Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
143. Kunjungan Mertua 2


__ADS_3

Happy Reading...


_______


Bercanda gurau terjadi di saat kedua keluarga telah bersatu di kediaman Rico, dengan menikmati hidangan yang tersaji mereka sangat senang.


Kedua orang tua Aisyah juga sangat senang dan ikhlas melepaskan Aisyah pada Rico sekarang, bukan hanya cinta Rico yang begitu besar saja melainkan juga tanggung jawabnya yang begitu besar untuk membahagiakan Aisyah.


Meski tak di katakan oleh Rico namun itu terlihat jelas di mata Rayyan, mungkin karena sekarang keegoisan itu sudah musnah dari dalam hatinya jadi dia bisa melihat berapa tulusnya Rico mencintai Aisyah.


"Mari di makan mumpung masih hangat," ucap Sumarmo menawarkan.


"Terima kasih, Pak." jawab Rayyan mewakili semuanya.


"Ngomong-ngomong, ini kuenya sangat enak loh buatan siapa ya? ngga mungkin Aisyah kan?" ucap Akhsan mengedipkan matanya ke arah Aisyah sembari menikmati kue buatan Rico tentunya.


"Jelas bukan lah, Bang. Aisyah mana bisa masak seenak itu. Itu adalah buatan dari Bang Rico," jawab Aisyah malu-malu, "tapi Aisyah tetap bantuin sih, hehehe.. " imbuhnya dengan meringis.


"Pantesan ada asin-asinnya. Kalau bikinan Rico kan selalu sempurna tapi kalau udah di recokin sama tangan Aisyah pasti rasanya udah melenceng," sinisnya.


Mulut Aisyah ternganga dia tidak terima lah itu pasti, bagaimana bisa Abangnya sekarang selalu membela Rico seperti ini, "sebenarnya yang adiknya itu Aisyah atau bang Rico sih, Bang! seneng banget jelekin Aisyah," ucap Aisyah cembetut.


"Ehh.. Marah, jangan marah, Bakpao. Meskipun asin tetap enak kok," jawab Akhsan yang takut juga kalau sampai Aisyah merajuk padanya. Bisa-bisa gaswat kan.


"Hemm..., abang kebiasaan," jawab Aisyah dengan nada ketusnya.


"Dek, pantesan ya kamu semakin bulet pasti suamimu terus manjain kamu dengan makanan-makanan enak," ucap Ikhsan.


Aisyah hanya diam kali ini, kapan di manjainnya dengan makanan enak, lah Rico saja sakit beberapa hari dan malah dia sendiri yang masak. Baru hari ini saja Rico turun tangan ke dapur dan memasak berbagai hidangan itu pun juga karena keluarga Aisyah mau datang.


"Dek, meskipun suamimu pinter masak kamu juga harus masak. Karena apa? kebahagiaan suami itu kalau dia bisa merasakan masakan sang istri, enak ataupun tidak suami juga harus menghargai itu, iya kan, Ric?! " Ikhsan menoleh ke arah Rico.


"Hem.. " Rico hanya mengangguk. Bagi Rico tidak masalah Aisyah mau membuatkan makanan atau tidak karena baginya dengan bersama Aisyah saja dia sudah sangat bahagia.

__ADS_1


"Sudah jangan bicara terus, ayo di makan! " pinta Susan sembari menyodorkan piring yang masih penuh dengan kue.


"Iya, Tan. Ini juga masih," jawab Akhsan yang di tangannya memang masih ada kue yang belum habis.


____


Felisha sudah tak lagi bergaul dengan teman-temannya yang dulu lagi, dia lebih memilih untuk menyendiri dan selalu berdiam diri di perpustakaan saat jam istirahat.


Dia benar-benar ingin mengubah diri dengan mempelajari ilmu-ilmu agama yang sama sekali dia belum ketahui. Felisha hanya belajar secara otodidak tidak ada guru pembimbing sama sekali dan saat dia tak tau dia hanya akan menanyakan pada benda pipih miliknya atau kalau tidak dia akan mencarinya dengan menggunakan laptop.


Farel yang melihat perubahan Felisha mulai kagum dengannya, pernah dia mendekati Felisha sekedar untuk menanyakan sesuatu tapi dia malah menjauh pergi. Felisha tak mau sampai ada yang mengatakan kalau dia ingin berubah karena ingin mendekati Farel.


Niat Felisha sudah benar, dia ingin berubah karena Allah bukan untuk siapapun makhluk di bumi.


