Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
74. Buket titipan


__ADS_3

...**************...


Tulisan di bawah ini semua hanyalah karangan dan fiktif belaka, jangan pada baper ya,...semuanya murni hanya sebuah khayalan dari Author yang kekenyangan halu..


...____...


...Happy Reading... ...


..._______________...


"Nyonya, ini..., ini ada titipan untuk Anda." Rico menyodorkan buket itu kepada Tasya, sekilas Rico melirik dan melihat Fahmi yang tersenyum bahagia.


"Titipan? Dari siapa? "


"Dari suami, Nyonya. " Ucap Rico keceplosan dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fahmi. "𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘭𝘰𝘴𝘢𝘯. "


"Suami?"


Semuanya mengernyit tak kalah Rayyan juga, matanya langsung menatap tajam ke arah Rico yang langsung tersenyum kaku sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe,, maaf bukan apa-apa, saya hanya salah bicara saja, maaf. " Rico begitu gagu dan sedikit takut juga melihat mata silet dari Rayyan yang seakan-akan ingin mengulitinya.


Tasya tersenyum, dia sama sekali tak mempermasalahkan semuanya dia juga sudah menerima buket bunga mawar itu dan beberapa kali menghirupnya.


Sekilas Tasya terharu dia terbawa suasana dengan pemberian Rico itu, itu adalah bunga yang biasanya di berikan oleh Fahmi untuknya dan setelah sekian lama dia bisa mendapatkannya lagi, seolah-olah dia kembali merasakan cinta Fahmi kembali datang


"Terima kasih, Rico." Ucap Tasya.


"Sama-sama, Nyonya."


"Silahkan duduk. " Pinta Tasya.


Rico pun duduk di kursi yang hanya tinggal satu-satunya di sana. Kursi yang letaknya begitu lurus di depan Rayyan. Rico duduk diam dengan wajah menunduk nya, dia masih berusaha menata hati sebelum mengatakan apapun yang menjadi tujuannya.


Belum juga Rico bicara Aisyah keluar dari persembunyiannya dengan membawa nampan di tangannya dan berisi beberapa cangkir yang jumlahnya sama dengan orang yang ada di sana.


Gugup, itu pasti. Aisyah sangat gugup untuk melangkah, namun dia harus tetap maju terus pantang mundur, hingga akhirnya dia sampai di sana dan meletakkan satu persatu dari cangkir tersebut.


Rico yang sebelumnya terus menunduk dia menyempatkan diri melirik Aisyah yang tengah sibuk meletakkan cangkir dengan berjongkok.


"Di minum bang, teh nya." Ucap Aisyah setelah satu cangkir mendarat di hadapan Rico. Terlihat Aisyah tersenyum kecil sembari memeluk nampan itu di depan dadanya.


"Hem.., terima kasih. " Jawab Rico.


Meskipun sudah menjawab namun Rico tetap tidak buru-buru untuk meminumnya, dia harus melihat kondisi terlebih dahulu, jika semua menyuruhnya minum maka dia akan meminumnya tapi jika belum maka dia akan bertahan terlebih dahulu.


"Minumlah." Ucap Rayyan menghapus keheningan yang terjadi.

__ADS_1


"I- iya, Om. " Rico begitu gugup, melihat semuanya mengangkat cangkir Rico pun ikut melakukannya, meneguknya beberapa kali lalu kembali menaruhnya di meja.


Rayyan terus menatap wajah Rico yang seolah begitu sungkan itu, dia menunggu Rico untuk mengatakan sesuatu tapi sepertinya dia tidak akan mendapatkannya sebelum dia memulainya.


"Ap.. " Ucapan Rayyan terpotong.


"Om, maksud kedatangan saya kesini yang pertama untuk bersilaturahmi, dan saya juga ingin meminta maaf dengan semua kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan keluarga ini. Jujur saya tidak berniat untuk semua itu." Ucapan Rico begitu banyak.


Rayyan yang sebelumnya ingin memulai kata-katanya ternyata lebih dulu di dahului oleh Rico, ternyata berani juga si Rico, bahkan dia sama sekali tidak takut.


"Hem.. " Rayyan hanya mengangguk angkuh.


"Dan selain itu, kedatangan saya ke sini..., saya.., saya ingin melamar putri Om, Aisyah. " Bukan hanya sekedar mengatakan hubungan dirinya dan juga Aisyah, namun ternyata Rico datang dan langsung melamar Aisyah.


Aisyah, Keisha, Tasya dan juga Faisal semuanya tersenyum senang, namun Aisyah dia harus tertunduk malu dengan Rico yang secara langsung melamarnya. Tak pernah dia duga kalau Rico akan langsung melamarnya.


"𝘉𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘯𝘪𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬, 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. "'Batin Rayyan.


Rico yang mendengar suara hati Rayyan itu tetap teguh dalam pendiriannya, dia tetap kekeuh dengan tujuannya, yaitu melamar Aisyah dan menjadikannya bidadari nya di dunia hingga di akhirat kelak.


"Apa yang kamu punya sehingga kamu berani melamar anakku! " Ucap Rayyan.


Semuanya langsung menoleh dengan cepat, memandangi Rayyan yang mulai dengan kata-kata yang tidak mereka semuanya inginkan.


"Apakah kamu merasa pantas bisa bersanding dengan anak saya? Apakah kamu benar-benar bisa membahagiakannya, mencukupi semua kebutuhannya, apakah kamu bisa mensejajarkan ilmu mu dengan ilmunya?! "


Rico terus diam menunduk mendengarkan semua perkataan dari Rayyan yang begitu menghina akan semua kekurangannya.


