Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
133. Tak Enak Badan


__ADS_3

Happy Reading..


------


Aisyah juga Rico tidak pergi ke mana pun di hari pertama mereka tinggal di rumah barunya keduanya sangat menikmati kebersamaan dan kehangatan dari keluarga kecil yang baru mereka mulai.


Keduanya hanya di rumah berdua saja karena kedua orang tua Rico pergi ke Resto nusantara sejak dari pagi. Rico masih terlihat begitu malas untuk bangun dari tempat tidurnya bukan tanpa alasan namun Rico yang sedang kurang enak badan.


Setelah keduanya selesai menjalankan salat zuhur berjamaah Rico kembali rebahan di atas kasur, sementara Aisyah pergi ke dapur untuk mengambilkan makan untuk suami tercintanya entah apa yang diambil Aisyah sampai dia begitu lama berada di dapur.


"Assalamualaikum," ucap Aisyah, dia masuk ke dalam kamar dan tentunya kedua tangannya sibuk membawa makanan untuk dirinya juga untuk sang suami.


"Wa'alaikumsalam," jawab Rico dengan suara yang pelan. Rico kembali duduk dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang sudah dia kasih bantal namun dia tetap tidak menyingkirkan selimut yang ada padanya, "kok lama sekali," tanya Rico.


Aisyah tersenyum dengan begitu manis dia melangkah lebih cepat supaya cepat sampai di hadapan Rico. Aisyah belum menjawab pertanyaan Rico begitu saja dia baru menjawab setelah duduk dihadapan Rico.


"Maaf, Aisyah harus menghangatkan sayur dulu jadi agak lama dan aku juga bikinin bubur untuk Bang Rico, " jawab Aisyah sembari memperlihatkan mangkok yang ada di tangannya yang penuh dengan bubur juga perlengkapannya.


Riko tersenyum Inikah rasanya setelah menikah dia sakit ada yang merawat, mau makan ada yang ngambilin, saat kesepian dan suntuk ada yang nemenin, dan masih banyak lagi, yang paling jelas dan nyata, saat malam dia tak akan kedinginan lagi bisa memeluk istrinya bukan hanya memeluk guling seperti biasa.


Rico mencondongkan tubuhnya, tangannya terangkat untuk membelai puncak kepala Aisyah dia sangat senang melakukan itu karena meskipun sepele namun itu bisa menambah pahala untuknya.


"Terima kasih, Syah. Maaf jika abang jadi merepotkan mu," ucapnya dengan sedikit menyesal.


Aisyah menggeleng, apa yang dia lakukan bukan hal merepotkan tapi itu adalah bagian dari tugas istri yang harus dia lakukan. Bukankah dengan melakukan itu semua untuk melayani suami dia juga akan mendapatkan pahala.


Memang sangat senang setelah menikah, mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan pahala. Setiap hal-hal kecil yang dia lakukan untuk membahagiakan pasangannya itu akan mendapatkan pahala yang melimpah.


"Semoga kita bisa selalu istiqomah," ucap Rico lagi. Istiqomah menjalankan semua kebaikan dan juga saling membahagiakan pasangannya. Istiqomah dalam mencari ridho Allah dalam keluarga kecil mereka hingga terciptalah surga dalam rumah tangga mereka.


"Amin," jawab Aisyah.


Rico sungguh beruntung mendapatkan Aisyah. Dia sangat perhatian padanya dan dia juga bisa memperlakukannya dengan baik meskipun Aisyah lebih segala-galanya dari Rico sendiri.


Tak sia-sia semua pengorbanan yang Rico lakukan, dan sekarang dia sudah memetik akan hasil dari kesabaran dan pengorbanan itu dengan manisnya cinta nya yang di satukan dalam ikatan pernikahan.


"Jangan melamun terus, Bang. Sekarang waktunya makan, dan setelah itu baru istirahat," ucapan Aisyah seketika membuat Rico tersadar dari lamunannya.


Rico tersadar, tangannya kembali terangkat namun dia gunakan untuk memijat hidungnya yang terasa gatal.

__ADS_1


"Abang maunya di suapin," rengek Rico seperti anak kecil.


"Bang Rico kan sudah besar, masak minta di suapin sih? makan sendiri ngapa?" jawab Aisyah yang masih saja canggung untuk melakukan hal-hal yang berbau keromantisan.


"Aku kan masih sakit, aku sangat lemas bahkan tanganku tidak akan mampu untuk mengangkat sendok," sedikit alasan mungkin bisa Rico katakan untuk bisa membuat Aisyah mau menyuapinya. Aisyah harus bisa terbiasa kan melakukan itu?


Aisyah terdiam, dia berfikir, "hem.., baiklah! tapi ada syaratnya," ucap Aisyah. Semoga saja bukan sarat yang aneh-aneh yang dia minta. Soalnya kalau aneh-aneh Rico gak yakin dia bisa berikan memberikannya.


