Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
68. Pergi ke taman


__ADS_3

_____


Happy Reading....


________


"Kita harus segera membicarakan tentang hubungan Faisal dan juga Aira, Ma. Setelah Ikhsan pulang kita akan membicarakan semuanya. " Ucap Rayyan pada Keisha yang sedang duduk di ruang tengah dan mereka hanya berdua saja di sana.


Keisha heran dengan suaminya itu, kenapa dia selalu buru-buru dalam mengambil sesuatu keputusan yang sangat besar. Bahkan dia juga sering memutuskan keputusan sepihak dan semua yang berhubungan harus mengikuti apa yang dia katakan.


" Kenapa harus buru-buru sih, Pa. Mereka masih butuh waktu, Pa, " Jawab Keisha.


" Bukankah Mama juga tau kan, kalau hal kebaikan itu harus secepatnya di segerakan. Ini hal yang baik loh, Ma. Ini masalah pernikahan, dan pernikahan itu sunah hukumnya, jika seseorang sudah mampu kenapa harus di tunda-tunda lagi, Faisal sudah sangat mampu, Ma. " Kekeh Rayyan.


"Faisal memang sudah mampu, Pa. Tapi bagaimana dengan Aira? Dia seorang gadis, dia punya mimpi sendiri untuk pernikahan nya kelak. Kita harus tau itu, Pa. " Jawab Keisha.


"Bilang saja kalau Mama memang tidak setuju dengan pendapat, Papa. Mama nggak usah berbelit-belit, Ma. " Tuduh Rayyan.


"Astaghfirullahalazim, Pa. Mama tidak bermaksud seperti itu, mama hanya mau kita sebagai orang tua lebih memikirkan kebahagiaan anak-anak kita, Pa. Bukan keegoisan kita sendiri. " Jawab Keisha tak habis pikir.


" Jadi, maksud Mama Papa ini egois, begitu?!" Rayyan beranjak , menatap kesal ke arah Keisha yang tak sependapat dengannya.


"Bukan seperti itu maksudnya, Pa. Tapi.. "


"Sudahlah terserah Mama! " Rayyan begitu kesal dan berjalan dengan cepat pergi dari sana.


"Astaghfirullahalazim..., sampai kapan suamiku akan seperti ini, Ya Allah..., jika dia sedang berada di jalan tersesat maka tunjukan jalan yang benar, jika hatinya tertutup maka bukalah kembali Ya Allah, dan jadikan suamiku seperti yang dulu lagi. " Doa Keisha sungguh-sungguh.


Sementara Rayyan terus mengayunkan kakinya untuk pergi keluar, dia merasa bahwa siapapun tak ada yang mendukungnya, bahkan Keisha istrinya sendiri sepertinya juga tidak.


"Aku tak akan menyerah begitu saja, semua yang aku lakukan adalah demi kebahagiaan mereka juga. " Gumam Rayyan.


______


Berkeliling-keliling di tempat keramaian kota itulah Aisyah dan juga Shelvia sekarang, lebih tepatnya di sebuah taman yang ramai dan begitu banyak anak-anak kecil juga yang tengah menikmati wahana gratis yang disiapkan di sana.


Sekedar untuk menghilangkan kepenatan yang terus menggerilya dengan bebas di kepala Aisyah, dan dengan senang hati Shelvia menemaninya.


"Kak, tempat ini indah ya? " Aisyah menghirup dalam-dalam udara yang begitu segar di sana meskipun tempat itu sangat ramai namun tempat itu tetap menjamin kenyamanan untuk semua pengunjung yang datang.


"Iya. Bagaimana? Kamu suka tidak pergi ke sini? " Tanya Shelvia seraya menoleh ke arah Aisyah yang tengah merentangkan kedua tangan sembari terus menikmati udara segar dan juga menutup mata.

__ADS_1


"Hem." Aisyah hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, tempat ini sangat tenang dan nyaman untuk Aisyah, dia tak salah datang ke sana.


π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨... π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨.. π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨....


Shelvia menoleh dengan cepat ke belakang setelah ada seseorang ada yang menjentikkan jarinya di bahu sebelah kanan miliknya.


"Kak Iqbal! " Pekik Shelvia. Malas sekali bagi Shelvia setiap kali bertemu dengan Iqbal, orang yang selalu mencari kesempatan untuk mengganggunya.


" Hehehe.. " Ringis Iqbal memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Kenapa kak Iqbal ke sini? Kak Iqbal ngikutin kita?! " Shelvia menatap tidak suka ke arah Iqbal yang malah terus nyengir dengan lucunya.


Seperti apapun cengiran dari Iqbal, seberapa manisnya itu tak akan mempengaruhi dirinya sama sekali, dia tetap mengokohkan hatinya supaya tak luluh lantah karena terjangan badai yang setiap kali Iqbal berikan padanya.


Shelvia beralih lagi ke arah Aisyah, dan betapa sialnya si Shelvia dia di tinggal kabur oleh Aisyah. Sepertinya Aisyah melakukan itu dengan sengaja dia pasti akan membalas semua kelakuan Shelvia yang selalu mengganggunya.


"Sial." Gerutu Shelvia dan terpaksa harus menoleh lagi ke arah Iqbal. "Loh..., kak Iqbal pergi juga?" Shelvia tampak bingung karena tak melihat Iqbal di sana juga.


Datang tak di anggap, bahkan di cuekin begitu saja, tapi saat pergi juga di cari sungguh plin-plan si Shelvia ini.