Penampilan Felisha pun sudah semakin baik juga semakin sopan tak ada lagi pakaian yang minim semua yang dia pakai selalu pakaian yang sopan tapi dia juga belum memakai hijab.


Kini Felisha kembali menyendiri di perpustakaan, dia tengah asyik dengan setumpuk buku yang sudah dia ambil dari rak dan semua buku itu adalah buku tentang agama.


"Wa'alaikumsalam.., jawab Felisha dengan lirih. Felisha menutup bukunya dia tidak mau kalau sampai Farel melihat apa yang dia pelajari karena Felisha benar-benar masih pemula yang belum tau apa-apa bahkan bacaan Al-Quran saja Felisha harus belajar memulai dengan alif, Ba, Ta.


"Boleh gabung?" tanya Farel yang berharap Felisha akan mengizinkannya dan tidak pergi seperti beberapa hari yang lalu.


"Hem..," Felisha mengangguk pelan dia juga tersenyum namun terlihat sangat dia paksakan sepertinya Felisha tidak ingin Farel ke sana sebenarnya tapi dia tak sampai untuk menolaknya.


"Terima kasih," Farel duduk di hadapan Felisha yang tersekat meja. Farel datang juga tidak dengan tangan kosong, dia juga membawa beberapa buku dan langsung menaruh di hadapannya.


"Lanjutkan saja apa yang sedang kamu pelajari, aku tidak mau karena aku kamu jadi menghentikan apa yang ingin kamu ketahui," ucap Farel.


"Hem..," Felisha tersentak sejenak dia memandangi Farel yang tengah tersenyum begitu manis padanya, "𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘍𝘦𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘐𝘵𝘶 𝘥𝘰𝘴𝘢. " batin Felisha yang cepat-cepat memalingkan pandangannya pada hal lain.


Felisha kembali membuka buku yang tadi dia menjadi salah tingkah sendiri saat Farel masih menatap semua pergerakannya.


"𝘒𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘩? 𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, " 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 di 𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯.

__ADS_1


Farel juga membuka buku yang dia bawa, keduanya terlihat fokus dengan apa yang dia pelajari masing-masing. Keheningan pun terjadi saat itu juga dalam beberapa saat sampai akhirnya Farel berbicara.


"Hem.., bagaimana dengan kasus Deddy mu? apa belum selesai?" tanya Farel.


Felisha menggeleng, "belum, tapi hukuman deddy sudah di jatuhkan. Deddy harus menjalani hukuman selama enam bulan, dan juga beberapa denda yang harus di bayar," jawab Felisha wajahnya langsung tertunduk lesu dia sangat sedih jika menyangkut urusan Deddy nya.


"Kamu sabar, setiap ujian pasti akan ada sesuatu yang bisa menjadi pelajaran untuk kita," ucap Farel.


"Hem.. " jawab Felisha singkat.


"Hem..., Kak Nara tadi mengirim pesan, dia ingin aku membawamu datang ke rumahnya. Kata kak Nara, Ara ingin bertemu denganmu," ucap Farel.


Felisha cukup terkejut mana mungkin itu benar, karena Ara baru bertemu dengan nya sekali saja. Itupun juga pertemuan yang tidak di inginkan.


"Hem..," Felisha terlihat sangat bingung dia masih terus berfikir.


"Tapi kalau kamu tidak sibuk, kalau kamu ada pekerjaan yang penting besok lagi juga tidak apa-apa,"


"Hem...? baiklah saya akan ikut," jawab Felisha yakin. Mungkin dengan bertemu gadis kecil yang imut itu akan membuatnya lebih tenang dan bisa melupakan semua masalahnya.


"Setelah selesai kelas mu aku tunggu di parkiran."


"Hem..," Felisha tertunduk dia tak lagi memandangi Farel.


Sementara dari kejauhan lagi-lagi Meyka melihat kedekatan mereka berdua. Meyka hanya terdiam tak berani masuk ke perpustakaan, padahal niatnya dia ingin ke sana untuk mencari buku sesuatu.


"Kemarin aku hanya bisa menaruh rasa karena kak Farel akan di jodohkan dengan Aisyah, sekarang? aku pun hanya bisa menaruh rasa karena kak Farel dekat dengan wanita yang lain. Mungkin memang inilah takdirku, aku tak bisa memilikinya dan hanya bisa mengagumi. Berbahagialah dengan di siapapun yang menjadi pilihan mu kak Farel," gumamnya.


__


Bersambung...


_____

__ADS_1


__ADS_2