Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
73. Yakinlah pada cinta


__ADS_3

___


Happy Reading...


__________________


Hari baru telah datang, semua mulai beraktivitas seperti biasanya, semua tampak was-was dengan apa yang akan mereka jemput untuk hari ini. Bukan hanya Aisyah, Rico juga Farel, bahkan orang tua Aisyah dan juga Faisal semuanya ikut berfikir apa yang akan di lakukan.


Seperti sebelumnya, Aisyah dan Shelvia akan pergi ke kampus dengan mengendarai motornya Meyka di antar oleh Fikri, sedangkan Farel seperti biasa pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Angin yang berhembus begitu berbeda seperti biasanya, biasanya akan terasa sejuk, segar tapi hari ini rasanya sangat dingin dan begitu menyakitkan. Tak ada yang tau apa alasannya yang jelas ini bukan pertanda yang baik.


Semuanya sampai di kampus hampir bersamaan, merdeka memarkirkan kendaraan mereka di tempat biasanya sementara Meyka dia turun di depan gerbang kampus lalu menyusul Aisyah dan Shelvia masuk, menghampiri keduanya di tempat parkir.


Mobil dan motor terparkir di tempat yang berbeda, namun juga tak begitu jauh, Farel masih bisa melihat dengan jelas apa yang di lalu oleh Aisyah dan kedua sepupunya. Farel menatap dengan diam, pikirkan nya mulai berargumen dengan sendirinya.


"Apakah dia benar-benar tulang rusuk ku? Atau dia hanya seorang penguji yang di turunkan sebelum aku bisa menemukan sebenarnya tulang rusuk ku? " Gumam Farel begitu lirih.


Pandangan mata Farel ternyata bisa di sadari oleh ketiga gadis itu, mereka juga menatap Farel,dan itu membuat Aisyah bingung apa yang harus dia lakukan.


Tak berlangsung lama, dan mereka akhirnya pergi ke tempat tujuan masing-masing, sementara Aisyah dia akan pergi ke perpus terlebih dahulu karena ada buku yang harus di pinjam.


___


Di dalam perpustakaan...


Aisyah terus mondar-mandir mencari buku yang dia cari sudah dua kali putaran namun dia belum juga mendapat apa yang dia cari. Dalam putaran ke tiga di tak yang berbeda Aisyah malah berdiri terdiam matanya menangkap sosok yang begitu doa cintai, Rico.


Ingin rasanya Aisyah menghampiri Rico yang masih fokus membaca buku dengan berdiri di samping rak itu, tapi dia bingung apa yang akan dia katakan.


Kenapa rasanya Aisyah kehilangan mental untuk datang ke Rico, apa yang terjadi padanya sekarang? Aisyah ingin berbalik namun sudah keburu di sadari oleh Rico yang menoleh.


"Aisyah." Panggil Rico.


Aisyah mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana, sementara Rico kini sudah berjalan ke arahnya dengan tangan membawa buku yang tadi.


"Kenapa kamu terlihat cemas, apa yang kamu pikirkan? " Tanya Rico. Ya, Aisyah begitu mencemaskan Rico yang akan datang ke rumahnya sore nanti.


"Aisyah..., Aisyah..., Bang, apakah bang Rico beneran akan ke rumah nanti sore? " Wajah Aisyah seketika menunduk rasa gelisah nya semakin besar menggerayangi dirinya.


"Kenapa, apakah aku tidak boleh datang? " Rico malah balik bertanya pada Aisyah, ya..., membuat Aisyah semakin bingung lah.


"Aisyah takut, Bang. Aisyah takut Papa akan... "


"Menghinaku, merendahkan ku atau mengusir ku? Jika memang itu yang akan Beliau lakukan aku akan menerimanya. Aku sudah lelah dengan seperti ini terus Aisyah, aku ingin bisa bersama dengan mu tanpa ada halangan dan rasa takut, aku tidak ingin kita bertemu dengan sembunyi-sembunyi seperti ini terus menerus, Syah." Jawab Rico.


"Tapi, Bang? "


"Apakah kamu percaya padaku? Percaya dengan cinta kita? " Tanya Rico dan Aisyah mengangguk cepat. "Maka, izinkan aku untuk datang dan melakukan apa yang seharusnya memang terjadi. " Imbuhnya.