π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨... π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨... π˜›π˜Άπ˜ͺ𝘯𝘨...


Shelvia kembali menoleh dan akhirnya dia dapati Iqbal yang kembali di depannya yang sebelumnya dia berusaha ikut memutar tubuhnya di belakang tubuh Shelvia, yang pasti Shelvia tidak tau dengan pergerakan dari Iqbal.


"Jangan terlalu kesal seperti itu napa sih, Via. Nanti kalau sampai jatuh cinta aku nggak mau di salahin loh ya. Tapi alhamdulillah deh kalau itu beneran terjadi. " Ucap Iqbal.


"Ihh..., pede sekali kau, Kak. " Shelvia kembali berjalan mencari keberadaan Aisyah yang meninggalkannya, entah kemana tuh anak sekarang. Mungkinkah jailnya sudah mulai kumat lagi?.


Iqbal pun dengan senang membuntuti Shelvia kemanapun dia pergi, sepertinya Iqbal datang ke sana memang sengaja dan mungkin memang dia membuntuti Shelvia.


"Kemana sih Aisyah, Nih! " Shelvia berhenti mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.


"Kenapa harus mencari orang yang tidak ada sih? Aku di sini loh, kenapa di anggurin saja. Di ajak ngobrol kek, atau di apain gitu. " Ucap Iqbal penuh harap, memasang wajah imut nya berharap Shelvia akan tertarik padanya, atau seenggaknya mendapatkan pujian akan hal itu.


Mungkin jika orang lain, atau cewek-cewek penggila cogan akan klepek-klepek saat melihat wajah Iqbal yang seperti itu, tapi tidak dengan Shelvia, dia sama sekali tak perduli sepertinya hatinya benar-benar sekeras batu karang.


Saat Shelvia memandang sekilas ke wajah Iqbal, tiba-tiba saja Iqbal mengedipkan matanya genit di langsungkan dengan menaik-turunkan kedua alisnya. Ih.., benar-benar laki-laki genit. Baru kali ini Shelvia berasa di depan cowok genit biasanya yang genit itu cewek tapi sekarang? Terbalik sudah dunia ini.


"Heh." Seketika Shelvia melengos dia tak akan bisa terpancing akan tingkah Iqbal itu.


Kecewalah si Iqbal, kenapa dia begitu susah menaklukkan hati gadis di hadapannya ini. Hello...!! Apa kabar dengan predikat playboy nya dulu.

__ADS_1


"Via, apa aku kurang tampan ya? " Tanyanya.


Shelvia menoleh dan akhirnya dia tertawa terpingkal karena perkataan dari Iqbal barusan. "Kak Iqbal ini narsis sekali. Apa kak Iqbal menganggap situ tampan begitu? Hadeuh.. " Shelvia menggeleng kasar, dia terkekeh dan kembali berjalan.


"Narsis itu penting, Via. Narsis kan saudara pede, kalau aku nggak percaya diri bagaimana aku bisa ada di sini untuk membuat mu memerah pipinya? " Iqbal mengejar Shelvia, sepertinya dia begitu senang melakukan itu.


"Apa Kak Iqbal nggak ada kerjaan lain selain mengganggu ku? " Shelvia kembali berhenti.


Iqbal menggeleng, mengganggu Shelvia adalah prioritas pertama untuk sekarang, tak ada pekerjaan yang lebih penting kecuali itu.


"Tidak ada, semua pekerjaan ku sudah selesai hanya satu pekerjaan ku ini yang belum juga berakhir."jawab Iqbal.


" Pekerjaan apa? "


"Pekerjaan menghancurkan dinding kokoh yang membatasi hatimu. Aku ingin menghancurkannya, gara-gara dinding itu aku tak bisa masuk ke dalam hatimu. " Iqbal meringis.


"Astaghfirullah, " Shelvia menganga tak percaya.


"Ayolah, Via. Kota robohkan bersama-sama dinding itu, dan kita bangun dinding baru yang penuh cinta. Bukan dinding keramat seperti ini?" Harap Iqbal.


"Ogah! " Tak akan ada habisnya bicara dengan Iqbal, usahanya begitu keras untuk meluluhkan hatinya.


Shelvia kembali melaju dengan cepat mencari keberadaan Aisyah yang entah berantah. "Di mana sih Aisyah nih?" Shelvia begitu bingung.


Tak akan bosan untuk Iqbal, dia terus mengikuti Shelvia di belakangnya, selayaknya seorang bodyguard yang melindungi Nona nya.


"Nggak apa-apa deh jadi bodyguard begini. " Celetuknya.


Shelvia acuh tak menghiraukan kata-kata yang keluar dari mulut Iqbal. Dia ingin fokus mencari keberadaan Aisyah.


"Awas sampai ketemu, aku bikin botak kepala mu, Syah! " Sungut Shelvia.


"Jangan galak-galak, Via. Semua takut kalau kamu galak seperti itu, bahkan nyamuk pun akan ngacir pergi karena ketakutan.


Shelvia menoleh namun tetap berjalan, dia melirik dengan begitu tajam seakan seperti silet yang mengenai kulit dan begitu menyakitkan di lihat oleh Iqbal.


" Hehe.. Ups.. " Sontak Iqbal menutup mulutnya, dia tau kalau Shelvia sedang tak mau mendengarkan kebisingan apalagi suara Iqbal yang begitu mengganggunya.


Shelvia menggeleng sejenak lalu kembali berjalan dan kali ini tanpa menoleh-noleh lagi.


__

__ADS_1


Bersambung..


________________


__ADS_2