Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
122. Malam yang Indah


__ADS_3

Happy Reading...


_____


Langkah Aisyah begitu ragu dia sangat gugup saat dia memasuki kamarnya sendiri sekarang. Bukan apa-apa melainkan karena sekarang ada Rico di sebelahnya.


Mata Aisyah pun juga di buat terbelalak, sejak kapan kamarnya begitu indah seperti ini, padahal saat dia keluar tadi tak ada yang aneh tapi sekarang? Begitu banyak bunga-bunga mawar merah berada di atas kasurnya, juga ada dua angsa buatan yang paruhnya saling bersentuhan.


Lilin-lilin kecil pun sudah di nyalakan menambah pesan romantis bahkan lampu utama di matikan dan cahaya hanya remang-remang karena lilin saja.


"Kenapa?" Rico yang masuk di belakang Aisyah langsung mengejutkannya, berbisik lembut di sebelah kanan.


"Hemm..., ti-tidak.. " Aisyah sama sekali tak berani menoleh ke arah Rico, dia hanya melirik saja, "𝘏𝘢𝘥𝘶𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘪𝘩? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯? "


"Oh, benarkah," Rico tersenyum mendengar kata hati Aisyah.


"I-iya.. " Jawab Aisyah yang masih tetap sama, gugup.


Rico manggut-manggut karena jawaban Aisyah barusan, dia berjalan mendahului Aisyah lalu duduk di pinggir kasur. Terlihat Rico mulai melepaskan satu persatu kancing yang ada di jubahnya, dia tak biasa menggunakan baju double-double seperti sekarang ini.


"B-bang Rico mau ngapain? " Sontak membuat Aisyah balik badan, baru juga melepas kancing saja bukan jas juga bajunya sekarang Aisyah sudah balik badan.


"Ya mau ngapain lagi? Kamu pasti tau lah apa yang di lakukan sama pengantin baru di malam pertama," jawab Rico dengan serius.


"Mak- maksudnya? "


Rico kembali berdiri setelah dia berhasil melepaskan jasnya, mendekati Aisyah yang masih terus diam memunggunginya, "Adinda Aisyah sayang, apakah kamu punya salep?" tanya Rico dan kali ini membuat Aisyah membalik ke arah Rico.


"Salep? Salep apa? "


"Salep luka, Sayang." jawab Rico.


Rico lebih mendekat melihat Aisyah yang terus gugup dan tegang membuat Rico langsung meraih punggungnya dan menariknya sehingga mereka berdua saling bersentuhan.


"Aku membutuhkan salep, Sayang. Tapi nanti-nanti juga nggak apa-apa karena yang aku butuhkan saat ini adalah... " Rico menyeringai tangannya terangkat dan langsung menyentuh dagu runcing Aisyah.


Aisyah terdiam, dia terus menatap mata Rico yang begitu dekat. Dan yang pasti itu membuat jantungnya seakan mau copot, "Mem-membutuhkan apa? "


"Aku membutuhkan ini, " Rico langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Aisyah membuat mata Aisyah terpejam, entah karena begitu menikmati atau karena dia terlalu malu untuk melihat Rico.


"Aku akan mandi dulu, apakah kamu akan ikut juga?" Pertanyaan Rico berhasil membuat Aisyah menggeleng dan membuka matanya, bagaimana mungkin dia akan mandi bersama dengan Rico.


"Sa-saya akan carikan salepnya dulu," Wajah Aisyah yang sudah merah merona harus secepatnya dia sembunyikan dari Rico, kalau tidak pasti..?


"Kenapa buru-buru," Aisyah yang sudah berhasil terlepas kembali di tarik oleh Rico dan kembali ke posisi yang semula.


"B-bang.., b-biar Aisyah ambilkan salepnya dulu," Aisyah kembali ingin melepaskan diri dari Rico dan itu tidak akan mudah untuk sekarang."𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪. "

__ADS_1


Rico kembali tersenyum, dia hanya menggoda Aisyah saja saat ini, asyik juga kayaknya. Tapi lama-lama tak tega juga sih, hingga akhirnya Rico melepaskan Aisyah dan berjalan menuju ke kamar mandi, "Aku mandi dulu,"


Aisyah berjongkok di tempat itu, mengelus-elus dadanya sendiri, "Lama-lama jantungku bisa bermasalah, " Aisyah beranjak lagi setelah dia benar-benar sudah tenang mencari salep ya di minta oleh Rico, entah untuk apa salep itu.


