Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
67.Harus bagaimana


__ADS_3

_____


Happy Reading.....


__________________


"Semua akan baik-baik saja, Syah. Aku akan selalu pastikan itu semua. " Gumamnya.


"Saya tau semuanya akan baik-baik saja, karena aku tidak akan pernah meninggalkan mereka semua. Dan aku akan selalu ada untuk mereka. "


Rico menoleh menatap seseorang yang datang. "Anda lagi. " Ucap Rico malas.


"Ya, ini adalah saya." Jawab Farel." Anda orang yang terpelajar Pak Rico dan ada juga harus menjadi seorang panutan yang baik. Seharusnya anda bisa tau mana yang ada di jalan yang benar atau salah. Saya yakin anda menyadari itu, Pak Rico. Hanya saja anda menolak untuk mengetahuinya karena Anda begitu terobsesi pada seseorang yang akan menjadi calon orang lain. "Sinis Farel.


Rico tersenyum sinis kala itu juga, "Seharusnya saya yang mengatakannya pada pak Farel. Anda orang pintar, terpelajar, mengetahui hukum agama yang benar, tapi nyatanya? Anda masih saja mengejar-ngejar gadis yang belum tentu menjadi milik Anda, siapa yang benar dan siapa yang salah, sekarang. " Jawab Rico tak mau kalah.


Farel terdiam, sepertinya dia telah tertohok oleh kata-kata dari Rico. Benar kata Rico, dia mengetahui agama yang benar tapi bagaimana bisa dia begitu mengejar hal yang menjadi urusan duniawi.


"Jangan terlalu pusing, pak Farel. Semua yang akan terjadi tidak ada pada ketentuan kita. Tapi semuanya yang terjadi akan sesuatu Ketentuan-Nya (Allah SWT). " Jawab Rico lagi.


______


Seperti biasa setelah pulang dari kampus Rico akan pulang ke Restonya, memeriksa dan membantu Dante sebagai Chef utama di sana.


Bukanya fokus memasak Rico malah melamun dengan tangan yang hanya mengaduk-aduk masakan yang masih ada di wajan.


"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶, 𝘚𝘺𝘢𝘩. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘮𝘶? 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴?" Batin Rico.


Orangnya ada di resto tapi sepertinya tidak dengan pikirannya, sepertinya pikirannya berada di dunia bagian lain sekarang. Dante menggeleng kasar, melihat apa yang terjadi pada Rico sekarang, saking tak fokusnya masakan Rico hampir saja gosong.


"Dorr!! " Teriak Dante mengejutkan Rico. " Bos! Kalau bos bekerja seperti itu dalam jangka waktu yang tidak lama resto ini akan gulung tikar. " Ketus Dante seraya mengarahkan tatapannya ke arah masakan Rico yang sudah mulai menghitam.


Rico memandang Dante dengan bingung, dia belum tau apa yang terjadi pada masakannya namun setelah beberapa saat Rico langsung mengikuti arah mata Dante dan akhirnya dia terhenyak sendiri.


"Astaghfirullahalazim...! Kenapa kamu diam saja sih, Dan! Kamu memang sengaja ya, Kau ini benar-benar telah mengacaukan segalanya!"


Rico yang terkejut langsung mematikan kompor dengan gerakan cepat.

__ADS_1


Dante ternganga tak percaya, astaga.., kenapa jadi dia yang di salakan karena perbuatan Rico sendiri. Sepertinya bos nya benar-benar sedang ada dalam masalah hingga dia kehilangan konsentrasi dan kini malah menyalahkannya juga.


"Bos! Kau sungguh luar biasa." Sungut Dante.


"Kau menyalahkan ku, Dan? Kau sendiri yang melihatnya, bukanya langsung memberitahu ku, kau malah diam saja dan menyadarkan ku setelah masakannya gosong begini. " Kesal Rico.


Aduhhhh...,,


Dante ingin sekali menggetok kepala bos nya itu supaya sadar bahwa itu bukan kesalahan Dante tapi kesalahan Rico sendiri. Dante menatap Rico dengan kesal hingga dia menggeleng beberapa kali dengan wajah masam.


"Kenapa kamu seperti itu? " Tanya Rico sembari mengangkat wajan dan membuang makanan tak layaknya di tong sampah.


