
Happy Reading..
________
wajah Iqbal terus berbunga-bunga hatinya sangat senang bahkan senyumnya terus mengembang yang saat ini dia berada di dalam mobil seorang diri setelah mengantarkan Shelvia pulang ke rumahnya.
meskipun belum pasti apa jawabannya namun Iqbal sudah sangat senang karena dia sangat yakin bawa Shelvia ataupun orang tuanya akan menerima lamarannya nanti.
Iqbal buru-buru pulang untuk menemui mamanya dan mengatakan apa yang menjadi keinginannya untuk segera mempersunting gadisnya yang sangat dia cintai.
"Aku yakin Mama juga akan setuju dengan keputusan ini," gumam Iqbal dengan yakin bawa mamanya akan merestui hubungannya dengan Shelvia yang sebentar lagi akan dia bawa hingga ke pelaminan.
Iqbal semakin tidak sabar saat rumahnya sudah ada di depan mata Iqbal segera menghentikan mobilnya dia keluar dan langsung berlari masuk kedalam rumah tentunya untuk mencari sang mama dan menceritakan semuanya.
"Mama! " teriak Iqbal dengan sangat antusias sembari berlari mencari keberadaan sang mama yang kemungkinan ada di dalam kamar.
Benar saja sang mama ada di kamar dan sedang istirahat namun tidak tidur, "Ma!" Panggil Iqbal dengan suara lantang saat dia sudah melihat bahwa mamanya dalam keadaan tidak tidur Iqbal langsung duduk dihadapan mama dengan wajah yang sangat sumringah
"Iqbal, kamu baru pulang, Nak? bagaimana dengan pekerjaanmu, semuanya baik-baik saja kan? " tanyanya dengan suara yang lemah, ya karena mama Iqbal sudah sering sakit-sakitan sekarang.
"Alhamdulillah, Ma. Semuanya baik dan dalam kendali, Ma," jawab Iqbal, "Ma, Iqbal ingin mengatakan sesuatu pada Mama. "
Mama Iqbal mulai diam mendengarkan, dia sendiri belum tau apa yang akan di katakan oleh Iqbal jadwal menunggu adalah jalan satu-satunya.
Iqbal meraih tangan mama, menggenggamnya erat. Matanya fokus menatap sang mama untuk yang masih setia menunggu kata yang akan keluar dari bibirnya.
"Ma, Iqbal ingin menikah belum, Ma. Iqbal ingin menikahi Shelvia, Mama merestui Iqbal kan? " tanya Iqbal dengan sangat hati-hati.
"Benarkah secepat ini kamu akan menikah, Nak? "
"Iya, Ma. Apa Mama merestui Iqbal dengan Shelvia? " tanya Iqbal lagi.
Mama Iqbal mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Iqbal, tangannya mulai terangkat lalu membelai dagu Iqbal.
"Anak Mama sudah besar sekarang, Mama pasti akan merestui Iqbal. Bukanlah ini demi kebahagiaan Iqbal kan? Mama pasti akan menerima gadis itu." jawabnya.
"Beneran kan, Ma!" Iqbal semakin puas saat Mamanya mengangguk, "Ma, secepatnya kita datang ke rumahnya untuk melamar Shelvia, Mama mau kan? " tanya Iqbal lagi dan kembali mendapatkan anggukan kecil juga senyuman yang tulus dari seorang ibu.
"Terima kasih, Ma," Iqbal merengkuh tubuh kecil sang Mama memeluknya penuh kebahagiaan karena mendapat restunya tanpa ada perdebatan atau semacamnya.
"Sama-sama, Nak. Kalau kamu bahagia Mama juga akan sangat bahagia. Kamu persiapkan semuanya dan kita datang ke sana besok,"
"Iya, Ma. Iqbal akan siapkan semuanya.
__ADS_1
____
Shelvia duduk termenung di depan jendela memandangi pelataran di luar dengan tangan menggenggam kotak cincin yang di berikan oleh Iqbal tadi.
Shelvia kembali menoleh ke arah kotak yang masih tertutup itu, perlahan membukanya dan melihat betapa indah cincin permata itu.
"Apakah benar kak Iqbal adalah jodohku?" Tanya Shelvia pada dirinya sendiri.
"Kenapa, apa anak Mama ini masih ragu? " Airin tiba-tiba datang, berdiri di belakangnya dan menyentuh kedua bahu Shelvia, "jika kamu masih ragu maka sholat lah, minta petunjuk kepada Allah. Mama yakin jawaban itu akan segera Shelvia dapatkan."
"Apakah Mama benar-benar menyetujui hubungan Shelvia dengan Kak Iqbal?" tanya Shelvia memastikan
"Iqbal anak yang baik, Sayang. Mana mungkin Mama ataupun Papa akan menolaknya, tapi semua itu tergantung padamu, karena kamu yang akan menjalaninya. Kalau kamu sudah yakin Mama juga Papa hanya bisa mendukungmu," jawab Airin.
