Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
113. Rico tak mungkin Setega itu


__ADS_3

Happy Reading..


_______


"Kami di usir, Nak. Kata mereka rumah ini telah di jual oleh anak kami," Jawab Sumarno tanpa menutupi apapun dari Farel.


"Di jual!!? " Pekik Farel tak percaya.


"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯? " Batin Farel.


Belum juga Farel selesai dengan angan-angannya mengenai Rico Felisha datang, rumah mereka yang sangat dekat membuat Felisha bisa melihat kegaduhan yang terjadi ini, "Astaga, Tante! Ada ini? Dan, siapa mereka!? "


"Saya juga tidak tau, Feli. Katanya Rico telah menjual rumah ini pada tuan mereka," jawab Susan.


Tak percaya itu pasti, Felisha sangat mengenal Rico tak mungkin dia akan melakukan semua ini pada orang tuanya. Tapi Felisha juga tidak bisa menyimpulkan apapun juga karena Rico tak ada kabar sama sekali, dia yang terus mencarinya pun juga tak bisa menemukannya.


"Kalau begitu, untuk sementara waktu Om juga Tante tinggal daja di rumah Felisha. Lagian Felisha juga kesepian di rumah sendiri," ucap Felisha menawarkan.


"Terima kasih dengan tawarannya, Nak. Tapi tidak usah, setelah ini kamu akan ke Resto milik Rico saja, kami bisa tinggal di sana untuk sementara waktu," jawab Sumarno.


"Ayolah, Om! Jangan tolak tawaranku, ya ya.." Felisha terus kekeuh berjuang untuk bisa membawa kedua orang tua Rico ke rumahnya, tapi mereka tetap kekeuh gak mau ikut. Biar bagaimanapun Sumarno juga masih belum bisa memaafkan ayah Felisha.


"Tidak, Nak. Kami akan ke Resto Nusantara saja. Biasanya sebentar lagi Dante akan datang kami akan ke sana bersamanya,"


"Baiklah.. " Felisha akhirnya pasrah, dia tak bisa memaksanya lagi.


Felisha baru ngeh kalau ternyata ada Farel juga di sana, heran saja tak ada angin tak ada hujan pria tampan yang masih mengenakan baju koko itu datang ke rumah Rico, ada apakah gerangan?.


"Kak Farel...?"


"Saya mencari Rico, tidak tau kalau malah melihat kejadian seperti ini," jawab Farel.


"Hemm, saya juga mau mencari kak Rico, bagaimana kalau kita mencari bersama? Ya kalau Kak Farel mengizinkan sih?"


"Hemm, boleh."


_____


Belum juga siang, kabar tentang orang tua Rico sudah sampai juga di telinga Shelvia. Karena Aisyah masih sakit makan laporan akan masuk ke telinganya.


Shelvia yang kini ada di kampus begitu terkejut setelah mendapat pesan singkat dari Jon beberapa detik barusan, Shelvia terus mondar-mandir bingung sekaligus tidak percaya, bagaimana bisa Rico melakukan itu pada orang tuanya.

__ADS_1


"𝘗𝘢𝘬 𝘑𝘰𝘯. 𝘚𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. "


Setelah membalas pesan kini Shelvia pergi ke Resto Nusantara untuk memastikan keadaan orang tua Rico, dia juga sangat khawatir meskipun dia tak ada hubungan apapun pada mereka.


Sementara di Resto Nusantara Dante juga Iqbal sedang duduk bersama kedua orang tua Rico, mereka terus menghibur dan juga meyakinkan kalau Rico pasti memiliki alasan kenapa melakukan itu, tak mungkin Rico kehabisan uang dan menjual rumah.


"Rico tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, aku yakin ada alasan tertentu yang tidak kita ketahui," ucap Dante.


"Iya, Yah! Rico tidak mungkin melakukan itu," Imbuh Iqbal.


"Iya, kami sangat percaya pada Rico, dia pasti memiliki alasan," Jawab Sumarno.


"Ya sudah, Ayah sama Bunda pasti lelah. Lebih baik kalian istirahat di kamar Rico, kamarnya sudah saya rapikan," ucap Dante.


"Makasih, Dan."


Sumarno juga Susan langsung beranjak, berniat untuk istirahat di kamar yang biasanya Rico gunakan untuk istirahat. Sementara Dante juga Iqbal masih setia duduk di sana memandangi kepergian mereka.


"Saya nggak percaya kalau Rico sekejam itu?" ucap Dante yang masih terus memandangi Kedua orang tua itu.