Sementara Rico yang berada di kamar mandi, dia juga tengah menyandarkan punggungnya di pintu dengan mengelus dada,"Rico, kau sungguh gila. Jangan memalukan seperti ini, Ric! Dia istrimu sekarang, kamu bebas memintanya kapanpun. Tak akan ada larangan untuk itu."


Ternyata Rico sendiri juga sangat gugup pergi ke kamar mandi hanya sebagai alasan untuk menenangkan jantungnya yang terus berdisko ria.


Selesai dengan mandinya Rico keluar, Rico keluar hanya menggunakan handuk kimono saja yang panjangnya sebatas lutut. Aisyah yang duduk di depan meja rias langsung menoleh menatapnya, seketika jantungnya kembali berseru di dalam sana.


Rico langsung mendekati Aisyah, mulai membantunya yang ingin melepaskan aksesoris yang masih melekat di atas kepalanya, "Bias aku bantu," Rico tersenyum, memandangi Aisyah dari pantulan kaca dan pastinya mendapati wajah Aisyah yang merona merah.


Satu persatu Rico lepaskan, dari awal mahkota, bunga melati yang menjuntai, semua jarum yang melekat juga terakhir adalah hijab putih yang Aisyah kenakan, tapi baru saja Rico mau melepaskannya Tangannya di hentikan oleh Aisyah, "Kenapa?"


"Aisyah malu.. " Ucapnya yang bener-bener sangat tak percaya diri di hadapan Rico.


Rico membungkuk, dan tangannya menurunkan tangan Aisyah pelan, "Kenapa harus malu, Sayang. Bahkan melihat yang lainnya pun sudah halal bagiku, kenapa harus malu?" Rico kembali meneruskan melepaskan hijab Aisyah.


Rico di buat tertegun melihat Aisyah tanpa menutup kepalanya, rambut panjang yang berwarna hitam pekat membuatnya sangat sempurna, "Kamu sangat cantik, Aisyah."


Aisyah tersenyum simpul meskipun dia masih malu. Rico mengambil sisir di hadapan Aisyah, menyisiri rambut panjang itu dengan pelan, "Jangan pernah di potong aku sangat menyukainya," Ucapnya.


"Iya, Bang. "


****


"Kenapa bisa seperti ini sih, Bang? Sebenarnya apa yang bang Rico lakukan?" Tanya Aisyah penasaran.


"Yang aku lakukan hanya mau belajar kuat saja." jawabnya.


Rico terus memandangi wajah Aisyah yang merona itu, dia bahkan tak berkedip sama sekali. Akhirnya gadisnya sekarang benar-benar telah menjadi miliknya, jika Aisyah siap maka mereka berdua akan benar-benar saling memiliki seutuhnya, tapi Rico tidak mau memaksa, Rico akan menunggu sampai Aisyah siap jika sekarang dia belum mau memberikannya.


Rico duduk lebih dekat, meski dia menahannya namun dia juga laki-laki normal yang tak akan bisa menahan hasrat yang tiba-tiba datang saat berhadapan dengan seorang wanita, apakah wanita itu halal untuknya.


"Aisyah, apakah aku boleh..?" Ucapan berhenti karena dia masih ragu untuk mengatakan kemauannya.


"Hemm.. " Aisyah memandang Rico.


"Apakah aku boleh minta hak ku?" Tanya Rico.


Aisyah diam, dia langsung menunduk, "𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢? " Batin Aisyah. Aisyah mengangguk pelan namun masih tak berani memandangi Rico.


Hati Rico begitu berbunga-bunga mendapatkan jawaban itu dari Aisyah. Kebahagiaan yang tak pernah dia duga sebelumnya, dia lebih memilih janjinya kemarin, tak dia sangka kalau akhirnya dia juga akan mendapatkan kebahagiaannya.


Rico mengambil salep yang ada di tangan Aisyah, meraih tangannya dan mengecupnya berkali-kali. Rico merebahkan Aisyah dengan sangat pelan dan memulai aktivitas panas nya.


