
___
Happy Reading..
________________
"Cantik." Celetuk Dante.
Tak pernah Dante bayangkan kalau ternyata Felisha begitu cantik dan juga imut, darimana saja dia kemarin-kemarin sampai-sampai tak melihat gadis yang selalu mengganggu Rico itu.
Biasanya mereka hanya akan debat dan debat saat bertemu, dan wajah-wajah jutek yang selalu terlihat. "𝘛𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪. " Batin Dante yang begitu sangat mengagumi gadis yang masih ada di atasnya dan ada di dalam pelukannya.
Kesadaran kembali sempurna pada Felisha, Dante memang tampan tapi tak setampan Rico, dan hatinya sudah memilih Rico bukan Dante. Felisha mendorong Dante, dan beranjak dengan cepat.
"Ihhh.... Jangan nyari-nyari kesempatan deh, Kak! Feli tau kalau Felisha cantik tapi jangan dekat-dekat dengan Feli, hati Feli kan udah untuk Kak Rico seorang!. " Ucap Felisha dengan cepat.
Dante pun tak mU kalah dia menyapu bersih seluruh tubuhnya dengan tangan sendiri di depan Felisha. "Lagian siapa juga yang nyari kesempatan, bukanya kamu yang main nubruk kayak banteng, pakai nyalahin orang. " Sinis Dante.
"A- apa! Kayak banteng! Cantik-cantik gini dibilang kayak banteng! Kak Dante sehat. " Cerocos Felisha.
"Kamu pikir aku sakit? Kamu yang sakit. Udah di tolak juga terus mepet mulu sama Rico, apa nggak malu? Kalau aku gengsi ya udah di tolak mepet mulu kayak nggak ada yang lain aja di dunia ini yang lebih baik. "
Dante berjalan dengan angkuh pergi dari sana meninggalkan Felisha yang mulutnya mengerucut sebal dan sekarang di tambah lagi dengan kaki yang terus di hentakan.
"Awas kakinya, jangan sampai tempat ini roboh karena kemarahan mu banteng genit. " Seloroh Dante sadis.
Felisha semakin menganga, sepertinya tuh pala pengen. Deh di getok dengan sepatu tinggi yang ia kenakan biar retak berkeping-keping dan nanti bisa di pasang lagi supaya benar.
_______
Rico merebahkan tubuhnya dengan perlahan, semuanya seakan mulai terasa sakitnya semua seperti remuk.
"Aww.... " Keluhnya dan semakin pelan merebahkan tubuhnya.
"Bagaimana keadaan Aisyah sekarang? Apa dia sudah sadar, apa dia sudah baik-baik saja sekarang?. "
Rico menatap langit-langit. Kenapa ujian dalam perjalanan hidupnya begitu besar seperti ini, sampai kapan semua ini akan cepat berlalu dan akan berakhir dengan kebahagiaan.
__ADS_1
(Thor, aku sudah tidak tahan. Aku boleh angkat tangan nggak)
(Tak nak... Wkwkwk....) (Kejam..)
Ingin rasanya Rico menyerah, tapi kenapa seakan sulit dan tak mudah. Jangankan untuk menyerah dan meninggalkan begitu saja, tak melihat Aisyah saja pikirannya terus di gerayangi bayang-bayang Aisyah.
Rico hanya bisa mengikuti kemana aliran kehidupan ini akan membawanya, dia tak bisa menentang atau pergi mundur dan meninggalkan nya, semua sudah sesuai dengan kehendak sang pembuat cerita. (Hahaha)
Untuk menghilangkan rasa sakitnya Rico memutuskan untuk tidur itu akan lebih baik dan mempercepat kesembuhannya. Rico masih takut untuk pulang dia tidak akan bisa menghadapi Bunda nya yang akan terus bertanya dan akan khawatir kepadanya.
"Maafkan Rico, Bun. " Gumamnya.
Tak butuh lama Rico bisa memejamkan matanya menutup rapat telinganya dari suara bising yang ada di luar sana, menutup diri sejenak dari semua orang untuk bisa benar-benar istirahat dan bisa secepatnya menyembuhkan luka di tubuh dan juga di dalam hatinya.
______
Farel menatap sendu pantulan dirinya di depan cermin di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, dia menyesal membayangkan betapa tak berdayanya dia dan tak berguna nya dia untuk Aisyah.
"Ahhh.. Apa yang bisa kamu banggain, Rel! Bahkan untuk melindunginya saja kamu tidak bisa, bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakannya!"
Ucap Farel yang terus merasa bersalah, dia berfikir dia bisa melakukan apapun dengan apa yang dia punya tapi nyatanya? Semuanya itu tak berguna.
