Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
140. Kenapa Bisa Terjadi


__ADS_3

Happy Reading..


____


Merembes sudah air mata Shelvia, tubuhnya terduduk lemas saat dia sendiri melihat Iqbal di paksa pergi oleh mamanya. Apa yang sebenarnya terjadi, Shelvia benar-benar tak mengerti.


Hatinya yang sudah tertata rapi dan sudah mantap kini harus pupus saat mulai tumbuh berkembang.


"Sebenarnya ada apa, Ma, Pa, " suaranya terdengar sangat pilu, matanya terlihat kosong memandangi buah tangan dari Siksa yang berserakan di lantai.


"Kenapa harus begini," ucapnya lagi. Shelvia belum benar-benar mencintai Iqbal dia hanya baru mulai membuka hati untuk menerimanya tapi kenapa rasanya sangat sakit.


David juga Airin terlihat bingung, kenapa semua bisa terjadi mereka juga tak mengerti. Tak pernah meraka sangka kalau Iqbal adalah anak dari Siksa. Mereka tak ada dendam ataupun kebencian yang masih tersisa di hati mereka namun sepertinya tidak dengan hati Siska, kebencian kepada David juga Airin sepertinya masih sangat membekas.


David juga Airin duduk mengapit Shelvia, menengahinya dan saling merangkul putri mereka.


"Sabar, Via. Mama yakin semua akan baik-baik saja. Jika Iqbal adalah jodohmu kalian pasti akan dipersatukan kelak," ucap Airin.


Hati Airin juga merasa sakit melihat anaknya yang seperti ini, tak seperti biasanya Shelvia akan seperti sekarang. Shelvia adalah gadis yang sangat ceria tak pernah orang tuanya lihat Shelvia sedih apalagi sampai menangis seperti sekarang ini.


"Sabar, Sayang. Sabarlah... " kini David yang berbicara.


Keduanya terus menghibur Shelvia, namun gadis itu tetep belum bisa menghilangkan kesedihannya.


David merengkuh kepala Shelvia menenggelamkan di dada bidangnya. Berkali-kali David mengecup puncak kepalanya berharap bisa membuat anaknya tenang.


"Bersabarlah dan juga ikhlas, itu yang akan membuat kamu tetap tenang. Mama maupun Papa tidak tau semua ini akan terjadi, maafkan Papa juga Mama karena masa lalu kami kalian yang menderita, maafkan kami," ucap David menyesal.


Tak seharusnya masa lalu mereka menjadi ujian untuk para anak-anak mereka, Iqbal maupun Shelvia tidak tau apapun tentang mereka.


"Tapi, Pa. Kenapa harus Via," ucapnya.

__ADS_1


"Maaf, maafkan Papa," hanya kata maaf yang bisa David katakan pada Shelvia, semua bukanlah keinginan, bukan kehendaknya juga.


______


Di perjalanan Iqbal tidak diam begitu saja, dia tak terima dengan keputusan dari Siska. Dia sangat mencintai Shelvia bagaimana mungkin dia bisa menerima semua itu setelah kebahagiaan sudah di depan mata.


Saat pertama bertemu dengan Shelvia, Siska memang sangat menyukainya. Gadis yang cantik, mudah berbaur, ramah, dan juga sangat sopan tapi semua itu tak berlaku untuk sekarang, karena semua kekaguman itu berubah menjadi kekesalan juga kebencian.


Kebencian terhadap orang tua Shelvia membuatnya juga membencinya dia tak berpikir kalau kedua anak muda yang tengah jatuh cinta itu tak tau apa masalah mereka namun tetap saja mereka harus menanggung semua.


Mata Iqbal memerah memandangi jalan raya tanpa menoleh ke arah Siska sama sekali. Hatinya begitu dongkol, dia sangat kecewa dengan Mamanya.


"Kenapa sih, Ma! kenapa Mama tidak bisa melupakan masa lalu Mama! kenapa harus aku yang menanggung penderitaan ini, kenapa, Ma! kenapa," Iqbal sangat kesal, dia ingin memuntahkan semua kekecewaannya tapi semua itu sepertinya tak berguna karena Siska tetap diam dan tak menggubris apapun yang dia katakan.


