Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
188. Kepanikan


__ADS_3

***********


7 bulan kemudian....


Semua sudah mendapatkan kebahagiaannya. Aisyah dengan Rico, Iqbal dengan Shelvia, Dante dengan Meyka, juga Farel dengan Felisha.


Sementara Faisal? Dia juga bahagia dengan kesibukan barunya di salah satu pesantren di Daerah Demak. Ya, Faisal memang sengaja memperdalam ilmunya di sana. Bukan sebagai ustadz melainkan sebagai santri kilat yang di perkirakan hanya satu tahunan saja.


Aisyah sudah terus gelisah menunggu hari persalinan, sementara Shelvia sudah hamil tiga bulan dan dia sudah bisa kembali berjalan, Meyka dia Hami lima bulan sementara Felisha dia baru mendapatkan hasil positifnya satu minggu yang lalu.


Mereka berempat tetap menjadi sahabat, empat sekawan begitu juga dengan para suami mereka yang juga sama.


Mereka selalu menyempatkan diri sekedar untuk makan siang bersama atau jalan-jalan bersama. Meski selalu dalam kesibukan masing-masing tapi tetap mereka usahakan.


Hari ini terasa sangat melelahkan untuk Aisyah, padahal dia tidak melakukan pekerjaan apapun hari ini. Hanya duduk-duduk saja dan sesekali jalan karena lelah duduk.


Perut yang sudah membesar dan waktu persalinan yang sebenarnya sudah sampai pada waktunya itu membuatnya terus khawatir. Dia was-was, juga ada rasa takut yang sangat besar.


Dia tidak sendiri di rumah, ada kedua mertuanya juga Rico yang kini tengah menjemur pakaian di belakang rumah. Setelah Aisyah hamil memang Rico yang lebih sering melakukan itu. Dia hanya tak mau kalau Aisyah selalu mengerjakan tugas rumah dan akan menjadi kelelahan.

__ADS_1


"Hari ini rasanya kok panas banget, padahal matahari juga belum naik tinggi?" Aisyah melongok melalui celah kaca, melihat luar dan melihat matahari yang memang tak belum begitu tinggi. Tapi entahlah, Aisyah sendiri juga tidak tau kenapa rasanya begitu panas seperti ini.


Di sapunya keringat yang keluar di kening menggunakan hijabnya. Aisyah beralih duduk di sofa dan bersandar dengan nyaman. Tetapi tatap saja gak bisa nyaman. Kayak ada yang mengganjal.


Tangan terus mengelus perutnya yang terlihat begitu besar karena dia yang bersandar. Matanya juga melirik melihat dan bibirnya tersenyum bahagia. Sebentar lagi dia akan bisa menggendongnya.


"Sayang, nih susunya di minum dulu," Rico datang dengan membawa segelas susu hangat. Rico buatkan hangat karena dia sendiri saja masih merasa kedinginan mungkin Aisyah juga sama.


Aisyah tetap tak berkomentar meski sebenarnya dia menginginkan susu yang dingin. Karena dengan susu hanya ini pastilah dia akan semakin merasa gerah dan panas. Keringat pasti akan segera bertambah banyak.


"Terimakasih, Bang." Aisyah mengulas senyum membuat Rico sangat senang dan merasa bahagia.


Di saat Aisyah mulai meneguknya Rico juga duduk di sebelahnya, bersandar miring dan tangan mengelus perut Aisyah dengan sangat pelan.


"Iya, Ayah." Aisyah yang menjawab, itupun dengan suara anak kecil.


"Bunda bisa aja," Rico beralih mengusap kepala bagian belakang Aisyah dengan sangat lembut penuh dengan kasih sayang.


Sedikit, atau kecil perbuatan lembut seorang Rico sekarang saja mampu membuat Aisyah terkesima, dia sangat bahagia karena terus di perhatikan.

__ADS_1


"Abang nggak jadi ke resto?" Tanya Aisyah.


"Tidak," Rico menjawab.


"Kenapa, katanya ada kerjaan penting di sana. Kalau abang mau pergi juga nggak apa-apa, Bang. Kan di rumah ada Ayah dan Bunda."


"Tidak, Sayang. Kerjaannya sudah di ambil alih sama Dante. Pokoknya hari ini abang tidak akan pergi kemana-mana. Abang akan selalu ada untuk kamu. Takut saja nanti pas pergi kamu mau melahirkan. Kan bahaya."


"Ya kalau itu memang maunya Abang terserah deh. Aisyah juga senang kalau ada abang di rumah rasanya sangat nyaman." Jawab Aisyah dengan wajah yang berbinar.


Wajah penuh binar juga bibir yang tersenyum mendadak berubah saat Aisyah tiba-tiba merasa sakit di bagian perutnya. Dia langsung menjerit kesakitan tentu langsung membuat Rico sangat panik.


"Bang, sakit!" Seru Aisyah.


"Bunda, Bunda!" Teriak Rico dia juga langsung panik.


"Ya! Ada apa Ric!" Bunda langsung berlari dan tentu mendapati Aisyah yang terus meringis.


"Rico, sepertinya Aisyah mau melahirkan. Cepat bawa ke rumah sakit!" Ucap bunda.

__ADS_1


"Baik, Bun. Yang sabar ya, Sayang." Rico langsung mengangkat Aisyah dan membawanya ke mobil sementara Bunda masuk ke kamar Aisyah untuk mengambil perlengkapan yang sudah sejak lama di siapkan.



__ADS_2