Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
83.Nasib yang bertolak belakang


__ADS_3

_____


Happy Reading...


______


Semua kuliah sudah usai, Aisyah, Shelvia juga Meyka sudah mulai meninggalkan kampus dengan motor mereka masing-masing, sementara Meyka dia ikutan nebeng dengan Shelvia.


Begitu juga dengan Farel juga Rico, mereka juga bergegas pergi ke tempat tujuan masing-masing, Rico pergi ke Resto nusantara, sementara Farel dia pergi ke perusahaan barunya yang akan segera dia pimpin.


Keduanya berpapasan saat berada di pintu gerbang saat ingin keluar, Farel dari sisi kiri dan Rico dari kanan. Keduanya sama-sama berhenti dengan mata yang saling memandang.


Dalam urusan kendaraan saja keduanya sudah sangat berbeda, Farel dengan mobil yang mewah sementara Rico hanya menggunakan motornya yang sederhana. Keduanya sangat bertolak belakang.


Bukan hanya segi harta saja keduanya saling bertolak belakang, tapi juga dari segi ilmu. Rico sangat tertinggal jauh, apalagi sekarang? Rico kehilangan semua tabungannya, bahkan sedikit modalnya untuk Resto juga terpakai sedangkan Farel? Hari ini dia akan mendapatkan semuanya. Bukan hanya harta, tahta dan juga ilmu Rico sangat tertinggal jauh.


Namun satu yang tidak bisa di miliki seorang Farel, yaitu kedewasaan dan juga kerja kerasnya untuk mewujudkan mimpi dalam hidupnya.


Rico bisa mendapatkan sesuatu meskipun sedikit demi sedikit, tapi itu semua dia sendiri yang menghasilkannya, sementara Farel? Apapun yang dia dapatkan itu semua karena sebuah warisan peninggalan orang tuanya.


Kalau untuk ilmu agama, Rico tidak bisa mendapatkannya karena Rico memang tidak fokus dengan itu, karena masa remajanya bukan hanya untuk mencari ilmu saja melainkan untuk bekerja membantu orang tua.


Dan Farel? Jelas dia bisa mendapatkan ilmu itu karena dia dari remaja memang hanya fokus untuk itu saja.


"Permisi, pak Farel." ucap Rico dan mendahului Farel keluar dari sana.


"Ya." jawab Farel singkat.


Tak ada kata-kata yang lain selain hany itu saja. Motor Rico langsung melesat cepat setelah keluar dari gerbang begitu juga dengan Farel, dia juga langsung keluar setelah Rico sudah pergi.


Menempuh jalan yang tak begitu jauh akhirnya Farel sampai di depan gedung yang menjulang tinggi, mobilnya langsung terparkir manis dan kedatangannya juga sudah di sambut oleh Marco.


Marco sudah setia menunggu di depan gedung itu dari beberapa menit yang lalu, setelah sebelumnya Farel mengabari kalau dirinya sudah ada di perjalanan.


Masih di dalam mobil Farel memakai jas barunya, tentunya dia ingin tampil begitu berwibawa di depan para karyawannya nanti, celana abu-abu, kemeja putih, juga jas abu-abu terlihat sangat cocok Farel kenakan, Farel terlihat sangat sempurna dengan penampilan itu.


Pintu mobil di bukakan oleh salah satu penjaga, kedatangannya yang pertama kali ini di sambut begitu antusias oleh para penjaga di sana.


"Terima kasih, Pak." ucap Farel.


"Sama-sama Pak. " jawabnya.


Seketika Farel menghampiri Marco yang sudah tersenyum senang dengan kedatangannya. "Assalamu'alaikum, Kak. " Sapa Farel.


"Wa'alaikumsalam, Dek. Kamu sudah siap?"


"InsyaAllah, aku sudah siap." Jawab Farel.


Marco mengajak Farel masuk kedalam, dan mulai memperkenalkan Farel kepada para staf, "Maaf, bisa minta waktunya sebentar! " Teriak Marco.


Semua staf yang tengah duduk seketika langsung berdiri memandang Marco dan Farel yang ada di depan mereka. "Perkenalkan, dia adalah Farel, dia yang akan menjadi pemimpin perusahaan ini mulai dari sekarang." ucap Marco.


