Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
90. Musuh masa lalu


__ADS_3

_____


Happy Reading....


_________________


"Terima kasih Om, tapi tidak usah Rico masih ada dana untuk mengembalikan Resto seperti semula." jawab Rico begitu sopan.


"Please lah, Rico. Jangan kamu tolak bantuan dari Om, terima ya! "


"Sekali lagi terima kasih Om. Tapi tidak usah. Jika suatu saat Rico butuh biar Rico sendiri yang datang ke tempat Om. " Ucapnya.


"Ya, ya sudah kalau begitu. Om tidak bisa memaksa mu juga."


Belum selesai dengan percakapan Rico dan juga Ari, tempat itu kedatangan satu orang lagi.


"Aisyah... " Panggil nya, siapa lagi kalau bukan Rayyan Sang papa.


"Papa.. " Aisyah langsung berdiri, dia sangat terkejut dengan kedatangan Rayyan yang benar-benar tidak terduga ini.


"Kamu boleh kemanapun kamu pergi Aisyah, tapi kamu tetap harus ingat dengan batasan mu." ucap Rayyan dengan sangat menegaskan.


Benarkah Aisyah kini telah melampaui batas? Ya mungkin memang benar karena Aisyah datang ke sana secara khusus dan membuatkan makan siang untuk Rico. Dan juga Aisyah ikut makan bersama seperti seorang istri yang menemani suaminya makan.


"Iya, Pa." Wajah Aisyah tertunduk.


Melihat Rayyan yang tidak menyukai Kedekatan Aisyah juga Rico membuat Ari begitu bahagia, bahkan sekarang dia tengah bersorak-sorai di dalam hatinya, menyerukan kebahagiaan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Langkahnya akan semakin mudah jika dia bisa membujuk Rayyan untuk bisa bekerja sama untuk menjauhkan mereka berdua. Tapi sepertinya itu tidak akan mudah karena Rayyan tidak mau berurusan dengan orang asing karena alasan pribadi, apalagi?.


"Kamu! " Setelah dari tadi bicara kepada Aisyah kini Rayyan baru melihat keberadaan Ari di sana. Sepertinya Rayyan sangat mengenal Ari.


"Kamu! " Ari pun juga sama, dia sangat terkejut karena melihat Rayyan di sana.


Mata keduanya langsung memerah tak bersahabat, netra kedua saling bertubrukan dengan begitu bengis.


"Tidak bisa di sangka, akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama."


"Saya juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan orang yang licik seperti Anda." Jawab Rayyan.


Aisyah juga Rico saling lempar pandang, keduanya bingung karena Rayyan juga Ari sepertinya memiliki masalah serius dan sepertinya masalah mereka bukan sekedar karena saingan bisnis saja.


______


Shelvia yang masih duduk menemani Iqbal makan langsung terperanjat saat melihat Rayyan yang tiba-tiba datang dan langsung masuk begitu saja tanpa tolah-toleh.

__ADS_1


"Kenapa Om Rayyan datang kesini juga? Astaghfirullah..., Jangan-jangan? " Shelvia takut akan terjadi sesuatu karena dia mengingat kalau Aisyah ada di dalam sana bersama Rico.


Shelvia yang tadi begitu fokus berdebat dengan Iqbal tidak tau kalau ada Ari juga yang datang ke sana dan sudah masuk lebih dahulu.


Melihat Shelvia yang sudah beranjak dari duduknya membuat Iqbal bingung lalu menatapnya, "Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk?" tanya Iqbal.


"Belum? Tapi sepertinya akan terjadi hal yang buruk," jawab Shelvia.


Iqbal bingung, hal buruk apa yang akan terjadi sebentar lagi, sepertinya semua baik-baik saja dan gak ada hal lain yang menyebabkan keburukan itu datang.


Iqbal menaruh kotak bekal yang sudah kosong itu di sebelahnya lalu dia berdiri mengikuti Shelvia. "Maksudnya?"


Shelvia menoleh ke arah Iqbal dengan gelisah, "Om Rayyan datang, dan sudah masuk. Kalau Om Rayyan melihat Aisyah dan kak Rico apa itu tidak akan menjadi masalah yang buruk?" Jawab Shelvia.


"Benarkah! " Iqbal seketika terkejut dengan mata yang membulat.


"Benar Kak." jawab Shelvia dengan penuh keyakinan.


Iqbal bingung, apa yang harus mereka lakukan sekarang, tubuh yang tidak bisa anteng, mata yang menghitung paving, juga gigi yang mengigit ujung jarinya sendiri terlihat aneh bagi Shelvia, Iqbal benar-benar tidak terlihat seperti cowok cool seperti sebelumnya.


"Apa yang harus kita lakukan ya?" ucapnya dengan bingung.


"Yang harus dilakukan? Mengigit jari! " Ketus Shelvia.


Lagi-lagi Iqbal di buat geleng-geleng kepala oleh pujaannya itu, masak iya di tengah keadaan yang begitu genting Shelvia malah menyarankan untuk gigit jari saja. "Hadeuh..., benar-benar luar biasa."


"Alhamdulillah, kenyang juga. Makasih ya Mey, untung ada kami yang kasih aku makan kalau tidak aku sendiri yang akan kelaparan, secara Iqbal juga Rico pada di bawain makan," ucap Dante sembari mengelus perutnya ya terasa sangat penuh.


