
___
Happy Reading..
_______________
Rico berjalan dengan cepat menuju ke ruangan dimana Marno di rawat, hari ini adalah hari dimana Marno di perbolehkan untuk pulang. Sebelum datang ke sana Rico yang dari Resto harus pergi dulu ke bengkel mengambil mobilnya.
Rico sampai di ruangan Marno, senyumnya mengembang saat dia melihat Marno yang sudah terlihat sangat segar dan juga sudah siap untuk pulang.
Begitu pula dengan Susan yang sudah selesai beres-beres semua barang-barang mereka.
"Assalamu'alaikum, Bun, Yah. " Sapa Rico, tak lupa dia selalu melakukan salam takzim untuk menghormati kedua orang tuanya itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Jawab Susan juga Marno yang hampir bersamaan.
"Bagaimana, Bun? Sudah siap? " Tanya Rico.
"Sudah, semuanya juga sudah selesai." Jawab Susan.
Rico senang akhirnya ayahnya bisa pulang meskipun masih harus menjalani rawat jalan, Marno juga harus tetap kontrol setiap satu minggu sekali.
Namun meski seperti itu Rico sedikit tenang karena Marno tak harus ada di rumah sakit lebih lama lagi.
Rico sedikit menyesal dengan keputusannya untuk menggadaikan surat rumah untuk biaya Marno juga Restonya, tapi selain itu Rico bisa apa? Tak ada hal lain yang bisa dia jual dalam waktu yang cepat. Bahkan mobilnya yang butut itu sudah dia tawarkan di beberapa tempat namun tidak ada yang mau membelinya.
"Yah, maafin Rico ya. Rico harus menggadaikan surat rumah. " Ucap Rico yang sangat menyesal.
Marno malah menjadi sedih mendengar itu dari Rico, seharusnya Marno yang minta maaf karena semua itu tidak akan terjadi kalau dia tidak sakit.
"Ayah yang seharusnya minta maaf, Nak." Jawab Marno.
"Tidak, Yah. Rico yang bersalah, karena Rico tidak bisa berbuat banyak untuk Ayah dan Bunda. Rico juga beliau bisa membahagiakan kalian."
"Kamu adalah kebahagiaan kami, Nak. Selama kamu baik-baik saja ki sangat bahagia. Masalah rumah, itu kan kamu yang membelinya jadi kamu bisa melakukan itu kan, dan nggak seharusnya kamu minta izin dengan Ayah."
"Rico janji akan menebus secepatnya, Yah."
"Ayah tau," Jawab Marno, "sekarang kita pulang, Ayah sudah sangat merindukan rumah."
"Hem." Rico mengangguk menyetujui.
____
__ADS_1
Kepulangan Marno dari rumah sakit sudah sangat di dengar oleh Felisha, sebelum Rico dan kedua orang tuanya sampai di rumah Felisha sudah ada di depan rumah Rico bersama dengan Ari.
Keduanya datang tidak hanya dengan tangan kosong saja, ada buah tangan yang mereka bawa untuk di berikan pada Marno.
Felisha sudah tak sabar menunggu Rico dan orang tuanya pulang, Felisha duduk dengan usil juga matanya yang terus menatap arah jalan berharap mobil Rico akan datang.
"Ded, kok mereka belum pulang ya? Apa ada kendala? " Tanya Felisha yang sudah sangatlah
sabar.
"Semoga saja tidak ada, Felisha sayang. Kita tunggu saja sebentar lagi." Jawab Ari dengan begitu lembut.
"Felisha sudah tidak sabar, Ded. Felisha sudah sangat merindukan mereka. "
"Mereka atau mereka? " Mata Marno berkedip-kedip tidak mungkin Felisha akan merindukan mereka semua, yang pasti Felisha rindukan hanyalah satu orang saja yaitu Rico.
"Mereka lah, Ded." Jawab Felisha dengan pipi yang sudah memerah.
"Oh, mereka.. "
Baru saja Ari terdiam ada mobil datang dan itu adalah mobil Rico.
