Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
176. Pembungkus Bakpao


__ADS_3

Happy Reading...


Kebersamaan yang sangat membahagiakan untuk Iqbal juga Shelvia meski masih ada rasa canggung juga gugup tetapi keduanya sangat menikmati detik demi detik yang berlalu.


Shelvia yang sudah diperbolehkan pulang oleh rumah sakit kini mereka sudah ada di rumah Iqbal, tentunya masih diantar oleh Airin juga David selaku orang tua Shelvia.


Siska sudah menerima Shelvia dengan baik, ya meski dalam hatinya masih ada sedikit rasa untuk kedua orang tua Shelvia yaitu rasa kebencian yang belum hilang sempurna, tetapi demi anaknya Siska berusaha membuang egonya sendiri.


Tau akan pulang ke rumah David maka Airin sudah menyiapkan semua barang-barang Shelvia dan kini juga sudah membawanya ke rumah baru untuk Sjelvia.


Kebahagiaan benar-benar terpancar dari Shelvia juga Iqbal karena akhirnya tidak ada lagi penghalang untuk keduanya bersatu. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama setiap detik juga setiap saat.


Meski ada rasa canggung dari Siska kepada kedua orang tua Shelvia tetapi dia tetap memberikan pelayanan yang terbaik sebagai tamu juga sebagai besan.


Semua hidangan dibuat oleh tangannya sendiri tanpa meminta bantuan kepada asisten rumah yang dia pekerjakan, Semoga dengan cara ini Siska bisa menghilangkan semua kebencian kepada David dan Airin dan menjadi kebahagiaan sebagai keluarga besar.


"Sayang, mama dan papa pergi dulu ya. Kami hari kembali ke rumah sakit." pamit Airin seraya membelai lembut pipi putri semata wayangnya yang kini sudah berganti status menjadi seorang istri.


"Iya, Ma. Mama dan Papa hati-hati ya," jawab Shelvia.


"Pasti, Sayang." David pun tak kalah dia langsung mendekat dan memberikan kecupan di kening Shelvia dengan sangat lembut. sementara Shelvia juga meraih tangan keduanya dengan pergantian juga mengecup punggung tangan mereka.


"Siska, saya percayakan tanggung jawab Shelvia kepadamu. Tolong sayangi dia sebagai kamu menyayangi Iqbal." ucap David.


"Hem, saya akan berusaha," jawab Siska dengan mengangguk kecil.


"Terimakasih, Sis. Aku tau kamu pasti bisa," imbuh Airin. Airin mendekat lalu memberikan pelukan hangin kepada Siska yang masih sangat canggung.


Dengan perasaan yang canggung Siska tetap membalas pelukan dari Airin. mungkin memang ini sudah saatnya dia mengakhiri semua kebencian yang ada di hatinya. Menghilangkan keegoisan yang selalu di pupuknya sejak lama.


"Kami pamit, Sis," pelukan terlepas dari tubuh Siska dan Airin bergegas menjauh dan hendak pergi.


"Iqbal, tolong jaga Shelvia baik-baik. Kalau ada apa-apa, secepatnya hubungi kami." ucap David memperingatkan.

__ADS_1


"Baik, Pa." jawab Iqbal dengan cepat. Tanpa di minta pun Iqbal akan selalu melakukan itu. Itu sudah menjadi kewajibannya sekarang, menjaga dan memastikan Shelvia selalu baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum," ucap David dan Airin bersamaan.


"Wa'alaikumsalam.." jawab ketiganya bersamaan.


Ketiganya masih melihat punggung Airin juga David yang berjalan beriringan, hingga akhirnya masuk mobil dan mobil mulai menjauh.


"Kita masih ya, Sayang. Kamu harus istirahat." ajak Iqbal dan mulai memutar kursi roda milik Shelvia.


"Hem," Shelvia hanya mengangguk, tapi rasa gugup semakin kuat dia rasakan sekarang.


