
Happy Reading...
_________
Assalamu'alaikum... "
Mata Aisyah menatap dengan lebar, ternyata dia benar-benar salah dengar tadi. Karena yang datang adalah Farel yang lengkap dengan jubah putih yang serasi dengan gaun yang Aisyah pakai.
"Wa- Wa'alaikumsalam... "
"Ternyata benar, aku hanya salah dengar." batin Aisyah yang semakin ngilu
Farel membuka lebar pintu itu, tersenyum sangat manis saat dia melihat Aisyah yang termangu melihatnya. Meskipun sakit dan kecewa Aisyah berjalan perlahan mendekati Farel, namun entah kenapa Farel hanya melangkah beberapa langkah saja lalu berhenti.
"Apakah kak Farel sedih karena melihat ku yang seperti ini?" Batin Aisyah, karena dia yakin wajahnya sekarang sangat buruk.
Farel terus tersenyum manis, bahkan sampai Aisyah sangat dekat. Aisyah ingin meraih tangan Farel namun seketika ada sosok yang Aisyah cintai dan sangat dia rindukan itu datang dan berdiri di belakang Farel.
Farel menoleh, seketika senyum itu pudar dan berganti dengan senyuman tipis saja, "Selamat, Aisyah." Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir Farel lalu dia keluar lagi dan pergi meninggalkan Aisyah dengan Rico yang mengenakan baju yang sama seperti yang Farel kenakan.
Ternyata kedatangan Farel bukanlah sebagai suami Aisyah, melainkan dia mengantarkan Rico sendiri sebagai suami Aisyah.
Aisyah begitu bingung, apa yang terjadi ini, siapa sebenarnya suaminya Farel atau Rico yang kini mulai berjalan masuk dan menggantikan Farel berdiri di hadapan Aisyah.
Rico menutup pintu kamar itu, Aisyah sama sekali tak berkedip, Aisyah terus memandangi wajah Rico yang begitu banyak lebam.
"Apakah aku mimpi? Apakah aku berhalusinasi lagi? " Batin Aisyah.
"Kamu tidak mimpi, Adinda Aisyah." Ucap Rico dengan sangat lembut.
Aisyah terus terdiam, dia masih belum percaya kalau yang ada di hadapannya ini adalah Rico.
"Apakah kamu tidak mau menyambut kedatangan suamimu, Adinda Aisyah?" Ucap Rico.
"B-bang Ri- co... "
Rico mengangguk ini adalah nyata, bukan mimpi atau sebuah khayalan yang selalu mereka berdua inginkan.
Air mata kembali terjatuh dari Aisyah, entah air mata apa ini sekarang. Senang, haru, ataukah sedih. Bukan Aisyah saja yang menangis tapi Rico juga sama.
Rico tak peduli dengan air matanya sendiri dan lebih memilih mengusap air mata yang membasahi wajah Aisyah, "Jangan menangis, bang Rico sudah datang. Bukan hanya sebatas teman tapi sebagai suami Adinda Aisyah."
Aisyah menutup mata saat tangan Rico berhasil menyentuh pipinya, merasakan begitu dalam rasa cinta dari Rico yang di salurkan melalui sentuhan pertama mereka.
Bukannya berhenti menangis namun Aisyah semakin keras dan semakin sesenggukan. Ini benar-benar bagaikan mimpi di siang bolong.
"Sudah, jangan menangis lagi," Ucap Rico, namun Rico sendiri juga tak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir.
Aisyah membuka matanya, dia tersenyum sekaligus juga menangis, ekspresi yang sangat membingungkan. Rico pun akhirnya juga sama, tersenyum juga bersedih.
Rico menatap Aisyah dengan sangat lekat, tatapan mereka berdua akhirnya bertemu setelah mereka halal. Kali ini tidak akan ada dosa di antara mereka berdua, mau memandangi terus menerus tidak akan ada hukum haram di tengah-tengahnya.
Rico menyentuh dagu Aisyah menariknya untuk mendekat membuat Aisyah gugup bukan main karena sentuhan itu. Rico mengecup kening Aisyah dengan lembut dan cukup lama, keduanya memejamkan mata saat terjadinya kecupan itu.
Setelah terlepas Rico langsung menarik Aisyah ke dalam pelukannya, akhirnya semua mimpinya menjadi nyata. Akhirnya pengorbanan dan perjuangannya tidak sia-sia.
