
Happy Reading...
______
Kamar yang tak terlalu luas, namun sangat nyaman dan cukup lah untuk berdua saja. Aisyah masih mengamati kamar barunya, dia sangat menyukainya dan terasa hangat.
Aisyah semakin mendekat dengan kasurnya, matanya langsung tertuju pada sebuah pigura besar yang menempel di dinding atas kasurnya. Aisyah mengernyit, kenapa harus di tutup segala apakah fotonya itu rahasia? atau foto seseorang yang mungkin ada kaitannya dengan masa lalu Rico?
"Seandainya aku melihatnya apa aku salah? aku sangat penasaran?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri.
Di saat Aisyah masih terus mengamati Rico masuk, dengan pelan menutup pintunya lalu menghampiri Aisyah yang masih terdiam.
"Assalamu'alaikum... " sapa nya setelah dia sampai di belakang Aisyah.
Aisyah menoleh cepat, dia sangat terkejut karena kedatangan Rico yang tidak dia sadari, "Wa'alaikumsalam, Bang. Bang, itu? " tangan Aisyah menunjuk ke arah pigura itu, Aisyah sangat penasaran foto siapa yang harus di sembunyikan di dalam sana.
"Kamu mau melihatnya?" tanya Rico. Wajahnya tampak berbinar dia begitu bahagia kini dan selamanya Aisyah akan selalu bersamanya di rumah ini.
"Emang boleh? " Aisyah kembali menoleh ke arah Rico lalu mendapatkan anggukan dari suaminya itu. Aisyah begitu semangat dia ingin cepat melihat foto siapa di dalamnya.
Aisyah mulai berjalan, dia berhenti saat sampai di salah satu sisi kasur itu. Dengan pelan Aisyah menarik kain yang menempel di sana seketika membuat Aisyah terbelalak dan ternyata itu adalah foto dirinya dan Rico beberapa tahun yang lalu saat mereka masih berumur belasan tahun.
Foto di mana mereka berdua tengah duduk di bianglala saat mereka ada di pasar malam. Tawa keduanya yang begitu lepas ternyata di abadikan oleh Rico. Aisyah bingung saja karena saat itu Rico tidak terlihat membawa ponsel, terus dari mana Rico mendapatkannya.
"Bagaimana? apa kamu suka? " tanya Rico yang kini mulai melangkah menghampiri Aisyah yang masih fokus melihat itu.
"Hem...?" Aisyah menoleh. Aisyah sangat menyukainya tak dia sangka Rico begitu menyimpan rapat semua kenangan-kenangan kebersamaan mereka, "bagus, Aisyah menyukainya."
Rico menangkap kedua bahu Aisyah menggesernya hingga keduanya menjadi saling berhadapan. Mata keduanya saling bertemu, netra coklat itu terlihat semakin merajut cinta menjadi semakin kuat. Kasih sayang yang dulu hanya bisa mereka pendam kini bisa mereka ungkapkan.
Tangan beralih menggenggam tangan Aisyah, mengangkatnya perlahan, mengecup keduanya secara bergantian. Masih dalam posisi yang sama mata Rico melirik melihat ekspresi wajah Aisyah yang terlihat sangat gugup.
__ADS_1
Padahal ini bukan yang pertama namun suasana ini benar-benar membuat hati Aisyah bergetar tak karuan, bahkan jantungnya terus berpacu dengan cepat.
Rico masih diam, kini menarik Aisyah untuk duduk di kasurnya. Keduanya duduk berhadapan lagi namun tangan Rico masih tetap sama menggenggam erat tangan Aisyah.
"Terima kasih sudah menerima Bang Rico yang begitu banyak kekurangan ini, Syah. Terima kasih sudah memberikan hati dan cinta Aisyah hanya untuk Bang Rico saja. Terima kasih karena selalu mempertahankan Bang Rico di hati Aisyah. Terima kasih..." ucapan Rico terhenti sejenak.
"Awalnya Abang sudah ingin menyerah dengan keadaan ini, belajar untuk melepaskan mu dan mencoba ikhlas membiarkanmu hidup bahagia dengan orang lain, tapi nyatanya itu tidak bisa Bang Rico lakukan. Karena kita memang di takdirkan untuk bersama. "
"Benar kata orang, jodoh tidak akan tertukar. Sekuat apapun usaha untuk menjauh tapi tetap saja akan selalu kembali bersatu."
"Mulai dari sekarang sampai selamanya, Bang Rico minta Aisyah hanya akan memikirkan Bang Rico saja, dan tidak ada laki-laki lain. "
"Sekali lagi Bang Rico katakan pada Aisyah..., bang Rico sayang Aisyah, Bang Rico cinta sama Aisyah. Dan Aisyah sudah menjadi yang pertama dan yang terakhir di hati abang. Berjanjilah pada abang, kalau Aisyah akan selalu menemani abang dalam keadaan apapun. Berjanjilah kita akan berjuang bersama untuk mewujudkan surga di dalam rumah tangga kita. Berjanjilah pada Bang Rico, Syah."
