
_____
Happy Reading....
Pagi buta Rico juga Aisyah belum juga beranjak dari kasurnya, seperti biasa mereka masih malas-malasan karena kelelahan dari kegiatan olahraga malam mereka.
Meskipun belum subuh namun mereka sudah membuka mata mereka. Mereka masih berpelukan di bawah selimut, namun bukan berarti mereka berdua tidak memakai busana, busana mereka sudah melekat tidak seperti awal mereka melakukannya.
"Sayang, seandainya kita di kasih kepercayaan cepat apakah kamu benar-benar sudah siap?" tanya Rico.
Tangannya yang berada di bawah kepala Aisyah langsung menariknya, mendekatkannya untuk dia bisa mengecup keningnya.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Bang? karena setelah ada anak tanggung jawab bang Rico akan semakin besar, apa Bang Rico sudah siap?" tanya balik Aisyah.
"Kalau Abang sih sedikasihnya saja. Cepat atau lambat tetap harus siap, bukankah kita memantapkan untuk menikah salah satunya kita harus sudah siap menjadi orang tua?" Rico kembali mengecup Aisyah begitu lembut.
"Hem.., kalau begitu Aisyah akan siap," Aisyah tersenyum, dia senang, dia tak takut lagi jika benar-benar mereka akan di beri kepercayaan dengan cepat.
"Benarkah kamu sudah siap?" Aisyah mengangguk dengan pertanyaan Rico, tidak ada alasan untuk dia tidak siap kan.
"Kalau begitu.., kalau begitu kita harus kerja keras mulai sekarang, hemm...? Sarapan pagi kita mulai dari sini saja," terdengar ucapan yang begitu renyah dari Rico membuat Aisyah mengernyit.
Aisyah yang diam membuat Rico yakin kalau istrinya itu tak mengerti apa yang dia maksud. Rico membalikkan tubuh Aisyah dan langsung menguncinya dengan tubuhnya yang sudah ada di atasnya.
"Sarapan yang indah adalah di sini, kita lakukan satu ronde lagi sebelum subuh," ucap Rico membuat Aisyah ternganga namun itu menjadi kesempatan Rico untuk langsung menjelajahi mulut Aisyah dan mencari teman dansa di dalamnya.
_______
"Pagi, Bun. Pagi, Yah! " sapa Rico yang baru saja keluar dari persembunyiannya.
Setelah tadi pagi sempat kembali mengulang gulat dengan Aisyah kini Rico baru keluar, sementara Aisyah sudah selesai membantu Susan membuat sarapan untuk mereka semua.
Mungkin ada sedikit perbedaan antara laki-laki dan perempuan kalau perempuan meskipun lelah setelah bergulat dia akan tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Sementara laki-laki? mungkin ada sih yang akan membantu tapi tidak sebagian besar hanya sedikit saja yang akan melakukan itu.
Tapi sebenarnya Rico juga tak bersantai-santai setelah subuh, dia langsung membuat materi untuk anak didiknya.
__ADS_1
"Pagi, Nak," jawab Susan mewakili.
"Maaf ya, Bun. Rico tidak membantu pagi ini soalnya harus menyelesaikan materi yang semalam belum selesai," Rico sedikit menyesal karena tadi malam dia lebih tergoda pada istrinya daripada pada materi-materinya yang menumpuk.
"Tidak apa-apa, Nak. Lagian sudah ada istrimu juga yang membantu bunda, bahkan sepertinya bunda yang membantunya," jawab Susan.
"Terima kasih, Sayang," Rico menoleh ke arah Aisyah dia tersenyum, dia begitu beruntung mendapatkan Aisyah yang sangat perhatian kepada keluarganya. Aisyah begitu pintar menjalankan semua tanggung jawabnya sebagai istri juga menantu.
"Itu sudah seharusnya, Bang." jawab Aisyah yang juga tersenyum.
"Sudah, sekarang sarapan dulu. Nanti kalian bisa terlambat ke kampusnya,"
"Iya, Bun," Jawab keduanya serentak.
