
__
Happy Reading...
_____________
Aisyah, Shelvia, juga Faisal sudah turun dari mobil. Karena sudah sangat malam mereka bergegas masuk ke kamar mereka masing-masing, namun baru saja kaki mereka naik tangga untuk sampai di emperan Rayyan datang dan mengejutkan mereka.
"Dari mana kalian! " ucapnya dengan sinis.
"Ka-kami...?"
"Dari Resto Nusantara yang terbakar! Bukan begitu?" Ucap Rayyan yang semakin sinis.
Ketiganya langsung memandang Rayyan dengan mata bulat, bagaimana bisa Rayyan tau akan hal itu. Padahal mereka diam dan tak mengatakan apapun. Nggak mungkin Rayyan bisa tau sendiri kan?.
Dengan penuh keberanian kini Aisyah yang maju, "Iya, kami dari Resto Nusantara. Dan papa tau? Resto bang Rico itu terbakar karena di sengaja, ada unsur kesengajaan dari kejadian itu. Bukannya mau berburuk sangka, tapi Aisyah harap Papa tidak ada hubungannya dengan kejadian itu." Ucap Aisyah begitu berani.
Bukan hanya Aisyah, tapi siapapun orangnya. Kalau mereka mengetahui betapa Rayyan membenci Rico pasti akan ada hal yang terlintas di babak mereka, bukan begitu?? Jadi wajar kan kalau Aisyah juga berfikir seperti itu.
"Aisyah, apa kamu mencurigai, Papa? Papa memang tidak menyukainya, tapi bukan berarti papa akan melakukan cara kotor seperti ini! "
"Bukan seperti itu, Pa. Semua tau siapa yang tidak menyukai Bang Rico."
"Ya bisa saja ada orang yang memang sengaja ingin mengadu domba kita, dan memfitnah papa." jawab Rayyan.
Betul juga apa yang di katakan oleh Rayyan, bisa jadi karena Rayyan yang tidak menyukai Rico itu telah berhasil di manfaatkan oleh orang lain, orang itu pasti mengambil kesempatan ini untuk keuntungannya sendiri.
"Kalau Papa memang tidak melakukannya apa bisa Papa, membuktikannya pada Aisyah. Ya, papa bisa menyelidikinya dan menangkap pelaku sebenarnya, setelah itu Aisyah akan percaya kalau Papa tidak ada hubungannya dengan semua kejadian itu." ucap Aisyah.
"Dari mana Papa bisa menyelidikinya?"
"Ya terserah Papa, mau bagaimana dan diri mana itu terserah Papa." Kini Aisyah mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
Aisyah berhenti sejenak setelah sampai di belakang Rayyan dan dalam saling memunggungi, "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘢. " Batin Aisyah.
Rayyan menoleh saat dia merasakan Aisyah berhenti, namun di saat dia menoleh ternyata Aisyah sudah kembali berjalan, "𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘶𝘥𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘚𝘺𝘢𝘩. 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪. "
Batin Rayyan juga.
Demi menjaga nama baiknya juga tuduhan buruk dari Aisyah atau mungkin dari yang lain Rayyan akan ikut turun tangan untuk mencari tau siapa dalangnya. Dan setelah Rayyan berhasil menemukan pelakunya, Aisyah baru akan percaya kalau dirinya sama sekali tidak bersalah.
____
Resto Nusantara
12 :30...
__ADS_1
Dante, Iqbal juga Rico sudah ada di Resto Nusantara yang semalam kebakar, mereka bertiga mulai membersihkan tempat itu, membuang satu persatu kayu yang sudah menghitam menjadi setengah arang.
Pakaian dan tangan sudah kotor begitu juga dengan wajah tampan mereka yang juga terlihat hitam karena terkena arang di beberapa titik. Iqbal bukan hanya fokus membantu Rico saja, melainkan dia juga matanya terus jelalatan mencari Shelvia yang mungkin akan datang sebentar lagi.
"Kamu nungguin siapa sih, Bal! " Tanya Dante.
"Kepo luh."Kesal Iqbal.
Dante tersenyum geli, sahabatnya yang kemarin-kemarin dia kenal dingin sedingin es balok kini sudah menjadi bucin akut, dan Dante tau siapa yang menjadikan sahabatnya itu seperti sekarang ini, siapa lagi kalau bukan Shelvia Anggraini binti David.
" Ternyata benar ya, cinta itu bisa menaklukkan sebuah hati. Jangankan hanya sebuah hati saja dunia pun bisa di taklukkan oleh cinta." Celetuk Dante dengan tatapan lurus ke depan begitu fokus bahkan sampai tidak berkedip sama sekali.
Iqbal diam tak menjawab, tapi matanya terus menerus berkeliaran ke segala penjuru siapa tau gadisnya muncul dari sembarang arah.
Berbeda dengan mereka berdua kini Rico masih terus sibuk memindahkan barang-barang yang sudah tidak dapat di gunakan lagi. Sebenarnya bukan hanya mereka bertiga saja, ada orang-orang lain juga, termasuk karyawannya yang laki-laki juga beberapa pekerja bangunan yang khusus di undang oleh Rico.
Sedih sebenarnya harus membuat semuanya, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah tidak berguna. Semuanya harus di ganti dengan yang baru.
"Tiga gadis berhijab datang ke sana, dengan membawa makan siang untuk ketiganya yang sudah sangat kelelahan.