Ucapan Rico begitu banyak, Aisyah terus mendengarkan dengan cermat apa yang menjadi keinginan suaminya. sesekali Aisyah mengangguk, tak kuasa butiran bening lolos dari matanya yang indah.
Sebelum air mata itu menetes jatuh Rico sudah menengadahkan telapak tangannya hingga air mata Aisyah jatuh di sana. Rico tersenyum simpul nami wajahnya menggeleng, "Bang Rico tidak akan mengizinkan kamu menangis. Kamu harus selalu tersenyum bahagia mulai sekarang."
"Aisyah akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Bang Rico, Aisyah akan berusaha untuk tidak mengecewakan Bang Rico, Aisyah janji," jawabnya dari sekian banyak kata-kata Rico.
mendengar itu saja Rico sudah sangat puas, karena itulah yang dia inginkan.
Perlahan-lahan Rico melepaskan hijab yang Aisyah pakai, melepaskan rambut Aisyah yang terikat, "bang Rico menyukai ini, jangan pernah perlihatkan ini pada orang lain, hanya abang yang boleh melihatnya." ucapnya.
Aisyah mengangguk, tanpa di minta pun Aisyah akan melakukan itu apalagi sekarang di tambah suaminya yang memintanya, dia harus benar-benar bisa menjaganya dengan baik, dan harus memperlihatkannya hanya untuk Rico saja.
"iya," jawab Aisyah.
Rico mendekatkan duduknya menahan tengkuk Aisyah lalu dia mengecup bibir Aisyah dengan begitu lembut. Tak lama, hanya beberapa detik saja kemudian Rico melepaskannya," tidurlah, ini sudah malam," pintanya.
Padahal Aisyah mengira bahwa Rico akan meminta haknya lagi malam ini, ternyata Rico memintanya untuk tidur. Mungkin Rico tau kalau Aisyah sangat lelah.
__ADS_1
"Apa..., apa Bang Rico tidak...?" tanya Aisyah. Sebenarnya Aisyah sudah menyalakan lampu hijau untuk malam ini, dia siap jika Rico akan memintanya lagi.
Rico tersenyum, meskipun Aisyah tidak mengatakannya dengan jelas namun dia sangat mengetahuinya, "Kamu pasti lelah kan? kita bisa lakukan kalau kamu tidak lelah."
"Baiklah," jawab Aisyah.
"Tapi bukan berarti tidak untuk malam ini, kalau Bang Rico menginginkannya abang akan memintanya," guraunya menggoda Aisyah, menoel hidungnya sembari terkekeh karena Aisyah sudah terlihat fokus barusan.
"Kok ketawa sih! " Aisyah menjadi merengut sekarang.
"Oh, berarti kamu ya yang menginginkannya? kalau iya bang Rico akan sedia mewujudkannya," ucapnya.
"Tidak, Aisyah hanya bertanya saja siapa tau Bang Rico menginginkannya."
"Ngarep ya...?" Rico semakin iseng menggoda Aisyah, membuat wajahnya seketika menjadi merah jambu sekarang.
"Apa sih! nggak kok," Aisyah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia sangat malu sekarang. Apa kalau Aisyah menawarkannya apakah dia akan di anggap wanita mesum? semoga saja tidak.
"Sudah tidur aja dulu, pulihkan stamina dulu nanti kalau udah fresh kita lakukan," ucap Rico.
Aisyah tidak menjawab dia sudah sangat malu, kini Aisyah mulai mengangkat kakinya dan mula merebahkan tubuhnya di kasur. Rico segera menyusulnya, memindahkan guling yang menghalangi mereka. Rico mengangkat kepala Aisyah menelusupkan tangan di bawah leher bocah Aisyah menjadikannya sebagai bantalnya.
Satu tangannya kini menarik tubuh Aisyah untuk lebih dekat padanya, "Jangan jauh-jauh, nanti Bang Rico kangen," ucapnya membuat Aisyah tersenyum.
"Aisyah tidak kemana-mana Bang." jawab Aisyah.
Rico menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Sebenarnya bukan itu alasannya Rico tak menyentuh Aisyah lagi malam ini, tapi Rico merasa tak enak pada tubuhnya, mungkin efek dari perkelahiannya kematian baru terasa sekarang. Sebenarnya kemarin juga terasa sih, tapi Rico hanya ingin benar-benar menjadikan Aisyah seutuhnya makanya dia bela-belain untuk menahan rasa sakitnya.
""""
Bersambung...
__ADS_1
________