
Happy Reading...
______
Iqbal datang menemui Shelvia ke rumahnya tak ada barang yang begitu penting yang dia bawa, hanya dengan satu tangkai bunga mawar merah terbungkus plastik bening dan juga terikat pita berwarna pink itu sudah cukup untuk Iqbal.
Hadiahnya itu sudah menjelaskan semua tentang isi hatinya kepada Shelvia, meskipun tidak dengan kata-kata romantis atau kata-kata puitis bisa di pastikan bahwa Shelvia pasti tau apa maksudnya.
Sebelum kedatangannya Iqbal sudah mengirim pesan singkat terlebih dahulu pada Shelvia jadi dia langsung tau akan kedatangannya dan sudah menunggu di depan rumah, di taman kecil yang terdapat kolam ikan yang tak terlalu besar juga.
Shelvia memang tengah malas untuk pergi-pergi bahkan dia juga tak datang ke kampus ataupun ke pesantren untuk bantu-bantu di sana. Hari ini Shelvia sedang menenangkan diri di rumahnya saja tanpa siapapun, karena kedua orang tuanya juga tengah bertugas di rumah sakit.
Shelvia duduk di batu di pinggir kolam, tangannya terus memainkan air setelah selesai memberikan makan untuk ikan-ikan koi kesayangan papanya.
Melihat ikan yang berenang-renang bebas, air mancur di atasnya membuat Shelvia sangat tenang, sejenak dia bisa melupakan kejadian kemarin dan menikmati suasana itu, namun tetap saja tak akan bisa hilang dari ingatannya dan akan terus datang saat dirinya tak melakukan apapun.
Iqbal memandangi Shelvia dari belakang, dia masih diam, dia tersenyum bahagia akhirnya bisa bertemu dengan gadis pujaannya meskipun dengan cara kabur-kaburan.
Iqbal duduk di batu depan Shelvia, menyodorkan bunga mawar itu kepada Shelvia, "Assalamu'alaikum.. " ucapnya di sambung dengan senyum simpul yang sungguh menawan.
Shelvia mengangkat wajahnya dan mendapatkan wajah Iqbal yang tersenyum dengan mata tak berkedip ke arahnya, juga tentunya bunga mawar merah yang ada di tangannya.
"Wa'alaikumsalam..," jawab Shelvia. Tangannya meraih bunga mawar merah yang Iqbal bawa dan membalas senyum yang sama, "terima kasih, Kak," imbuhnya.
"Hemm.. " Iqbal menoleh ke arah kolam, tangannya ikut bermain air seperti yang Shelvia lakukan tadi, "Via, bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Iqbal membuka pembicaraan.
Shelvia masih diam, dia belum menjawab dia bingung mau menjawab apa. Dia baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya yang sangat berantakan. Lagian Shelvia juga tak mungkin baik-baik saja setelah kejadian kemarin.
"Aku tau kamu tidak baik-baik saja karena aku pun juga tidak. Tapi Via, apapun keadaannya aku hanya ingin kamu selalu tersenyum, aku tidak mau melihat kamu murung seperti sekarang ini."
__ADS_1
Iqbal menghentikan permainan airnya, kini dia beralih fokus memandangi Shelvia yang menunduk, sepertinya gadis di hadapannya ini mulai mengeluarkan air matanya karena Iqbal mendengar nafasnya yang terdengar tak baik-baik saja.
Tetapi Iqbal belum yakin kalau Shelvia menangis karena selama ini dia belum pernah melihatnya selemah ini apalagi sampai mengeluarkan air matanya.
Seandainya tidak terhalang dosa Iqbal ingin memegang dagunya, mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya jika benar-benar Shelvia tengah menangis, tapi Iqbal belum mempunyai kuasa akan hal itu.
"Shelvia, apakah kamu percaya kalau kita memang berjodoh?" tanya Iqbal.
Shelvia menghapus air matanya dengan satu jarinya, lalu mengangkat wajahnya memandang Iqbal sejenak, "Hem..? " Shelvia pun sangat ragu untuk menjawabnya, semua itu belum pasti apalagi di tambah dengan ujian yang mereka dapatkan kali ini. Rasanya sangat mustahil kan.
"Aku sangat yakin kamu adalah jodohku, jika kamu juga yakin aku adalah jodohmu maka aku akan berjuang keras untuk bisa mewujudkannya. Entah dengan cara yang seperti apa tapi aku yakin aku akan berhasil," ucap Iqbal. Dia sangat yakin, keyakinan yang sangat besar yang tidak goyang sama sekali meskipun badai itu datang dari mamanya sendiri.