"Ma, kami masuk dulu," pamit Iqbal pada Siska.


"Iya, jaga Shelvia baik-baik,Iqbal. Jangan paksa dia melakukan hal yang akan membahayakan kesehatannya."


"Apa sih, Ma." protes Iqbal. Emangnya apa yang akan Iqbal paksakan pada Shelvia. Iqbal tau lah.


"Hehe, siapa tau kan kamu khilaf," akhirnya senyum itu bisa Iqbal lihat dari Siska. Entah sudah sejak kapan Iqbal melihat itu.


"Seandainya aku tidak terlalu egois, pasti kalian sudah sangat bahagia tanpa adanya posisi Shelvia yang seperti sekarang ini. Maafkan mama, Iqbal. Semua ini gara-gara Mama." gumam Siska yang sangat menyesal.


Kamar luas bernuansa abu-abu itu terlihat sangat rapi. Tatanannya sangat indah di lihat. Ternyata Iqbal begitu memperhatikan keindahan meski dia seorang laki-laki.


"Kamu istirahat ya, Sayang."


Tanpa aba-aba Iqbal langsung mengangkat tubuh Shelvia, di pindahkan ke kasur yang berseprai putih juga selimut putih yang di lipat setengah.


Shelvia diam, dia pasrah begitu saja dan tak ada kata protes seperti dulu lagi. Rasa gugup yang luar biasa begitu mendominasi hati Shelvia hingga membuatnya hanya terus diam.


Cup...


Kecupan singkat di kening membuat desir panas dalam darah Shelvia. Dia benar-benar gugup sekarang.

__ADS_1


"Istirahatlah, biar aku yang menata semua barang-barang mu."


Astaga, pasti Shelvia berpikir Iqbal akan meminta hak nya saat ini juga tapi ternyata. Otak Shelvia harus di cuci sepertinya.


"Kamu kenapa?" gelagat aneh sangat terlihat di wajah Shelvia membuat Iqbal kembali duduk saat tadi sempat berdiri.


"Hah! ti_tidak apa-apa kok."


"Oh, ya sudah. Sekarang istirahatlah. Biar aku yang membereskan semuanya."


"Ta_tapi. Nanti kamu capek. Seharusnya kan aku yang melakukannya, itu semua barang-barang ku." ucap Shelvia.


"Tidak, aku tidak akan capek kok. Selesai dengan semuanya dua ronde pun aku masih ijabanin," Iqbal terkekeh melihat wajah Shelvia yang terlihat panik.


Astaga, dua ronde dalam pertama kali bermain? apakah itu benar-benar akan Iqbal lakukan?


"bercanda, Sayang. Jangan terlalu di pikirkan. Yang terpenting kamu sehat dulu. Setelah kamu sembuh baru kita bicarakan semuanya."


Lega rasanya. Shelvia bisa menghembuskan nafas dari yang terdalam sekaligus.


"Istirahatlah lah," ucap Iqbal lagi. Setelah Shelvia mengangguk Iqbal berdiri, dia menarik koper Shelvia, mengangkatnya ke sofa lalu membukanya.


Ternyata sudah ada lemari yang kosong yang sudah di sediakan oleh, Iqbal. Tetapi masih lemari yang sama dengan tempat baju- Iqbal. Ternyata Iqbal membagi lemarinya dengan milik Shelvia.


Shelvia terus mengamati setiap gerakan Iqbal. Tiba-tiba saja Shelvia menutup mata dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya saat Iqbal membereskan pakaian dalam milik Shelvia.


Shelvia benar-benar malu, panas dingin dengan tubuhnya.


Sementara Iqbal, dia melirik ke arah Shelvia, dia tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Lucu sekali," Iqbal menggeleng padahal dia juga belum sadar apa yang dia pegang.


"Hah!" mata Iqbal terbelalak saat melihat apa yang ada di tangannya, "pembungkus bakpao kembar," celetuknya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung.....


__ADS_2