Mulut Rico berkecamuk, wajahnya sedikit melengos, takut saja kalau yang di minta oleh Aisyah adalah hal yang aneh-aneh.


"Bang," kali ini tangan Aisyah yang terangkat, menyentuh dagu Rico lalu menariknya supaya Riko menghadap kerahnya, "jangan marah dong! kan Aisyah belum mengatakan syaratnya?"


"Emang apa syaratnya?" tanya Rico yang langsung menatap Aisyah lagi seperti semula.


Aisyah tersenyum tidak ada syarat yang berarti supaya dia mau menyuapi Rico, syaratnya sangat mudah, "Bang Rico harus menghabiskan semua makanan ini sampai tak bersisa dan berjanji untuk itu kalau tidak habis besok tidak akan ada bubur lagi untuk Bang Rico apalagi mendapatkan suapan dari tangan Aisyah, " jawab Aisyah dengan sangat jelas.


Rico memandangi mangkok yang penuh dengan bubur dia mengernyit bagaimana mungkin dia akan menghabiskan bubur yang begitu banyak bahkan lidahnya saja rasanya sakit pahit bagaimana mungkin dia akan menghabiskan makanan yang penuh itu.


"Kayak nggak bisa habis deh?" ucap Rico tak yakin.


Aisyah menghembuskan nafas dengan kasar dia tak percaya bagaimana mungkin Rico tidak akan bisa menghabiskan bubur buatan itu, "ayolah, Bang! Bang Rico pasti bisa menghabiskan ini," jawab Aisyah yang begitu yakin.


"Alhamdulillah," ucap Aisyah, "semarang bang Rico berdoa dulu, " imbuhnya.


"Kamu juga berdoa lah,"


Dan akhirnya mereka berdua berdoa bersama-sama. Aisyah hanya menurut saja meskipun kali ini Rico yang mau makan. Ya, sekedar membahagiakan suami sih.


Perlahan-lahan Aisyah menyendok kan bubur itu untuk Rico dan dengan cepat langsung menyuapinya, "akk! " Aisyah reflek juga ikut menganga saat menyuapi Rico.


Bukan Rico kalau dia hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun, tangannya mengambil sendok kecil yang ada di gelas yang berisi teh hangat permintaannya.


Rico membersihkannya dengan tisu lalu dia menyendok kan bubur sama seperti yang Aisyah lakukan. Tangannya terangkat dan saat mulut Aisyah masih menganga dia memasukkan sendok itu padanya.


"Emm...," Aisyah langsung menutup mulutnya tangannya juga terangkat untuk membersihkan bubur yang keluar.


Rico tersenyum, dia menang kan. Jika dia tak bisa menghabiskan bubur itu sendiri Aisyah pun juga bisa memakannya.


"Bang Rico! kok jadi Aisyah juga yang makan!" kesal Aisyah namun wajahnya malah terlihat lucu.

__ADS_1


Rico terkekeh, dia senang melihat itu,"gimana? enak kan buburnya? " tanya Rico dengan sengaja.


Ya jelas enak lah, kalau tidak mana mungkin Aisyah akan memberikan padanya. Lagian sebelum Aisyah membawa ke kamar dia sudah mencicipi dulu gimana rasanya.


"Ihh!! bang Rico!" Aisyah masih merajuk kenapa juga dia harus ikut makan. bubur itu kan khusus dia buatkan untuk Rico, "sekarang bang Rico yang harus habisin!"


Aisyah kembali menyendok kan bubur itu penuh dan menyuapi Rico lagi dan kini tanpa membuka mulutnya sendiri.


"Syah," panggil Rico pelan.


"Ap...," ucapan Aisyah kembali berhenti karena Rico kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.


Meskipun mulutnya mengunyah dan tetap menelannya namun mata Aisyah terlihat sangat menakutkan.


"Jangan marah begitu, Sayang. Makan bersama juga bisa mendapatkan pahala loh, kan aku senang," ucap Rico.


Pahala sih pahala, tapi nggak gitu juga dong.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan bersama," ucap Aisyah dengan senyum terpaksa. Kalau udah urusan pahala bagaimana bisa di tolak.


"Kamu tau, Syah! bukannya hanya mendapatkan pahala saja tapi kalau makan semangkuk berdua gini kan kamu bisa irit tenaga, nggak usah mencuci dia wadah cukup satu saja. Juga bisa irit sabun dan air juga," ucap Rico sembari terkekeh geli.


Aisyah menganga, "astaghfirullah..., baru tau kalau bang Rico ternyata pelit juga perhitungan sekali!" ucap Aisyah tak percaya.


"Hahaha...! canda, Sayang. Nih akk lagi.. "


"Hem.. "


"Anak pintar.. "


"Kenapa jadi Aisyah yang makan, sekarang giliran bang Rico, akk..! "


"Iya iya.. "


"""""""""


Bersambung..


________

__ADS_1


__ADS_2