_____
Tak seperti biasanya Shelvia yang berangkat ke kampus dari pesantren kali ini Shelvia berangkat ke kampus seorang diri dari rumah, biasanya akan ada Meyka yang akan di boncengin olehnya tapi sekarang tak ada siapapun.
Shelvia terus melajukan motornya dengan pelan, meskipun hatinya sedang kacau balau tak boleh dia melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang harus datang ke kampus untuk belajar.
𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬𝘬..
"Akk...!"
Teriakan dari Shelvia membuat orang di sekitar langsung berlarian untuk menolongnya. Semua tampak panik saat melihat Shelvia yang tak bisa bangun bahkan kakinya yang terjepit.
"Astaghfirullah hal 'azim, Dek!" satu orang buru-buru menarik motor Shelvia , sementara yang lain menolong Shelvia untuk menarik kakinya.
Di tengah kerumunan ada pria tampan yang juga datang dia langsung panik saat melihat Shelvia, "Astaghfirullah hal 'azim, Via! " serunya.
Shelvia seketika melirik, dia lupa dengan pria itu namun sepertinya tidak dengannya.
"Kakak siapa?" tanya Shelvia.
"Astaghfirullah, Via. Apakah kamu benar-benar melupakanku? Aku Alfian!" serunya mencoba mengingatkan Shelvia yang masih mengernyit mencoba untuk mengingat.
__ADS_1
Shelvia diam sejenak mengingat siapa sebenarnya Alfian.
"Astaghfirullah hal 'azim, Kak Alfian! " senyum Shelvia melebar saat dia mengingat siapa Alfian.
Alfian Pramudya, putra pertama dari sahabatnya Airin dan David. Siapa lagi kalau bukan Mitha juga Rico.
Ternyata pria itu sudah tumbuh dewasa dan juga sangat tampan, bahkan sepertinya dia juga sudah bekerja di kantoran terlihat dari baju rapi yang dia kenakan.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, aku antar kamu ke rumah sakit dulu," ucap Alfian.
"Tidak, Kak. Aku bisa sendiri, atau aku bisa hubungi Papa. Kak Alfian pasti harus berangkat kerja kan? tak enak mengganggu, Kakak," jawab Shelvia sungkan.
"Sudahlah, jangan membantah seperti dulu terus. Bukankah aku ini kakak mu, jadi kamu harus nurut," ucapnya dengan menekankan.
"Tapi, Kak!? " Shelvia masih terus berfikir.
"Sudah, sini aku bantu," tanpa meminta persetujuan Alfian langsung mengangkat tubuh Shelvia, dia yakin kalau Via tak akan bisa jalan karena lukanya yang ada di kaki.
"Terima kasih, Bapak-bapak," ucap Alfian.
"Sama-sama, Mas," Jawab mereka bersamaan.
"Motornya biar aku minta temen yang ambil, kebetulan dia rumahnya daerah sini," ucap Alfian lagi.
Alfian juga Shelvia memang sangat akrab bahkan sudah seperti adik kakak, tapi itu dulu sebelum Alfian pindah dengan orang tuanya ke kota lain, tapi entah kenapa sekarang Alfian kembali lagi, mungkin karena sudah bekerja di kota ini.
Dengan pelan Alfian menurunkan Shelvia di mobilnya, dia ingin secepatnya membawanya ke rumah sakit.
Sepasang mata menatap tajam ke arah keduanya. Wajahnya tersirat jelas ada kecemburuan yang sangat besar. Apalagi dia melihat sendiri Shelvia yang mau saja di gendong oleh Alfian, dia adalah Iqbal tentunya, kebetulan dia tengah melintas di sana.
"Siapa laki-laki itu, kenapa Shelvia begitu akrab dengannya? aku harus mengejarnya," gumamnya. Mobilnya langsung melesat mengejar mobil Alfian yang membawa Shelvia pergi.
________
Bersambung...
__ADS_1
_________