"Selamat datang pak Farel! "


"Terima kasih, karena saya baru di sini saya minta bantuannya pada kalian semua untuk membimbing saya. Semoga kita bisa bekerja sama untuk membesarkan perusahaan ini." ucap Farel.

__ADS_1


"Baik, Pak! "


"Terima kasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." Pinta Marco.


Selesai memperkenalkan Farel kepada semua staf, kini Marco membawa Farel untuk ke ruangan di mana Farel akan bekerja, tentunya tidak ada di lantai itu tapi lantai teratas, lantai dua puluh lima.


Dengan lift khusus keduanya sampai di tempat tujuan, ruangan yang begitu besar pun sudah ada di depan mata, Farel menatap kagum ruangan itu, ruangan yang sangat luas dan begitu rapi. Tapi bukan hanya itu saja yang menjadi pusat perhatian dari Farel, melainkan pigura besar yang terdapat foto mendiang orang tuanya Farel, Arka dan juga Riska.


"Lihatlah senyum mereka, mereka sangat bahagia melihat kamu berdiri di sini sekarang." Ucap Marco, tangannya menunjuk foto itu yang memang keduanya tengah tersenyum begitu manis. Foto yang sangat indah, Arka yang duduk di kursi dengan setelan jas hitam dengan kemeja merah marun, dan Riska yang berdiri di sampai Arka dengan gaun panjang yang berwarna merah marun juga.


Mata Farel begitu berkaca-kaca, dia sangat merindukan kedua orang yang ada di dalam foto tersebut. "Ma, Pa, Farel datang untuk kalian. Farel sudah datang." Suaranya terdengar begitu pilu.


"Sudah, jangan menangis di depan mereka. Kamu harus berdiri tegak dengan gagah berani di hadapan mereka, barulah mereka akan benar-benar bahagia dan bangga terhadapmu." ucap Marco sembari mengelus pundak Farel.


"Terima kasih, Kak."


"Hem.., sekarang bekerjalah dengan baik, kemajuan perusahaan ini ada di tanganmu. Nasib perusahaan ini juga tergantung padamu, jadi jangan sia-siakan semuanya. Kamu mengerti? "


"Iya, kak. Farel mengerti, Farel akan berusaha untuk membuat Perusahaan ini semakin besar."


"Jangan hanya kata-kata yang aku butuhkan Farel, tapi pembuktian."


"Iya, kak.


_____


Rico begitu tekun, dia begitu semangat mengolah satu persatu pesanan dari para pengunjung,bahkan Rico dan Dante tak sempat untuk istirahat karena pengunjung yang begitu banyak, bahkan sampai antri dan juga berdesak-desakan.


Syukur Alhamdulillah selalu Rico ucapkan, meskipun lelah tapi dia tetap semangat, sepertinya Allah benar-benar berbaik hati padanya, di tengah-tengah segala ujiannya semua seakan di permudah.


"Apa kamu mau memeras ku?" Sungut Rico. Bagaimana bisa? Satu minggu bukan waktu yang sebentar, dan juga ke Pulau Bali, itu tidak dekat. Dante sungguh terlalu kalau ngomong.


"Yee...! Bukan memeras, Bos. Ya sebagai penyemangat begitu." Mata Dante berkedip naik turun membuat Rico menggeleng dengan kasar tentunya.


"Jangan seperti itu, aku masih normal."


"Lah.., emang aku bilang bos tidak normal dan menyukai sesama jenis? Tidak kan! "


"Amit-amit..., "


"Amut-amut..., hahaha... " Tawa Dante menggelegar.


Rico dan Dante hanya terus berkutat di dapur hingga malam hari, keduanya hanya istirahat saat akan menjalankan sholat saja, selebihnya kerjaan dan kerjaan yang tidak ada henti.


Tulang-tulang mereka seakan mau terlepas satu persatu, sungguh lelah dan saat menjelang sholat isya berulah mereka berdua benar-benar bisa duduk-duduk dan istirahat.


