
Happy Reading...
______
Kediaman Rayyan.
19:00
Hari telah berganti, suasana menjadi semakin tegang saat waktu yang di berikan pada Rico telah habis. Semua keluarga telah berkumpul di ruang tengah, termasuk Keisha, Faisal, Tasya , Farel dan juga Marco yang telah Rayyan undang untuk membicarakan lebih lanjut tentang perjodohan Aisyah dan juga Farel.
Tapi tidak dengan Aisyah, sedari kemarin dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Bahkan sudah berkali-kali Keisha memintanya untuk keluar dan makan namun Aisyah sama sekali tidak mau keluar, entah apa yang dia kerjakan di dalam kamarnya.
"Waktu telah habis, dan Rico tidak bisa memenuhi syarat yang telah aku berikan. Sekarang tidak akan ada lagi yang akan menghentikan kelangsungan hubungan Aisyah dan juga Farel. Bukan begitu, Marco? "
Rayyan menatap Marco dengan wajah yang sangat berbinar senang, akhirnya tujuannya sebentar lagi akan tercapai dengan mudah dan tidak akan ada gangguan lagi.
"Om benar. Setelah ini aku yakin hubungan mereka akan berjalan dengan lancar." jawab Marco yang juga sangat bahagia, akhirnya sebentar lagi dia akan menjadi wali untuk pernikahan Farel menggantikan papanya yang sudah lama tiada.
Farel hanya diam, sesekali dia tersenyum saat Rayyan memandanginya. Itu juga yang Farel inginkan, tapi kenapa sekarang rasanya Farel sangat ragu untuk melanjutkannya. Mendengar kata-kata dari Rayyan barusan bukankah itu artinya dia hanya menjadi cadangan saja? Jika Rico berhasil apa Rayyan akan mengatakan itu dan akan tetap kekeuh dengan perjodohan ini?.
Tak ingin meragukan semuanya, namun Farel benar-benar seperti barang cadangan saja sekarang.
"Terus bagaimana, apa perjodohan ini bisa di lakukan secepatnya? " Ucapan Rayyan berhasil membuat Farel mendongak, dia masih ingin bisa memastikan bagaimana jawaban dari Aisyah.
Bagaimana kalau Aisyah tidak menyetujui semua ini? Dan bagaimana kalau Aisyah kabur seperti saat itu? Farel sangat takut kejadian itu akan kembali terulang.
"Om, apa bisa Farel bicara berdua saja dengan Aisyah?" tanya Farel.
Rayyan juga Marco seketika memandangi Farel dengan tajam, apalagi yang ingin dia bicarakan dengan Aisyah, semuanya pasti akan terjadi jika Rayyan sudah menentukan.
"Saya mohon, Om. Sekali ini saja," Harap Farel.
"Baiklah. Ma, tolong panggilkan Aisyah." pinta Rayyan.
Keisha mengangguk lalu beranjak setelah itu, langkahnya semakin cepat menuju kamar putrinya yang ada di pendopo sebelahnya.
"Kamu baik-baik saja kan, Rel? " selidik Rayyan yang melihat ada keraguan dari Farel.
__ADS_1
"Farel baik-baik saja, Om." Jawabnya dengan wajah yang menunduk.
Sementara Faisal juga Tasya terus diam, mereka tak bisa melakukan apapun meskipun mereka tau keputusan ini tidak akan membuat Aisyah bahagia.
____
Di atas sajadah yang terbentang, masih mengenakan mukenanya terlihat Aisyah tengah meringkuk di sana. Wajahnya sedikit pucat, tubuhnya sangat lemah mungkin karena dari kemarin dia tidak sedikitpun mengisi perutnya dengan apapun.
Aisyah sama sekali tidak keluar, bahkan Aisyah hanya akan pergi dari tempat itu saat dia akan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu saat dia akan menjalankan sholat.
Tersedu dalam diam, menangis tanpa suara. Hatinya sudah pasrah dengan takdir yang akan dia terima. Sudah menjalankan sholat istikharah, meminta petunjuk hal yang benar dan yang benar-benar sebagai takdirnya, namun dia sama sekali tak mendapatkan apapun.
Hanya wajah Rico, Rico dan selalu Rico yang selalu berputar seperti sebuah kaset yang ada di dalam kepalanya. Entah karena dia terlalu berharap Rico yang menjadi tujuannya atau memang dia yang sudah di ciptakan untuk dirinya.
"Aku ikhlas..., aku ikhlas... " Kicaunya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Bang Rico sudah pergi, bang Rico sudah meninggalkan Aisyah, bang Rico telah mengingkari janjinya sendiri... "
"Aku harus ikhlas... "
Rintihan yang begitu menyayat hati, sakitnya seperti dia telah di khianati. Rico seperti tak peduli dengan keadaannya sekarang, dia pergi tak memberi alasan dan tak ada kabar hingga sekarang.