Farel kira untuk bisa membahagiakan Aisyah cukup dengan ilmu yang tinggi dan juga harta yang banyak, namun itu ternyata tak berguna di saat seperti ini. Aisyah butuh seseorang yang benar-benar bisa melindunginya dan sepertinya itu bukanlah dirinya.
"Apakah keputusan ku salah?. " Gumam Farel.
Farel membasuh mukanya berharap bisa lebih tenang dan bisa menghilangkan rasa bersalahnya yang masih terus bersarang di dalam hatinya.
Farel keluar dengan wajah yang masih basah dan airnya masih menetes. Farel mengambil handuk dan menyapu bersih air itu.
Setiap bayangan kejadian tadi, dimana Aisyah di pukul tiada henti diet depan matanya sendiri terasa menyiksa untuk dirinya, bayang-bayang ketakutan mulai tumbuh jika suatu saat dia tak bisa melindungi Aisyah.
"Ya Allah, tunjukkan padaku kebenarannya." Gumamnya lagi.
Farel mengambil salep dan juga kaca kecil duduk di atas ranjang nya dan mulai mengoleskan pada luka-luka lebam yang ada di wajahnya.
Rasanya cukup sakit tapi tak sesakit saat dia melihat luka-luka yang ada pada Aisyah. Mungkin karena kekagumannya terlalu besar, harapan untuk Aisyah juga begitu kuat dan itulah yang membuat dirinya jiga ikut merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Jika aku ingin memiliki Aisyah, aku juga harus berusaha untuk bisa melindunginya. Aku tidak bisa seperti ini, seorang imam dalam rumah tangga bukan hanya memberikan kenyamanan di rumah saja, namun juga bisa melindungi makmumnya saat berada di luar. " Ucap Farel.
Setiap orang tidak lah sempurna antara Farel dan juga Rico ada sisi lebih dan juga kekurangannya. Farel mungkin lebih dalam harta dan juga ilmu agama tapi dia masih jauh punya pengetahuan untuk bisa melindungi Aisyah. Sedangkan Rico, dia memang tak memiliki harta dan juga ilmu yang sepadan dengan Farel tapi nyatanya dia bisa melindungi dan bisa menjamin keselamatan Aisyah.
"Biarkanlah takdir yang akan menentukan. " Ucap Farel pasrah.
_____
Sedangkan di rumah sakit, Shelvia terus menemani Aisyah, tak sedetikpun dia meninggalkan nya meskipun saat ini Rayyan dan juga Keisha tengah keluar untuk mencari makan.
Shelvia duduk di sebelah Aisyah dengan snak yang ada di tangannya, sepertinya sebentar lagi Shelvia yang akan menggantikan Aisyah dengan pipi bakpao nya.
"Kak Via, aku bingung deh kenapa di saat aku selalu ada masalah dan dalam bahaya Bang Rico itu selalu saja ada ya? Dia selalu muncul begitu saja selayaknya superhero, dia datang dengan cepat tanpa sepengetahuan ku. Dan dia selalu saja menolongku dan selalu mempertaruhkan dirinya sendiri, apa dia tidak sayang dengan dirinya sendiri?. " Ucap Aisyah yang begitu banyak.
Shelvia yang tengah asyik makan langsung menghentikan mengunyahnya, menatap Aisyah seraya berfikir memang benar sih apa yang di katakan Aisyah, bahkan dia sendiri juga bingung kenapa Rico seakan tau segalanya.
"Bukan itu saja sih, Syah. Tapi aku lebih bingung, kenapa Kak Rico itu seakan tau apa yang akan terjadi, apa dia paranormal? Apa dia punya keahlian khusus yang tak sembarang orang punya?. " Tebak Shelvia.
"Mungkin? Tapi masak iya sih? Tapi mungkin bisa jadi, soalnya semua yanng dia katakan selalu terjadi, apa mungkin dia peramal?. " Ucap Aisyah tak mau kalah.
" Entahlah. " Jawab Shelvia. "Oh iya Syah, kalau boleh tau sebenarnya hati kamu itu ada siapa sih? Kak Rico atau Kak Farel? Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan mereka juga baik-baik aku akan dukung siapapun yang akan menjadi pilihan mu. " Ucap Shelvia.
"Aku belum tau juga kak, tapi ada salah satu diantara mereka yang begitu mencolok, dan mungkin dialah orangnya. "
"Apa itu Kak Rico?. "
"Kepo, hehehe... " Aisyah terkekeh, namun sedetik kemudian "Aww.. " Keluhnya dengan tangan menutup mulutnya karena terasa sakit.
"Nah loh. Makanya jangan katawa dulu, lukanya belum sembuh. "
"Iya kak. "
___
Bersambung..
_________
__ADS_1