Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
64.Dua hati satu rasa


__ADS_3

____


Happy Reading...


_________________


Semua bahagia dengan kedatangan dari Aira, bahkan semua anak didik di sana menyalami Aira dengan rasa sangat bahagia. Keisha merangkul Aira, menuntunnya untuk masuk ke dalam Pendopo nya, dan tentu Aira tidak akan berani menolak kecuali dia menurut dan mengikuti langkah dari Keisha.


Begitu juga dengan Aisyah, Faisal dan juga Rayyan, mereka semua ikut masuk bersama, Rayyan yang berjalan di paling belakang seolah mendapat sebuah wangsit yang begitu nyata. Sesekali dia memandangi anak gadisnya yang berjalan tepat di depannya.


"𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩. " Batin Rayyan seraya menyeringai.


Tak ada yang tau apa yang menjadi rencana Rayyan kali ini, yang jelas itu pasti ada kaitannya dengan perjodohan Aisyah dan juga Farel.


Semua duduk di ruang tengah, Keisha terus duduk di sebelah Aira, dia sudah seperti bertemu dengan anak kandungnya sendiri yang sudah sangat lama terpisah, tak ingin dia jauh dan kembali melepaskan.


"Kamu apa kabar, Nak. Sudah lama sekali kamu tidak menjenguk kami, apa kamu tidak merindukan kami yang ada di sini? " Tanya Keisha dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Aira tersenyum malu-malu, dia sangat merindukan semua yang ada di sana tapi masalahnya, dia sendiri tak bisa pergi lama-lama karena begitu banyak tugas dari kampusnya.


"Maaf, tante. " Jawab Aira sopan.


Lagi-lagi Keisha membelai penuh kasih ke dagu Aira. Dagu runcing yang membuat Aira terlihat sangat cantik dan sempurna. Bukan hanya itu saja, melainkan akhlaknya yang juga sangat mulia.


"Hemm..., Aira. Bagaimana hubungan mu dengan Faisal? Apakah masih sama? " Tanya Rayyan yang sontak membuat semuanya menoleh ke arah Rayyan.


Semuanya begitu terkejut dengan pertanyaan Rayyan, kenapa tiba-tiba Rayyan bertanya seperti itu pada Aira?.


"Apa sih, Pa. "Faisal angkat bicara.


" Ya, ya siapa tau kalian masih sama. Kalian kan sama-sama sudah dewasa, umur kalian juga sudah pas untuk melanjutkan ke hubungan yang serius. " Ucap Rayyan.


Faisal cengo, dia terdiam. Memang benar apa yang di katakan oleh Rayyan, sebenarnya umurnya juga masih dua puluh lima sih, dan Aira berumur dua puluh dua. Tapi sudah bisa lah.

__ADS_1


"Kalau memang kalian sudah mantep, kenapa harus mengulur-ulur waktu lagi. Bukannya hal baik harus di segerakan. " Ucap Rayyan lagi.


Memang itu adalah hal yang baik. Tapi semuanya harus di bicarakan dengan serius, lagian Aira dan Faisal baru bertemu setelah sekian lama, mereka masih banyak waktu untuk saling memantapkan diri terlebih dahulu. Dan juga Faisal sama sekali belum mengatakan apapun pada Aira termasuk isi hatinya.


Aira terus menunggu dari kepergian Faisal dulu, dia masih setia dengan janjinya namun Faisal belum juga serius padanya, seakan dia masih butuh waktu lagi.


Pernikahan harus di bicarakan dengan benar, tak bisa buru-buru mengambil keputusan takutnya akan berhenti di tengah jalan nantinya.


"Kami masih butuh waktu, Pa. " Jawab Faisal.


Faisal masih butuh waktu untuk mengatakan keseriusannya pada Aira, mana mungkin dia akan menikahi anak orang tapi yang di nikahi sama sekali belum tau apa isi hatinya. Takutnya akan ada masalah di kemudian hari.


