
Happy Reading.....
__________
Begitu hitam lingkaran hitam di mata Shelvia, dia sama sekali tidak bisa tidur semalam. Dia sudah berusaha untuk memejamkan mata tapi tak berhasil.
Dia juga sudah melakukan apapun, membuat matanya lelah supaya dia bisa membuat matanya terpejam namun semua usahanya sia-sia.
Virus kebucinan sungguh sudah merasuki pikiran Shelvia. Dia yang mulanya tak mau mengenal apa itu cinta dan tak ingin tau tapi sekali cinta itu datang di dalam hatinya dia tak bisa tidur.
Apakah Shelvia salah jika membiarkan cinta itu berkembang dengan liar di dalam hatinya? tentu dia tidak salah kan?
Cinta itu murni datangnya dia tidak bisa menahan, menghentikan ataupun menolak jika sudah berhasil singgah.
"Astaghfirullah hal 'azim..., ada apa dengan diriku. Kenapa aku menjadi seperti ini sekarang? Ya Allah, maafkan aku, sebenarnya ini tidak pantas tapi kenapa aku tidak bisa menolaknya? dan aku juga tidak bisa menghilangkannya dari hati dan pikiranku."
Shelvia begitu bingung dengan dirinya sendiri. Apakah dia terkena karmanya kali ini? Dia dulu sering sekali menertawakan Aisyah karena terlalu bucin dan sekarang lihatlah dengan dirinya sendiri, bahkan dia juga sama bucinnya seperti Aisyah dulu.
"Apakah kamu pernah menyumpahi ku, Syah? sampai-sampai aku tertular dengan penyakit yang namanya bucin ini," gumamnya lagi.
Shelvia beranjak dari kasurnya yang sangat berantakan, dia berjalan menuju meja rias untuk melihat keadaan dirinya. Astaga sungguh buruk.
Shelvia tak percaya tapi ini sangat nyata bagaimana dia tidak akan percaya?
"Astaga, badut dari mana ini? " pertanyaan yang sangat menggelikan. Bahkan Shelvia menganggap dirinya sendiri sebagai badut.
Apakah memang begitu buruk?
"Apakah aku akan ke kampus dengan tampang yang seperti ini? bisa-bisa aku di tertawakan nantinya, ckckck..., Via.. Via..," Shelvia menggeleng sendiri.
Shelvia terduduk di bangku dengan meja, tangannya menjadi tiang untuk dagunya. Tatapan kosong ke arah pantulannya sendiri.
"Sudah sampai mana ya kak Iqbal berusaha? apakah dia benar-benar tidak membutuhkan bantuan ku? apakah dia benar ingin berusaha sendiri tanpa campur tangan orang lain?"
__ADS_1
"Aaaa...! Kak Iqbal, kamu benar-benar membuatku menjadi orang tidak waras," ucapnya lagi.
"Sudahlah, aku harus percaya kalau kak Iqbal pasti akan berhasil. Lebih baik sekarang aku bersiap ke kampus. Biarkan saja orang menertawakan ku, itu tak masalah, tidak akan membuatku sakit juga."
Shelvia berdiri, bergegas mengambil handuk untuk pergi membersihkan diri di kamar mandi. Itu akan lebih baik untuknya daripada terus berkhayal sendiri di depan kaca.
______
"Assalamu'alaikum.., Om." Pagi-pagi Dante sudah sampai di pesantren juga. Dia sudah semangat sekarang, dia ingin secepatnya mengikis jarak hubungannya dengan Meyka yang belum jelas.
Dante juga ingin secepatnya menggantikan posisi pria yang ada di hatinya Meyka jadi dia akan terus melakukan pendekatan padanya.
Fikri yang ingin mengantarkan Meyka ke kampus di buat terkejut dengan kedatangan Dante di sana. Tangan yang hampir membuka pintu mobil dia urungkan dan kembali menoleh ke arah Dante yang sudah lebih dulu menyapanya.
"Wa'alaikumsalam, kamu...? " Fikri terlihat bingung, mungkin dia memang belum mengenal Dante. Pernah sih lihat beberapa kali tapi belum tau siapa namanya dan dimana dia tinggal.
"Dia kak Dante, Bi. Temannya Kak Rico," Meyka yang angkat bicara.
