Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
35.Sebentar lagi


__ADS_3

______


Happy Reading....


_______________


Suasana pagi yang begitu indah, hembusan angin dan udara pagi begitu sangat memanjakan semua insan yang bernafas. Suasana akan semakin hangat disaat matahari mulai cerah memancarkan senyuman untuk menyinari bumi. Ditambah dengan alunan melodi dari suara hewan yang bangun pagi-pagi seperti ayam dan juga burung, yang keduanya saling menyerukan melodi yang begitu indah.


Ketiga gadis remaja sudah keluar dari sarang mereka dengan tubuh yang sudah segar dan juga pakaian bersih dan juga rapi, tak lupa juga dengan tas mereka yang menggantung manis dari bahu mereka masing-masing.


Aisyah, Shelvia dan juga Meyka mereka mulai mengayunkan kaki sembari tersenyum, menikmati hari baru yang begitu indah. Mereka berjalan berdampingan dan menuju tempat biasa mereka akan menunggu mobil yang akan mengantarkan mereka sampai ke kampus.


Kali ini Aisyah berharap, dia tidak akan satu mobil dengan Farel, dia tidak terlalu percaya diri juga dekat dengannya. Ada rasa canggung tersendiri di hati Aisyah, mungkin karena dia tau Farel telah jatuh hati padanya sedangkan dia sama sekali tidak bisa membalasnya.


" Berangkat dengan siapa kita hari ini?. " Tanya Shelvia mulai membunyikan suara sirine nya mungkin akan sangat susah untuk berhenti.


" Entah, mungkin pak Jono, kalau tidak..? Mungkin kak Farel lagi. " Jawab Meyka yang selalu menerka. Ya, karena memang itulah kebiasaannya.


Sementara Aisyah menaikan kedua bahunya acuh sembari mulutnya menyungging masa bodoh. Tapi di hatinya dia berharap tidak dengan Farel dia berangkat kali ini.


" Kamu sariawan, Syah? Kok tumben tidak komentar. " Shelvia merasa sedikit heran pada Aisyah, meskipun tak banyak bicara namun Aisyah akan selalu berkomentar di setiap kondisi apapun.


" Lagi malas. " Jawab Aisyah singkat.


" Kalian belum berangkat? Tumben Farel lama. " Seru seorang membuat mereka bertiga langsung menoleh ke arahnya.


Meyka dan Shelvia meringis sedangkan Aisyah tetap dengan wajah dingin dan juga datarnya, apalagi melihat siapa yang datang dan apa yang dia katakan, itu sangat membuatnya kehilangan mood di paginya yang begitu cerah.


" Jadi kita bareng dengan kak Farel lagi ya, Om?. " Tanya Meyka.


Rayyan mengangguk pelan, keputusannya sudah sangat mutlak dari kemarin dan seterusnya mereka akan selalu pergi bersama dengan Farel, itu semua demi bisa mendekatkan hati Aisyah dan juga Farel yang begitu jauh meskipun jarak mereka sangat dekat.

__ADS_1


" Iya, kalian akan berangkat bareng dengan Farel. Dan kalian tidak boleh protes apalagi menolaknya. Terutama kamu, Aisyah. " Rayyan melirik Aisyah yang sedari tadi diam. Bukan karena Aisyah tak menghargai Rayyan, hanya saja Aisyah malas jika ujung-ujungnya mereka akan selisih paham dan akan berdebat.


Dari kejauhan Rayyan sudah bisa melihat Farel yang melangkah menuju tempat itu. Seperti biasa Farel akan selalu rapi dan terlihat begitu berwibawa dan juga penuh karisma, itulah yang membuat Rayyan merasa bahwa Farel lah orang yang tepat untuk menjadi pendamping Aisyah.


" Farel!. " Teriak Rayyan sembari melambaikan tangan memanggil Farel.


Farel yang mendengar langsung menoleh, dia tersenyum kecil dan juga mengangguk, dan tentunya dia akan mempercepat langkahnya.


" Iya Om, ada apa?. " Tanya Farel.


" Kamu masih muda, Rel. Apa kau sudah mulai pikun sekarang. " Gurau Rayyan, tangannya menepuk pundak Farel dan berusaha menumbuhkan kehangatan diantara mereka sehingga Farel tidak akan canggung lagi kedepannya.


