
...**************...
Tulisan di bawah ini semua hanyalah karangan dan fiktif belaka, jangan pada baper ya,...semuanya murni hanya sebuah khayalan dari Author yang kekenyangan halu..
...#########...
______
Happy Reading..
_________
Bukannya takut Rico kini beranjak, dia berdiri tegak menatap tajam penuh keberanian ke pada Rayyan.
"Jangan pernah sentuh bunda." Sungut Rayyan.
Tangan Rico terangkat dia sudah tidak lagi bisa menahan kekecewaannya.
𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬.....
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Rayyan dari tangan Rico. Namun bukan Rico yang melakukan itu karena Rico sudah tak menyadarinya.
Meskipun Rico terus berjuang untuk tidak di kendalikan oleh Fahmi tapi dia masih saja kalah dan bisa di kendalikan oleh Fahmi. Rico hanya samar-samar saja mengingatnya tapi tidak bisa melakukan apapun.
Semua yang ada di sana terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Rico barusan. Semuanya tak percaya, bagaimana bisa Rico melakukan itu pada Rayyan.
Suasana semakin tegang, Rayyan yang sebelumnya sedikit terhuyung dan langsung memegangi pipinya kini dia sudah berdiri tegak menatap penuh benci kepada Rico.
Netra hitam keduanya saling bertubrukan, Rayyan yang begitu dikendalikan amarahnya dan Rico yang di kendalikan oleh Fahmi yang penuh dengan kekecewaan.
"Beraninya kamu menampar ku!" Teriak Rayyan.
"Seorang ayah tidak akan menjadi pengecut jika anaknya melakukan kesalahan! "
"Seorang ayah tidak akan pernah tinggal diam jika anaknya melakukan kesalahan, seorang ayah tidak akan pernah membiarkan anaknya terus dalam kesesatan! "
"Kau mengecewakan kedua orang tua mu, Ray! Kau membuat orang tuanya merasa gagal, kau buat didikan orang tuamu di pertanyaan di seluruh dunia! Apakah ini yang menjadi tujuanmu!"
"Apakah Orang tuamu mengajarkan kamu menjadi egois seperti ini, apakah kedua orang tuamu mendidik mu untuk menjadi orang yang tak punya hati seperti ini! Tidak Ray, tidak lagi! Jika kamu memang tidak bisa mengubah hatimu, tidak bisa bisa menghilangkan ego mu, biarkan Abi membawa seluruh keluarga Abi bersama Abi! "
Semuanya terperangah mendengarkan setiap penuturan yang keluar dari mulut Rico, mereka terus tercengang sedangkan Aisyah yang mendengar itu langsung berdiri dan menghampiri Rico, di tatapnya wajah Rico yang tak seperti biasa, matanya merah dan terus mengeluarkan keringat, itu mungkin karena Rico yang ingin mencoba untuk menahan diri karena di kendalikan seutuhnya oleh Fahmi.
"Siapa kamu sebenarnya!? " Tanya Rayyan yang masih tak mengerti.
"Kenapa, apa karena kamu sudah menjadi egois seperti ini sampai-sampai kamu tak bisa mengenali Abi mu sendiri, apa segitu tertutupnya hatimu, Heh.. "
__ADS_1
"Aku dan bunda mu selalu saja berharap, anak-anak kami cucu-cucu kamu tidak akan ada yang egois seperti ini, tapi kamu? Apa yang kamu lakukan sekarang! "
"Apa kamu tau, Ray. Anak ini! Anak ini tidak pernah bersalah, tapi kamu terus saja menyalahkannya, membencinya dan terus merendahkannya, apakah itu yang telah Abi ajarkan padamu! "
"Meskipun seperti itu, apakah anak ini pernah marah padamu, apakah anak ini pernah membalas mu? Tidak kan! "
"Semua yang pernah dia lakukan itu bukan kesalahannya bukan kemauannya, semua itu Abi yang melakukannya, Abi!! "
"A- Abi... " Rayyan tergagap.
"Iya, Abi! Abi yang membuat anak ini melakukan segalanya yang Abi kehendaki!. "
"Apakah kamu pikir Abi mu sudah tenang dan damai di sana, Ray. Belum!! Abi belum bisa tenang dan damai di sana itu karena siapa? Karena kamu! karena keegoisan mu! "
Semua unek-unek Fahmi keluarkan untuk menyadarkan Rayyan, entah dia akan percaya atau tidak, semoga saja berhasil membuat Rayyan sadar dan mengakui kesalahannya.
Faisal yang sedari tadi diam membisu karena tak percaya kini dia melangkah juga mendekati Rico, Aisyah dan juga Faisal sudah berderai sekarang, mereka berdua sangat sedih jika ini benar-benar Fahmi.
Mereka berdua lah yang tak melihat dan ada di saat-saat terakhir Fahmi pastilah dia akan sedih seperti sekarang.
"Opa." Lirih Faisal.
Sang opa tersadar dan langsung merengkuh Faisal yang ada di sebelahnya.
