Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
56.Bukan anak kambing


__ADS_3

___


YUK.....


Jangan lupa budayakan like dan komen ya. Like akan selalu aku nantikan, begitu juga komen. Jangan sampai ketinggalan apa lagi kelupaan ya..


#####


Happy Reading...


________________


"Eh.. Jangan narik-narik dong! Ini anak manusia bukan anak kambing! " Sungut Aisyah yang terus berusaha untuk melepaskan diri.


Namun tidak akan semudah itu, dia kalah kuat dengan orang yang menariknya. Aisyah tak bisa melihat orang itu yang tertutup akan hijabnya orang itu juga berjalan memunggunginya.


Langkah Aisyah semakin cepat karena orang itu juga semakin cepat menariknya, orang itu terus diam belum juga mengatakan apapun meskipun Aisyah terus berseru.


"Lepasin! Aku bukan kambing yang bisa kami tarik-tarik sesukamu! " Aisyah terus berteriak namun tetap saja itu tak mempan.


Mungkin suara yang begitu bising di tempat itu yang membuat orang itu tak mendengar apa yang Aisyah katakan, tapi masak iya? Jarak mereka begitu dekat tidak mungkin dia tidak mendengarnya.


Sesampainya di depan wahana Bianglala orang itu berhenti, membuka pintunya dan meminta Aisyah naik ke atasnya.


"Naik." Ucapnya dengan menggeser Aisyah dengan memutarkan hijabnya yang sontak Aisyah juga memutar karena tak mau kalau hijab itu sampai terlepas.


"Nggak! Siapa kamu main maksa begitu, aku bukan siapa-siapa mu! " Ketus Aisyah.


"Naik." Ucapnya semakin geram.


Semakin lama Aisyah semakin sadar, siapa yang memiliki suara itu tapi mana mungkin bisa kebetulan seperti ini. Dan untuk apa dia datang ke tempat itu.


"Naik.. "


Terpaksa Aisyah naik karena di dorong olehnya, dengan gerakan cepat orang itu ikut naik serta dan menutup pintunya.


Aisyah menjauh, dia sadar orang itu adalah laki-laki, tak mungkin dia akan duduk berhimpitan dengannya. Sembari bergeser wajah Aisyah menoleh dan menatap orang itu yang kini malah tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.


"Bang Rico! " Teriak Aisyah heboh.


Ya, dia adalah Rico yang kebetulan datang ke sana. Sebenarnya Rico akan pulang tadi namun saat dia melihat Aisyah dan Faisal dia mengurungkannya dan terus mengikuti Aisyah.


"Iya, emang siapa lagi yang berani melakukan ini kecuali aku? Apa kamu berharap orang lain yang melakukannya? " Tanya Rico, "Pak, jalankan! " Perintah Rico dan bianglala itu mulai berputar.


"Tidak ada, Aisyah hanya heran saja. Kenapa Bang Rico seneng banget narik-narik Aisyah, Kan Aisyah bukan kambing? "


"Kalau kamu kambing, aku adalah orang pertama yang akan membeli nya dan merawat mu hingga tua nanti. Atau kalau tidak aku juga akan menjadi kambing jantan yang akan selalu bersamamu. " Jawab Rico terkikik.


"Kalau aku tidak mau?! "

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau aku akan mengikatmu. Lagian lebih mudah mengikat anak kambing daripada mengikat anak manusia, mengikat anak manusia ribet harus pakai restu segala, kalau kambing yang penting kita bawa uang bisa langsung bawa pulang dan ikat di rumah. Sayang nya kamu bukan kambing. " Jawab Rico.


"Ja- jadi... , Bang Rico mau Aisyah menjadi kambing?! " Pekik Aisyah


"Aku tidak bilang seperti itu. " Jawab Rico begitu santai.


Aisyah menggeleng kasar dia tak percaya kalau Rico lebih memilih anak kambing daripada dirinya. Aisyah cemberut, memandang semua penjuru yang bisa di lihat dari ketinggian. Sedangkan Bianglala itu terus berputar mengikuti porosnya.


