Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
51.Pulang


__ADS_3

__


Happy Reading..


________________


Tiga hari Aisyah berada di rumah sakit, kini dia sudah di perbolehkan pulang sejatinya belum waktunya untuk Aisyah pulang namun dia sudah bersikeras ingin pulang, dia tak mau berlama-lama di sana, katanya akan menambah dirinya semakin sakit nantinya.


Dengan di gandeng oleh Sheivia dan juga Meyka, Aisyah masuk ke dalam rumah, dengan berjalan begitu pelan. Bukan karena Aisyah yang masih sakit namun kedua sepupunya itu yang terus memintanya untuk berjalan hati-hati, katanya takut akan jatuh dan Aisyah akan kembali sakit.


Aisyah hanya bisa menurut begitu saja, meskipun wajahnya berubah masam tapi mau bagaimana lagi? Sheivia si jail itu terus mengancamnya akan menceritakan semuanya pada Rayyan kalau Aisyah bandel.


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘬 𝘝𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘦𝘳𝘪-𝘱𝘦𝘳𝘪. 𝘚𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘥𝘢𝘴 𝘬𝘶, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩." Batin Aisyah.


"Ayo Syah, jangan malas-malasan. " Ucap Sheivia.


Aisyah berdecak kesal, Sheivia sungguh luar biasa dia yang meminta dirinya untuk pelan-pelan dan setelah dia berjalan pelan-pelan sekarang dia bilang Aisyah yang bermalas-malasan.


"Hem." Jawab Aisyah sekilas.


Sedangkan si pendiam ya terus diam saja dan menjadi pendengar mereka berdua, apapun yang mereka bicarakan hanya dia jadikan angin lalu yang keluar masuk lewat telinga kanan sampai kiri dan juga sebaliknya.


Aisyah dan Shelvia terus saja berdebat, Shelvia dengan kata-kata yang panjang sedangkan Aisyah dengan kata yang irit. Sedangkan Meyka udah pasrah daja dengan apa dirinya, dia lebih baik mendengarkan daripada nanti akan terkena damprat oleh mereka berdua.


"Hati-hati." Ucap Meyka yang akhirnya mengeluarkan kata nya. Ya, karena kini Aisyah sudah sampai di ranjangnya dan mulai duduk.


"Terima kasih, Kak Mey. " Ucap Aisyah.


Seandainya saja Shelvia sama seperti Meyka pasti dunianya akan adem ayem. Dan otaknya tidak akan dikuras dengan celotehan dari Sheivia yang benar-benar telah menguras emosinya.


Meyka melepaskan Aisyah begitu juga dengan Shelvia, mereka berdua berdiri di sebelah Aisyah yang sudah mulai menaikan kakinya dk atas ranjangnya. Dengan cepat Meyka pun langsung menyelimuti kaki Aisyah setelah sampai.


"Banyak-banyak istirahat, Syah. Supaya kamu benar-benar bisa cepat pulih dan besok bisa masuk kuliah lagi. " Ucap Meyka.


"Hem." Aisyah mengangguk dan hanya menjawab dengan singkat saja pada Meyka, meskipun seperti itu Meyka tak pernah keberatan karena dia sudah tau watak dan sifatnya.


"Iya, istirahat yang benar. Jangan mengkhayal terus. Nggak usah di pikirin kalau memang jodoh tidak akan kemana?. " Celetuk Shelvia.

__ADS_1


Mulut Aisyah menganga sedangkan wajah Meyka tercengang menatap Shelvia. Tak ada rasa bersalah atau rasa canggung bagi Shelvia apa yang dia katakan semuanya adalah benar, So.. Ya sudahlah.


"Mulutnya ember banget sih Kak? Apa nggak bisa di tembel gitu pakai tembelan panci!. " Kesal Aisyah.


"Nggak akan bisa, Syah. Dri apapun juga tidak akan bisa tertutup akan selalu ember begini." Jawab Shelvia. "Sudah cepat istirahat, kami juga mau istirahat. "


Shelvia mulai melangkah terlebih dahulu sedangkan Meyka menyusul di belakangnya. "Selamat istirahat, Syah. Cepat sembuh ya. " Ucap Meyka si kalem.


"Iya, Kak. Terima kasih. " Aisyah tersenyum.


Kedua watak yang sangat berbeda dari Shelvia dan juga Meyka, itulah kedua sepupunya yang selalu ada untuknya. Jangan beda orang tua? Satu orang tua dan satu produk pun pasti akan berbeda sifat dan wataknya.


_____


Rasa kantuk yang di alami Meyka membuatnya berjalan dengan sempoyongan di lorong pesantren, matanya sesekali terpejam dia benar-benar sudah tak tahan lagi ingin tidur tapi kenapa seakan jaraknya jauh sekali.


"Sebentar lagi Meyka. " Ucapnya seorang diri.