Keduanya langsung beranjak dari duduknya saat mobil Rico sudah sampai dan terparkir manis, "itu mereka sudah pulang." Felisha begitu senang melihat mereka semua.
Ari juga Felisha menyambut kedatangan mereka, dengan senyum manis Felisha menyapa mereka semua.
"Sore Om, Tante, kak Rico! " Sapa Felisha.
"Sore, Nak." Jawab Marno.
Mereka pun masuk, karena Marno masih tidak kuat untuk berdiri lama-lama. Felisha juga Ari pun ikut masuk dengan membawa buah tangan yang mereka bawa dari rumah.
Sebuah parsel buah ada di tangan Ari dan sebuah kue yang ada di dalam kotak yang ada tangan Felisha.
"Ini, Om! Felisha bawakan untuk Om." Ucap Felisha dengan sumringah.
Semua duduk di ruang tengah, namun berbeda dengan Rico, Rico masuk ke kamar Susan dan Marno untuk meletakkan semua barang-barang mereka.
"Saya minta maaf, Mas Marno. Selama Mas sakit saya tidak bisa menjenguk di rumah sakit," Ucap Ari dengan sangat menyesal.
"Tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting sekarang saya sudah bisa pulang." Jawab Ari.
Setelah Marno duduk dengan tenang Susan beranjak, dia ingin pergi ke dapur untuk membuat minum. "Saya ke dapur sebentar, untuk bikin minum. "
__ADS_1
Felisha langsung tak tinggal diam, dia ikut beranjak seperti Susan, "Felisha bantu ya, Tan!"
"Tidak usah, Feli. Kamu di sini saja." Tolak Susan, namun itu tak di indahkan oleh Felisha yang tetap mengikuti Susan.
"Nggak apa-apa, Tan! Biar Feli bantu." Ucapnya.
Dengan pasrah Susan mengangguk dan mengizinkan Felisha untuk ikut membantu di dapur.
Sementara di ruang tengah hanya tinggal Marno dan juga Ari. Sejenak keduanya terdiam namun itu tak berlangsung lama karena Ari yang mendahului membuka percakapan.
"Hemm..., sudah saatnya kamu mencari menantu untuk membantu mu dan mbak Susan untuk mengurus kalian, Mas. Apalagi saat Rico bekerja, kasihan Mbak Susan kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, Mas." Ucap Ari.
Marno tersenyum kecil, sebenarnya dia sudah menginginkannya apalagi di usianya sekarang? Dia ingin bisa menikmati hari tuanya dan juga bisa bermain dengan cucu.
"Iya juga sih, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, Rico belum menemukan yang pas,"
"Hem..., bagaimana kalau kita jodohkan Rico dengan anak... "
"Assalamu'alaikum... "
Belum juga Ari mengatakan maksudnya sampai selesai, ada dua pria yang datang, mereka adalah Dante dan Iqbal.
"Wa'alaikumsalam.. " Jawab Ari dengan malas sementara Marno menjawabnya dengan senang.
Dante juga Iqbal sudah seperti anak juga bagi Marno, mereka sudah sangat akrab bahkan mereka seringkali tidur di sana. Dan membantu Marno dan Susan.
"Ayah gimana? Udah sembuh kan ya? Ya jelas lah sembuh kan sudah segar bugar begini." Tanya Dante dan juga di jawab sendiri.
𝘗𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬....
"Lebih baik kamu nggak usah tanya deh, lagian tanya pun juga percuma karena kamu sudah tau jawabannya." Tangan Iqbal melayangkan jitakan di kepala Dante.
"Apa sih! Syirik aja kamu sama orang pintar! " Sungut Dante kesal.
"Hilih... " Nyinyir Iqbal.
Gagal sudah apa yang ingin di katakan oleh Ari pada Marno, tujuannya harus terhambat karena kedatangan Iqbal dan Dante yang tidak di sangka-sangka.
"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘫𝘶𝘬 𝘔𝘢𝘴 𝘔𝘢𝘳𝘯𝘰 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘦𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢. " Batin Ari.
__
Bersambung...
__ADS_1
______________