa tapi keduanya berharap bisa seperti Nara juga Marco yang begitu romantis juga sangat harmonis.
"Papa! " Ara langsung berlari memeluk sang papa dan langsung di gendong olehnya, "Papa, lihatlah! Om Farel bawa pulang Kak Feli," ucap gadis kecil itu dengan suara yang terdengar sangat imut.
"Apa Ara senang? " tanya Marco.
Ara mengangguk cepat, dia sangat bahagia dengan kedatangan Farel juga Felisha.
"Papa, Kak Feli sama Om Farel akan tinggal disini kan?!" tanyanya, "nanti kalau Om Farel sama kak Feli tinggal di sini Ara ingin mereka tidur dengan Ara. Seperti Mama dan Papa yang tidur sama Ara."
"Nanti kak Feli berada di sebelah kiri Ara, terus Om Farel di sebelah kanan Ara, jadi Ara ada di tengah-tengah mereka. Bagaimana, Papa! Papa setuju kan?" celotehan dari anak kecil yang berhasil membuat Farel juga Felisha batuk dengan bersamaan.
ππ©πΆπ¬... ππ©πΆπ¬...
"Yah.. Kok kak Feli sama Om Farel batuk sih! Kalau batuk jadi nggak bisa tidur dengan Ara dong! " wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Kak Feli sama Om Farel tidak tinggal di sini, Sayang. Jadi Ara akan bobok sama Mama juga Papa," ucap Marco dengan begitu lembut.
"Ya... " Ara benar-benar di buat kecewa karena keinginan tidak bisa di penuhi.
Sementara Farel juga Felisha saling tatap, Farel merasa tak enak sedangkan Felisha terlihat sangat gugup.
"Bukankah mereka sangat cocok, Mas?" ucap Nara memberitahu pada Marco. Keduanya memandangi Farel juga Felisha.
"Mereka memang cocok, Sayang. Tapi biarkan mereka yang menentukan sendiri entah mereka jodoh atau bukan. Kita tak bisa memaksanya itu tidak akan baik akhirnya," jawab Marco.
"Kamu benar, Mas." Nara setuju dengan yang di katakan oleh Marco mereka memang tak pantas untuk ikut campur dengan urusan mereka berdua.
____
__ADS_1
Bersambung.