
Happy Reading...
____
Beberapa hari tidak bertemu dengan Aisyah membuat kedua orang tuanya sangat merindukannya, kini mereka berdua berniat untuk mengunjungi rumah Aisyah di rumah suaminya.
Beberapa oleh-oleh juga mereka bawa dan juga bukan hanya mereka saja yang datang ke sana melainkan ada ketiga abangnya juga kedua kakak iparnya. Mereka tampak beramai-ramai datang ke rumah Rico juga Aisyah, ya itung-itung bersilaturahmi juga kepada besan.
Tiga mobil sudah mulai berjalan beriringan, mulai pergi meninggalkan pesantren untuk bergegas ke tempat tujuan.
"Ma, tanggung jawab kita masih satu lagi, dan entah kapan dia akan menemukannya yang sesuai dengan hatinya. Papa akan menyerahkan semua pilihannya kepada dia sendiri, Papa tidak mau menyesal lagi karena membuat kesalahan," ucap Rayyan yang hatinya masih di selimuti penyesalan yang belum juga berakhir.
"Iya, Pa. Serahkan semua pilihan kepada dia sendiri, biar dia yang menentukan pada siapa dia akan menjalani hidup kedepannya," jawab Keisha. Sekilas Keisha melirik kepada Rayyan namun dengan cepat beralih ke arah pria tampan yang masih membujang hingga sekarang, dia adalah Faisal yang kini ada di kursi pengemudi.
"Bukan begitu, Sal?" tanya Keisha yang berhasil mengejutkan Faisal yang tengah fokus.
"Ya, ada apa,Ma?" tanya Faisal yang ternyata tidak mendengarkan percakapan kedua orang tuanya barusan.
"Hufff..., kamu ini ternyata tidak mendengarkan perkataan Mama," keluh Keisha.
"Begini, Faisal sayang. Kapan kamu akan mengakhiri masa lajang mu, apa kamu tidak malu dengan adikmu yang sekarang sudah berkeluarga lebih dulu?" ucapan Keisha menjelaskan.
"Oh, tunggu Allah mengirimkan yang tepat untuk Faisal, Ma. Faisal juga tidak mau buru-buru, tapi kalau di kasih secepatnya juga tidak akan nolak," jawab Faisal dengan santai.
"Tapi kamu juga harus tetap berusaha kan, Faisal. Tidak mungkin jodoh akan datang langsung di depan mata begitu saja. Apalagi kegiatanmu setiap hari hanya di pesantren terus dan hanya keluar kalau ada panggilan terus kapan kamu akan menemukan jodohmu?" tanya Keisha yang terlihat bingung sendiri.
"Allah pasti sudah menyiapkannya yang terbaik, Ma. Tapi mungkin belum saatnya kami bertemu," jawab Faisal lagi.
"Hemm...? bagaimana dengan Aira, apa kamu tidak berniat untuk menikahi dia saja?" kali ini Rayyan yang bertanya.
"Faisal belum tau, Pa,Faisal lihat-lihat Aira juga tengah dekat dengan seseorang," jawab Faisal dengan lirih.
"Apa kamu tidak cemburu?" Rayyan mengernyit pasalnya dulu Faisal sangat menyukai Aira.
"Cemburu? Faisal rasa tidak. Faisal juga Aira bukan pasangan yang sah jadi bagaimana mungkin bisa cemburu?" jawab Faisal. Ya karena memang itulah yang Faisal rasakan.
"Ya terserah kamu saja lah, yang terpenting saat kamu memilih seseorang itu yang terbaik yang bisa menjaga kehormatan keluargamu," ucap Rayyan sebagai nasehat juga.
__ADS_1
"Insya Allah, Pa."
Setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu jauh akhirnya ketiga mobil sudah berhenti di tempat parkir di depan rumah Rico. Kedatangan mereka juga sangat di sambut baik oleh Rico sekeluarga.
Semua tampak senang karena akhirnya mereka bertemu setelah berhari-hari tak saling sapa. Akhsan dan keluarga kecilnya, Ikhsan juga sama, dan si lajang Faisal yang tak memiliki gandengan, ralat..., Faisal tengah menggandeng sang Oma Tasya yang berjalan sudah sangat pelan.
Pertemuan yang sangat menggembirakan, semua keluarga inti bersatu dalam satu tempat.
"Assalamu'alaikum... " sapa Rayyan mendahului.
"Wa'alaikumsalam..!" jawab seseorang dari dalam sepertinya itu adalah suara Sumarmo dan ternyata benar, besannya itu langsung keluar untuk menyambutnya.
"Selamat datang di rumah kami, Tuan Rayyan," ucap Sumarmo sembari mengulurkan tangan untuk saling berjabat.
"Terima kasih, Pak. Tapi jangan panggil Tuan, itu terdengar menggelitik di telinga saya. Panggil aja dengan panggilan yang lain," Rayyan pun menerima uluran tangan dari Sumarmo dan setelah itu keduanya juga saling berpelukan hangat.