"Apakah Bang Rico sudah yakin? "


"Semuanya harus di lakukan dengan keyakinannya, Syah. Entah apapun keputusan akhirnya, tapi kita harus tetap memiliki keyakinan. " Jawab Rico.


"Aku akan menunggu Bang Rico datang. " Ucap Aisyah yang membuat Rico menarik sudut bibir untuk tersenyum kecil.


"Jangan terlalu di khawatirkan, semuanya akan baik-baik saja."


"Iya, Bang. Hem..., Aisyah pergi dulu, Bang. Assalamu'alaikum... " Pamit Aisyah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Jawab Rico.


Rico terus memandangi kepergian dari gadisnya, sebenarnya dia sangat cemas tapi dia tak mau membuat Aisyah lebih mencemaskan hal itu nantinya.


𝘗𝘭𝘶𝘬.....


Rico menoleh sebuah tangan telah menyentuhnya. "Kenapa tuan tersenyum? Apakah anda mengejekku? "


Orang itu hanya tersenyum dalam diam nya, orang yang hanya bisa Rico saja yang melihatnya. Ya, lagi-lagi arwah Fahmi yang datang kepadanya.


"Apakah Anda memang sengaja membuat ku dalam posisi yang serba salah ini, Tuan. Bukankah Anda selalu bilang akan memperbaiki semuanya? Maka perbaikilah."


"Secara tidak langsung Tuan yang menarik ku ke dalam lubang ini, jadi Tuan yang harus menolongku, aku sudah begitu sabar untuk semua ini, Tuan. Tapi, jika ini masih belum akhir maka lebih baik ajak saja aku pergi dengan Anda, ke dunia Anda. "Ucap Rico panjang kali lebar, namun arwah Fahmi seakan mengejeknya dengan menampilkan senyumnya.


Kesal karena tak mendapatkan kata apapun yang keluar dari Fahmi Rico bergegas ingin pergi, namun di langkah pertama akhirnya Fahmi mengucapkan sesuatu.


" Bisakah kamu menolong ku, aku hanya ingin berbicara dengan Ana." Ucapnya, seketika Rico menoleh.


"Apa yang akan Anda lakukan, apakah Anda akan membuat ku masuk dalam masalah lagi seperti dulu? Tidak tuan, tidak." Rico tersenyum kecut.


"Please, Rico. Sekali saja. "


"Kalau aku menolaknya? Bukankah Anda bisa menyatakan padaku dan aku yang akan mengatakan pada Nyonya Tasya? Bukankah itu lebih baik? "


"Sekali saja, Ric. "


"Entahlah." Rico berlaku pergi, meninggalkan Fahmi yang akhirnya ikut menghilang dari pandangan Rico.


_____


Pukul 16 :45....


Kedatangan Rico benar-benar sudah di tunggu oleh keluarga Aisyah, bukan hanya Rayyan saja yang duduk di ruang tengah di pendopo nya, melainkan ada Keisha, Faisal dan juga Tasya di sana, sementara Aisyah masih ada di kamar dengan harap-harap cemas.


Waktu masih lima belas menit dari waktu yang di minta oleh Faisal dan Rico belum juga datang, namun semuanya sudah sangat gusar, berbeda dengan Rayyan yang kepalanya sudah di penuhi dengan semua kata-kata yang akan dia katakan pada Rico nantinya.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Rico, bagaimana dia sekarang, Faisal. Pasti dia semakin dewasa kan? " Tanya Tasya dengan suara tuanya.


"Dia sangat dewasa, Oma. Dan Faisal menjadi pengagum beratnya untuk itu." Jawab Faisal seraya tersenyum membuat Tasya menjadi bahagia.


"Oma jadi tak sabar ingin cepat bertemu dengannya. " Ucap Tasya.


"Sebentar lagi, Oma. Sebentar lagi Rico akan datang. " Jawab Faisal sembari merangkul pundak Tasya.


Keduanya saling melihat tetap dengan sangat bahagia.


Namun tidak dengan Rayyan, terlihat dia menyunggingkan bibir nya penuh keangkuhan, dia tak suka melihat Rico apalagi mendengar semuanya memuji Rico, apa yang Rico punya sampai-sampai semuanya begitu mengaguminya.


"Heh.. " Rayyan menyungging sinis.


