
Happy Reading...
......................
Berkali-kali Shelvia sudah mulai terapis, tentu dengan di temani Iqbal. Ini adalah terapisnya yang sudah kesekian kalinya.
Dia begitu senang karena Iqbal tak pernah meninggalkannya. Dia selalu menemani entah kemanapun dia pergi termasuk ke rumah sakit seperti sekarang ini.
Memang, sesekali Airin juga David akan datang ke rumah untuk melakukan terapis di rumah tetapi kali ini adalah jadwalnya di rumah sakit.
Perlahan-lahan Shelvia mulai berdiri dengan di bantu Iqbal. Meski masih dengan cara memeluk Iqbal tapi kakinya sudah tak lagi terlalu kaku, kakinya sudah mulai melemas dengan seiring berjalannya waktu dan kini untuk menapak lantai sudah tidak takut lagi.
"Hati-hati, Sayang," ucap Iqbal yang perlahan memudarkan pelukannya dari Shelvia.
Hanya kedua tangan mereka yang saling menyatu dan saling berpegang. Iqbal begitu hati-hati menjaga Shelvia, dia tak mau sampai istri kesayangannya itu jatuh. Sementara Shelvia sendiri dia takut jatuh.
"Hati-hati," katanya lagi.
"Aku takut, Kak," ucap Shelvia dengan terus berpegangan dengan tangan Iqbal. Langkah nya begitu pelan dengan jari-jari kaki yang terlihat mencengkram lantai. Terlihat kalau Shelvia begitu sangat ketakutan saat ini.
"Tidak usah takut, ada aku yang akan menjagamu. Akan aku pastikan kamu tidak akan terjatuh. Sekarang pelan-pelan melangkah lagi," pinta Iqbal.
"Iya, Mbak. Pelan-pelan saja dan tidak usah di paksakan. Kalau capek bisa istirahat dulu dan di lanjutkan nanti," ucap seorang suster yang membantu juga.
Shelvia diam tak menjawab namun dia sudah mulai melangkah lagi dengan sangat pelan.
Tangan Shelvia terus berpegangan tangan Iqbal, menjadikan Iqbal sebagai sarana untuk terapisnya. Itu tidak masalah untuk Iqbal dia malah bahagia.
__ADS_1
Setapak dua tapak kaki Shelvia melangkah dan akhirnya jari-jarinya semakin melemas dan tidak terlalu mencengkram seperti yang tadi lagi. Iqbal yakin, dengan rutin terapis begini dan juga terapis di rumah Shelvia pasti akan cepat kembali berjalan lagi seperti sedia kala. Dan saat itu terjadi, kehidupan yang indah akan benar-benar di rajut.
Ya, melihat keadaan Shelvia yang seperti sekarang Iqbal memang sengaja menunda untuk punya anak. Iqbal ingin lebih serius untuk kesembuhan Shelvia, setelah Shelvia sembuh bisa mereka merencanakan itu.
Sebenarnya Shelvia juga sudah ingin merasakan hal seperti Aisyah, hamil. Tapi Iqbal terus memberikan pengertian. Kalau kesembuhannya adalah prioritasnya untuk sekarang.
Dan itu menjadi pacuan untuk Shelvia supaya semangat terapis supaya cepat sembuh. Dan kini keadaannya sudah semakin membaik. Alhamdulillah.
"Istirahat dulu, Yang," ucap Iqbal yang sudah tak tega melihat keringat yang terus keluar dari pori-porinya. Bahkan keringatnya terlihat semakin besar-besar.
"Sebentar lagi, Kak." Jawab Shelvia yang ternyata masih terlalu bersemangat. Jelas, itu semua karena Shelvia sudah tidak sabar untuk secepatnya sembuh dari lumpuhnya itu.
...****************...
Sementara di tempat lain, Dante juga Meyka tengah menikmati masa-masa kebersamaan. Masa-masa mengenal lebih jauh lagi masing-masing di masa-masa anget-angetnya pengantin baru.
Keduanya terus berbagi tugas sebelum mereka melakukan aktivitas di luar rumah, contohnya Meyka kuliah sementara Dante bekerja di resto Rico.
Setiap hari Dante akan selalu antar jemput Meyka saat kuliah, kadang Meyka akan langsung pulang namun kadang dia akan bantu-bantu di Resto.
Sebenarnya Rico menawarkan Meyka untuk ikut serta mengolah Resto, tapi Dante tidak memperbolehkan karena dia tidak mau Meyka akan terikat dengan pekerjaan. Biarkan hanya Dante yang bekerja dia percaya kalau dia akan bisa mencukupi semua kebutuhan mereka berdua.
Kali ini mereka berdua ada di rumah. Meyka baru pulang kuliah dan Dante mengantarkan ke rumah karena keinginan Meyka sendiri.
"Kak, nanti pulang jam berapa?" tanya Meyka.
"Aku nggak akan kembali saat ini. Aku udah izin sama Rico." jawab Dante.
__ADS_1
"Kenapa? akk!" Meyka terkejut saat tiba-tiba Dante memeluknya dari belakang.
"Ini udah sore sayang. Aku lagi mau sayang-sayangan sama kamu," Dante semakin erat Dante memeluk Meyka.
Meyka semakin kegelian saat Dante dengan sengaja memasukkan kepalanya ke hijab Meyka dan memberikan kecupan di tengkuknya.
"Kak, geli!" pekik Meyka.
Bukannya melepaskan Dante malah semakin semangat. Meyka hanya pasrah karena Dante juga tak akan berhenti jika bukan dia sendiri yang menginginkannya.
Tak lama Dante melepaskan sendiri dan juga mengeluarkan wajahnya dari hijab Meyka. Tumben.
"Ke_kenapa?" heran saja kan, karena Dante selalu tak secepat itu jika mau bermanja-manja dengan Meyka.
"Bentar, mau pipis," Dante langsung berlari ke kamar mandi, membuat Meyka tersenyum geli. Lucu.
"Tunggu ya!" teriak Dante.
Meyka tidak menjawab, terlalu malu untuk menjawab.
"Jangan keluar loh, kalau keluar hukuman di lipat gandakan!" teriak Dante lagi.
"Hah!" emang apa kesalahanku?" Meyka begitu bingung akan hal itu, diam merasa tak punya kesalahan, lalu?
...****************...
Bersambung...
__ADS_1