
____________
Kembali lagi dengan cerita author yang kebanyakan halu ini..
Like dulu yuk takut kelupaan nantinya, Dan jangan lupa berikan komen nya setelah selesai membaca..
Budayakan tinggalkan jejaknya gratis kok, Hehehe...
_________ Happy Reading______
______________________________________
Kabar tentang Rico yang masuk rumah sakit sampai juga ke telinga Felisha, dia langsung bergegas pergi ke rumah sakit di pagi hari bahkan Felisha sampai meninggalkan jam kuliahnya demi bisa melihat keadaan Rico sekarang.
Felisha yang selalu berharap rasanya akan terbalaskan pastinya akan berusaha selalu ada di sisi Rico dalam keadaan apapun, dan Felisha juga selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa selalu dekat pada Rico.
Felisha masuk ke rumah sakit dengan cepat, dia yang sudah mengetahui tentang keberadaan Rico sekarang langsung bergegas pergi ke ruangan Rico. Di pikiran Felisha dia harus bisa cepat sampai di sana sebelum di dahului oleh siapapun.
Klek....
Pintu terbuka dengan pelan, membuat Rico yang tengah melamun menjadi terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu. Rico menghela nafas panjangnya setelah melihat siapa yang datang dan kini tengah menampilkan cengiran khas nya pada Rico.
" kamu! " ucap Rico yang terkejut.
Felisha semakin meringis sembari melangkah dengan tangan yang terus memegangi tali tasnya.
" hehehe.. iya. Kak Rico gimana keadaannya? " tanya Felisha basa-basi.
" Baik.... kenapa kamu kesini? bukannya kamu ada kuliah pagi? " tanya Rico malas.
Felisha mengerucutkan bibir nya, yang pasti dia tidak akan suka dengan perkataan Rico barusan. Felisha datang karena ingin cari perhatian pada Rico jadi mana mungkin dia akan senang jika kedatangannya tidak di harapkan dan mungkin dia juga akan di acuhkan. " hem.... apa-apaan ini?" gumamnya.
" kenapa? " tanya Rico yang sedikit mendengar gumamnya Felisha.
" tidak apa-apa " jawab Felisha.
Felisha mengedarkan pandangannya dan melihat sarapan untuk Rico yang sama sekali belum tersentuh. Felisha tersenyum dan berinisiatif untuk menyuapi Rico, mungkin dengan itu Rico akan senang, pikirnya.
" Kak Rico belum sarapan? sini biar Felisha suapin! " ucap Felisha dengan girang, mengangkat piring yang ada di nakas samping tempat tidur Rico.
Rico mendelik dia menjauhkan wajahnya dari tempat yang tadi. Menatap piring yang sudah ada di tangan Felisha dan bergantian menatap wajahnya yang berbinar.
" Kak Rico harus makan yang banyak supaya cepat sembuh, setelah sarapan Kak Rico juga harus minum obat " ucap Felisha dengan segenap usahanya, tangannya memainkan sendok di atas piring itu dan mengangkat nya setelah penuh dengan nasi beserta lauknya. " Akk!! " pinta Felisha dengan menyodorkan sendok ke arah mulut Rico.
" Aku belum lapar " ucap Rico dan melengos memalingkan wajahnya.
" astaga,, Kak Rico ini kayak anak kecil saja, apa aku juga harus memainkan sendok selayaknya pesawat terbang supaya Kak Rico mau makan?! "
" tapi baiklah, demi Kak Rico mau makan aku rela melakukan apapun, nih! Hemm... tapi gimana suaranya pesawat? " bingung Felisha.
Rico mengerutkan keningnya, meskipun dia tak suka dengan Felisha namun kini dia tengah menahan tawanya supaya tidak keluar, Felisha yang seperti ini terlihat sangat lucu apalagi sikap kekanak-kanakan nya.
" oh.. aku tau! begini suaranya pesawat.. Wiu... wiu.... wiu.... " teriaknya sembari menerbangkan sendok nya.