Rico begitu senang melihat wajah Aisyah yang cemberut seperti itu, tangannya begitu gatal ingin rasanya dia mencubit tuh pipi.


"Aku boleh cubit nggak? " Tanya Rico dengan tatapan gemas melihat pipi Aisyah yang tak se-tembem dulu lagi.


Aisyah menoleh, " Cubit apa? " Tanya Aisyah judes.


Kedua tangan Rico sudah terangkat dia siap menggapai pipi bakpao itu. Rico begitu tak sabar, tangannya begitu gatal.


Aisyah yang tau apa tujuan dari tangan Rico langsung menutup pipinya dan menjauhkan wajahnya dari Rico. "Ehh..., jangan macam-macam ya, Bang! Kita belum muhrim tak boleh bersentuhan! " Teriak Aisyah menolak.


Sudut bibir Rico terangkat, dia senang mendengar kata Aisyah meskipun dia tidak di izinkan untuk menyentuhnya. "Hemm... , kamu benar, kita belum muhrim dan aku harap akan segera. " Jawab Rico.


"Heh... Siapa yang bilang seperti itu? " Aisyah mengernyit bingung sendiri, dia tak sadar kalau tadi dia bilang 'Belum' bukan 'Tidak' berarti mereka bisa bersama suatu saat nanti.


"Siapa lagi? Calon Nyonya Rico, lah " Jawab Rico percaya diri.


"Bang Rico sehat? " Tanya Aisyah menatap wajah Rico seakan dia mengaca pada kaca begitu dekat.


"Kamu pikir aku sakit? " Rico menggeleng tak percaya.


Aisyah kembali memandang setiap pemandangan malam yang begitu indah, bintang bulan seakan ikut bahagia menyaksikan kebersamaan mereka. Menjadi saksi bisu kisah mereka yang mengulang masa di masa lima tahun silam.


Dulu Aisyah begitu manis, dia tak ragu tertawa dan berteriak saat bianglala berputar dengan cepat, tapi sekarang dia lebih pendiam, mungkin karena sekarang dia sudah tau akan rasa malu yang benar.


Hembusan angin malam terasa sangat sejuk menembus pori-pori yang tertutup dengan sehelai kain yang mereka kenakan. Aisyah tersenyum, dia bahagia bisa menikmati itu lagi. Tak sia-sia dia ikut keluar dengan Faisal, meskipun bukan ini tujuan awalnya.


"Aisyah...." Panggil Rico.


Seketika Aisyah menoleh, tatapan yang begitu serius membuat Aisyah gugup. Apa yang akan Rico katakan sebenarnya, kenapa harus membawanya ke sini.


Aisyah terus menatap Rico, menunggu bibir itu mengatakan sesuatu yang akan dia katakan. Jantung Aisyah berdetak begitu cepat, hatinya bergetar begitu hebat di saat tatapan kedua netra hitam itu saling bertemu, dan setelah itu Aisyah menunduk.


"Kamu tau..., Aku menunggu mu hingga sekarang. Selama lima tahun hati ini terus tertutup meskipun begitu banyak yang mengetuk nya. Aku mengunci nya begitu rapat karena hati ini sudah menemukan pemiliknya. Dan aku akan menyerahkan hatiku di buka oleh pemiliknya. "


"Bahkan sampai sekarang hati ini masih tertutup karena sang pemiliknya belum mau datang untuk membukanya dan singgah di dalamnya. Dia hanya terus berada di depan saja hanya menoleh saja namun belum mau datang. "


Aisyah masih terpaku mendengarkan semua kata yang keluar dari mulut Rico yang begitu tulus, mungkinkah ini ungkapan hati Rico yang sebenarnya? Apakah Rico akan secara resmi mengatakan isi hatinya pada Aisyah.


"Kamu tau siapa pemiliknya? Kamu lah pemiliknya. Dan aku ingin kamu sendiri yang membukanya, mengisi dan memenuhi dengan semua kebahagiaan dan cinta. "


"Mau kah kamu mulai membukanya dan mulai singgah di dalamnya? " Tanya Rico begitu tulus dan penuh harapan.