Apa yang Rayyan lakukan pastilah di sadari oleh semuanya yang ada di sana termasuk Tasya. "Ray, Bunda minta padamu, kali ini jangan mengambil keputusan apapun dengan ego-mu, sesekali kamu pikirkan anakmu, pikirkan kebahagiaan, pikirkan apa yang benar-benar dia inginkan." Ucap Tasya.


"Bunda tidak usah khawatir, apapun yang akan Ray katakan dan apapun keputusannya itu sudah Ray pikirkan." Jawab Rayyan begitu dingin.


Tasya cukup takut, dia juga tegang, dia merasa ada sesuatu yang akan Rayyan lakukan pada Rico nantinya, jika kali ini Rayyan mengatakan sesuatu yang berada di luar batas maka Tasya benar-benar telah gagal mendidik Rayyan, didikannya akan sangat di ragukan oleh dunia.


"Ingat, Ray. Jangan kau buat Bunda mu ini merasa gagal. " Ucapnya.


"Kenapa, Bun? Apa Bunda meragukan ku, apa Bunda tidak percaya pada ku? " Rayyan mulai kesal sekarang.

__ADS_1


"Ray, "


"Pa, sudah Pa. Kasian Bunda. " Tegur Keisha.


"Itulah, apapun yang aku lakukan pasti akan selalu salah di mata kalian semua."


"Pa.. " Faisal pun tak tinggal diam, dia juga menyerukan suaranya untuk menegur Rayyan.


Sementara di luar pendopo, motor Rico sudah terparkir manis, Rico melepaskan helmnya dan menaruhnya di atas motornya.


Hem berwarna navy celana hitam itulah style yang Rico pakai saat ini, Rico begitu sederhana dan apa adanya tak ada yang muluk-muluk dari dirinya, meskipun seperti itu dia tetap terlihat sangat tampan dan juga berwibawa.


Buket bunga mawar merah begitu indah yang Rico bawa, dia ragu untuk membawanya tapi apa mau di kata, siapa lagi yang menginginkan semua itu.


"Kenapa harus bunga sih, Tuan! Apa nggak ada hal lain yang ingin anda berikan pada Nyonya Tasya? " Protes Rico.


"Mawar merah tanda cinta, Rico! Kau harus mengerti itu seharusnya kau bisa belajar dengan ini. Mending aku bawa bunga mawar, lah kamu? Apa yang kamu bawa? Tangan kosong! " Ledek Fahmi.


Geram itu pasti Rico rasakan, sepertinya dengan bunga ini akan menjadikannya ada dalam masalah.


"Ingat ya, Tuan. Jangan macam-macam, jangan merusak suasana, jangan mengacaukan segalanya. "


"Hey..., ini rumahku, mereka semua keluargaku! Pintar sekali kau mengatakan itu padaku. "


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘳𝘸𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯? 𝘓𝘢𝘮𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘢𝘥𝘪-𝘢𝘥𝘪. " Batin Rico.


Rico menggeleng tak menanggapi lagi, dia lebih memutuskan untuk segera masuk ke pendopo sepertinya dia sudah sangat di tunggu kedatangannya.


"Jangan gugup, kmu belum mau menikah. " Celetuk arwah menyebalkan itu.


Rico melirik saja namun dia malah terkekeh meledeknya.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...


" Assalamu'alaikum.. " Sapa Rico setelah dia mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam.. " Semuanya menoleh dan tersenyum, namun berbeda dengan Rayyan.


"Akhirnya aku bisa melihat keluarga ku lagi. " Ucap Fahmi yang berdiri tepat di samping Rico.


"Jangan senang melihat semua keluargamu, tapi lihatlah wajah anakmu itu. " Gumam Rico.


"Diam, cerewet! " Ketus Arwah itu.


"Masuk sini, Nak. " Panggil Tasya.


Rico tersenyum kecil dan mendekati Tasya, meraih tangan tua itu dan menyalaminya dengan takzim.


"Nyonya, ini..., ini ada titipan untuk Anda." Rico menyodorkan buket itu kepada Tasya, sekilas Rico melirik dan melihat Fahmi yang tersenyum bahagia.


"Titipan? Dari siapa? "


"Dari suami, Nyonya. " Ucap Rico keceplosan dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fahmi. "𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘭𝘰𝘴𝘢𝘯. "


"Suami?" Semuanya mengernyit.


_____


Bersambung...

__ADS_1


________________


__ADS_2