" mana ada suara pesawat seperti itu, itu suara Ambulance! " Rico terkekeh.
__ADS_1
" oh iya ya.. terus gimana? " bingung Felisha.
Felisha terdiam memikirkan suara pesawat yang benar-benar dia lupakan, mungkin karena terlalu grogi karena di dekat Rico jadi dia melupakan segalanya.
" oh gini!! .. jes jes jes.. tuit tuit...!! " teriak Felisha.
" hahaha... kamu itu anak kuliahan atau anak TK sih? masak suara pesawat aja nggak tau. Hahaha! " tawa Rico keras.
" ya maklum lah Kak, Felisha kan memang anak kecil yang masih imut-imut. Jangankan suara pesawat suara Mami aja aku sering lupa " jawabnya.
" dasar! "
" Kak Rico, Akk.. " Lagi-lagi Felisha memajukan sendok nya namun Rico tetap kekeuh tak mau menerima satu suap pun dari tangannya. " kenapa sih Kak? " tanya Felisha bingung.
" aku udah bilang kan, aku belum lapar " jawab Rico.
" hemm... baiklah. " Felisha pasrah dan kembali meletakkan piring ke atas nakas lagi.
__________
Ketiga gadis berhijab kini tengah berjalan bersama-sama, yang dua begitu semangat untuk pergi ke kelasnya dan yang satu berjalan dengan pelan di tengah-tengah antara mereka berdua, dia terus diam seakan tengah memikirkan sesuatu yang begitu berat.
" Syah, kamu kenapa? " tanya Shelvia kepo.
" ho'oh. Kamu kenapa sih Syah. Kamu sedih karena pertunangannya gagal atau ada hal lain?" imbuh Meyka.
Ketiganya berhenti, Shelvia dan Meyka menatap Aisyah yang terdiam.
" aku khawatir dengan keadaan Bang Rico " ucap Aisyah.
" bagaimana kalau nanti setelah kuliah kita ke rumah sakit, kita jenguk Kak Rico " saran Shelvia.
Meyka mengangguk , apa yang Shelvia katakan ada benarnya mereka akan tau keadaan Rico jika mereka datang ke sana.
" tapi..? " Aisyah sangat ragu. Jika mereka pergi bagaimana mereka akan menjelaskan pada Rayyan nantinya setelah pulang, karena tidak mungkin Rayyan akan percaya begitu saja dengan apa yang mereka katakan apalagi dengan Aisyah.
"tenang, ada Nona cerdas di sini. Jadi jangan bingung " ucap Shelvia.
" kak Via mau berbohong! "
" sedikit sih " jawabnya.
Aisyah tak setuju sebenarnya, dia lebih baik dimarahi daripada harus berbohong. Sekecil apapun yang mereka tutupi pasti akan Rayyan ketahui juga akhirnya.
" kalau kamu tidak mau dengan caraku, apa kamu mempunyai cara sendiri? " tanya Shelvia.
Aisyah menggeleng, karena untuk saat ini dia memang belum mempunyai cara apapun untuk bisa menemui Rico. Tapi apapun yang Aisyah lakukan dia sama sekali tidak mau berbohong pada orang tuanya.
" Ayolah, Syah. Sekali saja " rayu Shelvia.
Aisyah sedikit bingung dengan kelakuan Shelvia yang sedikit memaksa ini. Entah ada maksud dan tujuan apa yang Shelvia rencanakan untuk nya.
" baiklah, tapi ingat sekali ini saja. " ucap Aisyah dengan tegas.
" siap " Shelvia mengangkat tangannya dan memberikan hormat pada Aisyah.
__ADS_1
________
Hingga siang hari Felisha belum juga pergi dari tempat Rico, dia masih setia menemani Rico yang sebenarnya jengah dengan kedatangan Felisha di sana. Tapi Rico hanya bisa pasrah karena Felisha begitu bandel, dia tidak mau pergi meskipun Rico sudah mengusirnya.