Sumarmo hanya terkekeh, dia sudah sangat nyaman dengan panggilan itu dan sepertinya itu juga lebih pantas, "Mari masuk," ajak Sumarmo yang tak ingin memperpanjang lagi soal panggilan.
"Terima kasih, Pak," Keisha angkat bicara.
Satu persatu semua masuk, semua kembali berbinar saat Rico, Aisyah juga Susan datang dari dalam.
"Mama juga kangen, Sayang," Keisha pun membalas pelukan dari Aisyah dengan erat. Setelah di rasa cukup Keisha melepas pelukannya dan mencium kedua pipi Aisyah bergantian, "gimana, kamu betah kan di sini?" tanya Keisha yang jelas langsung mendapatkan anggukan dan senyuman dari Aisyah.
"Tetaplah bahagia seperti ini ya sayang," Keisha membelai lembut kepala Aisyah.
"Iya, Ma." Jawabnya.
Satu persatu Aisyah salami, begitu juga dengan Papanya dia juga mendapatkan pelukan hangat darinya, setelah itu Aisyah beralih ke tempat Oma juga ketiga abangnya beserta kedua kakak iparnya.
"Ihh..., bakpao ku makin tembem saja. Sepertinya dia di pompa terus oleh pemiliknya supaya terus membengkak," gurau Ikhsan sembari mencubit kedua pipi Aisyah dengan kedua tangannya.
"Abang, " Aisyah merengek manja, tapi dia juga malu karena selalu saja mendapatkan godaan dari Ikhsan.
"Jangan seperti itu, aku menjadi semakin gemes," Ikhsan semakin senang menggoda Aisyah.
"Sudahlah, Bang. Jangan di ganggu terus, apa Abang nggak lihat tuh di pelototin sama yang punya," Faisal angkat bicara.
__ADS_1
Bukan melotot sih Rico nya lebih tepatnya dia mulai melangkah menghampiri mereka mungkin dia ingin menyambut kedatangan mereka.
"Kamu benar, Dek. Kita harus waspada, jangan main-main sama dia kalau marah bisa-bisa dia panggil tuh teman-teman kasatnya," jawab Ikhsan.
"Maksudnya teman kasat?" Aisyah mengernyit tak tau.
"Kamu beneran belum tau, Dek! suamimu itu kan... "
"Selamat datang, Bang!" Rico sudah keburu datang dan menyapa mereka, membuat perkataan Ikhsan harus terhenti sebelum selesai.
"Terima kasih, Ric! terima kasih sudah membuat Aisyah semakin tembem, Ric. Jangan pernah berhenti memompa nya supaya dia cepat bulat," ucap Ikhsan.
"Apa sih, Bang! " Aisyah cemberut, dia malu terus di goda oleh Ikhsan.
"Hahaha..., lucu sekali. Seharusnya jawabanmu bukan begitu Dek. Seharusnya kamu lebih lihat situasi, situasi kita sekarang ada yang masih jomblo, seharusnya kita panas-panasin supaya dia juga kebelet," kini Ikhsan menoleh ke arah Faisal.
"Hadeh, aku juga," Faisal pergi itu lebih baik daripada dia terus mendapatkan sindiran dari Ikhsan karena masih saja membujang.
"Maafkan adikku Ya Allah, setelah dia menikah kini dia melupakanku," kini Akhsan yang berbicara, dia berjalan mendekat setelah dia menaruh oleh-oleh yang ada di tangannya.
"Siapa yang melupakan Abang, Aisyah tidak melupakan Abang," jawab Aisyah.
Aisyah mendekat, dia ingin memeluk Akhsan namun di hentikan olehnya, "stop, izin dulu kalau mau meluk-meluk! Abang nggak mau ya sampai nanti ada yang marah," seru Akhsan.
"Dia memang istriku, Bang. Tapi dia juga adik Bang Akhsan," ucap Rico yang sudah menyusul Aisyah di hadapan Akhsan.
"Alhamdulillah, boleh. Sini bakpao peluk Abang," Kedua tangan Akhsan merenggang menyambut Aisyah dan langsung memeluk erat.
"Kangen ya.., uhh.. Bakpaonya Bang Akhsan," ucap Akhsan.
"Hem..," Aisyah mengangguk dia memang sangat merindukan ketiga abangnya, dan hanya satu yang tak mau di peluk olehnya yaitu Faisal, dia sudah kesal lebih dulu karena di goda oleh Ikhsan tadi.
Akhirnya kebahagiaan mereka begitu lengkap, pernikahan Aisyah juga Rico benar-benar bisa menumbuhkan kebahagiaan bagi mereka semua, dan yang terpenting telah menyadarkan Rayyan dari sifat egoisnya.
__
Bersambung..
__ADS_1
_____