
Happy Reading...
****************
Meski masih dengan bantuan tongkat sekarang Shelvia sudah bisa berjalan. Dia juga Iqbal semakin bahagia dengan kedekatan yang semakin terjalin dan semakin dekat.
Siska juga semakin sayang pada Shelvia tak seperti dulu yang selalu acuh bahkan terkesan sangat membenci. Alhamdulillah, semua kesabaran pasti akan berbuah manis.
Bahkan Shelvia juga sangat di manjakan. Bukan hanya dari Iqbal tapi Siska juga. Shelvia tak boleh ini dan itu dia harus fokus dengan kesehatannya. Semua berharap Shelvia akan bisa sembuh seperti sedia kala supaya lebih mudah menjalani hidupnya.
"Via, sebaiknya kamu duduk saja deh. Biar mama saja yang ngerjain semua ini," ucap Siska. Menghalangi Shelvia yang ingin membantunya mengerjakan pekerjaan di dapur.
Meski dalam keadaan yang tidak sempurna tapi Shelvia selalu berusaha untuk bisa menjalankan semua tugas dan kewajiban sebagai istri maupun sebagai menantu. Tak enak juga kan kalau dia yang muda malah duduk-duduk saja sementara yang tua malah bekerja.
"Nggak apa-apa, Ma. Via bisa kok. Lagian Via juga duduk," jawabnya. Tangannya terus bergerak membantu Siska dengan beberapa pekerjaannya untuk menyiapkan menu makan siang untuk mereka semua.
Sementara Iqbal? Iqbal masih di perjalanan pulang dari kantor. Sebenarnya dia bisa makan siang di sekitar kantor tapi dia lebih memilih untuk makan bersama dengan istri juga mamanya. Akan lebih nikmat bila makan bersama dengan keluarga.
Meski sudah terus di larang Shelvia masih saja terus membantu. Sekalian mengusir bosan sih. Kalau dia hanya duduk saja rasanya sangat melelahkan.
"Ya sudah, tapi jangan terlalu berlebihan ya. Kalau kamu kecapean nanti jadi mama yang mendapat omelan dari Iqbal." Siska mengelus punggung Shelvia dan akhirnya membiarkannya membantu.
__ADS_1
Shelvia mengangguk dengan rasa yang sangat bahagia. Rasa bahagia juga sempurna semakin besar hadir di dalam hatinya.
Kehidupannya semakin sempurna, apakah jika suatu saat Allah memberikan rezeki berupa keturunan buah hati darinya juga Iqbal pasti akan semakin sempurna lagi.
Keduanya terus sibuk dengan pekerjaan di dapur hingga semua menu matang dan saat itu Iqbal juga pas sampai rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Iqbal seraya masuk ke dalam rumah.
Langkahnya tak ada henti dan langsung mencari-cari keberadaan Shelvia sang istri.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Shelvia juga Siska bersamaan.
"Lagi apa, Nih," Iqbal mendekati dan mengulurkan tangan dan pasti langsung di sambut oleh Shelvia.
"Habis masak, Kak. Ini baru saja selesai. Sekarang Kakak bersih-bersih dulu lalu ke sini lagi untuk makan siang." ucap Shelvia.
"Apa nggak sekarang saja makannya, udah lapar banget nih!" keluh Iqbal.
"Bersih-bersih dulu, Kak." kekeuh Shelvia. Tidak tau kan dari luar bawa kuman-kuman apa saja jadi lebih baik bersih-bersih dulu, pikir Shelvia.
"Baiklah. Tunggu Kakak ya. Atau mau temenin dulu ke kamar?" mata Iqbal mengerling nakal membuat Shelvia menoleh ke arah belakang di mana Siska berada.
__ADS_1
Untung saja Siska tidak mendengar tapi entah sebenarnya atau mungkin hanya pura-pura tidak mendengar?
"Kak!" protes Shelvia. Tangannya juga langsung mencubit perut Iqbal saking gemesnya.
"Aw! sakit, Yang. Kalau mau cubit-cubit jangan di sini dong. Di kamar aja yuk," Iqbal semakin menjadi.
"Apa sih!" wajah Shelvia memerah karena godaan Iqbal. Padahal terdengar sederhana tapi mampu membuat pipi Shelvia langsung berubah seketika. Bener-bener pinter di Iqbal nih.
"Ayuk lah!" tanpa izin Iqbal langsung mengangkat tubuh Shelvia hingga tongkat yang di bawanya itu jatuh di lantai.
"Kak!" pekik Shelvia tiba-tiba.
"Ma, pinjem Shelvia sebentar ya!" teriaknya.
"Apa sih, Iqbal. Jangankan sebentar lama juga boleh. Silahkan saja semau mu dan sepuas mu." Siska terkekeh melihat tingkah anaknya itu.
Lucu sekali.
****************
Bersambung...
__ADS_1