"Anak saya itu seperti berlian, bagaimana bisa dia hanya akan bersanding dengan batu kerikil yang berwarna hitam, tak ada sinar apapun untuk bisa di banggakan."


"Bukankah berlian harus bisa bersanding dengan berlian juga? Paling ngga dia bisa bersanding dengan emas, jadi keduanya bisa sedikit seimbang karena ada harganya."


Rico tau, inilah yang akan dia dapatkan, semua hinaan ini akan selalu dia dapatkan meskipun dia berusaha untuk bisa menjadi baik.


Merembes sudah bulir air mata Aisyah, siapa yang tidak sakit melihat orang yang dia cintai begitu di hina oleh orang tuanya sendiri.


"Cukup, Ray. " Tasya angkat bicara. Kali ini dia benar-benar telah gagal dengan didikannya, anak yang benar-benar dia banggakan kini telah berubah hatinya telah tertutup dengan keegoisan.


Rayyan tak peduli dia masih tetap menatap tajam ke arah Rico yang terus terdiam.


"Aku kasih waktu satu bulan untuk mu bisa membuktikannya padaku, paling ngga kamu bisa memiliki rumah yang pantas untuk anak saya tinggal, dan kamu juga bisa belajar dan bisa sedikit mensejajarkan ilmu mu dengan Aisyah. "


"Ya, meskipun saya tidak yakin kamu akan bisa, tapi aku akan tetap memberikan kesempatan untuk kamu berjuang." Sarkas Rayyan tak berpikir.


Air mata tak hanya keluar dari mata Aisyah saja, tapi Keisha, Tasya keduanya sudah sesenggukan. Sejak kapan Rayyan menjadi materialistis seperti ini. Sejak kapan Rayyan menjadi orang yang mementingkan harta daripada kebahagiaan anaknya sendiri. Dimana perasaannya sebagai seorang ayah!.


Kegagalan juga di rasakan oleh Arwah yang kini berdiri di belakang Tasya, tangannya sudah mengepal, jika dunia mereka masih sama pastilah dia akan menampar wajah dari anak laki-lakinya itu dan membuatnya sadar, dan mengetahui apa yang namanya tanggung jawab sebagai orang tua.

__ADS_1


Fahmi sepertinya sudah tak tak bisa sabar lagi, dia berjalan mendekati Rico dia ingin sekali masuk ke dalam tubuh Rico dan ingin menghajar anaknya yang egois itu.


"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 , 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬. " Batin Rico.


Namun sepertinya kata hatinya Rico tak di indahkan sama sekali oleh Fahmi, amarahnya sudah ada di puncak. Fahmi langsung masuk begitu saja di tubuh Rico.


Rico mencoba untuk bisa menahannya, menahan emosi Fahmi yang ingin meledak. Bukan air mata seperti yang lain yang keluar dari Rico, melainkan Keringat dingin yang terus bercucuran dengan deras.


"Kalau kamu bisa buktikan semua itu, maka datanglah satu bulan lagi ke sini. Bukankah itu adil? Aku tak meminta apapun padamu, aku juga tidak memberatkan mu. Aku hanya ingin, kamu bisa memberikan tempat yang layak untuk Aisyah. "


Rico menunduk keringat nya terus bercucuran begitu deras, dan tangannya terus mengepal. Sepertinya setengah dari Rico sudah di kendalikan oleh Fahmi.


"Jika kamu tidak bisa, maka menjauh lah dari Aisyah, dia berhak bahagia dengan orang yang pantas, orang yang sederajat dengan nya, orang yang sebanding dengan dirinya. "


Rayyan masih saja bicara, dia tak tau jika yang di hadapannya sekarang bukan hanya Rico saja melainkan ada sang Abi yang terlanjur kecewa dengannya.


"Kamu tidak bisa kan? Aku yakin kamu tidak akan pernah bisa melakukan itu, kamu tidak akan bisa memberikan apa yang menjadi syarat dariku." Rayyan menyungging sinis.


Kekecewaan begitu besar dari semua keluarga Rayyan, semuanya menangis, Rico yang di hina namun keluarganya sendiri yang terluka.


Kekecewaan Tasya begitu dalam untuk Rayyan, dia terus menangis sedih, rasanya dia tak mampu lagi untuk menahan derita ini seorang diri tanpa adanya Fahmi.


Nafas Tasya tersengal tak beraturan, rasanya ikut begitu susah untuk sampai ke dalam paru-paru nya.


Aisyah dan juga Keisha yang duduk menengahinya langsung panik melihat keadaan Tasya. "Oma.., oma kenapa? " Aisyah terisak.


"Bunda, bunda. " Keisha tak kalah paniknya.


Rico yang melihat Tasya seperti itu langsung berlari mendekati, kini tubuh Rico benar-benar telah di kuasai oleh Fahmi seutuhnya.


Rayyan yang melihat Rico menyentuh Tasya langsung berlari juga untuk menghentikannya, dia tak mau sampai Rico menyentuh Tasya.


"Bunda, bunda. " Panggil Rico membuat semuanya menoleh ke arahnya.


Rico terus menggosok telapak tangan Tasya dan mencoba untuk membuat Tasya tetap tersadar.


"Lepas!! " Begitu kasar Rayyan menyingkirkan tangan Rico dari tangan Tasya dia sangat marah sekarang.


Bukannya takut Rico kini beranjak, dia berdiri tegak menatap tajam penuh keberanian ke pada Rayyan.


"Jangan pernah sentuh bunda." Sungut Rayyan.


Tangan Rico terangkat dia sudah tidak lagi bisa menahan kekecewaannya.


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬.....


_____

__ADS_1


𝘉𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨....


_________________


__ADS_2