Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
112.Di rumah sakit yang sama


__ADS_3

Happy Reading...


________


Suara adzan subuh berkumandang, semua terbangun karena mendengar panggilan dari Sang Maha Pencipta. Semua berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menjalankan sholat subuh berjamaah, begitu juga dengan kedua orang tua Aisyah, juga Faisal, Farel dan yang lainnya.


Semua berjalan seperti biasanya, semangat pagi menjemput hari baru untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Tak ada keraguan dalam langkah mereka semua, sementara Meyka juga Shelvia pun juga baru keluar dari tempat persembunyian mereka.


Mereka berdua tampak senang berjalan menuju masjid, sepertinya mereka juga melupakan Aisyah yang sama sekali belum keluar dari kamar. Kemarin mereka bisa meninggalkan Aisyah setelah dia tenang dan bisa tertidur dan pagi ini mereka belum melihatnya.


"Mey, nanti ada kuliah kan?" tanya Shelvia seraya terus berjalan.


"Ada, emang kenapa?" Jawab Meyka di sambung dengan balik bertanya.


"Ya, nanti kita berangkat bareng aja," tawar Shelvia dan langsung di angguki oleh Meyka dengan semangat, ya kan alhamdulillah dapat tebengan, mungkin seperti itu pikiran Meyka.


Semua masuk ke dalam masjid, menjalankan sholat berjamaah, berdoa bersama juga mendengarkan tausiah pagi udah sejenak.


Di barisan yang begitu banyak ternyata Aisyah tidak ada di sana. Entah dia sudah bangun atau belum atau mungkin memang dia tidak berniat untuk ke masjid karena tidak enak badan.


Selesai dengan rutinitas pagi di masjid semua berbondong-bondong keluar dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Di tengah jalan Meyka dan Shelvia di hentikan oleh Keisha yang penasaran karena tidak melihat anak gadisnya dan hendak bertanya pada mereka.


"Mey, Via..., Aisyah mana, kok nggak ikutan ke masjid? Apa dia sedang uzur? " tanya Keisha begitu lemah lembut.


"Nggak tau, Tan! Tapi dia tidak uzur kok. Tadi malam saja dia sholat. Tapi...?" Ucapan Shelvia berhenti karena mengingat kejadian semalam.


"Tapi apa? " Keisha mulai penasaran.


"Tadi malam Aisyah berteriak histeris, Tan. Dia mimpi buruk mengenai kak Rico," Kini Meyka yang menjawab.


Disaat Meyka mengatakan itu pas kebetulan Rayyan, Faisal juga Farel pas datang yang pastinya mereka juga langsung mendengarkan cerita Meyka kan?.


"Anak itu, masih saja belum bisa melupakan Rico yang pengecut itu," Sinis Rayyan.


"Apa sih, Pa? Papa jangan berfikir yang macam-macam dulu tentang Rico, bisa jadi dia pergi karena ada sesuatu yang sangat penting, atau mungkin dia pergi karena masih ingin berusaha mewujudkan permintaan papa," Ucap Faisal.


"Kamu dan adikmu itu sama saja, selalu saja menentang papa." Faisal pun terkena juga karena kata-katanya barusan.


"Sudah lah, Pa. Mungkin Faisal benar, lebih baik sekarang kita lihat Aisyah dan memastikan keadaannya baik-baik saja," ucap Keisha.


"Hem."


___


Tubuh semakin lemah, mata pun seakan tak mau terbuka namun Aisyah paksakan karena mendengar suara adzan. Terlihat wajahnya sangat pucat, tubuh bukan hanya lemah melainkan juga gemetar.


Aisyah bangun, menurunkan kakinya yang terasa sangat berat. Perlahan-lahan Aisyah berdiri namun kepalanya sangat pusing, Aisyah tetap paksakan untuk sampai di kamar mandi sekedar mengambil wudhu sebelum menjalankan sholat.

__ADS_1


Berat, kepalanya semakin terasa berat, langkahnya mulai tak teratur bahkan sempoyongan. Tangannya terangkat memegangi kepalanya yang semakin pusing.


"Astaghfirullah hal 'a... "


Aisyah tak mampu lagi menahan rasa sakit di kepalanya, dan akhirnya dia jatuh pingsan dan jatuhnya pun dia juga tidak beruntung karena kepalanya terbentur dengan kursi di depan meja riasnya.


𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬𝘬....


Aisyah tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan darah.


Setengah jam kemudian baru terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Aisyah, dan yang pasti tidak akan mendapatkan respon apapun darinya.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...


"Aisyah, Aisyah sayang! " Panggil Keisha namun tak mendapat jawaban.


Karena tak mendapatkan jawaban sama sekali, Keisha langsung masuk karena kebetulan pintu tidak terkunci, "Assalamu'alaikum.. " ucapnya.