Keduanya kembali menangis dalam pelukan, tangisan bahagia tentunya.
__ADS_1
"Awwww...!"
Rico yang berteriak kesakitan membuat Aisyah langsung melepaskan pelukannya dan panik.
"Astaghfirullah, Bang! Ada apa? Apa ada yang sakit?! " Panik Aisyah.
"Sakitnya sangat terasa, tapi kebahagiaan ini telah menyembuhkan segalanya," jawab Rico dan kembali menarik Aisyah ke dalam pelukannya.
FLASHBACK...
Musuh yang sudah berhasil di kendalikan oleh Rico dan yang lain akhirnya membuat Rico bisa pergi ke tempat Aisyah. Meskipun Rico yakin kalau Aisyah juga Farel pasti sudah sah menjadi pasangan sekarang tapi dia akan tetap datang untuk mengucapkan selamat.
"Aku akan tetap datang, seenggaknya aku bisa mengucapkan selamat untuk mereka.
Dengan di antar Jon, Rico pergi ke rumah Aisyah, tentunya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja karena begitu banyak luka di sejujur tubuhnya.
Sementara di rumah Aisyah, Ahmad dan Rayyan ada di ruangan yang tertutup sekarang. Mereka hanya berdua saja dan tak ada siapapun.
"Bukannya kakak mau bertemu dengan Abi kan? Aku akan bantu Kakak, " Kelebihan Ahmad lah yang bisa memanggil Fahmi yang memang ada di sana saat ini.
Semua lampu di matikan, tak ada cahaya sama sekali yang menyinari tempat itu.
Ahmad mulai melakukan apa yang dia bisa, meminta Rayyan menutup mata, hingga akhirnya dia benar-benar bisa melihat Fahmi dalam mata yang tertutup.
"A- Abi.. " Panggil Rayyan begitu lirih.
"Hem.. " Sekilas Fahmi menjawab.
"Apakah aku benar-benar bisa melihat, Abi? " tanya Rayyan dan Fahmi mengangguk.
Semua penjelasan mulai Fahmi katakan, kejujuran yang selalu Rico katakan pada Rayyan yang selalu di anggap sebuah kebohongan pun dia ucapkan.
"Astaghfirullah hal 'azim, begitu besar dosaku, bagaimana aku akan minta maaf padanya." Tangisan Rayyan begitu nyata, dia sama sekali tak peduli Ahmad melihatnya.
"Tebuslah kesalahanmu selama kamu masih bisa, Ray. Biarkanlah Abi tenang, jika kamu masih terus seperti ini Abi tidak akan tenang dan akan selalu datang. Abi tidak bisa benar-benar pergi." Ucap Fahmi.
"Bagaimana Ray harus menebusnya, Abi? Bagaimana? "
"Akan ada jalannya, Ray. Akan ada jalannya. Berjanjilah untuk menjadi lebih baik, Ray. Demi Abi. " Ucapnya.
Setelah mengatakan itu Fahmi langsung menghilang.
__
Di ruang tengah semuanya tengah berkumpul sebelum acaranya berlangsung. Semua diam saja hingga akhirnya kedua orang tua Rico datang dengan membawa amplop yang di titipkan oleh Rico.
"Assalamu'alaikum.. " ucap Sumarno.
Semuanya menoleh, terkejut dengan kedatangan mereka karena memang keluarga Aisyah tidak mengundangnya.
"Wa'alaikumsalam.. " Jawab semuanya serentak.
Sumarno juga Susan berjalan masuk, mereka juga duduk setelah di minta oleh Keisha.
"Maaf, Bu. Maksud kedatangan kami ke sini untuk... " Ucapan Susan berhenti saat melihat Rayyan datang dan langsung duduk di sebelah Keisha.
Susan menatap Rayyan ragu, membuat Keisha mengernyit, "ada apa, Bu? " Tanya Keisha.
__ADS_1
"Maaf karena kami datang kesini meskipun tidak mendapatkan undangan. Sebenarnya kamu ke sini karena ingin memberikan ini pada Aisyah, " Amplop itu langsung di berikan pada Keisha, yang pasti membuat semua orang semakin bingung.
