
____
Happy Reading...
___________________
Seperti biasa, Aisyah pasti akan selalu diam saat ada di dalam mobil Farel, bukan apa-apa tapi dia memang tak ada niatan untuk berbincang dan mengatakan apapun.
Hal itu yang membuat Farel ragu kalau Aisyah benar-benar menerima perjodohannya apalagi menerimanya. Mungkin Farel terlalu percaya diri kalau Aisyah bisa menerimanya dan jatuh hati padanya.
Mungkin semua perkiraannya benar, Aisyah menyukai Rico bukan dirinya. Tapi Farel seakan tak bisa menerima kenyataan itu kalau Aisyah tidak menyukainya.
Apa yang kurang dari dirinya, dia juga tampan, mapan, pintar, dan ilmunya lebih tinggi di bandingkan dengan Rico tapi kenapa sepertinya Aisyah lebih melirik dan tertarik pada Rico.
" Aisyah, hari ini kamu mau kemana saja? Mungkin aku bisa mengantarkan mu. " Farel memulai pembicaraan, memecah keheningan di antara keduanya dan langsung menutup mulut ember pada dua gadis yang ada di belakangnya.
" Tidak kemana-mana," Jawab Aisyah.
Farel mengangguk, menarik ujung bibir nya dengan terpaksa. " Kalau kamu ada sesuatu bisa kamu cerita padaku. " Ucapnya lagi.
Farel sangat mengharapkan dan merindukan Aisyah yang banyak bicara seperti dulu yang selalu menceritakan segalanya kepada dirinya. Dulu seakan tak ada jarak di antara mereka berdua, tapi sekarang? Jarak itu ada setelah perjodohan itu di mulai.
" Tidak ada. " Jawab Aisyah lagi dengan begitu cepat dan singkat.
Biasanya perempuan yang banyak bicara dan akan menjawab begitu banyak kata di setiap satu atau dua pertanyaan, tapi ini berbeda, Farel yang bertanya begitu banyak sedangkan Aisyah menjawabnya hanya sepatah dua patah saja.
" Oh, baiklah. " Ucap Farel yang akhirnya pasrah dan tak lagi bicara lagi.
Sementara Shelvia dan juga Meyka keduanya terus menatap keduanya bergantian, ada suara teriakan yang begitu keras di hati mereka berdua yang tak bisa di dengar oleh semua yang ada, namun wajah mereka terus memasang wajah datar bahkan sedikit mengeluarkan kekecewaan yang palsu.
Keduanya sangat pintar jika di minta untuk akting, entah siapa yang memberikan virus itu tapi sepertinya Shelvia lah pemeran utamanya.
Tak akan ada yang bisa mengalahkan akting dari Shelvia dan juga Aisyah, tapi sekarang Aisyah lagi malas untuk melakukan itu, dia terus belajar untuk menjadi gadis yang dingin yang tak banyak bicara.
__ADS_1
" Astaga Aisyah, jutek amat sih kamu sekarang. Virus dari mana coba. " ucap Shelvia.
" Iya, Syah. Jangan jutek-jutek gitu napa sih, nanti di pingit jodoh baru tahu rasa loh.. " Saut Meyka.
Sebenarnya rencana apa yang ada di otak mereka berdua, mereka ingin menjadi mak comblang untuk Rico dan Aisyah, tapi kenapa sekarang mereka malah sepertinya berbalik arah?.
Aisyah masa bodoh dengan yang di katakan mereka berdua, dia tetap diam dan mengamati pinggiran jalan yang di lalui saat ini.
" Mey, kamu nggak salah bawa pulang orang kan? Kenapa aku ragu kalau dia Aisyah ya?. " Shelvia menoleh bingung ke arah Meyka.
" Mana ada, kak. Bahkan dia yang mengajakku pulang, bagaimana aku salah ngajak orang. " ucap Meyka tak habis pikir.
" Tapi kenapa aku seperti tidak mengenalnya?. " Shelvia semakin bingung.
Aisyah menoleh, dia mengulurkan tangan ke arah Shelvia yang pasti akan membuat Shelvia mengerutkan dahi. " Kenapa?."
" Katanya belum kenal, sekarang kenalan." Ucap Aisyah yang berhasil membuat mulut Shelvia dan Meyka menganga sedangkan Farel tersenyum geli.