Jika di sana ada Aisyah dan juga Shelvia mungkin dia akan di kerjain habis-habisan, Meyka adalah gadis yang mudah sekali tertidur terkadang duduk saja dia akan bisa tidur dengan mudah.


Di persidangan Meyka yang memejamkan matanya tak melihat kalau di sebelahnya ada sebuah pot yang nongkrong di sana. Dan akhirnya kakinya menyandung nya dan dia terhuyung ke depan akan terjatuh.


"Aww!!. " Pekiknya yang sontak membuka mata dengan cepat.


"Astaghfirullah!. " Syukur ada Farel yang hampir berpapasan dengannya sehingga membuat Meyka berakhir jatuh di tangkapan Farel.


Farel begitu kuat menahan Meyka yang akan terjatuh, bahkan mereka berdua seakan saling menyambut dan terlihat seperti orang yang dengan sengaja berpelukan.


Sadar dengan posisi keduanya mereka langsung saling melepaskan dan mundur, namun masih saja ada yang terjadi pas mundur kaki belakang Meyka menabrak pot yang sama. "Akk! "


"Ehh.. " Dengan cepat Farel meraih pinggang Meyka dan Meyka dengan cekatan juga menarik baju Farel.


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬....


Keduanya terjatuh bersamaan, Meyka betada di bawah sedangkan Farel menindih Meyka di atasnya. Kejadian yang benar-benar seperti settingan oleh seorang sutradara, bagaimana bisa menjadi seperti jalan cerita yang begitu romantis.


Bagaimana tidak, kini keduanya malah saling lempar pandang dengan posisi yang belum berubah sama sekali. Bola hilang itu saling bertemu dengan fokus.

__ADS_1


"Ma-maaf." Cepat-cepat Farel melepaskan dan juga menjauh dari Meyka, begitu juga dengan Meyka.


Keduanya menjadi canggung, mereka berdua menunduk dengan senyum yang canggung mereka berdua sembunyikan. "Ma-maaf, kak. Meyka tidak bermaksud. " Ucap Meyka.


"I-iya, nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang sakit kan? " Tanya Farel basa-basi sekedar untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.


"Tidak apa-apa kok. Terima kasih sudah menolong Meyka, Kak. " Ucap Meyka yang begitu sangat berterima kasih pada Farel, kalau tidak ada Farel mungkin udah benjol tuh jidat karena terbentur lantai, atau kalau tidak mungkin hanya bibirnya yang berdarah atau hidungnya yang semakin kedalam.


"Sama-sama." Jawab Farel singkat. "Kalau jalan hati-hati jangan sambil tidur, untung ada orang kalau tidak ada bagaimana coba?.


" Hehehe... Mungkin hanya benjol kak, kalau nggak bocor. " Jawab Meyka terkekeh.


"Hehehe, iya bisa jadi seperti itu. " Farel pun juga ikutan terkekeh dan sesekali melihat Meyka yang terus menyembunyikan wajah malunya dengan terus menunduk.


"Sekali lagi maaf kak, dan terima kasih juga. "


"Iya iya. Kalau begitu saya pamit dulu ada hal yang harus saya kerjakan." Pamit Farel dan langsung mulai melangkah. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Meyka.


Setelah Farel sudah semakin jauh Meyka pun juga berjalan lagi, melangsungkan perjalanan yang tertunda.


Jarak yang semakin jauh namun masih bisa terlihat dengan jelas. Di saat yang bersamaan Farel dan Meyka berhenti dan saling menoleh dan tatapan mereka kembali bertemu dengan jarak yang lumayan jauh.


Keduanya tersenyum sejenak, dan setelah itu mereka kembali fokus dengan tujuan mereka masing-masing.


Hati Meyka begitu bahagia, apa yang terjadi tadi adalah jarak paling terdekat nya dengan Farel, jarak yang bisa membuat Meyka malu dan detail jantung yang tak karuan.


Meyka hanya berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyembunyikan segalanya, beginilah rasanya cinta dalam diam, tak berani mengungkapkan namun hanya bisa terus berharap akan terjadinya suatu keajaiban.


Jika suatu saat Meyka bisa berjodoh itu adalah anugerah yang paling terindah untuk nya. Tak akan pernah bisa diaktifkan bayangkan sebelumnya, namun dia juga sadar kalau itu tidak akan mungkin bisa terjadi.


Takdirnya tak akan mungkin bisa sama dengan apa yang dia inginkan. Seandainya bisa, Meyka akan mencurahkan semuanya sebelum Farel bersanding dengan wanita lain. Dia tidak akan sudi dengan semua kata orang, tapi masalah nya dia tak memiliki kebenaran yang sebesar itu. Dia hanya bisa berserah dan pasrah akan takdir yang sudah di gariskan.


___


Bersambung...

__ADS_1


_____________


__ADS_2