Rico mencium bibir Aisyah dengan pelan, mencecapnya, merasakan betapa manisnya bibir merah ceri itu. Lama-lama keduanya begitu menikmati hingga entah kapan lidah mereka sudah saling menyatu dan berdansa.

__ADS_1


Meskipun baru pertama kali namun Rico bisa menguasai kegiatan itu, semakin lama semakin menuntut dia begitu lihai selayaknya pemain profesional. Tak sampai di situ saja, bibir Rico mulai mencari tempat lain yang lebih menantang, kecupannya semakin turun hingga akhirnya dia berhasil membuat tanda kepemilikan di leher jenjang milik Aisyah.


Rico yang berkali-kali menguasai tempat itu membuat Aisyah mengeluarkan lenguhan yang begitu merdu di telinga Rico. Aisyah begitu tegang, tubuhnya seakan sudah meradang dan juga semakin menuntut hal yang lebih dari Rico.


Tangan Rico tak akan diam saja, ada dua bukit kembar yang masih tertutup sehelai benang yang membuat dia penasaran. Tak Terlalu besar namun masih sangat kenyal dan sepertinya sangat menarik untuk di jadikan mainan barunya.


Perlahan Rico membuka penghalang yang Aisyah kenakan, "Bang ,Aisyah malu.." ucap Aisyah namun Rico sudah tak peduli dengan kata-kata itu dan langsung memainkan benda kenyal itu setelah kedua tangannya bisa mendapatkannya.


"Boleh?" tanya Rico, dan Aisyah yang juga sudah terbuai dalam kenikmatan mengangguk begitu saja padahal sebelumnya dia menyatakan malu. Rico langsung menyambar nya, mencecap nya meskipun dia belum bisa mendapatkan isi dari benda kenyal itu tentunya.


Seperti bayi yang tengah kehausan Rico begitu terus menyesapinya, berharap akan ada yang keluar dari sana. Puas membuat Aisyah terus menggeliat karena sentuhan di tempat itu, Rico beralih menelusuri setiap inci perut Aisyah dan mengusapnya dengan lembut, "Cepatlah hadir junior Papa," Harapnya.


Rico begitu penasaran, hingga akhirnya tangannya menyentuh lembah yang sudah sangat basah namun masih tersegel rapat itu dan tentunya masih tertutup rapat dengan penghalang yang Aisyah kenakan, dia langsung menyeringai namun dia kembali merangkak naik dan menikmati dua benda kenyal itu, dia masih sangat penasaran.


"Ahhggg..., Aisyah mau pipis bang?" ucap Aisyah membuat Rico senang. Dia berhasil membuat Aisyah mencapai pada kenikmatan yang pertama kalinya.


"Keluarkan, Sayang." jawab Rico.


Tubuh Aisyah meradang saat ombak besar itu datang, tangannya mencengkram bahu Rico dengan kuat.


"B-baaannnggg... "


"Sekarang giliran ku, Sayang."


Rico langsung mengeluarkan pusaka nya yang sudah siap tempur, menempatkan diri di posisinya yang benar dan melepaskan semua penghalang pada dirinya juga dari Aisyah.


"Kamu tahan ya, ini akan sakit. Tapi aku akan melakukannya pelan," ucap Rico dan Aisyah sangat was-was.


"Bismillahirrahmanirrahim... "


Bening kristal keluar dari ujung mata Aisyah saat Rico berhasil membobol pertahanannya.


Menerjang selaput perawan milik Aisyah hingga sebercak merah menetes di seprai putih. Seketika tangan Aisyah menggenggam kuat seprai yang ada di sana.


"Maaf," ucap Rico menyesal karena dia benar-benar membuat gadisnya meneteskan air mata di malam pertama mereka.


Sempit itu pasti, sulit pun iya dan sakit pun jelas Aisyah rasakan ini adalah pertama kali dia melakukannya. Biarpun sakit tapi Aisyah bahagia karena telah memberikannya pada orang yang benar-benar dia cintai.


##


Bersambung...


______


Hareudang.. Hareudang.. Hareudang...


🙈🙈🙈🙈🙈🙈

__ADS_1


Panaaasssss.... 🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2