Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
138. Harus Bersabar


__ADS_3

Happy Reading...


____


Meski masih dalam suasana pengantin baru, masih anget-anget hubungan keduanya namun Rico hari ini tetap pergi ke Resto nya. Tentunya kali ini Rico akan mengajak Aisyah juga. Rico tetap tak mau jauh-jauh dari istrinya. Kesehatan Rico juga sudah membaik jadi dia bisa pergi sekarang.


Dengan motornya Rico pergi bersama Aisyah, awalnya Aisyah menolak mengendarai motor dia takut Rico akan kembali demam lagi, tapi bukan Rico kalau hanya mengiyakan.


Bukankah dengan berboncengan motor akan terlihat sangat romantis? apalagi sekarang Aisyah bebas berpegangan padanya, bahkan bebas untuk memeluknya, jadi terlihat sangat berbeda kan dari pada naik mobil, itulah yang Rico katakan tadi sebelum mereka berangkat.


Dan benar saja, meski dengan duduk menyamping Aisyah tetap bisa melingkarkan tangan di perutnya, bukankah ini lebih baik.


"Hati-hati, Bang. Anginnya masih sangat dingin," ucap Aisyah mengingatkan.


"Hem.. " jawab Rico dengan sekali anggukan.


Keduanya benar-benar menikmati masa-masa berdua mereka, bahkan mereka terlihat seperti pasangan yang tengah berpacaran.


"Berpacaran setelah menikah ternyata lebih enak ya, Syah! tak ada yang berani menggunjing juga tak ada yang akan menertawakan," ucap Rico.


"Hem.. " kali ini Aisyah yang menjawab dengan satu kata juga dengan satu kali anggukan.


Motor sudah berhenti di depan Resto Nusantara, keduanya turun dari motor dengan bergantian. Keduanya saling melepaskan helm menaruhnya di atas motor.


Sebelum melangkah masuk Rico yang berinisiatif menggandeng tangan Aisyah menariknya dan tak ingin berpisah meskipun hanya sebentar saja.


"Bang, malu," ucap Aisyah yang hendak menahan langkah mereka berdua.


Rico kembali berhenti menoleh sejenak ke arah Aisyah lalu tersenyum manis padanya, "kenapa harus malu, kamu kan di gandeng oleh suamimu jadi nggak harus malu. Selama masih dalam batas kewajaran tidak apa-apa kan?" tanya Rico.


Aisyah mengangguk membenarkan, bergandengan tangan juga bukan hal yang berlebihan itu sangat wajar di lakukan oleh pasangan apalagi pasangan yang sudah halal.


"Kita masuk sekarang? " tanya Rico lagi, kali ini Aisyah mengangguk meskipun dia masih sangat malu sih, dia tau seperti apa mulut Dante saat berkomentar setelah tau ini pasti dia akan mengatakan hal yang aneh-aneh lagi.


Rico semakin mengeratkan tangannya dia kembali menarik Aisyah untuk masuk ke dalam Resto Nusantara.


Kedatangan mereka berdua di sambut dengan suka cita dari semua karyawan Rico, semua tampak senang menyapa Aisyah. Bukan hanya para karyawan saja yang senang namun Dante pun juga demikian, kali ini Dante secara khusus membuat menu makanan spesial untuk menyambut kedatangan Aisyah di Resto Nusantara.

__ADS_1


"Selamat datang, Pak bos juga Bu bos..., wihh..., gandengan terus nih kayak surat cinta dan prangko nya, lengket terus kan , Bos!" celetuk Dante.


"Gimana, Bos? sudah jadi belum tuh sepupuku, kalau belum jadi juga tak apa, tapi udah di proses kan, Bos? " tanya Dante. Matanya terus mengedip genit, menggoda Aisyah juga Rico.


Nah kan benar apa yang di takutkan Aisyah, Dante pasti tidak akan pernah diam dia akan selalu menggodanya. Menanyakan hal yang tidak-tidak.


Kesal lah itu pasti Rico rasakan, nih mulut satu sepertinya gak pernah ada habis-habisnya selalu mengatakan hal-hal yang di luar kewajaran.


"Kau bisa diam nggak, Dan. Apa saya perlu cabe supaya kamu bisa diam? " ubun-ubun Rico sepertinya mulai menguap.


Bukannya tunduk, patuh dan diam namun Dante kini malah cengengesan seperti tak punya kesalahan sama sekali. Dia benar-benar tidak takut pada Rico.


"Jangankan cabe, Bos. Cabe-cabean juga aku akan kedipin," jawab Dante.