"Opa... " Rasanya Aisyah juga ingin memeluknya tapi itu tidak akan mungkin dia lakukan, seandainya yang mengendalikan itu benar-benar Fahmi tapi tetap saja itu adalah tubuh dari Rico, jadi Aisyah tidak akan berani melakukan itu.
Sementara Rayyan kini benar-benar terpaku antara percaya dan tidak percaya, dia memang mempercayai akan hal-hal gaib tapi dia masih tidak percaya akan arwah yang bisa kembali.
Fahmi melepaskan Faisal dia berjalan mendekati Tasya yang terus sesenggukan di rangkulan Keisha.
Rico berlutut di hadapan Tasya, menggenggam tangan Tasya dan beberapa kali mengecupnya.
"Bunda jangan bersedih, semuanya akan baik-baik saja. Bagaimana apa bunda suka bunganya? Aku sendiri yang meminta anak ini untuk memesan nya."
"A- Abi.. "
"Hem.., maafkan Abi, karena Abi membiarkan bunda menahan semuanya ini sendiri, maafkan Abi. " Sesalnya.
Tak bisa di percaya jika yang ada di hadapannya ini adalah Fahmi yang sudah beberapa tahun telah pergi, bagaikan sebuah mimpi bisa berbicara lagi dengan nya. Tapi bunga yang di berikan nya adalah bunga yang benar-benar selalu Fahmi berikan pada Tasya, kalau bukan Fahmi tidak mungkin Rico bakal tau begitu saja.
"A- Abi.. " Lirih Tasya. Lukanya terasa kembali lagi, dukanya kembali terbuka karena kedatangan Fahmi.
Rico menyapu bersih air mata yang membasahi pipi Tasya, tersenyum manis yang membuatnya lebih tenang.
"Kenapa, kenapa Abi kembali. " Tanya Tasya.
__ADS_1
"Aku kembali untuk Bunda, dan aku akan pergi setelah semuanya dalam keadaan baik-baik saja. "
"Kenapa harus anak ini yang kamu buat menderita, Abi? "
"Karena anak ini mampu, Bunda. Dia memiliki sesuatu yang tidak di miliki oleh salah satu dari anggota keluarga kita. Dia sangat spesial, Bunda. Dialah yang akan menghentikan segalanya. Entah itu adalah takdir atau itu seperti kutukan, tapi anak ini akan bisa menghentikannya. Aku memilihnya karena anak ini memang mampu. " Jelas Fahmi.
"Apa hal spesial irit, Abi?"
"Maaf, Bunda. Abi tidak bisa menjelaskannya jika semuanya bisa mengetahui biarkan semua itu keluar dari mulutnya sendiri. "
"Apakah sekarang Abi akan pergi? "
"Ya, Abi tidak akan terus berada di sini dan membuat anak ini melalaikan apa yang dia katakan, dan tidak menepati janjinya. Apapun yang di lakukan anak ini, maka hargailah anao ini sudah berkorban begitu banyak untuk keluarga kita. "
Di kecup nya tangan Tasya, di sambung dengan memberikan senyum nya. "Assalamu'alaikum, Bunda. Abi harus pergi. " Pamitnya.
"Wa- Wa'alaikumsalam.. Abi.. " Tangis Tasya pecah seiring kepergian Fahmi dari tubuh Rico.
Rico terjengkang dan tangan Tasya berhasil terlepas. Sebelum tubuh Rico terbentur lantai Faisal sudah menangkapnya.
"Rico,, Rico.. " Panggil Faisal.
Mata Rico tertutup sejenak, karena itu sudah hal yang biasa baginya jadi dia bisa mengendalikan dirinya. Perlahan-lahan mata Rico terbuka semua terlihat tersenyum menyambut Rico, namun tetap tidak terlihat dari Rayyan.
"Sial, bukannya saya sudah bilang untuk mengendalikan dirimu, Tuan. Kau sungguh gegabah. Menyesal aku mengizinkan anda untuk ikut datang." Celetuk Rico tanpa sadar.
"Hem.. Apa maksudmu, Ric? " Faisal mengernyit.
"Heh.., apakah aku mengatakan sesuatu? " Ucap Rico mengalihkan pembicaraan.
Rayyan berjalan mendekati Rico orang yang sudah terlanjur egois dan hatinya tertutup rapat akan kabut hitam bagaimana mungkin akan percaya begitu saja.
"Pintar sekali kamu berakting seperti itu, apa kamu pikir aku akan percaya dengan ocehan mu barusan? Tidak! Kau memang pemain yang luar bisa, Rico. " Seloroh Rayyan.
Rico menghela nafas panjang, sudah dia tebak kalau cara Fahmi pun tidak akan berhasil membuat Rayyan sadar.
"Kamu begitu hina, Rico. Demi untuk mendapatkan anakku kamu membawa-bawa orang yang sudah tiada! Kau sungguh hina! Kau benar-benar tidak pantas untuk anak saya, kau tidak pantas! " Oceh Rayyan.
"HENTIKAN SEMUA TUDUHAN PAPA PADA RICO, PA!! "
Semua menoleh ke arah sumber suara, di lihat lah kaki yang mulai melangkah masuk dan semakin dekat.
___
Bersambung...
__ADS_1
________________