Keisha yang di ikuti kedua keponakannya langsung masuk mencari Aisyah, dan betapa terkejutnya setelah melihat Aisyah yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dan kepalanya juga mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah hal 'azim..., Aisyah!!! " Keisha langsung berlari menghampiri Aisyah.


"Aisyah! " Kedua keponakannya pun juga ikut berlari setelah melihat Aisyah.


"Syah, bangun Nak, bangun! " Keisha sudah duduk di lantai mengangkat kepala Aisyah dan menaruh di pangkuannya.


"Panggil om, Via! Cepat! " Perintah Keisha.


Rayyan bertanya sebelum dia memastikan apa yang terjadi, namun setelah dia melihat Aisyah baru dia berlari mendekat, " Aisyah kenapa, Ma?" tanyanya.


"Nggak tau, Pa. Mama ke sini sudah seperti ini," Keisha pun sudah menangis sekarang, dia tak tega dan juga begitu syok melihat Aisyah yang seperti ini.


"Kita bawa ke rumah sakit, Ma, Pa! " ucapan Faisal langsung di angguki oleh semuanya.


Rayyan sendirilah yang mengangkat Aisyah dan membawanya keluar, meskipun dia keras padanya namun dia tetaplah ayahnya yang tidak akan tega melihat anaknya terluka seperti sekarang, padahal apa yang ada di hati Aisyah lebih parah daripada lukanya yang terlihat oleh mata.


Disaat semuanya berlarian membawa Aisyah, Farel kebetulan pas lewat dia pun bertanya pada Meyka yang berlari paling belakang.


"Ada apa, Mey?" Tanyanya.


"Aisyah pingsan, Kak, " jawab Meyka. Meyka kembali berlari tanpa mempedulikan Farel lagi yang masih ingin bertanya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan keputusan sepihak dari Om Rayyan? Secepatnya aku harus bicara dengan om Rayyan, dan aku juga harus mencari Rico, ini tidak bisa di biarkan terlalu lama lagi," gumam Farel.


___


Sementara Rico yang ada di rumah sakit, dia sudah mulai sadarkan diri, tak ada luka yang serius padanya hanya beberapa luka di kakinya yang akan membuatnya sedikit kesusahan untuk berjalan.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kenapa aku bisa ada di rumah sakit? Aku..., astaghfirullah! Aku harus ke rumah Aisyah, dia pasti sudah menungguku! " Rico hendak beranjak namun belum juga dia turun dari ranjang sudah ada perawat yang masuk untuk memeriksa.


"Loh! Mas mau kemana? " Perawat itu langsung berlari menghampiri Rico.


"Saya harus pergi, Sus. Saya sudah di tunggu seseorang, saya tidak bisa berlama-lama di sini? " jawab Rico.


"Tidak, Mas! Mas belum di izinkan oleh dokter." Kekeuh perawat itu melarang.


"Tapi saya harus pergi, Sus."


"Jangan, Mas. Tunggu izin dulu dari dokter."


"Tapi..? "


"Saya mohon, Mas. Jangan nekat, itu akan membahayakan keselamatan Mas sendiri.


Rico pasrah, dia kembali merebahkan diri di ranjang. Mungkin kata perawat itu benar dia harus menjaga dirinya dengan benar lagian dia juga masih sangat pusing.


Di sisi lain, Aisyah sudah ada di UGD di rumah sakit yang sama dengan Rico. Aisyah tengah mendapatkan perawatan karena luka di kepalanya. Namun itu juga tidak parah, hanya luka lecet sedikit saja dan tidak ada luka dalam.


Semua keluarga tampak khawatir di depan UGD, mereka terus mondar-mandir dengan tidak tenang.


"Aisyah, kenapa jadi seperti ini?" ucap Keisha.


"Sabar ya, Tan. Aisyah pasti akan baik-baik saja, " Ujar Shelvia.


"Semoga saja, Via. Tante sangat takut."


"Mama yang tenang ya, Aisyah pasti baik-baik saja," ucap Faisal yang mendekat.


"Hem.. "


____


Farel benar-benar mencari keberadaan Rico, kini tempat yang pertama dia datangi adalah rumah Rico. Namun apa yang Farel dapatkan tak sebaik yang dia kira, belum juga mobilnya berhenti Farel sudah melihat kedua orang tua Rico yang memohon kepada orang yang terus mengeluarkan barang-barangnya.


"Ada apa ini?" Farel mengernyit, dia mempercepat laju mobilnya untuk mendekat.


Mobil berhenti dan Farel langsung turun begitu saja. Dia berlari menghampiri kedua orang tua Rico, "Astaghfirullah, ada apa ini Om?" Tanya Farel pada Sumarno.


"Kami di usir, Nak. Kata mereka rumah ini telah di jual oleh anak kami," Jawab Sumarno tanpa menutupi apapun dari Farel.


"Di jual!!? " Pekik Farel tak percaya.


"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯? " Batin Farel.


__

__ADS_1


Bersambung..


_____


__ADS_2