
Happy Reading...
*******
Begitu lelah Aisyah saat ini, sampai di rumah dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Rico yang melihat hanya tersenyum, dia menutup pintu lebih dulu lalu melangkah mendekati istrinya. Rico juga langsung duduk di sebelahnya mengelus tangan Aisyah yang perlahan semakin terasa dan menjadi pijatan.
Aisyah yang sesaat menutup mata langsung membuka mata dan kembali duduk.
"Tidak usah, Bang. Bang Rico pasti lelah," ucap Aisyah seraya duduk dengan tegak dan memandangi Rico yang hanya tersenyum menanggapi.
Rico masih saja terus mengerjakan apa yang ingin dia lakukan, dia malah mengangkat kakinya dan duduk di belakang Aisyah. Di lanjutkan dengan memijat kedua pundak Aisyah.
"Bang, Aisyah tidak apa-apa kok. Tidak perlu di pijat," Aisyah merasa tak enak juga sebenarnya, dia juga sangat kasihan karena Rico juga pasti sangat lelah. Bukannya seharusnya Aisyah yang melakukan itu kepada Rico?
"Tidak apa-apa, Ais. Abang memang sedang ingin melakukannya, kapan lagi coba abang bisa baik seperti ini," Jawab Rico dengan sedikit melihat wajah Aisyah dari samping.
Sedikit penasaran dalam hati Aisyah, kenapa Rico begitu perhatian kepadanya. Ya, biasanya juga memang selalu perhatian tapi ini lebih dari yang kemarin kemarin.
"Abang sehat?" Aisyah menoleh ke belakang, melihat Rico yang terus menggerakkan kedua tangannya.
"Sehat, emangnya kenapa?" Rico malah balik tanya.
"Abang terlalu manis hari ini, abang tidak sedang menginginkan sesuatu kan?"
"Apa lagi yang aku inginkan, Sayang. Aku sudah mendapatkan semuanya. Kesempurnaan benar-benar akan aku dapatkan bagaimana mungkin aku masih menginginkan sesuatu." Jawab Rico.
__ADS_1
Aisyah begitu bingung, dia tak bisa mencerna dengan baik setiap kata yang selalu Rico katakan. Kebanyakan kata-kata yang keluar adalah kata yang penuh arti yang tak bisa dia pahami. Aisyah juga sangat heran, kenapa suaminya ini selalu saja tau segalanya.
"Udah enakan, kalau udah sekarang istirahat. Ini sudah malam," Rico menghentikan pergerakan tangan meminta Aisyah untuk segera istirahat.
"Malam? Ini baru jam delapan, Bang. Biasanya juga begadang sama Bang Rico," ucap Aisyah malu-malu. Ya, keduanya memang sering begadang apalagi saat menjalankan ibadah, mereka bahkan bisa sampai hampir pagi.
"Sekarang tidak boleh lagi, mulai sekarang kamu harus istirahat tepat waktu dan tidak boleh begadang lagi. Kalau bang Rico yang kelupaan kamu harus tegur bang Rico, oke!"
Permintaan Rico membuat Aisyah semakin penasaran saja. Sebenarnya ada apa, kenapa harus seperti itu sih. Kenapa harus ada peraturan baru.
"Kenapa sih, Bang! Bang Rico nggak jelas banget deh," Aisyah berkedut karena tidak mengerti.
"Sudah, sekarang kamu bubuk yang, Sayang. Jangan lupa berdoa." Perlahan Rico membantu Aisyah merebahkan tubuhnya di ranjang dan itu sangat harus dan tidak boleh ada protes juga alasan.
Tentu itu membuat Aisyah semakin bingung. Sebenarnya ada apa?
Kedua mempelai yang baru saja hari ini sah menjadi suami istri terlihat sangat gugup saat berada di ruang rawatnya Shelvia.
Tak ada lagi yang menunggu Shelvia kecuali hanya Iqbal suaminya. Sementara kedua orang tuanya sudah pulang dan memberikan ruang untuk keduanya bersama.
"Kenapa belum tidur, apakah kamu belum ngantuk? Apakah perlu aku bacain dongeng?" tanya Iqbal.
Sejatinya dia sendiri yang mengantuk. Demi bisa menyiapkan pernikahan hari ini Iqbal rela tidak tidur kemarin malam, siang juga tidak tidur bahkan sampai sekarang dia juga belum memejamkan mata.
Tak lagi ada batasan untuk keduanya, apapun yang mereka lakukan sudah halal di mata negara juga agama, tak akan ada yang melarang. Bahkan setiap cinta dan kasih sayang yang tersalurkan satu sama lain akan terhitung sebagai ibadah dan akan mengalirkan pahala untuk mereka.
"Via belum ngantuk, Kak," Jawab Shelvia.
__ADS_1
"Ngantuk tidak ngantuk kamu harus tetap tidur, Via sa_sayang. Kalau tidak tidur dan banyak istirahat kapan kita akan pulang, apa kamu betah tinggal di rumah sakit terus," Iqbal terus membujuk.
Meskipun ada rasa gugup tapi Iqbal tetap saja belajar untuk membiasakan diri. Tidak mungkin dia akan terus gugup saat berada di depan Shelvia semua pasti akan terbiasa dengan berjalannya waktu.
Shelvia menggeleng, dia sama sekali tidak mengantuk. Bagaimana mungkin dia akan bisa tidur.
"Mau bubuk atau mau aku kelonin?" gurau Iqbal. Wajahnya terlihat serius tapi sebenarnya hatinya terus berusaha untuk menghilangkan rasa gugup.
"Apa sih!" Wajah Shelvia langsung memerah mendengar gurauan dari Iqbal, apalagi di tambah dengan matanya yang terus berkedip.
"Makanya bubuk, Sayang. Kalau tidak mau bubuk kakak akan minta hak malam ini," Iqbal semakin menjadi.
"Aaaa..." Cepat Shelvia menarik selimut dan menutupi seluruh wajahnya, menyembunyikan rasa malu karena suaminya.
Melihat tingkah yang sangat menggemaskan dari Shelvia Iqbal malah terkekeh geli, senang rasanya sekarang tak ada lagi halangan untuk dia selalu bersama gadisnya yang sekarang menjadi istrinya.
Diam dan tak lagi ada suara dari keduanya, setelah tak ada lagi pergerakan dari Shelvia diam-diam Iqbal ikut naik ke ranjangnya dan memeluk sang istri untuk ikut tidur juga.
"Selamat tidur istriku, jemputlah mimpi indahmu bersamaku."
Di bukanya perlahan selimut yang menutupi wajah Shelvia dan benar saja dia sudah tertidur pulas. Kecupan yang kedua berhasil mendarat lagi di kening Shelvia.
Iqbal tersenyum sejenak melihat wajah nan ayu itu, membelai lembut lalu kembali memeluknya dengan erat. Tak lama Iqbal ikut menjemput mimpinya.
******
Bersambung.....
__ADS_1