Fikri beralih menoleh ke arah putrinya itu. Matanya menyipit berfikir ada hubungan apa anaknya juga pria yang datang pagi-pagi seperti ini. Untuk siapa dan mau apa?
Fikri juga Meyka terkesiap. Sementara Dante dia sudah menunduk takut karena keberaniannya. Apakah dia akan di tolak oleh Fikri? dan tidak di perbolehkan mengajak Meyka, tunggu saja apa jawabannya.
"Apa kamu yakin? Tapi kamu dan Meyka..., apakah ada hubungan serius? " tanya Fikri menyelidiki. Tak akan mungkin kan dia langsung menyetujui begitu saja apa yang di inginkan oleh pria yang bernama Dante itu.
Bagaimana jika dia bukan pria baik-baik. Tapi sebenarnya tak akan ada sih pria yang tidak baik dan tidak serius mendekati anak gadis seseorang kalau dia sudah berani datang ke rumah, pasti dia benar-benar serius kan?.
"Kami...," Dante begitu ragu untuk menjawab.
"Kamu hanya teman kok, Abi." saut Meyka.
Mungkin sekarang mereka masih teman, tapi siapa tau Tuhan berkehendak lain untuk mereka di masa depan. Semoga masa depan menjadikan mereka jodoh yang saling mencintai bukan musuh yang saling membenci, amin.
Benar Meyka mengatakan teman, tapi tetap saja Fikri tidak percaya. Sepertinya Dante telah memiliki rasa pada putrinya mungkin saja Meyka belum menyadari itu.
__ADS_1
"Abi, Meyka sekalian mau izin. Nanti Meyka aku pulang sedikit terlambat. Meyka mau ke resto Nusantara."
"Mau...?"
"Saya yang mengajaknya, Om," saut Dante kali ini.
Benar-benar ada sebuah hubungan yang mulai terjalin kan. Sangat terlihat kalau Dante menyukai Meyka sementara Meyka, sudah terlihat nyaman di samping Dante.
Fikri tidak ingin terlalu membatasi gerak Meyka, dia yakin putrinya tau batasan dan juga tau bagaimana cara berteman dan berhubungan dengan baik.
Jika Dante memang menyukai Meyka, Fikri rasa tidak ada masalah. Dante juga terlihat sangat baik.
"Baiklah, tapi jangan sore-sore pulangnya. Kamu juga boleh di antar Dante ke kampus, tapi ingat, kalian bukan pasangan halal jangan sampai berdosa dengan apa yang kalian lakukan," ucap Fikri mengingatkan.
"Baik, Abi. Meyka pergi dulu sudah siang, takut terlambat. Assalamu'alaikum... " Meyka langsung meraih tangan Fikri mengecup punggung tangannya dengan begitu takzim.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Fikri.
"Saya pamit, Om. " Dante pun melakukan hal yang sama seperti Meyka, ya itung-itung belajar menjadi mantu yang baik. Siapa tau dia akan langsung mendapatkan restu dari Abi nya Meyka.
"Saya titip Meyka, jaga dia baik-baik. Dan ya, jangan mengecewakan saya, jangan hancurkan kepercayaan saya," jawab Fikri.
"Pasti, Om. Assalamu'alaikum.. " senyuman kecil menjadi tinggalan untuk Fikri sekarang yang di balas juga dengan senyum yang sama dari Fikri.
"Wa'alaikumsalam.. " Fikri hanya bisa menatap kepergian keduanya yang menuju ke mobil Dante yang di parkirkan di luar pesantren.
Keduanya terlihat diam tak berbicara, tapi mereka berjalan berdampingan. Sudah sangat cocok, mereka berdua begitu serasi.
"Jika mereka berjodoh saya mohon tunjukkan jalan yang terbaik untuk penyatuan mereka Ya Allah. Tapi jika mereka tak berjodoh, jauhkan mereka dengan cara-Mu, dan jangan sampai ada luka yang tertinggal dia antara keduanya."
Doa yang sangat tulus dari Fikri, doa yang terselip sebuah harapan untuk kebaikan dari kedua pemuda-pemudi yang sudah pergi dengan mobil coklat milik Dante.
____
__ADS_1
Bersambung...
______