
Happy Reading...
Perlahan mata mulai mendengar suara dering ponsel yang tiada henti. Tangan Aisyah cepat meraihnya dan membenarkan posisi duduk dari yang semula setengah tiduran kini menjadi duduk sempurna.
Mata langsung mengernyit saat melihat di layar ponsel terdapat nomor yang tidak dia kenal. Aisyah ragu-ragu mengangkatnya karena dia masih merasa trauma dengan kejadian yang barusan menimpanya.
Aisyah yang tidak kunjung mengangkat membuat ponsel lagi-lagi suara dan kembali terdengar saat beberapa saat telah diam.
Rico yang juga merasa terganggu dia juga terbangun dan langsung membuka matanya lebar.
"Telepon dari siapa?" tanya Rico dan duduk mendekat ke arah Aisyah seraya melihat layar ponsel.
Aisyah mengangkat kedua bahunya dan menoleh kecil ke arah Rico, "tidak tahu, tidak ada namanya," jawab Aisyah sembari menunjukkan layar ponsel kepada Rico.
"Angkat saja siapa tahu penting," pinta Rico dan membuat Aisyah langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang lagi.
"Assalamu'alaikum, ini siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aisyah begitu formal.
"Wa'alaikumsalam. Apakah ini dengan keluarga dari pasien yang bernama Shelvia?" tanya orang dari seberang.
Aisyah menoleh ke arah Rico dengan cepat, "pasien? Shelvia?" Aisyah mengernyit, dia bingung mendengar ucapan itu dari orang yang ada di seberang.
"Ada apa dengan Shelvia ya? dan ini dengan siapa?" tanya Aisyah menekankan.
"Saya dari pihak rumah sakit memberitahu kalau pasien mengalami kecelakaan beberapa jam yang lalu. Dan saya mendapat nomor anda dari ponsel pasien, namun saya tidak bisa menghubungi dengan nomornya karena tiba-tiba ponselnya mati." jawabnya.
"Kecelakaan! dia di rumah sakit mana sekarang?" Aisyah langsung khawatir mendengar berita bahwa sepupunya itu mengalami kecelakaan.
"Pasien berada di rumah sakit Medika," jawabnya.
"Baik, saya akan segera ke sana sekarang. Tolong lakukan Apapun untuk saudara saya! Saya akan secepatnya ke sana!" suara Aisyah terdengar begitu tergesa-gesa bahkan tubuhnya juga mulai beranjak dari kasur. Dan saat itu juga telepon sudah berakhir.
"Ada apa?" tanya Rico.
"Shelvia, Bang. Dia mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit Medika. kita harus secepatnya ke sana," Aisyah begitu buru-buru.
Setelah mendengar penuturan dari Aisyah Rico pun juga cepat beranjak. Dia merasa bingung kenapa dia sampai melewatkan kejadian ini.
Kenapa dia tidak bisa melihat seperti biasanya. sungguh aneh. atau mungkin karena diam tengah tertidur? mungkin memang karena itu dia tidak bisa mendapatkan penglihatan apapun.
πππππππππππ
__ADS_1
Mata Shelvia perlahan mulai terbuka saat cahaya lampu yang tepat di atasnya itu di nyalakan. Dia sedikit bingung dengan mata perlahan mengamati segala titik ruangan.
"Aku di mana?"
Suara dari Shelvia berhasil menyadarkan wanita yang duduk di sofa dengan gelisah langsung mengangkat wajahnya.
Dengan tubuh yang gemetar dia mulai berdiri, berjalan pelan mendekati Shelvia.
"Ka-kamu berada di rumah sakit. Ka-kamu mengalami kecelakaan saat menolongku," suaranya terdengar sangat gemetar.
"Tan-tante tidak apa-apa kan?" suara Shelvia juga terdengar gemetar juga sangat lemah, mungkin dia memang benar-benar seperti itu.
"Sa-saya, saya baik-baik saja," jawab wanita itu yang tidak lain adalah Siska, mamanya Iqbal.
Ya, wanita yang di selamatkan oleh Shelvia adalah Siska. Dan demi menyelamatkan Siska berani mengorbankan dirinya sendiri sehingga dia harus merasakan sakit seorang sekarang.