"Tidak apa-apa. " Jawab Dante dengan mencari zona yang lebih aman saja, kalau tidak pasti akan ada kejutan demi kejutan yang akan keluar dari bos nya itu.


"Kamu saja yang memasaknya, aku lelah. " Rico menaruh wajan di tempat pencucian lalu dia pergi dari sana meninggalkan Dante.


"Tuh kan, bilang aja kalau dianya memang lagi nggak mood, pakai acara menyalahkan ku. Ini nih kalau udah jatuh cinta, sekali saja ada masalah pada cintanya semuanya kena dampak buruknya. " Gumam Dante.


___


Meyka terduduk seorang diri di ruang tengah di tempat pendopo nya dan juga Fikri dan juga Adiba, alih-alih membaca kitab yang ada di tangannya Meyka malah melamun menatap kosong kearah depan.


"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘵𝘳𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯. "


"𝘏𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. "


Meyka hanya bisa membatin saja, dia berusaha ikhlas dengan semua yang terjadi padanya, dia juga merasa tak pernah salah karena mendapatkan sebuah cinta meskipun tak bisa mendapatkan balasan.


Meskipun cinta dalam diam itu sangat menyakitkan, tapi Meyka tak pernah mengeluh. Dia benar-benar bisa mengendalikan hatinya sendiri.


"Mey.. " Panggil Fikri namun Meyka tetap diam tak menanggapi karena dia masih asik dalam lamunannya.


Fikri yang datang dengan membawa beberapa kitab langsung menaruhnya di meja depannya, dia mengambil posisi duduk semakin dekat kepada Meyka dan bisa menggapainya.


"Mey." Fikri menyentuh bahu Meyka dan akhirnya berhasil menyadarkan Meyka dari lamunan.


"I- iya, Bi." Meyka sedikit gagap menjawab Fikri karena dia terkejut.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mey? Apa ada sesuatu yang Abi tidak ketahui? " Selidik Fikri memandang wajah anak gadisnya yang sudah besar itu.


"Tidak ada apa-apa, Abi. Sungguh. " Jawab Meyka.


Fikri menarik lengan Meyka membawanya untuk menghadap ke arahnya. Begitu Meyka berbalik Fikri langsung menatap lekat wajah Meyka hingga dia juga menatap fokus mata Meyka.


"Apa kamu mau membohongi, Abi? " Tanya Fikri.


"Apa sih, Abi. Beneran tidak ada apapun." Meyka mencoba menolak dan hendak kembali duduk seperti semula namun Fikri belum mengizinkannya. "Abi... "


"Apa anak gadis Abi sudah menemukan seseorang yang mengisi hatinya? " Tebak Fikri yang langsung ngena, tepat sasaran.


"Abi yang pertama kali mengajari mu jalan, Abi juga yang pertama kali menyuapi kamu makan, Abi yang selalu menemani mu, membuat mu bisa tertidur. Semuanya, semua Abi tau dan mengenal mu, dan sekarang Abi juga tidak mungkin salah, Kan? " Tanya Fikri.


"Tidak Abi.. " Meyka masih mengelak.


"Siapa dia? Apa kamu tidak mau mengenalkan pada Abi?" Tanya Fikri terus memancing.


" Tidak, Abi. "


"Apa dia setampan Abi? Atau melebihi Abi? Tidak mungkin kan, Abi yang paling tampan kan? " Gurau Fikri.


"Apa sih Abi. Bagi Mey, Abi selalu yang paling tampan. " Jawab Meyka sedikit merajuk.


Fikri merengkuh tubuh anak gadisnya itu "Ternyata anak Abi sudah besar sekarang. Bagaimana sifatnya dia? Apa dia sangat baik? "


"Hemm." Akhirnya Meyka mengangguk.


"Apakah Abi mengenalnya? "


"Hemm.. " Lagi-lagi Meyka mengangguk tanpa sadar.


"Kalau dia memang sungguh-sungguh, surut dia menemui Abi. Jangan sampai kalian terus sembunyi-sembunyi untuk bertemu itu tidak akan baik. " Ucapnya menasehati.


"𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘈𝘣𝘪, 𝘈𝘣𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘯𝘺𝘢 𝘔𝘦𝘺𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘈𝘣𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘒𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘈𝘣𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘺𝘬𝘢. " Batin Meyka.


____

__ADS_1


Bersambung.....


____________________


__ADS_2