
Happy Reading..
*********
Gema terdengar menguasai di pekarangan luas di depan pesantren. Semua telah di siapkan. Pernikahan Dante juga Meyka yang sudah di depan mata.
Semua tamu undangan mulai hadir satu persatu, tentu dengan busana yang sangat indah di lihat bahkan banyak yang pasangan memakai baju couple untuk menambah kesan romantis dalam hubungan mereka.
Begitu juga dengan Aisyah dan Rico, Iqbal juga Shelvia. Sebenarnya ada seragam keluarga untuk mereka tetapi mereka akan pakai hanya pas acara resepsi saja nanti malam.
Baju batik celana hitam, kebaya juga bawahan yang sama dengan baju sang pria itulah yang menjadi busana Aisyah, Shelvia dan pasangan mereka masing-masing.
Keduanya juga datang hampir bersamaan. Tapi bukan dari rumah mereka masing-masing ya, melainkan dari kamar mereka yang ada di pesantren. Mereka sudah datang sejak dua hari yang lalu hingga sekarang masih ada di sana.
Begitu gugup Dante sekarang. Di dampingi orang tuanya dia terus diam dengan balutan baju yang sudah di rancang sejak jauh-jauh hari.
"Sabar, Dan. Jangan sampai gugupnya menguasai mu. Gagal tiga kali maka gagal pernikahanmu hari ini. Dan baru besok bisa di ulang lagi." Bukannya memberikan semangat atau membuat temannya tenang ini Iqbal malah menakut-nakutinya. Sungguh terlalu kan dia sebagai teman.
"Diam kamu, berisik sekali!" Sungut Dante kesal. Dongkol deh hatinya.
Tau temannya marah Iqbal malah tertawa sumringah. Begitu juga dengan Rico yang urun tawa juga.
__ADS_1
"Kalian berdua benar-benar ya!" Semakin kesal kan Dante sekarang.
"Calon pengantin tidak boleh marah, Dan. Nanti mempelai mu takut dan kabur lagi." Kini Rico yang berucap.
"Dasar kampret kalian berdua ya." Ingin rasanya Dante menutup telinganya rapat-rapat supaya tidak bisa mendengar ledekan kedua temannya itu. Tapi apalah daya, kedua temannya terlalu resek. Sepertinya itu juga karena Dante sendiri yang selalu meledek keduanya.
"Sang mempelai pria, silahkan hadir di tempat ijab qobul." Panggilan dari seseorang membuat Dante semakin gugup. Namun berbeda untuk kedua temannya.
"Awas, Dan. Jangan sampai salah ucap, salah sebut nama. Nanti bilangnya Meyka binti Dante lagi." Tak ada habisnya Iqbal meledek Dante tentu akan membuat Rico juga tertawa.
"Itu nama ku. Mana mungkin aku akan mengatakan seperti itu!" Sedikit menoleh ke arah keduanya yang tepat di belakangnya, "resek kalian pada."
Astaghfirullah, nggak Iqbal nggak Rico seneng banget membuat hati Dante semakin dak dik duk der.
"Sudah, kak Dan. Jangan hiraukan mereka berdua. Cepatlah, jangan sampai pak penghulu bosan karena menunggumu. Apalagi pengantin mu. Dia sudah tidak sabar untuk kamu datang menjemputnya." Aisyah bersuara.
"Iya, Kak Dante," Sambung Shelvia.
Dante langsung bergegas, berjalan menuju meja yang yang sudah di siapkan untuk acara dia mengucapkan janji suci cintanya kepada Meyka di hadapan penghulu, abi_nya Meyka juga ayah Dante juga para saksi lainnya.
Acara yang sakral benar-benar terlaksana saat Dante sudah sampai di depan penghulu dan duduk dengan gugup di sana.
__ADS_1
Janji suci pernikahan begitu lantang Dante ucapkan dengan satu tarikan nafas. Rasa hati begitu menguasai tempat itu dalam seketika. Di tambah saat semua saksi mengatakan kata Sah.
Hembusan nafas lanjut dengan penuh rasa lega keluar dari Dante. Dia sangat senang akhirnya statusnya kini telah berubah. Status sebagai suami dari wanita yang begitu dia cintai.
Doa dari penghulu membuat akhir dari acara sakral itu. Hingga akhirnya Dante di minta untuk menjemput Meyka di kamarnya di temani beberapa santriwati.
Kebahagiaan, gugup juga rasa haru Dante lihat di wajah cantik Meyka yang kini sudah sah menjadi istrinya. Di dalam kamarnya keduanya masih canggung. Mereka tersenyum tetapi bingung mau bicara apa.
Hingga akhirnya Dante terkesiap dalam matanya yang terpana melihat istrinya yang tersenyum manis dengan malu-malu. Meyka meraih tangan Dante dan mengecup punggung tangannya untuk yang pertama kalinya.
"Hah," Gerakan yang rasanya tiba-tiba membuat Dante semakin gugup tapi juga ada rasa tak percaya. Benarkah dia sudah menjadi suaminya Meyka sekarang?
Dorongan dari hati nuraninya meminta Dante untuk mengecup kening Meyka dan itu tiba-tiba dia lakukan. Desir panas mengalir seiring dengan bibir Dante yang tertahan di kening Meyka. Keduanya sama-sama menutup mata. Merasakan betapa indah sentuhan pertama mereka berdua.
'Terima kasih Ya Allah. Engkau ciptakan bidadari untuk menemani hidupku. Tetapkan lah dia menjadi bidadari di hidupku hingga sampai Jannah-Mu. Amin,' batin Dante.
Terselip harapan besar untuk kedepannya dalam hubungan mereka berdua. Hingga Jannah mereka berpasangan.
"""""""
Bersambung...
__ADS_1