
Happy Reading....
____________
"Assalamu'alaikum... " Sapa Iqbal kepada gadis pujaannya. Senyumnya terus terpampang nyata di depan Shelvia, sudah beberapa hari ini mereka tidak saling bertemu, karena Aisyah yang di larang bertemu dengan Rico mereka berdua juga terkena imbasnya.
Tak sanggup menahan rasa rindu lagi Iqbal terpaksa harus datang sendiri ke kampus. Dan akhirnya mereka bisa bertemu saat Shelvia juga akan pulang.
"Wa'alaikumsalam, Kak Iqbal kenapa ke sini? " Tanya Shelvia.
"Aku, aku ingin menemui kamu lah, emangnya mau apalagi? "
"Untuk apa? "
"Mau mengajakmu ke rumah sakit. Hemm..., Mama mau kenalan dengan calon mantu, hehehe..., mau ya , mau ya.. " Kedua tangan Iqbal menyatu di depan dadanya dia sangat mengharapkan kalau Shelvia akan mau ikut bersamanya untuk bertemu dengan mamanya.
"Emang siapa yang menjadi calon mantu? Jangan ngadi-adi deh, Kak." Kesal Shelvia.
"Please ya, please..., mama sedang sakit dan dia ingin sekali bisa bertemu dengan kamu. Ya, kalau memang kamu belum siap untuk menjadi calon mantu mama, kamu anggap saja kamu bertemu dengannya sebagai temanku, ya..., please.. "
"Tapi..., tapi aku harus pulang. " Jawab Shelvia.
"Please..., sebentar saja. Buatlah mama ku bahagia. Sekarang dia sedang ada di rumah sakit. " Iqbal benar-benar sangat memohon pada Shelvia.
"Baiklah, tapi hanya sebentar ya. " Jawab Shelvia.
Bukan hanya Iqbal juga Shelvia yang tidak bisa saling bertemu tapi Rico juga Aisyah mereka juga sama. Meskipun setiap hari mereka ada di dalam kampus yang sama namun mereka tak pernah saling bertemu. Keduanya terasa susah sekedar untuk bisa melihat saja, entah siapa yang menjauh entah Rico atau Aisyah namun mereka tak pernah bisa saling berpapasan.
Aisyah yang ingin sekali bisa melihat Rico saja itu terasa sangat susah, bahkan dia terus mencari keberadaan Rico tapi tetap saja tidak bisa padahal setiap hari Rico juga datang ke kampus.
Sejenak Aisyah terdiam saat berada di parkiran, dia ingin sekali bisa melihat Rico di sana namun sepertinya itu pun juga tidak bisa dia lakukan sekarang.
"Mungkin Allah memang tidak menginginkan aku untuk bertemu dengan bang Rico." Gumam Aisyah.
Aisyah memutuskan untuk pulang saja, namun dia terkejut saat melihat ban motornya yang kempes, "Astaghfirullah, kok bisa kempes sih! " Aisyah berjongkok, melihat ban motornya yang benar-benar kehabisan angin saat ini, sepertinya itu bukan hanya kempes biasa tapi bocor.
"Bagaimana aku akan pulang." gumamnya lagi. Aisyah kembali beranjak matanya mengedar ke segala penjuru namun tempat itu sudah sepi hanya beberapa motor dan juga mobil saja yang terparkir manis di sana.
__ADS_1
Aisyah yang tengah kebingungan di kejutkan dengan datangnya Farel yang akan pulang dan ingin menghampiri mobilnya yang tak jauh dari tempat Aisyah berada.
"Loh, Aisyah! Kamu kenapa? " Farel langsung menghampiri Aisyah.
Aisyah menoleh, seseorang yang ingin sekali dia lihat entah kenapa beberapa hari ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya saja sementara orang yang tidak ingin dia lihat terus saja nongol.
"Kak Farel, i-ini.., motor Aisyah kempes." Mata Aisyah kembali melihat ban motornya yang memang benar-benar kempes.
Farel pun sama, Farel yang berdiri di hadapan Aisyah ikutan membungkuk karena ingin melihat ban motor Aisyah, "Hem..., kamu bisa bawa mobil, kan?" Sejenak Farel memandangi Aisyah dan yang di pandang langsung saja mengangguk, "Kalau begitu kamu pakai mobilku saja, biar motormu aku yang bawa ke bengkel."
"Hem.., tidak tidak! Biar Aisyah sendiri saja yang membawa ke bengkel." Tolak Aisyah.
"Nggak apa-apa biar aku saja, bengkelnya agak jauh takut kamu lelah nantinya." Kekeuh Farel.