Siska juga masih bingung sampai sekarang, dia sama sekali tak berani menghubungi siapapun termasuk orang tua Shelvia atau juga Iqbal yang tengah kebingungan mencari gadisnya di luar sana.
Siska begitu syok, sehingga dia tak bisa berpikir apapun sekarang. Dia merasa begitu tertekan dengan kejadian yang begitu cepat tadi.
"Tante, Tante tidak apa-apa kan?" tanya Shelvia mengulang.
"A-aku...," Siska kembali terdiam, dia merasa tak sanggup untuk berbicara lagi.
"Tante," suara Shelvia begitu lirih.
"Ke-kenapa kamu menolongku, bukankah aku sangat jahat kepadamu?" Siska mengangkat wajahnya, memandangi Shelvia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Shelvia tersenyum, diraihnya tangan Siska dengan pelan. Shelvia berusaha untuk mengecup punggung tangan Siska meski itu tidak mudah.
"Hem?" Siska terus mengamati senyum gadis itu, ingin sekali dia cepat menarik tangannya tapi entah kenapa ada rasa tak sampai.
"Karena aku sayang sama tante," senyum manis kembali keluar dari bibir Shelvia. Dan berhasil membuat Siska merasa sangat bersalah.
Merasa tak enak dalam posisinya Shelvia berusaha untuk mengubahnya, tapi dia di buat panik saat kakinya tidak bisa di gerakan.
"Ka-kakiku? kenapa dengan kakiku. Tante, kakiku kenapa?" Shelvia semakin panik saat usahanya tak bisa membuat kakinya nisa bergerak.
__ADS_1
"Via, ada apa dengan kakimu, kakimu... kakimu..." Siska langsung melepaskan tangan Shelvia, dia juga ikut panik.
"Dok! Dokter!" teriak Siska ikut panik. Baru saja dia ingin bertanya banyak pada Shelvia tapi dia urung karena keadaan Shelvia.
"Dokter!" teriak Siska. Nafasnya terasa sangat susah, dia juga terus bergetar dalam kepanikannya.
Sementara Shelvia sudah menangis di dalam kamar, dia terus berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Tidak mungkin, kakiku tidak mungkin lumpuh, aku tidak mungkin cacat kan?" tangis Shelvia semakin pecah.
Tak lama Dokter juga perawat masuk, begitu juga dengan Siska.
"Tante, kakiku tidak akan apa-apa kan?" tanya Shelvia setelah Siska berada di sebelahnya.
Sementara dokter langsung memeriksa kaki Shelvia.
"Dokter, kakiku tidak apa-apa kan?" tanyanya semakin tidak tenang.
"Tenang, kamu harus tenang dulu. Biar dokter memeriksanya," Siska berusaha menenangkan Shelvia meski dia sendiri juga sudah menangis.
Shelvia diam, dan dokter memeriksanya. Dan juga memberikan beberapa pertanyaan padanya.
"Bagaimana, Dok! dia tidak apa-apa kan?" Siska yang bertanya.
"Maaf, kami sudah berusaha. Anak anda mengalami kelumpuhan pada kakinya," jawab Dokter.
Shelvia terpaku sejenak, setelah mengalahkan mendengar perkataan dokter. Namun air matanya terus keluar membanjiri pipinya.
"Aku lumpuh, aku lumpuh. *hiks hiks hiks*..., aku tidak mau lumpuh, aku tidak mau lumpuh," racaunya.
"Tante, dokter pasti salah kan? Aku tidak mungkin lumpuh kan! ini tidak mungkin kan!" Shelvia terus menggoyangkan tubuh Siska yang ada di sebelahnya, dia juga sama-sama tak berdaya sekarang.
Demi menolong dirinya Shelvia harus mengalami nasib yang sangat buruk.
"Tante, ini tidak benar kan!"
"Via, maafin tante. Ini semua sama tante," Direngkuhnya kepala Shelvia, di benamkan dalam dadanya. hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
"Tidak, Tante. Ini tidak benar," Shelvia tak kuasa menahan tangis, dia benar-benar terpukul dengan semua yang terjadi padanya. dia gak menyangka kalau nasibnya akan seperti ini.
__ADS_1
Bersambung...