
____
Happy Reading...
_________________
Rico terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pikirannya begitu kalut dengan jalan seperti apa yang akan dia lakukan.
Kenapa begitu besar ujian cintanya, mungkin dia yang bersalah karena dia dan juga Aisyah jatuh cinta di saat yang belum tiba waktunya, mungkin memang terlalu cepat mereka saling menaruh rasa.
Benar kata orang tua, jika jatuh cinta sebelum memiliki itu akan sangat salah. Rico tidak bisa menyalahkan siapapun, tapi dia sendiri yang bersalah. Cinta itu lebih baik hadir setelah halal bukan?.
Tapi, meskipun seperti itu dia juga tidak bisa menyalahkan cinta, karena yang bersalah adalah pelakunya bukan cintanya.
"Jika aku tak bisa mewujudkan semuanya, berarti aku memang bukan jodohnya." Gumam Rico.
"Mungkin aku memang tidak pantas bersanding dengannya, ilmu ku tak seberapa, hartaku juga tidak ada apa-apanya darinya. Mungkin aku yang terlalu bodoh karena berharap lebih. Tapi aku akan tetap berjuang untuk mewujudkannya karena karena apapun memang membutuhkan perjuangan. Namun, jika perjuangan itu gagal berarti memang belum rezeki."
Rico terus bergumam seorang diri, karena hanya itu yang dia bisa untuk sekarang. Rico juga bingung mau bagaimana? Dia hanya mempunyai Resto yang tidak besar, bengkel pun juga tak begitu besar pendapatannya, lalu dari mana lagi dia akan mendapatkan semua itu?.
Bukan hanya materi saja yang harus Rico kejar, namun dengan bersamaan dia juga harus belajar supaya dia bisa mensejajarkan yang Aisyah punya.
Lelah hati, lelah pikiran, lelah tenaga semua pasti akan Rico dapatkan dalam waktu sebulan, ya kalau akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, kalau tidak? Semua hanya akan sia-sia.
"Tidak akan ada yang sia-sia jika aku tidak bisa mencapainya. Paling enggak aku bisa mendapatkan sedikit tabungan dan juga bisa menambah ilmu ku. "
Ternyata Rico beranggapan lain dengan semuanya. "Niatkan semuanya karena Allah, Rico. Maka semua yang kamu dapatkan tidak akan sia-sia dan akan ternilai sebagai ibadah."
"Rico! Berhenti! Aku mau bicara padamu!" Teriak Ikhsan yang ternyata mengikuti Rico dengan mengendarai mobil.
Rico menoleh sebentar, dilihatnya dengan jelas Ikhsan beberapa kali menyembulkan kepalanya melalui jendela mobil. Ikhsan terus berteriak berharap Rico akan berhenti dan mau berbicara padanya.
Tak mungkin Rico akan berhenti di sembarang tempat, jarak dia dengan resto miliknya juga tidak jauh, jadi dia putuskan akan menuntun Ikhsan sampai di Resto Nusantara.
Dalam waktu lima menit Rico sampai di depan Resto Nusantara, dia memarkirkan motornya dan beberapa saat di susul dengan mobil Ikhsan yang terparkir di sebelahnya.
Keduanya turun dari kendaraan mereka masing-masing, terlihat Ikhsan melangkah cepat menghampiri Rico yang masih melepaskan helm.
"Rico, kita harus bicara." ucap Ikhsan tak sabaran.
Rico meletakkan helm di atas motornya, menoleh ke arah Ikhsan dengan wajah datar.
"Mari Pak, kita bicara di dalam."
Ikhsan hanya ikut saja dengan apa yang Rico kehendaki meski dia sendiri juga belum tau kalau Resto itu adalah milik Rico.
__ADS_1
"Hem.. "
Keduanya berjalan beriringan, masuk dan langsung mencari tempat yang nyaman untuk mereka ngobrol.
Belum juga Rico dan Ikhsan sampai di tempat mereka, Dante keluar dari dapur lalu dengan cepat menghampiri Rico.
"Bos, semua bahan banyak yang habis. Mau aku atau Bos yang belanja ke pasar? " tanya Dante.
"Kamu saja sana, aku Karibia tamu." jawab Rico.
Ikhsan masih diam mendengarkan, dia tidak akan menyela percakapan mereka meskipun dia sangat ingin. Ikhsan hanya butuh menunggu waktu saja.
"Siap.. Pergi dulu ya, Bos. Jangan kangen ya, kangen itu nggak enak! Aku hanya sebentar nggak akan lama, paling hanya setengah hari." Celoteh Dante.
"Jelas kangen itu nggak enak, nggak ada manis-manisnya juga. Sana cepat pergi! Beneran sampai setengah hari jangan kamu lembur lima hari sebagai gantinya. " Seloroh Rico menjawab.
"Isy.., sadis. " gerutu Dante sembari berlalu pergi.
"Mari pak Ikhsan. "
Rico kembali menoleh dan mengajak Ikhsan kembali berjalan hingga sampai ke tempat yang Rico tuju. Tidak terlalu jauh dari tempat itu hanya sebentar saja mereka sudah sampai di tempat yang sedikit tertutup dari para pengunjung.
Namun sebelum sampai di sana Rico terlebih dahulu memesan minum kepada karyawannya yang berpapasan dengan nya jadi dia tak harus berteriak lagi.