Pintu di ketuk dari luar, namun sama sekali tak membuat Aisyah bergeming dan beranjak begitu saja, dia masih dalam posisi yang sama.
"Aisyah, Aisyah sayang! Keluar yuk, ada yang mau bicara dengan Aisyah! " Terdengar suara Keisha yang ada di luar sana.
Seketika Aisyah beranjak, "apakah itu bang Rico?! " Nama yang terucap pertama kalinya adalah Rico seorang, Aisyah benar-benar menginginkan hanya Rico yang akan datang menemuinya, berbicara dengannya dan membawanya pergi setelah menikahinya.
Aisyah langsung beranjak, dia berlari menuju pintu tanpa melepaskan mukenanya. Tak sabar dia membuka pintu setelah dia berhasil memutar kuncinya.
"Bang Rico datang, Ma! " Teriaknya setelah pintu berhasil dia buka.
Sakit yang Keisha rasakan, begitu besar cinta Aisyah untuk Rico namun dia sama sekali tak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Keisha tak bisa menentang apa yang menjadi keputusan Rayyan, suaminya.
"Bang Rico sudah datang, Ma!" Teriaknya lagi.
Keisha menggeleng pelan, "Bukan bang Rico yang ingin bicara dengan Aisyah, tapi kak Farel."
__ADS_1
Jawaban dari Keisha seketika membuat Aisyah kembali tak bersemangat, tangan yang semula ada di gagang pintu perlahan-lahan luruh dengan lemas.
"Sayang, kamu harus bisa menerima kenyataan ini, bang Rico tidak datang dia telah meninggalkan Aisyah." Kedua tangan Keisha menyentuh kedua bahu Aisyah menyadarkannya dari lamunan yang seketika terjadi.
"Bang Rico tidak pergi, Ma. Bang Rico sedang berusaha." Aisyah masih kekeuh, dia percaya kalau Rico tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkannya.
"Sayang, kamu harus bisa menerima semua ini, Nak." Tak mampu Keisha mengatakan itu dan menghancurkan hati anak gadisnya, tapi mau bagaimana lagi, dia tak melihat Rico datang dan mewujudkan mimpi putrinya.
"Sebentar lagi bang Rico pasti datang, Ma. Bang Rico sedang berusaha mewujudkan keinginan papa."
Begitu besar harapan Aisyah pada Rico hingga dia tak dapat menerima apapun keburukan tentangnya.
Mendengar Aisyah yang terus merengek pilu membuat Keisha menitihkan air matanya, dia tak kuasa melihat penderitaan anak gadisnya itu, dia pernah muda dia juga pernah merasakan cinta, namun takdirnya begitu indah karena dia langsung mendapatkan seseorang yang dia cinta dengan cara yang mudah tanpa adanya masalah, tapi Aisyah?.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bisa berbuat apapun. Maafkan Mama." Ucapannya juga terdengar parau.
Dipeluk lah Aisyah yang masih terus diam dengan air mata yang juga ikut mengalir, hatinya masih tak sebesar itu untuk menerima semua kenyataan ini, kenyataan terpahit dalam hidupnya.
Orang yang dia impi-impikan sejak dia belum mengenal apa itu cinta hingga sekarang dia benar-benar mengenal apa itu cinta, namun sekarang orang itu telah pergi entah ke mana dan bagaimana keadaannya dia sekarang.
"Kita keluar yuk, kak Farel ingin berbicara pada Aisyah." Ucap Keisha sembari melepaskan pelukannya dari Aisyah, menghapus air matanya dan juga milik Aisyah.
"Ma, apakah Aisyah harus benar-benar menikah dengan kak Farel? "Mulutnya berucap namun tatapan matanya kosong.
" Serahkan semuanya pada Allah, Nak. Mama yakin apapun yang terjadi pada Aisyah itu yang terbaik."
"Tapi, Ma..., apakah Aisyah tidak bisa memilih seseorang yang akan menjadi imam untuk Aisyah seperti Mama memilih Papa dulu? "
"Sayang, yakinlah dengan hatimu. Mama yakin Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik untuk mu." Ucap Keisha berusaha membesarkan hati Aisyah yang sangat sempit sekarang.
"Tapi, Ma..? "
"Aisyah yang sabar ya, kesulitan memang selalu ada, tapi begitu juga dengan pertolongan Allah yang akan selalu hadir di saat yang tepat."
"Hem.. " Aisyah mengangguk, dia membalikkan tubuhnya berjalan masuk untuk mengganti mukenanya dengan hijab.
___
__ADS_1
Bersambung...
_______________