Shelvia menyambut uluran tangan dari Aisyah seperti orang bodoh, dia tak habis pikir dengan Aisyah tadinya dingin dan terus diam dan sekarang? Sepertinya otaknya sudah mulai kembali.
" Perkenalkan, Aisyah Rahma Saputri. Gadis terkuat dan wajib di hormati, siapapun tak boleh membangkang dan tak boleh menjadi pemberontak. Jika itu terjadi, itu tandanya sudah siap untuk lebur. " ucap Aisyah.
" Astaga, kau ini wanita muslimah atau wanita psikopat sih? Menakutkan sekali caramu itu. " gerutu Shelvia.
" Anda lebih mengetahuinya Nona Shelvia. " mata Aisyah memicing sinis membuat Shelvia bergidik seketika.
_______
Hari-hari di kampus terasa berbeda bagi Aisyah, entah apa dan kenapa tapi dia sama sekali tidak tau alasannya. Seperti ada yang kurang, tapi apa?.
Aisyah duduk mojok di perpus seorang diri tak ada Shelvia dan tak ada Meyka yang mengganggunya. Mereka bertiga tidak dalam satu jurusan jadi mereka tak akan mungkin bisa selalu bersama.
Laptop bukan untuk mengerjakan tugas untuk Aisyah, tapi Laptopnya dia gunakan untuk mencari tahu setiap mangsa yang menjadi target untuk misi selanjutnya.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, tetapi Aisyah yang selalu diam dan seperti gadis pada umumnya nyatanya dia juga telah mendirikan beberapa usahanya sendiri yang sudah sangat terkenal, namun yang pasti usaha itu dengan nama samaran bukan nama aslinya.
Jarang-jarang Aisyah akan datang sendiri ke tempat usahanya, dia telah mempercayai orang untuk mengelolanya dan dia hanya akan datang di saat-saat tertentu saja.
Aisyah benar-benar mengikuti jejak sang Oma, tak semua keberhasilan dan harta yang dia punya harus di publikasikan. Selama itu tidak menentang hukum maka itu sah sah saja menurutnya.
𝘌𝘬𝘩𝘦𝘮....
Seketika Aisyah menoleh, melihat siapa yang datang. " Kak Farel, ada apa?. " Tanya Aisyah yang langsung menutup laptopnya dengan perlahan.
" Kenapa di tutup? aku tidak akan melihatnya. " ucap Farel.
Farel duduk di depan Aisyah, lalu menaruh buku yang dia pinjam di depannya.
" Aisyah, bagaimana jika suatu saat nanti pernikahan kita terjadi. Apa kamu benar-benar bisa menerima ku?. " Tanya Farel.
" Kenapa Kak Farel bertanya seperti itu?. " Tanya balik Aisyah.
" 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘬am𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶," Batin Farel.
" Hem?. " Aisyah mengernyit melihat Farel yang terdiam pasti ada hal yang di sembunyikan oleh Farel darinya.
" Aku janji, jika pernikahan kita benar-benar terjadi aku akan menerimamu, apapun itu. Aku akan menghargai setiap keputusan mu, dan aku berharap begitu juga sebaliknya. "
Baru kali ini Farel bisa berbicara dengan leluasa pada Aisyah, biasanya dia tak berani mengatakan hal pribadi padanya karena ada Shelvia dan Meyka yang selalu membuntuti Aisyah.
" Hem. " Aisyah hanya tersenyum kecil, jika itu benar-benar terjadi mau tidak mau dia pun juga harus menerima Farel meskipun hatinya menjadi milik orang lain tapi Aisyah mungkin bisa berbesar hati memberikan tubuhnya pada suaminya meskipun tanpa beralaskan cinta.
Farel pun membalas senyumnya Aisyah, setelah itu mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing dan sesekali mereka akan curi-curi pandang.
" kenapa aku tidak bisa membuka hatiku sedikit saja untuk kak Farel, seandainya saja bisa mungkin masalahnya tidak akan serumit ini. Aku dan kak Farel mungkin akan sangat bahagia jika itu terjadi, tapi kenapa tidak bisa? dimana letak kesalahannya.? " batin Aisyah bingung.
___
__ADS_1
Bersambung..
______________