Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
158. Kesalahan Chef Rico


__ADS_3

Happy Reading...


_______


"Istriku rajin sekali sih, jadi makin cinta deh," Rico langsung memeluk Aisyah dari belakang saat dia melihat Aisyah yang sedang memasak di dapur saat pagi hari.


Memasak untuk sarapan semua penghuni rumah mereka termasuk Susan juga sumarno.


Biasanya ada Susan yang membantunya, tapi kali ini tidak karena Susan tengah kurang enak badan jadi Aisyah yang memintanya untuk istirahat saja. Dan Aisyah yang mengerjakan pekerjaan rumah.


Aisyah menoleh, melirik kecil ke arah Rico lalu kembali fokus kearah masakannya, bisa-bisa gosong ayam yang sedang dia goreng kalau memperhatikan Rico lama-lama.


"Apa sih, Bang. Biasa saja kan? Setiap hari juga seperti ini," jawab Aisyah.


"Sini abang bantuin," Rico mengambil alih pekerjaan Aisyah, menggeser Aisyah dengan kedua tangannya, "kamu kerjain yang lain saja, biar ini abang yang kerjakan," imbuhnya.


"Tap, Bang? " Aisyah masih enggan untuk pergi dari sana, sebenarnya dia sedang menikmati kegiatan memasaknya pagi ini. Dia yang dulu jarang sekali berasa dulu dapur dan sekarang sudah menjadi kegiatannya setiap hari tapi dia sangat senang dan tidak ada unsur pemaksaan atau terpaksa.


"Sudah, kamu juga belum beresin barang-barang mu kan? jangan sampai ketinggalan bisa-bisa kamu akan kerepotan sendiri nanti," ucap Rico mengingatkan.

__ADS_1


Perhatian dan perhatian setiap hari Rico berikan untuk Aisyah. Rico benar-benar berusaha untuk menjadi suami yang baik meski dia belum bisa sempurna. Memang tak akan mudah menjadi yang sempurna tapi Rico tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk Aisyah.


"Hemm.., ini saja, Bang. Aisyah anterin bubur untuk Bunda saja dulu. Setelah itu baru Aisyah akan beresin barang-barang Aisyah," ucap Aisyah.


"Baik deh, jangan lupa minta bunda minum obatnya ya. Dan tolong katakan pada ayah juga untuk hari ini tidak usah ke resto dulu, kasian bunda kalau di tinggal di rumah sendiri," ucap Rico.


"Baik, Bang."


Aisyah betul semangat dia sangat senang melakukan semua pekerjaannya. Sesuatu yang di lakukan dengan ikhlas juga dengan senang hati pasti akan terasa ringan menjalankannya. Dan hasilnya pun juga akan sangat memuaskan.


Tanggung jawab Aisyah bukan hanya atas Rico saja, tapi kedua mertuanya juga yang sudah seperti orang tuanya sendiri.


Aisyah menghampiri, entah apa yang akan Rico lakukan. Apa alasannya dia di panggil saat dia sudah mau melangkah.


"Kenapa, bang? apa ada yang bisa aisyah bantu? " tanya Aisyah.


Aisyah berhenti setelah sampai di samping Rico, dia pikir Rico akan meminta Aisyah mengambilkan sesuatu untuk nya tapi ternyata tidak. Rico malah merengkuh kepada Aisyah dan mengecup singkat ranum bibirnya.


Aisyah terperangah, matanya menatap Rico dengan tidak berkedip sama sekali.

__ADS_1


Mata mereka saling bertemu namun terus diam, iya kali bicara bibir mereka masih saling menyatu sama lain.


"Morning kiss, tadi kelupaan." Rico terkekeh setelah berhasil melepaskan bibirnya dari Aisyah. Apalagi melihat pipi Aisyah yang sudah sangat merah.


"Kayak bau gosong? " Aisyah terus mengendus-endus ruangan itu, memang bau gosong sih karena ayam yang Rico goreng sudah berubah warna menjadi hitam.


"Bang Rico, ayamnya..! " pekik Aisyah.


Ayam goreng yang tadi dia goreng baik-baik saja dan sekarang sudah tak karuan warnanya. Sudah sangat berbeda dari awalnya mungkin rasanya juga akan berubah menjadi buruk. Atau mungkin akan pahit.


Rico cepat mematikan kompornya, supaya ayamnya tidak semakin buruk lagi.


Tapi tetap saja tidak akan bisa mengubah apa yang sudah berubah. Yang hitam akan tetap menjadi hitam kan.


"Hahaha..., bang Rico sih, " Aisyah malah terkekeh karena kesalahan dari seorang chef, chef Rico.


__


Bersambung...

__ADS_1


_______


__ADS_2