"Ingat, jangan lama-lama memutuskannya, Faisal. Jangan sampai nantinya akan terjadi Fitnah. " Ucapnya.


Aisyah terdiam pilu. Rayyan sungguh tidak adil padanya. Faisal yang masih belum apa-apa langsung di sodor-sodorkan untuk menikahi wanita yang dia cintai, tapi Aisyah? Jangankan di tawari menikah dengan orang yang dia cintai, mau dekat saja Aisyah di larang sangat keras.


"𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 , 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘪𝘴𝘢𝘭. 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭! " Aisyah begitu kesal di dalam hatinya.


Hati Aisyah seakan di penuhi dengan rasa kekecewaan pada papanya, dia sangat kesal.


"Aisyah gerah, Aisyah mau mandi dulu. " Ucapnya dengan begitu dingin.


Semuanya menoleh, Keisha dan Faisal tau apa yang kini di rasakan oleh Aisyah, Aira diam melihat kepergian Aisyah dengan bingung sementara Rayyan dia mengangkat sudut bibir nya untuk tersenyum penuh kemenangan.


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢. " Batin Rayyan.


Faisal melihat Rayyan yang tersenyum, Faisal hanya bisa menggeleng dengan tak percaya kenapa Rayyan begitu tega pada Aisyah. Pantas saja hubungannya dengan Aisyah tak pernah hangat.


"𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘢. " Batin Faisal.


______


Aisyah membuka pintu kamarnya dengan kasar, dan menutupnya dengan sama juga. Dia berdiri memunggungi pintu, menyandarkan punggungnya di sana.

__ADS_1


Hatinya begitu sakit dia ingin berteriak Sekuat-kuatnya, tapi dia tak mampu. Mungkin inilah yang rasanya sakit tak berdarah, hatinya seakan tersayat-sayat karena ketidak adilan, tapi dia tak kuasa melakukan apapun.


Ingin sekali dia pergi jauh-jauh dari rumah menghindar dari keegoisan Rayyan yang seolah tak berkemanusiaan, apa salahnya, apa dosanya? Sampai-sampai Rayyan tak bisa adil padanya.


Perlahan-lahan tubuh Aisyah merosot dia terduduk lemah di tempat yang sama. Kedua tangannya melepaskan hijabnya dengan kasar mer*masnya lalu membuangnya di hadapannya sendiri.


Sakit, hati Aisyah sangat sakit.


Air mata Aisyah mulai keluar, meratapi nasib yang tak sesuai dengan keinginannya.


"Ahhh...! " Aisyah mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya, tangisnya semakin besar.


"Papa tidak adil... Papa tidak adil... " Ricaunya.


"Opa, Aisyah tidak kuat. Kenapa opa tidak mengajak ku saja untuk pergi bersama opa. " Ucapnya.


____


Hembusan angin penuh derita sampai di tempat Rico berada. Dia duduk terdiam dengan hati yang gelisah. Tatapan menerawang jauh, dia seakan ikut merasakan kepedihan yang di rasakan oleh gadisnya hingga tanpa sadar butir bening ikut lolos dari mata indahnya.


"Biarkan ini air mata ini menjadi saksi, bahwa air mata kita akan keluar secara bersamaan. Dan senyum kebahagiaan kita juga akan kita rasakan bersama."


"Hati kita dua namun rasa kita satu. Duka, air mata, senang, bahagia , tawa, akan kita jalani bersama-sama."


"Entah kita akan bersama atau mungkin tidak, tapi rasa ini akan tetap seperti ini, jauh dan dekatnya jarak antara kita, tak akan bisa memberi batas akan rasa kita. "


"Bersabarlah, waktu itu suatu saat akan segera datang. "


Rico terus bergumam, hembusan angin kah yang menjadi saksi semua kata yang keluar dari bibir Rico.


__


Bersambung...

__ADS_1


_______________


__ADS_2