" Maaf, Om. " Jawab Farel. Farel sama sekali tidak lupa hanya saja mungkin ada hal lain yang membuat Rayyan memanggilnya.


" Cepatlah berangkat, kalau tidak gerbangnya akan segera di tutup dan kalian akan mendapatkan pinalti dari kampus. " Ucap Rayyan lagi.


" Iya Om," Sontak Farel meraih tangan Rayyan dan bersalaman dengan begitu takzim. " Assalamu'alaikum, Om. " Imbuhnya.


" Jadilah anak yang membanggakan orang tua, jangan sampai menjadi anak yang membangkang kepada orang tua. " Sindir Rayyan begitu enteng, namun itu tetap tak dapat menggoyahkan hati Aisyah yang sudah kokoh.


" Hem, " Sekilas Aisyah berdeham. " Assalamu'alaikum. " Ucapnya untuk yang terakhir.


" Wa'alaikumsalam.. Hati-hati di jalan. "


Rayyan menatap setiap gerakan mereka berempat, hingga mobil mulai berjalan pun Rayyan masih ada di sana. Namun Rayyan tetap pergi setelah mobil benar-benar sudah tak terlihat lagi. " Semoga Aisyah dan Farel bisa terus bersama. Mereka sudah sangat cocok." Gumamnya.


______


Rico berjalan dengan pincang saat dia keluar dari rumah sakit, Dante yang menjemputnya sama sekali tak memapahnya. Dante hanya membawakan barang-barang Rico saja sembari fokus dengan ponselnya.


" Dasar Dante kurang asem!. Sini berjalan dengan susah payah dianya malah asyik dengan ponselnya. Ingin sekali aku makan mentah-mentah tuh Dante. Seandainya saja dagingnya enak? Sudah habis kamu, Dan!. " Sungut Rico dongkol.

__ADS_1


" Bos mengatakan sesuatu?." Tanya Dante dengan tampang tak berdosa nya.


Rico bertambah geram dengan kelakuan Dante, dia yang menawarkan untuk menjemputnya tapi sekarang? Benar-benar tak punya hati.


" Dan, apa kamu masih mau gaji mu dibayar utuh?." Tanya Rico ya berhenti sejenak sekedar untuk istirahat.


Dante terdiam, dia juga mengernyit, siapa yang tidak mau gajinya di bayar utuh? Orang bodoh yang tak makan bangku sekolah pun juga menginginkan gajinya di bayar utuh apalagi Dante.


" Emang kenapa, Bos?. " Dante bejalan kembali mendekati Rico, menurunkan ponselnya dan menatap Rico penuh tanda tanya.


" Bantu aku jalan! Atau mungkin gendong aku sampai mobil. Dan gaji mu akan utuh. " Ucap Rico.


" Enak aja, situ bukan lagi bayi yang enteng untuk di gendong, tapi situ adalah bayi tua yang seharusnya pakai gerobak tuh bawanya." Jawab Dante.


" Dasar anak durhaka. " Sungut Rico lagi di tambah dengan wajah kesal.


Dante tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Rico yang sangat lucu menurutnya. Rico yang kesal kembali melangkah meninggalkan Dante yang masih terus mengejeknya.


Dante berlari mengejar Rico berjalan mendahuluinya membalikan tubuh dan berjalan mundur sehingga dia bisa leluasa melihat wajah Rico yang begitu kusut.


Bukan mengantarkan Rico ke rumahnya namun Dante membawa Rico ke Resto Nusantara itupun sesuai dengan perintah Rico sendiri.


Sesampainya di resto, Rico bergegas pergi ke ruang pribadinya, ruang yang terdapat kamar untuk istirahat dan juga semua perlengkapannya. Rico langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sementara Dante hanya masuk untuk mengantarkan barang-barang Rico kemudian dia pergi keluar.


Akhirnya Rico bisa bernafas lega, bisa keluar dari rumah sakit itu sangat membahagiakan untuknya, ya meskipun dia masih harus melakukan rawat jalan dan masih harus mengonsumsi obat-obatan dari rumah sakit.


" Akhirnya, bisa bernafas lega juga. Tunggu sebentar lagi maka semua akan baik-baik saja. Dan semua akan bejalan sebagaimana semestinya. " Gumam Rico.


_____


Bersambung..

__ADS_1


_______________


__ADS_2