Aisyah bingung, dia tidak ingin merepotkan siapapun termasuk Farel. Jika Farel yang membawanya pasti dia juga akan kelelahan, "tidak usah, Kak. Biar aku telfon orang bengkel saja supaya mengambilnya di sini. " Tangan Aisyah segera mengambil ponselnya, dia tidak akan mengizinkan Farel yang membawanya dengan berjalan kaki dan menuntun nya sampai bengkel.
"Nggak usah, Ais. Biar aku saja yang bawa." Farel masih saja menginginkan dia yang akan membawa motor Aisyah ke bengkel namun Aisyah tetap menggeleng tak mengizinkan.
Di hadapan Farel, Aisyah benar-benar menghubungi orang bengkel dia memintanya untuk datang dan mengambil motornya di sana, dan pihak bengkel menyetujui permintaannya.
"Alhamdulillah, sudah. " Ucap Aisyah lega.
Aisyah tampak kikuk saat hanya bersama dengan Farel saja di sana, dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang mungkin bisa saja akan Farel tanyakan.
"Tidak usah panggil taksi, biar aku antar saja sampai rumah." Ujar Farel.
Aisyah terhenyak, dia ingin sekali menghindar dari Farel. "Tidak usah, Kak! Kak Farel kan harus ke kantor Aisyah tidak mau mengganggu waktu kak Farel."
"Tidak apa-apa, biar bagaimanapun om Rayyan juga menitipkan kamu kepadaku jadi aku harus pastikan kamu baik-baik saja sampai rumah." Ucapnya.
"Tapi, Kak? "
"Tidak apa-apa, yuk." Ajak Farel.
"Tapi...? "
"Ayok.. " Kekeuh Farel.
__ADS_1
Sembari memegangi tali tasnya Aisyah berjalan pelan di belakang Farel, hingga akhirnya Farel membukakan pintu mobil di samping pengemudi untuk Aisyah.
"Hem.. " Pintanya seraya meminta Aisyah untuk masuk.
"Terima kasih, Kak." Meski ragu Aisyah tetap masuk ke dalam mobil Farel dan setelah itu Farel menutupnya pelan.
Farel berjalan memutari mobilnya dari depan, dia masuk ke tempat pengemudi tak lama mobil pun perlahan-lahan pergi meninggalkan kampus.
Dua pasang mata memandangi mobil yang sudah pergi, kedua orang itu langsung keluar dari persembunyiannya. Sakit, hatinya memang sangat sakit melihat itu, tapi mau bagaimana lagi dia harus tetap melakukannya dia harus ikhlas belajar melepaskan sebelum dia benar-benar tak bisa melepaskannya kelak jika cinta itu semakin dalam di hatinya.
"Sabar, Bos. Jika benar-benar jodoh tidak akan pernah pergi. Jodoh tidak akan pernah tertukar." Air mata yang hampir saja menetes sudah lebih dahulu di usapnya dengan punggung tangannya, hatinya sungguh sakit melihat gadis yang di cintai bersama dengan pria lain karena keinginannya.
"Kamu benar, jodoh tidak akan pernah tertukar." Jawabnya, yang tak lain adalah Rico dan juga Dante.
Ya, ternyata memang Rico lah yang berusaha menjauh dari Aisyah, entah apa alasannya atau mungkin ada bujukan atau larangan dari seseorang yang tidak merestui mereka.
"Terima kasih sudah membantuku." Ucap Rico.
"Santai bos, jangankan hanya untuk mengempeskan ban motor mengempeskan kantong juga oke, hahaha... " Tawa Dante pecah seiring dengan tangannya yang merangkul pundak Rico dan menuntunnya untuk ke parkiran.
"Semangat demi masa depan, Bos." Ucapnya.
"Kamu benar, seorang laki-laki tanggung jawabnya akan semakin besar setelah menikah nanti jadi sebelum itu terjadi siapkan diri, mental juga siapkan materi. Kita tidak akan hidup hanya dengan cinta saja bukan, kita juga butuh materi untuk membahagiakan tulang rusuk kita kelak. " Jawab Rico.
"Good..., tapi kenapa malah jadi membicarakan tentang pernikahan?"
"Iya lah, emang kamu tidak mau menikah. betapa umurmu hingga kamu masih santai begitu? apa kamu mau membujang seumur hidup, tidak kan?" jawab Rico.
"Tidak lah, aku laki-laki normal mana bisa membujang seumur hidup. Bisa-bisa kepribadianku di pertanyakan lagi, di kira aku suka jeruk juga."
"Apa lagi kalau kita deket terus gini ya, Bos. Bisa-bisa ada yang mengira kita jeruk makan jeruk.. hahaha.. "
"Pergi sana.. " usir Rico dengan kesal namun itu malah membuat Dante terkekeh.
____
Bersambung....
__ADS_1
_____________