"Lalu, bagaimana dengan mama kak Iqbal? apakah Kak Iqbal akan mengabaikan perasaan dan juga permintaannya? beliau adalah ibunya kak Iqbal, dia lebih berhak daripada Shelvia," jawab Shelvia.
"Aku tau, tapi aku juga tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Aku ingin hidup bahagia dengan kalian," ucap Iqbal.
"Aku tak membutuhkan apapun darimu, Via. Aku hanya membutuhkan dukungan juga doa darimu. Karena itu sudah lebih dari cukup untuk ku memulai perjuangan ini," sambung Iqbal.
Iqbal tersenyum, dia yakin dengan doa saja yang Shelvia berikan padanya, doa yang selalu mengalir di setiap harinya akan membuatnya mudah menjalani semuanya, menjalani perjuangannya untuk bisa menyatukan cinta mereka berdua.
Iqbal juga mengangguk pelan, itu sudah cukup untuknya.
"Jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja. Melakukan apapun untuk cinta kita aku akan rela, mengikatmu sekarang juga aku bersedia, tapi aku tak ingin ikatan kita tanpa restu itu tidak akan berakhir indah."
"Aku tak akan minta apapun padamu, aku hanya meminta kesabaranmu yang tiada batas. Menungguku sampai keberhasilan."
"Selama aku berjuang jangan pernah lelah menunggu, jangan lelah untuk mengirimkan doa untuk ku, untuk kita. Jika kita jarang bertemu setelah ini bukan berarti aku telah meninggalkan mu. Aku akan datang saat semuanya sudah selesai. Aku akan datang di hari bahagia kita," ucap Iqbal begitu panjang.
Shelvia begitu cengeng kali ini dia benar-benar menangis di hadapan Iqbal. Ternyata benar, cinta bisa membuat lemah dan begitu rapuh.
__ADS_1
Iqbal tak tahan melihat Shelvia menangis, seandainya bisa dia ingin memeluknya dan menghentikan tangisan itu.
Iqbal mengambil sapu tangan di sakunya, melipat kecil dan menghapus air mata Shelvia tanpa kulit mereka saling bersentuhan. Iqbal menggeleng dia tak mengizinkan Shelvia untuk menumpahkan air matanya.
Kedua mata mereka kembali bertemu, cinta terlihat sangat jelas pada keduanya.
"Jangan menangis, kalau seperti ini aku akan lemah. Tersenyumlah dan salurkan energi kebahagiaan untuk perjuanganku," ucap Iqbal.
"Apa yang Iqbal katakan benar, Sayang. Tersenyumlah, dan antar perjuangannya dengan senyummu. Dia akan sukses, dia akan berhasil di setiap langkahnya."
Shelvia menoleh dan melihat David yang berdiri di sampingnya dan menyentuh bahunya.
"Pa," Shelvia memeluk David dengan erat, dia sangat lemah menghadapi ujian ini.
"Sabar, berdoalah maka semua pasti akan baik-baik saja," jawab David.
Iqbal beranjak, dia berdiri di hadapan David, "Om, Iqbal titip tulang rusukku. Tolong jagain dia sampai aku datang, sampai aku menjemputnya dengan ikatan halal. Jangan biarkan dia menangis, Iqbal janji tidak akan lama," ucap Iqbal meninggalkan pesan.
David mengangguk, Shelvia memang putrinya dan saat ini dia masih tanggung jawabnya, tapi jika Iqbal benar-benar jodohnya maka Iqbal adalah tulang punggungnya yang akan selalu di ikuti oleh Shelvia kemanapun dia pergi setelah mereka bersama. Dan David percaya itu, Iqbal adalah jodohnya Shelvia.
"Kamu tenang, Shelvia akan selalu aman dengan, Om," jawab David.
"Kalau begitu Iqbal pergi dulu, Via, Om..., Assalamu'alaikum.. " pamit Iqbal. Iqbal langsung meraih tangan David dan bersalaman takzim padanya.
"Wa'alaikumsalam, semoga berhasil. Dan secepatnya datang kami akan setia menunggu mu," jawab David.
"Amin.. terima kasih, Om," Senyum terakhir menjadi tinggalan untuk Shelvia, yang di balas senyum yang sama dari Shelvia untuk mengantarkan kepergian Iqbal.
___
__ADS_1
Bersambung...
________