__ADS_1


Aisyah termangu, dia bingung untuk menjawab, meskipun dia tau hatinya juga hanya untuk Rico saja, tapi dia tetap bingung bagaimana mengungkapkannya.


"Apakah kau mau berjuang dengan ku? " Tanya Rico lagi.


Rico sadar semuanya tidak akan bisa berjalan dengan baik hingga mimpi itu menjadi nyata kalau Aisyah tidak ikut berjuang bersamanya. Mereka harus saling berpangku tangan untuk mewujudkannya.


"Aku sadar aku tak sesempurna yang papa mu inginkan, aku tak punya harta yang melimpah, bahkan ilmu ku juga tak sebanding dengan mu dan sebenarnya tidak pantas aku mengharapkan mu, tapi apakah aku tidak berhak untuk itu? Apakah aku tidak berhak untuk mewujudkan sebuah mimpi? "


"Aku bukan pria yang romantis, yang akan mengatakan kata-kata yang penuh dengan puitis, aku juga bukan pria yang bisa memberikan semua yang akan kamu inginkan."


"Aku sadar aku tak bisa menjanjikan kebahagiaan, aku juga tak bisa menjanjikan kamu akan selalu tersenyum saat bersamaku. Tapi aku hanya bisa berjanji akan selalu bersamamu dalam segala hal, aku akan mendukungmu, dan aku akan berjanji akan selalu melindungi mu. Itulah janji ku. " Ucap Rico begitu banyak.


"Apakah kamu mau berjuang untuk meraih kebahagiaan bersamaku? Berjuang untuk mewujudkan surga dalam sebuah hubungan? "


"Apakah kamu mau, Aisyah. "


"Aisyah Rahma Saputri, apakah kamu mau menjadi bidadari ku hingga surga kelak. "


Bulir-bulir air mata Aisyah menetes seiring satu persatu setiap kata yang keluar dari mulut Rico. Dia begitu hanyut dalam semua kata itu. Semuanya begitu masuk dan meresap dalam hatinya.


Aisyah masih terdiam, dia menunduk dan memantapkan hati untuk berjuang bersama dengan Rico.


"Aisyah Rahma Saputri. "


"Bang Rico..."


Rico terus menunggu Aisyah melanjutkan kata-katanya, sampai kapanpun dia akan menunggunya.


"Jadikanlah aku bidadari mu hingga surga kelak. Jadikan aku satu-satunya dalam hati mu, Bang. " Jawab Aisyah yang akhirnya menerima Rico.


Rico begitu lega, akhirnya mereka berdua benar-benar bisa saling mengungkapkan perasaan mereka dengan benar.


Rico mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah sapu tangan berwarna putih. Membukanya tepat di hadapan Aisyah. Sebuah bunga kecil berwarna merah, dan masih terdapat tangkai di bawahnya namun tangkai itu terlihat melingkar dan menjadi seperti cincin yang terdapat bunga di atasnya.


"Pakailah ini, aku berjanji aku akan memakaikan cincin yang sebenarnya kelak setelah mimpi kita benar-benar telah terwujud. " Ucap Rico menyodorkan sapu tangan itu.


Dengan pelan Aisyah mengambil bunga itu dan memakainya di jari manisnya sendiri. Keduanya tersenyum geli karena Rico membuatnya terlalu besar dan tidak pas di jari Aisyah.


"Maaf, aku tidak tau ukuran jarimu. " Rico menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tersenyum malu karena kesalahannya.


"Ini bagus. " Jawab Aisyah memperlihatkan jarinya pada Rico. Aisyah tersenyum namun dia terharu, air mata bahagianya pun tumpah di hadapan Rico.


"Jangan nangis, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi padamu meski itu tangisan bahagia sekaligus. " Tangan Rico kembali terangkat dan ingin menghapus air mata di pipi Aisyah.


"Eits... " Aisyah mundur tak mengizinkan itu terjadi.


"Hem.. "


___

__ADS_1


Bersambung..


_______________


__ADS_2