"Makan tuh cabe-cabean, dasar! " sungut Rico.


"Sudah lah, Bang." ucap Aisyah memisah keduanya, kalau tidak perdebatan mereka berdua tidak akan pernah ada habisnya.


Rico nurut begitu saja, benar kata Aisyah semua harus di akhiri kalau tidak dia sendiri yang akan lelah.


"Oh iya, Dan. Bagaimana dengan Mey...,"


"Mey..., maksudnya?" tanya Aisyah yang ternyata tetap menangkap perkataan Rico yang belum selesai dan akhirnya dia bertanya karena sangat penasaran.


"Bukan apa-apa kok, Bu bos. Hem..., silahkan di nikmati makanannya saya permisi dulu masih ada pekerjaan yang menunggu ku datang," pamit Dante dengan cepat.


"Oh iya! kalau pak Bos sama bu bos ingin berduaan kamar sudah siap sedia, sudah bersih juga karena sudah saya sterilkan dari para kuman pengganggu,"


𝘉𝘶𝘨𝘩...


"Kalau mau pergi ya pergi saja nggak usah ninggalin ocehan nggak penting," sungut Rico yang begitu kesal. Tuh mulut satu lama-lama benar bikin darah tinggi.


"Ma-maaf, Bos. Saya permisi," Dante benar-benar pergi sekarang, dengan sakit yang ada di perutnya karena di sikut oleh Rico.


Setelah kepergian Dante, Aisyah juga Rico kembali menikmati makanan yang di buat oleh Dante secara khusus untuk mereka berdua. Makanan spesial yang belum pernah ada sebelumnya di sana sepertinya Dante mencoba menu baru.


"Bang, apa abang menyembunyikan sesuatu pada Aisyah?" tanya Aisyah yang masih sangat penasaran.

__ADS_1


"Hem...? " Rico mengangkat wajahnya memandangi Aisyah yang masih terus menunggu dirinya mengatakan sesuatu. Rico juga sudah menghentikan mulutnya yang mengunyah.


"Apa Bang Rico tidak mau mengatakannya pada Aisyah? " ucapnya lagi.


Rico tersenyum kecil. Sebenarnya dia tak mau menyembunyikan semua dari Aisyah, namun Dante sendiri belum menginginkannya jadi Rico ingin menghargai itu karena ini adalah hal pribadi Dante.


"Kamu akan tau secepatnya," jawab Rico.


Aisyah tersenyum kecil dengan rasa kecewa, namun dia tak bisa mendesak Rico juga untuk mengatakan karena semua itu adalah rahasia antara Rico juga Dante.


"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨, 𝘚𝘺𝘢𝘩. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦. 𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘪𝘤𝘰.


"Assalamu'alaikum..., wih pengantin baru nempel terus ya," kali ini Iqbal yang datang, bahkan Iqbal juga langsung duduk di kursi yang satunya lagi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Rico juga Aisyah bergantian.


"Sial, seharusnya Dante hanya menaruh dua kursi di sini jadi tidak akan ada orang ketiga di antara kami." gumam Rico dengan menyembunyikan kekesalannya.


"Kenapa, Ric, apa kamu mengatakan sesuatu? " tanya Iqbal mengernyit, dia hanya mendengar samar-samar perkataan Rico, karena tidak jelas jadi dia menanyakannya.


"Bukan apa-apa, hanya saja...,? kamu harus lebih sabar, lebih dewasa dalam semua masalah. Semua yang terjadi belum tentu akan sesuai dengan apa yang kita inginkan."


"Untuk sebuah kebahagiaan, semua tidak akan bisa mulus tanpa hambatan, pasti akan ada sedikit duri yang akan menusuk dan melukaimu. Jadi kamu harus bisa berbesar hati untuk menghadapinya," ucap Rico panjang kali lebar.


"Maksudnya?" Iqbal semakin tak mengerti.


Aisyah pun sama, dia mendengarnya juga sangat bingung tak mengerti apa yang Rico katakan.


"Sudah, pergi sana! jangan ganggu orang lain. Urus keperluan mu, bukannya kamu akan pergi ke tempat gadismu? cepat sana! dan ingat, perjuangkan jangan menyerah di tengah jalan, maka kebahagiaan akan kamu dapatkan,"


"Ish.., apasih!? nggak jelas banget kamu Ric?! "


Iqbal pergi dengan segudang pertanyaan di dalam kepalanya, apa yang di maksud oleh Rico? kenapa dia sangat sulit untuk mencernanya.


___


Bersambung...

__ADS_1


______


__ADS_2