
Happy Reading....
_____________
"Rico, apa yang kamu lakukan! apakah kamu benar-benar akan melepaskan janji yang telah kamu buat sendiri? yang kamu ucapkan di hadapanku saat itu? "
Rico terkejut mendapati arwah Fahmi yang tiba-tiba datang di saat dirinya tengah sibuk mencatat semua barang-barang yang akan dibelanjakan besok.
Bagaimana mungkin seorang Rico yang sangat dipercaya akan kata-katanya kini mencoba untuk mengingkari janjinya sendiri hanya karena masalah yang dihadapi, pastilah ada sesuatu yang telah membuat dirinya seperti itu.
Seketika Rico menghentikan aktivitasnya setelah dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fahmi, Rico memandangnya dengan tidak enak hati dan tidak tega.
Orang yang dipercaya adalah kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya jika itu tidak bisa dipercaya maka semuanya akan rendah di mata manusia, itulah yang menjadi prinsip dari seorang Rico dan dirinya sangat menjunjung tinggi kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri dan tidak akan mungkin dia mengingkarinya.
"Apakah Tuan berpikir kalau saya bisa melupakan janji yang telah saya buat? Jawabannya adalah tidak! Bahkan saya mengingat semuanya, semua kata-kata yang keluar dari mulut saya." Seru Riko
"Lalu? kenapa kamu ingin melepaskan Aisyah! bukankah kamu sendiri tahu kalau saya sudah titipkan dia kepadamu. "
Rico menutup matanya sejenak menghembuskan nafas berat yang terasa sangat susah. Dadanya terasa sesak, hatinya sakit, dan juga pikirannya sangat kacau. Takan mudah bagi Rico untuk melepaskan dan melupakan Aisyah begitu saja.
Berusaha mempertahankan namun terasa sangat sulit bahkan melepaskan pun juga terasa sangat sakit itulah yang dialami Rico saat ini, hatinya ingin mempertahankan namun akal pikirannya ingin melepaskan karena dia sadar dia tidak akan bisa setara apalagi untuk bisa membahagiakan Aisyah.
"Saya bukan seorang pengemis yang akan merintih memohon belas kasih dari seseorang, saya juga punya harga diri, Tuan. Seseorang bisa saja mempertahankan cintanya tapi tidak dengan cara menangis untuk mendapatkannya."
Fahmi terkejut dengan apa yang menjadi penuturan Rico, Fahmi bingung di mana Rico yang dulu yang sangat dia kenal yang selalu bersemangat untuk mempertahankan cintanya kenapa sekarang Rico rasanya Rico ingin lepas tangan terhadap Aisyah.
"Rico, kenapa sekarang kamu berubah, dimana Rico yang dulu! juga yang sangat saya kenal! kenapa sekarang Rico seperti orang asing bagiku, " ucap Fahmi tak percaya dengan perubahan Rico yang begitu cepat.
"Ya, ini memang bukan Rico yang Anda kenal. Dan anggap saja anda tidak pernah mengenal Rico. Rico yang selalu saja berjuang namun hanya penghinaan yang di dapatkan. Namun ini! Ini adalah Rico yang asing! Yang akan berhenti dalam perjuangannya! "
Ada yang berbeda dari Rico sekarang, amarahnya begitu meledak, kesabaran dan kedewasaannya terasa sirna.
Kenapa?
Ada apa?
Kenapa semuanya bisa seperti ini?
Hanya itu yang terus terngiang di kepala Fahmi. Terakhir dia menemuinya Rico masih biasa-biasa saja, namun ada apa dengan sekarang? Kenapa Rico kekeuh ingin melepaskan Aisyah.
__ADS_1
Rico menunduk menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar frustasi dengan keadaan ini, dia lelah, dia tak sanggup lagi untuk berjuang. Buat apa dia berusaha berjuang jika dia tak mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Kepedihan di hatinya hanya Rico sendiri yang tau, hanya dia sendiri yang dapat memendamnya tanpa dia mau berbagi dengan siapapun. Butir bening yang keluar, cepat-cepat dia menghapusnya, dia tidak ingin terlihat lemah dia tidak ingin terlihat seperti laki-laki yang cemen yang selalu mengeluarkan air mata.
"Kenapa, Ric? Apa yang terjadi? " Fahmi mendekat menyentuh bahunya meskipun Rico hanya samar-samar merasakan.
"Apa ada yang mengatakan sesuatu padamu? Apakah ada yang membuatmu seperti ini? " Tanya Fahmi yang terus menyelidik.
𝘍𝘭𝘢𝘴𝘩𝘣𝘢𝘤𝘬...
Rico yang masih mengendarai motornya setelah pulang dari kampus tiba-tiba saja terhenti karena ada mobil hitam yang menghentikannya.
Karena tak bisa berjalan maju lagi dengan terpaksa Rico berhenti meskipun dia tengah buru-buru ingin segera sampai di resto Nusantara.
Baru saja Rico berhenti dua laki-laki keluar dari dalam mobil hitam tersebut. Rico mengernyit bingung kenapa orang itu menghadangnya di tengah jalan seperti ini, apa masalahnya.