Melihat itu Iqbal langsung tersenyum menyambut kedatangan pujaan hatinya. Wajah Iqbal begitu berbinar, akhirnya yang dia tunggu-tunggu telah datang, dan senangnya lagi dia datang dengan membawa makan siang untuk nya.
"Assalamu'alaikum, My Hanny...," sapa Iqbal terlebih dahulu, menghadang langkah dari tiga gadis itu.
Shelvia, Aisyah juga Merka yang datang ke sana. "Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak. Seperti biasa Aisyah juga Meyka akan tersenyum ramah namun tidak dengan Shelvia yang semakin jengah dengan kelakuan dari Iqbal tersebut.
"Ehh!! Siapa bilang itu untuk Kak Iqbal! " Shelvia mengejar Iqbal yang sudah nyelonong pergi.
Sementara Aisyah dia menghampiri Rico yang masih sibuk dan seperti tidak melihat akan kedatangannya. Berbeda dengan Meyka yang masih tetap ada di sama.
"Ini untuk Kak Dante saja. Meyka nggak tau kenapa Meyka di minta bawa bekal oleh mereka. Pasti Kak Dante belum makan kan? Jadi ini untuk kakak saja." Meyka menyodorkan kotak bekalnya dengan sangat ikhlas kepada Dante yang memang belum makan siang.
"Beneran ini untuk ku! " Wajah Dante berbinar, kebetulan perutnya sudah keroncongan dan ada yang memberikan makanan gratis siapa yang tidak senang?.
"He'em..., nih! Tapi jangan di ledek ya kalau nggak enak. Soal lagi belajar juga, berbeda dengan masakan kak Dante yang memang sudah ahlinya." Ucap Meyka.
"Jangan berkecil hati, semuanya butuh proses dulu aku juga tidak bisa masak tapi sekarang karena sudah terbiasa jadi bisa. Besok-besok kalau Resto ini sudah jadi aku ajarin kamu deh," Ucap Dante.
"Yuk duduk sambil ngobrol di sana." Ajak Dante.
"Hem.. " Meyka mengangguk kecil menyetujui ajakan dari Dante.
Dante berjalan mendahului dan Meyka membuntutinya. Kedua duduk di tempat yang tidak terlalu jauh dengan Iqbal juga Shelvia. Mereka berdua menatap Iqbal juga Shelvia sejenak, keduanya hanya bisa tersenyum melihat mereka, biasanya gadis yang selalu menggoda tapi mereka? Iqbal lah yang menjadi pemeran utama.
Terlihat Iqbal yang berkali-kali ingin menyuapi Shelvia namun di tolaknya dengan memalingkan wajahnya.
"Mereka cocok ya? " ucap Meyka setelah duduk.
__ADS_1
"Menurutku bukan cocok sih? Tapi kasian Shelvia nya. Bisa-bisanya di dekati sama Casanova seperti Iqbal.
"Kayaknya enggak deh?"
"Kamu belum kenal saja ama tuh orang." ucap Dante sembari membuka kotak bekal yang dari Meyka. "Heemmm..., sepertinya enak?" Hidung Dante mulai menghirup makanan itu.
"Kayaknya nggak juga deh, Kak. Lihat aja warnanya kucel gitu."
Dante belum menjawab dia lebih memilih untuk menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya. "Heemm.. , enak kok." Pujinya.
"Kak Dante pasti bohong."
"Beneran, kamu coba deh. Akkk... "Tanpa pikir panjang Dante hendak menyuapi Meyka.
Meyka terhenyak, bagaimana bisa Dante menyuapi dirinya begitu saja. "Hemm..., buat Kak Dante saja, Meyka sudah makan." Tolak Meyka.
Bagaimana mungkin Meyka akan menerimanya dari sendok yang sama yang Dante pakai. Itu tidak akan pantas bukan. Meyka yang sudah tau akan hukumnya pasti akan menolaknya.
"Oh.., oke. " Dante kembali menarik sendok tadi lalu memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
Dante juga Iqbal begitu menikmati makanan buatan Shelvia juga Meyka, meskipun mereka bilang rasanya enak tapi tetap saja yang memasak merasa tidak percaya diri.
Di saat Dante belum usai dengan makan siangnya ada seorang laki-laki berusia lanjut datang dan bertanya mengapa nya, yang pasti dia juga menanyakan keberadaan Rico.
"Assalamu'alaikum, Dan. " Sapanya.
"Wa'alaikumsalam..., Om Ari kan, ya? "
"Iya, siapa lagi? Apa kamu melupakanku, Dan?"
"Tidak tidak! Bukan seperti itu Om. Hanya saja Om terlihat lebih tampan saja sekarang." Jawab Dante dengan cengengesan.
"Kamu bisa saja. Oh iya, Rico di mana? "
"Rico...?" Dante menoleh ke arah Meyka yang pasti membuatnya bingung. "Rico ada di dalam, Om. " Ucapnya dengan gagu.
"Oh begitu, ya sudah Om ke sana dulu." Ari langsung meninggalkan tempat itu.
"I- iya, Om." Jawab Dante gagap.
"Dia siapa, Kak? " Tanya Meyka setelah Ari sudah menjauh.
"Dia, Om Ari.Deddy nya Felisha." jawab nya. "Semoga saja nggak akan ada masalah."
____
Bersambung...
__ADS_1
________________