"Aku ingin bahagia, Ma. Bukannya tadi Mama bilang Mama akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Iqbal! kenapa sekarang Mama melupakan itu, kenapa, Ma! "


"Dari dulu Iqbal tak pernah minta apapun pada Mama, sekarang Iqbal minta untuk Mama membuang semua kebencian di hati Mama dari keluarga, Shelvia, Ma! "


"Diam...!" bentak Siska dengan kemarahan yang sangat besar sekarang.


"Apa kamu pikir Mama jahat! apa menurut mu Mama ini orang yang jahat, iya! Mama juga tidak pernah meminta apapun dari mu selama ini, Iqbal. Tapi sekarang Mama juga minta padamu, lupakan Shelvia! lupakan semua mimpi dan harapan mu tentang Shelvia, lupakan! "


"Mereka bukan orang yang baik untuk mu! Mereka tidak pantas menjadi keluargamu, tidak akan pernah pantas! " kecam Siska begitu marah.


Iqbal melotot dia semakin marah, tak mungkin dia akan bisa melupakan semua tentang Shelvia, semua mimpi-mimpi yang ingin dia rajut bersama dengan Shelvia.


Iqbal tak akan bisa melupakannya dia sangat mencintai Shelvia.


"Tidak, Ma! Iqbal tidak bisa melupakan, Shelvia! Iqbal sangat mencintainya Ma!" jawab Iqbal.


"Lupakan dia, Iqbal! masih banyak gadis yang lebih baik darinya yang lebih bermartabat dan lebih jelas keluarganya!"

__ADS_1


"Kenapa, Ma! apa menurut Mama Shelvia tidak jelas! lalu bagaimana dengan Iqbal, Ma! apakah Iqbal anak yang jelas!? bahkan Iqbal tak mengenal Papa Iqbal, bagaimana dia sebenarnya, sifatnya, kelakuan kepada dunia, Iqbal tidak tau, Ma! Apakah itu yang di maksud Mama jelas! "


"Bahkan Iqbal..., " ucapan Iqbal terputus juga melirih dia seakan tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya. Namun dia tetap melanjutkannya setelah menata hatinya, "bahkan Iqbal ada di kandungan Mama sebelum Mama resmi menikah dengan Papa kan, Ma? sekarang siapa yang tidak jelas, Iqbal atau Shelvia, Ma."


Air mata Iqbal jatuh seiring dengan kata-katanya barusan. Iqbal masih belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata dia ada sebelum kedua orang tuanya menikah.


Siska menoleh, dia melihat betapa hancurnya Iqbal sekarang dia juga sedih dia tak mau melihat anak semata wayangnya itu menderita seperti ini. Tapi dia tidak bisa memaafkan orang tua Shelvia, dia masih sangat membenci mereka.


"Iqbal, maafkan Mama, Nak. Tapi Mama tidak bisa menerima dia lagi, Mama tidak bisa," ucap Siska yang terdengar sangat menyesal, tapi buat apa menyesal kalau dia sendiri tidak mau memperbaikinya.


"Mama minta kamu tinggalkan Shelvia, Nak. Lupakan dia, demi Mama," sambungnya lagi namun tak berani memandangi Iqbal.


"Demi Mama!? apakah Mama tidak berfikir bagaimana dengan Iqbal? kenapa Mama egois, Ma! "


"Mama tidak egois, semua ini demi kamu! " amarah Siska kembali meledak lagi setelah tadi sudah mulai tenang.


Perdebatan mereka berdua sepertinya belum juga menemukan titik terang karena keduanya tetap kekeuh pada pendirian mereka masing-masing.


Mobil berhenti di depan rumah mereka, dengan cepat Iqbal bergegas keluar dari sana, "Iqbal kecewa sama, Mama! " ucapnya yang langsung di susul dia yang keluar dari mobil.


Iqbal benar-benar kecewa kini dia berjalan masuk ke rumah dengan cepat meninggalkan Siska.


"Iqbal... Iqbal...! " panggil Siska dengan sangat keras namun Iqbal sama sekali tak memperdulikannya.


Siska pun turun dari mobil dengan cepat, mengejar Iqbal yang tengah marah padanya. Apapun yang terjadi Siska tidak akan mengizinkan Iqbal kembali berhubungan dengan Shelvia, Siska merasa dia tak pagi pantas untuk Iqbal anaknya.


___


Bersambung..


________

__ADS_1


__ADS_2