"Di dalamnya ada surat rumah yang sudah di pindah nama menjadi milik Aisyah. Itu adalah hadiah dari Rico untuk pernikahan Aisyah, Rico minta maaf karena tidak bisa datang sendiri sekarang."
"Dimana Rico sekarang, Bu?" Tanya Rayyan cepat.
"Kami sendiri juga tidak tau, Pak. Kemarin malam dia pamit pergi di saat hujan badai terjadi. Dan dia juga mengatakan..., bahwa dia tidak bisa berjanji akan bisa kembali.. " Tangis mulai pecah lagi pada Susan.
"Rico pergi kemana, Om, Tan! Biarkan kami mencarinya sekarang! " Akhsan juga Ikhsan langsung beranjak.
"Kami tidak tau.. " Sumarno juga Susan tertunduk dengan sedih.
"Astaghfirullah hal 'azim... " Rayyan menyandarkan punggungnya lemas, apakah dia terlambat untuk bisa menebus semua kesalahannya pada Rico?.
Semua orang terdiam, namun kedatangan salah satu ustadz mengejutkan mereka, "Ustadz, pernikahannya harus segera di langsungkan! Penghulu sudah menunggu sedari tadi."
Rayyan juga yang lain terlihat bingung namun itu tak berlangsung lama karena akhirnya mereka berdiri. Namun sang mempelai laki-lakinya yang terlihat diam dan tak bergerak sama sekali.
"Farel, ayok! " Ajak Marco.
Semuanya menoleh. Dan sebagian sudah ada yang hampir sampai di pintu.
"Assalamu'alaikum... " Seseorang datang dan tentunya dengan menahan sakit, bahkan jalannya harus di papah oleh Jon, siapa lagi kalau bukan Rico.
"Wa'alaikumsalam..," Jawab semua serentak.
"Astaghfirullah hal 'azim , Rico..! " Susan langsung berlari.
Semua menyambut kedatangan Rico dengan panik, semua tampak khawatir melihat keadaannya sekarang.
Rico di tuntun untuk duduk di kursi. Meskipun dia sakit tapi dia tetap tersenyum saat melihat Farel, dia mengira kalau Farel sudah sah menjadi suami Aisyah.
"Selamat, Pak Farel. Selamat sudah sah menjadi suami Aisyah,saya yakin kalian pasti akan bahagia hingga kakek nenek... " Ucapnya.
"Ustadz Rayyan, kalau tidak cepat, maka penghulunya akan pulang! " Suara itu mengejutkan mereka, yang pasti membuat Rico juga terkejut.
"Ja-jadi..? "
"Iya, kami belum menikah. Dan tidak akan pernah menikah. Saya sadar, Pak Rico. Cinta tak bisa di paksakan sekeras apapun saya mencoba saya tidak akan pernah mendapatkan cinta itu. Seandainya kami benar-benar menikah saya hanya akan mendapatkan tubuhnya tapi tidak dengan hatinya, dan saya tidak akan bahagia dengan itu." Ucap Farel.
Farel beranjak mendekati Rico sembari melepaskan jas jubahnya yang berwarna putih. Farel memakaikan pada Rico dengan cepat, "Anda yang lebih pantas untuk Aisyah, Pak Rico. Menikahlah dengan nya, dan bahagiakan dia. Karena saya tidak akan pernah bisa membahagiakannya. " Ucap Farel dengan tulus.
"Tidak, Pak Farel. Saya tidak akan bisa membahagiakannya, saya tidak memiliki apapun untuk nya, saya juga tidak bisa setara dengannya."
"Kebahagiaan bukan karena banyaknya harta, Pak Rico. Dan kesetaraan juga tidak akan menjadi pondasi untuk sebuah rumah tangga. Menikahlah dengan Aisyah, dan buatlah dia bahagia."
"Tapi..? "
"Saya akan berdosa jika saya memisahkan dua insan yang memang sudah di jodohkan oleh takdir."
Rico berdiri dengan perlahan, meskipun sakit dia tetap berusaha, "Terima kasih, Pak Farel. Terima kasih.. " Rico langsung memeluk Farel sebagai tanda syukur juga terima kasihnya karena mau berbesar hati menyerahkan Aisyah padanya. "Terima kasih.. "
"Kalian berhak bahagia, Pak Rico."
"Hem.. "
_____
__ADS_1
Bersambung...
________