Mengusir Felisha tak akan mudah, semuanya harus dengan rencana yang jail. Karena Rico tak bisa melakukan nya Rico harus meminta tolong pada Dante untuk melakukan sesuatu untuk bisa membuat Felisha pergi.
Felisha yang tengah memainkan ponsel harus di buat terkejut dengan kedatangan seorang dokter laki-laki yang tak jelas wajah nya, karena dokter itu memakai kacamata dan juga masker. Dokter itu juga menata rambutnya begitu rapi membuat Rico maupun Felisha tak mengenalinya sama sekali.
" Permisi Nona, jam berkunjung nya sudah habis. Pasien membutuhkan istirahat jadi silahkan Nona pulang " ucapnya.
Sedikit Rico mengenali suara itu, Rico tak percaya kalau orang yang di mintai tolong akan berbuat seperti ini untuk mengusir Felisha.
" maaf Dok, tapi saya tidak ngapa-ngapain dan juga tidak mengganggu pasien, jadi saya tetap mau di sini " jawab Felisha.
" maaf Nona, Anda tetap harus pulang pasien harus istirahat " ucapnya lagi.
Dengan pasrah akhirnya Felisha mengalah, dia pergi dari sana untuk pulang. Sebelum pulang Felisha tetap berpamitan pada Rico ya meskipun tetap sama tak mendapatkan jawaban yang menyenangkan, karena hanya deheman kecil yang keluar dari Rico.
" Rico memejamkan matanya setelah Felisha pergi, dia merasa tenang dan dia juga benar-benar mengantuk dari tadi. Rico sama sekali tak menghiraukan Dokter gadungan yang kini tengah melotot sebal ke arahnya.
" gila loh, Bos! Aku berjuang untuk bisa mengusir tuh dedemit setelah berhasil nggak mendapatkan apapun, malah di tinggal ngorok gitu aja, bos! bos! astaga " kesal Dante.
Rico kembali membuka matanya, dan menatap Dante dengan tajam.
" cerdas juga, loh " puji Rico.
" siapa dulu,, Dante! " jawab Dante membanggakan diri sendiri.
" dapat dari mana tuh baju dokter, nyolong? "
" astaga, Bos. biarpun banyak dosa saya masih bisa pikir-pikir kalau mau melakukan sesuatu. Ini aku dapat dengan menyewa Bos. Jadi bos yang harus membayar nya. " jawab Dante semakin kesal.
" ogah! " seru Rico menolak.
" wah wah... ngajak berantem nih orang. " kesal Dante, Dante berjalan mendekat dan duduk di sebelah Rico sembari tangannya memukul lengan Rico. " Bos, bos kok bisa seperti ini sih? apa semua ini demi cewek itu? " tanya Dante yang akhirnya tak mempermasalahkan hal yang tadi.
" hem " jawab Rico singkat.
" astaga.. udah di bilangin juga. Bos, lebih baik bos itu jauh-jauh dengan dari cewek itu, secara ya dia udah punya pasangan, dan belum tentu dia suka sama bos, jadi move-on dong bos! masih banyak kan cewek yang lebih baik. Asal jangan dedemit tadi sih," ucap Dante.
Rico masih diam tak mau menjawab kata-kata Dante, dia masih sangat malas meladeni tuh anak.
" inget ya bos, patah hati itu lebih parah daripada patah tulang. Patah tulang bisa cepat sembuh , kalau patah hati? akan butuh lama untuk bisa menyembuhkan nya, itu adalah penyakit yang paling mengerikan sepanjang hidup " imbuh Dante menasehati.
" bodo" seru Rico yang bodo amat.
" Assalamu'alaikum..."
Rico dan Dante menoleh ke arah sumber suara.
" etdah panjang umur tuh cewek " Dante beranjak dia berjalan menuju sofa dan beralih duduk di sana.
____
Bersambung...
__ADS_1
____________