"Turun, saya mau bicara padamu. " Ucap satu orang yang tak lain adalah Marco.
Ya, kedua laki-laki itu adalah Marco dan juga Rayyan. Mereka berdua sepertinya memang sudah merencanakan semua ini.
Rico melepaskan helmnya, menaruh di atas motornya lalu dia turun sesuai apa yang Marco perintahkan.
"Jauhi Aisyah." Seru Marco dengan suara yang sangat keras bahkan matanya sudah melotot tajam ke arah Rico.
Meskipun dihadapkan dengan keadaan yang menegangkan namun Rico tetap tenang seperti biasa tidak ada rasa takut ataupun sungkan namun Rico hanya tersenyum hambar dengan keadaan ini.
Senyum kelu itulah yang keluar dari bibir Rico, belum juga genap satu bulan syarat yang di berikan pada Rico namun Rayyan juga Marco sudah memintanya untuk menjauhi Aisyah.
"Bukankah masih ada waktu satu minggu? " Heran sekali Rico dengan kedua orang di hadapannya itu, Rayyan sendiri yang meminta waktu satu bulan namun ini masih ada waktu satu minggu lagi namun dia sudah melarangnya, lebih parahnya lagi kenapa harus ada Marco segala, apakah Rayyan tidak berani berhadapan dengannya? Atau mungkin memang mereka berdua sudah merencanakan semua untuk hati ini.
"Apakah kamu yakin dalam satu minggu bisa mewujudkan semuanya? Seharusnya kamu tuh ngaca, Ric! Kamu itu seperti apa? Bagaimana keadaanmu? Apakah dengan itu kamu bisa membahagiakan Aisyah? Tidak! Kamu hanya akan membuatnya menderita."
Marco terus saja mencari kelemahan Rico, tanpa di ungkit-ungkit pun Rico sudah sadar diri kalau dia tidak akan pernah bisa membahagiakan Aisyah dengan materi tapi apakah dia juga tidak bisa membahagiakan Aisyah dengan ketulusan cintanya? Dia pasti bisa kan?.
"Saya tau." Jawab Rico yang benar-benar sadar diri.
"Apa kamu tau Rico kamu itu seperti apa? Kamu itu seperti seorang pengemis! Yang mohon-mohon untuk meminta belas kasih dari kami, seharusnya kamu itu sadar diri sebelum kamu memutuskan untuk mendekati Aisyah."
"Jadi laki-laki itu yang gentle, Ric! Di mana harga dirimu sebagai laki-laki. Apa kamu tidak punya rasa malu memohon-mohon untuk mendapatkan restu dari orang tua seorang gadis yang sudah memiliki jodoh! Apa hanya sebatas itu saja harga dirimu?"
__ADS_1
"Kamu itu laki-laki yang buruk, Ric! Kamu tidak akan pernah pantas bersanding dengan Aisyah. Kenapa kamu buruk? Karena laki-laki baik tidak akan membiarkan anak orang menentang orang tuanya sendiri, laki-laki yang baik tidak akan membiarkan anak orang terus berseteru hanya karena cinta yang tidak mendasar seperti cinta kamu! "
Begitu nyelekit setiap kata yang keluar dari mulut Marco. Meskipun Rico hanya diam namun hatinya seakan-akan di tusuk-tusuk menggunakan paku berkarat, sungguh menyakitkan dan pasti akan selalu membekas.
Apakah benar Rico tidak punya harga diri?
Apakah benar Rico tidak pernah pantas bersanding dengan Aisyah?
Apakah Rico benar-benar lelaki yang buruk, yang tidak pernah pantas mendapatkan cinta?
Apakah kemiskinannya menjadi masalah? Apakah kebodohannya yang membuatnya harus di rendahkan seperti ini?
Lalu?
Bagaimana dengan orang-orang yang seperti mereka? Orang yang kaya harta namun miskin hatinya.
Orang yang luas wawasannya tapi sempit jalan pikirannya.
Orang yang mengaku bermartabat tapi menghina, merendahkan orang lain.
Terus nama apa yang pantas untuk mereka?
"sekali lagi, Ric! Secepatnya kamu jauhi Aisyah. Dan jika kamu benar-benar mencintai Aisyah, biarkan dia bahagia dan pastikan dia menerima perjodohan." ucap Marco yang secara tidak langsung meminta Rico sendiri yang mendekatkan Aisyah dengan Farel.
"Ingat semua kataku baik-baik. Jika kamu tidak menurutinya berarti kamu benar-benar laki-laki yang tidak punya rasa malu dan tidak punya harga diri. " Sinis macet
Puas rasanya bisa membuat Rico down seperti sekarang. Semuanya di katakan Marco tanpa memikirkan sebuah hati yang mudah rapuh.
𝘕𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭...
"Saya punya harga diri, Tuan. Dan saya juga bukan pengemis, saya bukan pengemis! Arghhh!! "'Teriak Rico frustasi.
" Rico.. " Pangil Fahmi namun Rico terus diam kali ini. Hatinya sangat hancur karena penghinaan.
___
Bersambung..
__________
__ADS_1