
Happy Reading...
________
Gadis berpakaian ala anak jalanan melihat setiap pergerakan orang-orang yang membawa semua keluarga Saputra dan memasukkannya ke gedung tua yang sudah lama tak berpenghuni.
Gadis itu berjalan dengan mengendap-endap karena dia tau ada yang tidak beres. Meski dia tidak tau siapa yang di bawah mereka tapi dia sangat penasaran. Dia adalah Anastasya.
Langkahnya begitu pelan, dia tidak mau sampai ketahuan para gerombolan orang kekar yang berkumpul di depan pintu. Sungguh membuat bulu kuduk merinding jika melihat tubuh mereka yang penuh dengan tato.
Ana terus melangkah, seperti biasa mulutnya tak pernah berhenti mengunyah permen karet yang menjadi makanannya sehari-hari, ya! Karena memang tak pernah Ana melupakannya disaat matanya terbuka.
"Mereka siapa? Apakah ini sejenis penculikan berencana gitu? Tidak mungkin kan yang seperti di berita-berita. Jelas lah tidak mungkin bagaimana mau menjual orang-orang tua." gumamnya.
Penasaran Ana semakin mendekat tapi dia tetap dalam persembunyiannya. Tak ingin sampai ketahuan hingga dia terus membawa pot yang terdapat bunga berdaun lebat untuk bersembunyi.
"Aku tidak boleh ketahuan. Aku harus bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam. Memang aku bisa melawan mereka, kurus-kurus gini juga jago karate, lulusan dari Perguruan pencak silat ternama. Eh salah, Perguruan pencak silat rahasia maksudnya." Imbuhnya lagi.
Ana terus berjalan mengendap-endap hingga akhirnya dia sampai di samping bangunan Tia itu dan mengintip melalui jendela yang berhasil dua buka dengan mencongkelnya.
Lagian di tempat dia belajar dia tidak hanya di ajarkan untuk menjaga diri saja tapi juga untuk menolong orang lain yang sedang dalam masalah.
"Astaga, sadis amat tuh orang memperlakukan orang-orang itu. Sepertinya mereka juga orang-orang baik laku kenapa di perlakuan seperti itu? " gumamnya yang sangat penasaran.
"Apakah aku harus menolongnya? Ah..., bodoh! Seharusnya aku tadi mengajak Kira juga Charles mereka bisa membantuku. Dasar bodoh bodoh! Mana aku nggak bawa alat apapun lagi? "
__ADS_1
Ana hanya gigit jari memikirkan apa yang harus dia gunakan untuk melawan mereka semua.
#😅# Ingatlah, tak perlu dengan senjata asli. Tapi untuk para pahlawan semua bisa menjadi senjata," wejangan dari gurunya masih terngiang jelas di dalam benaknya membuat Ana tersenyum senang sekarang.
"Ya, aku bisa menggunakan apapun untuk menjadi senjata. Bukan hanya pistol, tombak, atau pedang yang bisa menjadi senjata bahkan batu juga tanah bisa melindungi." senyumnya lebar saat dia mendapatkan apa yang akan menjadi pelindungnya.
Tak gentar sedikitpun hati Ana meski semua orang-orang itu membawa senjata api yang dengan sekali tarik bisa menyakiti orang bahkan bisa membunuhnya tapi Ana yakin dengan kemampuannya sendiri.
Baru saja Ana ingin masuk melalui jendela dia melihat ada sepeda motor juga mobil datang membuat Ana urung untuk manjat.
"Mereka siapa? " Matanya menerawang jauh, lalu terbelalak saat melihat siapa yang turun dari mobil.
"Dia kan cowok waktu itu yang memberiku tumpangan, jangan-jangan yang ada di dalam adalah keluarganya lagi."
"Eh..., ada mobil lagi? " ucapnya.
Satu mobil lagi yang datang, dan ada dua orang yang seperti satu benar-benar mirip. "Mereka kembar? "
"Loh loh..., ada lagi para komplotan tubuh kekar, siapa lagi mereka." Ana terlihat sangat bingung melihat semua yang datang.
Mereka adalah orang-orang yang di bawa oleh Akhsan juga Ikhsan tentunya.
"Sepertinya masalah memang sangat rumit deh. Apakah aku harus tetap di sini atau pergi? Hem..., di sini dululah, mungkin aku bisa melihat tontonan yang bagus," ucapnya.
______
__ADS_1
"Bagaimana, Bang. Apa yang harus kita lakukan sekarang. Aku tau mereka ada di dalam dan kita tidak tau apa yang mereka lakukan kepada semuanya."
Faisal begitu takut, dia belum pernah menghadapi hal yang seperti ini. Meskipun dia juga bisa ilmu bela diri tapi dia belum pernah menguji coba secara langsung seperti kedua abangnya. Hari-hari Faisal sangat mulus dan anti dengan kekerasan, dia tidak menyukai yang bau-bau pertengkaran.
"Kita harus selamatkan mereka, Dek. Apapun caranya kita harus berhasil jangan sampai mereka kenapa-napa," jawab Akhsan.
"Betul, Bang. Kita harus segera bertindak."
"Tidak tidak..., kita tidak boleh gegabah. Mereka sangat berbahaya, mereka juga sangat banyak kita tidak bisa menyerang begitu saja. Itu sama saja kita mengantarkan nyawa kesini." ucap Rico.
Akhsan juga Ikhsan sudah tak bisa berkutik lagi kalau Rico sudah berkata seperti itu. Karena Rico lebih tau bagaimana baik dan juga buruknya.
"Terus sampai kapan kita harus bertindak, Ric! Mereka bisa saja mencelakai keluarga kita." Faisal tak sabar, dia terlalu takut.
"Kita bisa melakukannya setelah jam sepuluh malam. Sebelum itu kita tidak bisa melakukan apapun karena itu akan sangat berbahaya."
"Tapi Ric! " Faisal masih menjawab.
"Sudah, Dek. Turuti apa yang Rico katakan." Ikhsan yang menjawab.
_________
Bersambung...
_____
__ADS_1