"Sama-sama, Kak. Tapi Kakak beneran nggak sakit perut kan? Aku takut kalau Kakak sampai sakit perut gara-gara makan masakan Meyka,"


"Nggak, Mey. Iya bener aku sakit perut, tapi bukan karena makanan yang tidak enak atau apa, tapi karena kekenyangan. " Lirih Dante dengan malu-maluin tentunya.


"Hemm..., kakak bisa aja," Senyum Meyka terlihat begitu cantik juga mempesona, apalagi lesung pipinya, aduhh..., seketika membuat Dante salah tingkah.


Meyka bukanlah gadis yang masuk dalam kriteria Dante, tapi nyatanya senyumnya saja bisa membuat Dante klepek-klepek. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? " Dante terlihat bingung sendiri dengan hatinya.


Berkali-kali dia menolak dekat dengan gadis berhijab yang selalu menutupi semua auratnya, mata Dante biasanya akan sangat siwer jika ada gadis seksi, melintas di hadapannya. Tapi sekarang? Tak ada yang spesial dari Meyka, tapi ada apa dengan hatinya? Apa hatinya sudah mulai insaf?.


"Hemm..., hem.. " Bingung sendiri Dante mau bicara apa, bahkan seperti seorang gadis yang tengah di lamar sang kekasih Dante menunduk dan kadang melemparkan pandangannya ke arah lain, tak mampu matanya untuk melihat wajah Meyka yang terlihat sangat manis.


"Mey," Panggil Shelvia yang akhirnya sampai juga di sana.


Dante juga Meyka seketika menoleh secara bersamaan ke arah Shelvia yang berdiri tepat di hadapan mereka.


"Ada apa apa, Kak Biar,"tanya Meyka.

__ADS_1


" Om Ray datang, dan seperti sekarang sudah bertemu dengan Aisyah juga Rico. Sekarang kota harus ke sana, kalau tidak akan terjadi masalah besar nantinya."


"Om Rayyan datang!? Gaswat ini mah, pasti akan terjadi perang Dunia sebentar lagi," celetuk Dante.


"Kita harus segera ke sana, Kak."


Meyka juga Shelvia langsung melangkah pergi mereka sangat tergesa-gesa karena mereka sangat takut benar-benar akan terjadi masalah.


Sementara di tempat Rico juga Aisyah mereka berdua masih terus diam dan mendengarkan perdebatan antara Ari juga Rayyan. Ternyata keduanya adalah musuh yang sudah lama tidak bertemu lagi.


"Semakin tua sepertinya kau semakin keras kepala, Rayyan." Ucap Ari begitu sinis.


Mendengar kata seperti itu yang pasti tidak akan membuat Rayyan diam begitu saja, siapa mau di tuduh keras kepala meskipun memang benar adanya.


"Semakin tua kau juga semakin licik." ucap Rayyan tak kalah sinis.


Mata keduanya terus beradu dalam ketegangan, amarah mereka sepertinya sudah mulai terbangun karena ucapan dari lawan.


Aisyah mendekati Rayyan menarik lengan sangat papa karena takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan. "Pa, sudah. Jangan lanjutin lagi, Pa."


"Aisyah, juga kamu Rico, Papa sarankan kalian untuk jauh-jauh dari orang ini. Dan jangan sesekali menerima bantuannya dalam hal apapun. Karena, bantuan dari nya itu tidak pernah tulus, jika dia menawarkan bantuan pada orang lain itu karena dia menginginkan sesuatu dari orang itu. Aku yakin sekarang juga ada yang dia harapkan dari kamu Ric! Jadi papa minta kamu jangan terima bantuan dari dia." Ucap Rayyan panjang lebar.


"𝘗𝘢𝘱𝘢? 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘖𝘮 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘱𝘢𝘱𝘢? "


Ternyata bukan nasehatnya yang masuk dalam telinga Rico, melainkan kata Papa yang di tunjukkan untuk dirinya.


"𝘈𝘮𝘪𝘪𝘪𝘪𝘯𝘯𝘯...! " Sorak Rico dalam hati.


"Kamu dengar kan Ric! "


"Jangan dengarkan dia, Ric! Semua yang dia katakan itu bohong! Om benar-benar tulus untuk membantumu! Tak ada niat apapun! " Saut Ari.


Rico hanya diam tal menjawab keduanya, dia tidak enak jika harus berpihak pada salah satunya.


"Jangan dengarkan dia, Ric! Kalau kamu mau bantuan, dana atau apapun bilang sama papa! Papa pasti akan membantumu! " ucap Rayyan lagi, yang masih sama tak sadar dengan apa yang dia ucapkan.


"Sudah, Pa." ucap Aisyah begitu lirih.


Di saat itu juga Shelvia juga Meyka datang. Keduanya mengernyit bingung karena mendengar perdebatan Ari juga Rayyan.


"Kak Via, sebenarnya ada apa ini?" Bisik Meyka.


Shelvia menggeleng cepat karena dia memang tidak tau apa penyebabnya, "Aku juga tidak tau? Mungkin musuh bebuyutan kali." Celetuk Shelvia.


___

__ADS_1


Bersambung...


________________


__ADS_2