"Akhirnya, bisa duduk juga. Menyandarkan punggung yang terasa ingin patah, " celetuk Dante.


"Tenang, kalau punggungmu patah nanti aku kasih lem biru..hehe..." jawab Rico yang di iringi kekehan kecil.


"Maksudnya lem biru?" Dante kembali duduk dengan tegak dahinya mengernyit menatap Rico penuh dengan kebingungan.


"Masak kamu nggak tau lem biru. "


"Beneran nggak tau, apa sih! Jangan bikin rambutku rontok deh! " kesal Dante.

__ADS_1


"Dengerin baik-baik ya, Lem biru... LEMPAR GANTI YANG BARU..!!!! HAHAHA... " tawa Rico menggelegar.


"Astaghfirullah... " Dante menyandarkan punggungnya lagi dengan kasar, sungguh kejam bos satunya itu, bagaimana dia akan melemparkan dirinya dan menggantikan dengan yang baru. "Ishh.. "


Seketika Rico berhenti ketawa, dia kembali ingat dengan ayahnya. "Aku ingin ke rumah sakit, tapi... "


"Tapi kenapa? "


Raut wajah Rico seketika berubah gelisah, dia sungguh berat meninggalkan Restonya itu. Matanya terus menerawang jauh setiap penjuru, kenapa rasanya tidak enak, apa yang sebenarnya akan terjadi.


"Kenapa apa, Bos? " tanya Dante yang ikutan bingung.


"Entah, tapi rasanya aku tak ingin pergi dari sini. Tapi aku juga harus menjaga ayah di rumah sakit." Jawab Rico lesu.


"Apa ada sesuatu? "


"Entah, semuanya masih mengambang tidak jelas."


Meskipun merasa tidak sanggup untuk pergi dari Resto nya namun akhirnya Rico tetap pergi, dia sudah sangat kasihan dengan bundanya yang seharian menjaga ayahnya.


"Dan, aku pergi dulu ya, kalau kiranya sepi langsung tutup saja Restonya. Sudah beberapa hari kalian lembur, kalian pasti lelah." Ucap Rico.


"Siap." Dante memberikan hormat pada Rico.


Rico keluar dari Resto dengan kunci motor di tangannya, langkahnya terhenti saat dia sampai di tempat motornya terparkir. Rico kembali menoleh, sejenak Rico terdiam memandangi Resto Nusantara yang berdiri dengan kokoh.


Semua yang berdiri di sana adalah hasil kerja kerasnya, dan dari sanalah Rico bisa mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membiayai semua kebutuhannya.


"Ya Allah, hilangkan kegelisahan ku ini." Doa Rico sungguh-sungguh.


Rico memantapkan hati, menunggangi motornya lalu pergi ke rumah sakit. Dan setelah beberapa saat Rico pergi Resto di tutup oleh Dante karena tak ada pengunjung lagi yang datang.


Dua puluh menit dalam perjalanan akhirnya motor Rico sudah sampai di rumah sakit, pikiran Rico begitu tidak tenang, hatinya begitu gelisah seolah akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya.


Karena ayahnya yang tengah sakit, dan pikiran Rico langsung tertuju pada Marno. Rico berlari dengan cepat ingin sekali memastikan kegelisahan itu tidak mendasar.


Rico masuk di ruangan Marno dan dia lihat Marno yang sudah sadar dan tengah berbicara dengan Susan, "Alhamdulillah.. " gumam Rico karena pikirannya ternyata salah.


"Assalamu'alaikum..., Bun, Ayah.. " Sapa Rico seraya menyalami keduanya dengan bergantian.


"Wa'alaikumsalam, keduanya tersenyum senang bisa melihat Rico lagi. "


Baru saja melepaskan tangannya ponsel Rico berdering, "Sebentar." Rico mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya meskipun dia tau itu nomor yang tak ada namanya.


"Assalamu'alaikum..., dengan siapa? " tanya Rico begitu formal.


"..... "


"Ke-kebakaran... " Seketika tubuh Rico menjadi lemas, dia begitu syok dengan berita yang menambah ujiannya menjadi semakin berat.


__


Bersambung...


_______________

__ADS_1


__ADS_2