"Silakan duduk, Pak."
Ikhsan lebih dahulu duduk lalu di susul oleh Rico di kursi depannya hingga mereka saling berhadapan dan tersekat dengan meja yang berbentuk persegi.
Mata Ikhsan terus menjelajah setiap penjuru yang bisa terjangkau oleh matanya, meski tempat itu tak terlalu luas namun terasa sangat nyaman, dan Ikhsan sangat mengakui kehebatan sang pemiliknya.
"Ini Resto mu, Ric? "
Tanya Ikhsan namun matanya masih menerawang jauh hingga sampai sudut-sudut Resto itu.
"Iya. Hanya Resto kecil-kecilan , Pak."
"Tapi sangat nyaman, kamu pintar. " puji Ikhsan.
"Terima kasih, Pak." Tak besar kepala namun Rico merasa sangat tersanjung akan pujian dari Ikhsan barusan, sesaat bisa sedikit menghapus kegelisahan yang ada di dalam hatinya.
Satu karyawan datang dengan membawa nampan berisi dia cangkir berisi kopi spesial dari Resto Rico, karyawan itu langsung meletakkan di depan keduanya.
"Silahkan, Pak. " ucap karyawan muda itu.
"Silahkan Pak Ikhsan, di minum kopinya." Pinta Rico. Sementara Karyawan tadi sudah melangkah pergi.
__ADS_1
"Hem.., terima kasih Rico. " Ikhsan langsung mengangkat gelas dan mulai menikmati kopi andalan di Resto yang di bangun oleh Rico.
Setelah beberapa kali tegukan Ikhsan kembali menaruh cangkir itu ke tempat semula. "Ric, kenapa kamu menghalangi ku untuk mengatakan kebenaran mu, sebenarnya apa yang kamu takutkan? "
"Tidak ada. "
"Tidak mungkin tidak ada apapun, Rico. Ceritakan padaku, " Ucap Ikhsan menegaskan.
"Saya hanya takut kalau mereka semuanya tidak percaya pada ku, Pak Ikhsan. Pak Ikhsan kan tau sendiri bagaimana Om Rayyan, apa dia akan percaya begitu saja? Tidak pak, om Rayyan tidak akan semudah itu untuk percaya." Jawab Rico.
"Kamu tidak akan menyerah kan setelah ini?! Aku berharap kamu akan tetap memperjuangkan Aisyah, kan? " Tanya Ikhsan begitu berharap.
"Saya akan berjuang, Pak. Namun jika Allah tidak menghendaki itu saya hanya bisa berharap Aisyah akan bahagia dengan siapapun yang akan menjadi pilihannya. " Jawab Rico.
"Semoga saja kamu berhasil."
"Aku ingin menikah bukan karena saya jatuh cinta, pak. Bukan karena harta, apalagi menikah karena iba. Tapi, saya mau menikahnya karena saya yakin dengan dirinya aku akan bisa mencapai surga, itu yang terpenting untuk ku, Pak." Terang Rico.
Hati Ikhsan merasa tersentuh, ternyata anak yang ada di hadapannya ini memiliki pemikiran yang begitu dewasa, bahkan ketika Ikhsan berasa di usianya dia hanya berpikir menikah karena jatuh cinta, tapi Rico? Tujuannya adalah surga.
"Kamu memang benar. "
"Tapi masalahnya sekarang, aku seperti seorang pengemis. Aku seperti pengemis yang hanya mengharapkan belas kasih untuk bisa mendapatkan restu, jika aku berhasil mewujudkan apa yang Om Rayyan minta, bukankah sama saja kami menikah hanya karena harta, bukankah itu sama saja seperti sebuah kesepakatan? Bukan pernikahan yang mengharapkan surga untuk kedepannya? "
Sedih Rico mengatakan itu, hatinya terasa sakit karena cintanya seperti sebuah kesepakatan semata. Padahal bukan itu yang Rico inginkan. Rico ingin menikahi Aisyah bukan karena apapun kan, dia begitu tulus.
"Aku meminta maaf atas nama papa ku, Ric. Aku sangat menyesalkan semua kejadian ini, aku tak pernah berfikir kalau papa akan menjadi seperti ini. Hem..., terus, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? "
"Saya akan tetap berjuang sekuat tenaga saya, Pak. Namun saya tidak bisa menjamin hasil akhirnya. "
"Loh, emangnya kenapa? Atau..., begini saja, kamu aku akan pinjamkan uang untuk mu, untuk membeli rumah yang pantas. Dan kamu bisa menganggapnya sebagai hutang. "
"Terima kasih atas tawarannya, Pak Ikhsan. Tapi saya rasa tidak perlu, biarkan saya berjuang dengan cara saya sendiri, meskipun tidak akan mudah tapi saya akan tetap berusaha. "
Ikhsan tersenyum bangga dengan tekat dari Rico, dia akan sangat senang jika Rico dan Aisyah bisa bersatu, karena Ikhsan yakin Rico mampu membahagiakan dan menuntun Aisyah juga untuk menjadi lebih baik.
"Aku percaya padamu, kamu pasti bisa. Jika butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk minta tolong, aku akan selalu ada untuk mu. " Ucap Ikhsan.
"Terima kasih, pak. "
"Hemm.. "
___
Bersambung...
__ADS_1
________________