"Apalagi aku?"


"Assalamu'alaikum.. "


"Wa'alaikumsalam, eh.. Calon bini," Celetuk Iqbal.


"Resek luh.., bikin iri saja," Sungut Dante.


"Assalamu'alaikum.. " Bukan hanya Shelvia yang datang ternyata ada Meyka juga yang ada di belakang Shelvia.


Melihat Meyka datang pastilah membuat Dante langsung diam dan memandangnya, "𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘔𝘦𝘺𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘸𝘦𝘳? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘣𝘶𝘯? " Batin Dante dengan mata yang tak berkedip.


"Ekhem.., wah Casanova sudah mulai beraksi nih kayaknya," Sindiran Iqbal seketika membuat Dante tersadar lalu melayangkan pukulan di bahu Iqbal. "𝘉𝘶𝘬𝘬...


"Kampret luh! " kesal Iqbal.


Kedua gadis itu hanya diam mendengarkan perdebatan mereka berdua namun mereka tetap duduk di hadapan mereka, "Di mana Om dan Tante?" Tanya Shelvia.


"Hemm.. "


"Di mana Om dan juga Tante?" Ulang Shelvia semakin menekankan.

__ADS_1


"Sedang istirahat," Jawab Iqbal spontan.


____


Rico memejamkan mata namun bukan untuk tidur, dia hanya ingin menenangkan hati saja karena dia masih gelisah dengan hasil perjuangan yang sudah dia lakukan.


"Aisyah! " Pekiknya, terlintas Aisyah untuk ternyata juga di rawat di rumah sakit yang sama dengannya, Rico kembali membuka mata, dia cepat-cepat turun dari ranjangnya, melupakan infus yang masih menempel di tangannya.


"Aku harus pastikan kalau ini tidak benar, tidak mungkin Aisyah ada di sini?" Dengan jalan sempoyongan Rico keluar dari ruangannya, mencari tempat di mana Aisyah berada.


Sesekali Rico berhenti saat dia merasa lelah, dua menyandarkan tubuhnya di tembok untuk sementara lalu kembali lagi berjalan, dan tentunya Rico masih mengenakan baju rumah sakit yang berwarna biru muda.


Sampailah Rico di depan ruangan Aisyah seketika jantung nya terpacu dengan sangat cepat, "Aisyah beneran ada di sini?"


Tangan sudah menyentuh handle pintu dan hendak mendorongnya, dia lihat ada kedua orang tua Aisyah juga Faisal dan juga Farel yang sudah datang ke sana juga, membuat Rico mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


"Setelah kamu keluar dari rumah sakit, papa akan mengurus pernikahan kalian berdua. Kali ini kamu harus menerimanya Aisyah, lagian orang yang kamu perjuangkan juga seorang pengecut, buat apa kamu pertahanan orang yang seperti itu," Ujar Rayyan.


"Terserah, Papa," jawab Aisyah.


Begitu sakit hati Rico mendengar kesanggupan Aisyah untuk menikah dengan Farel, perjuangannya benar-benar sia-sia sekarang karena Aisyah sudah rela untuk menikah dengan orang lain, "Apakah aku harus bahagia?" Dadanya terasa sesak.


Namun hebat Rico tidak akan surut, dia ingin masuk untuk menjelaskan semuanya namun langkahnya di hentikan oleh dokter laki-laki yang masih terlihat tampan, dokter itu adalah David, papa Shelvia.


"Loh! Apa yang mau kamu lakukan di sini? Kamu kembali ke kamar kamu. Kenapa kamu melepaskan infusnya, apa kamu mau memperlambat kesembuhan mu sendiri? Cepat kembali!" David merangkul Rico dan menuntunnya untuk kembali ke kamarnya sendiri.


"Tapi, Dok? Saya harus menemuinya sebentar, ada hal penting yang harus saya katakan padanya,"


"Kamu bisa menyatakannya kalau kamu sudah sembuh besok, besok kamu bisa sepuasnya bicara dengannya, dia juga butuh istirahat." jawab David.


Sepertinya David tidak tau siapa pasien yang ada di dalam sana, memang David ingin mengunjungi Aisyah di kamar nomor 14 namun David yang tadi tidak fokus dia mendengar kalau Aisyah ada di kamar nomor 13.


"Saya harus bicara sebentar, Dok! "


David tak menghiraukan kata-kata Rico dan terus menuntunnya kembali ke kamarnya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, " Batin Rico.


__


Bersambung...

__ADS_1


________________


__ADS_2