Sesungguhnya berat untuk melepaskan anak gadisnya bahkan anak satu-satunya kepada pria yang akan menikahinya, tapi mau bagaimana lagi itulah roda kehidupan.
Meskipun Airin akan sedih namun itu hanya akan sesaat setelah Shelvia pergi nantinya, namun setelah lama dia akan biasa dan dia akan bahagia setelah melihat cucu-cucu yang akan selalu datang dan terus bergelayut memanggil Oma.
"Shelvia akan lakukan, Ma." jawab Shelvia.
Dengan sholat dan memohon pada sang Pencipta Shelvia yakin akan mendapatkan semua jawaban yang dia inginkan. Meskipun dia belum benar-benar mencintai Iqbal tapi memang ada rasa yang terselip namun belum terlalu besar.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja," ucap Airin yang di angguk-ki oleh Shelvia.
____
"Hem.. " jawab Rico seraya membuka matanya lalu tersenyum.
Senang sekali hati Rico, karena saat bangun tidur wanitanya lah yang dia liat. Tak ada kebahagiaan yang lebih indah dari sekarang ini kan?
Rico duduk dengan pelan dan saat Rico duduk Aisyah mengangkat tangannya, dia tempelkan ke kening Rico untuk memastikan masih demam atau tidak.
"Alhamdulillah, bang Rico sudah tidak panas lagi," ucapnya.
"Tidak akan sakit terus lah, Sayang. Kalau sakit terus bagaimana kita akan membuat baby nantinya," gurau Rico dengan nyengir begitu menggoda.
"Apa sih, Bang! jangan aneh-aneh deh! baru aja sembuh," jawab Aisyah dengan sedikit protes namun pipinya sudah merona saat itu.
Setiap membicarakan urusan ranjang pasti seorang wanita akan malu-malu bukan? dan itu terjadi juga dengan Aisyah. Namun sepertinya tidak untuk Rico, dia malah selalu senang saat membicarakan hal itu.
Rico terkekeh melihat tingkah Aisyah yang malu-malu, Pipi merona, bibir merah ceri, ingin sekali Rico kembali merasakannya, tapi sepertinya Rico ingin menabung dulu gairahnya sebelum dia akan menyerbu Aisyah dengan gairah yang besar nantinya.
"Mandi, Bang. jangan ketawa mulu, nanti airnya keburu dingin," pinta Aisyah, tangannya sudah sibuk membuka selimut yang menutupi Rico.
__ADS_1
Rico masih diam.
"Ayo dong, Bang," Aisyah sudah berdiri dan hendak menarik Rico untuk bangun namun di tahan oleh Rico yang sengaja memberatkan tubuhnya.
"Kenapa hanya selimut yang di buka? yang lain gimana nasibnya? " tanya Rico dengan senyum yang penuh dengan kemesuman.
Aisyah menganga, bagaimana mungkin dirinya juga harus membuka semua baju Rico? malu lah ya, dasar Rico.
Rico menarik tangan Aisyah hingga membuatnya kini jatuh di pangkuannya, "buka yang lain juga dong, Sayang. Atau mungkin sekalian di mandiin," Rico terus menggoda Aisyah membuatnya terdiam dengan mata yang tak berani memandangi Rico, karena Aisyah yakin kini pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"Ihh..., gemes deh! " Rico tersenyum lalu mencubit pipi Aisyah.
"Aww..., Bang! " protes Aisyah. Cukup sakit juga meskipun Rico melakukannya dengan pelan, jika Rico terus menerus melakukan itu pasti pipi Aisyah akan semakin gembul nantinya.
"Biar kembali seperti bakpao lagi,kan akan enak jika aku gigit," gurau Rico yang tiada habisnya menggoda Aisyah.
"Tapi Aisyah nggak mau gembul, Bang."
"Kenapa? "
"Takut nggak pernah di lepaskan oleh bang Rico, hehehe.. " Aisyah terkekeh sendiri dengan kata-katanya.
"Sudah mulai pinter ya sekarang, "ihh..., jadi semakin gemes deh! " Rico kembali mencubit Aisyah namun di pipi yang satunya, ya biar impas lah ya, masak nanti gembul sebelah.
"Ahh.. Bang Rico! " lagi-lagi Aisyah protes, "cepat mandi! Bang Rico bau acem,"
"Acem pun pasti di peluk juga nanti, jadi tak apa lah,"
"Nggak ahh, Aisyah nggak akan peluk lagi," Aisyah beranjak dari sana, akan semakin sore kalau Aisyah tak kunjung pergi.
"Nggak jadi mau mandiin nya?" tanya Rico sembari terkekeh.
"Nggak ah, Aisyah mau masak! " Aisyah berlalu.
"Aisyah Aisyah...," Rico pun akhirnya beranjak juga dari kasur dan menuju kamar mandi untuk mandi. sesampainya di dalam Rico kembali tersenyum karena Aisyah sudah menyiapkan semuanya termasuk air hangat untuknya.
"Bahagianya punya istri," gumamnya.
___
Bersambung..
______
__ADS_1