
_____
Happy Reading...
___________________
"Lah...! Aku cari di mana-mana ternyata orangnya lagi asyik makan di sini! Dasar kamu ya.. " Sungut Shelvia yang baru saja masuk.
"Mana makan sama gebetan lagi." Imbuh Shelvia dengan kesal.
Capek Shelvia mencari Aisyah yang pergi meninggalkannya dengan diam-diam, dia mengatakan hingga ke sudut-sudut taman namun dia tak menemukannya. Karena lelah dan harus akhirnya dia harus masuk ke warung itu sesuai anjuran dari Iqbal tentunya.
Aisyah dan juga Rico menghentikan makannya, menoleh ke arah Shelvia yang berwajah masam sembari menatapnya.
Shelvia dan Iqbal masih berdiri mereka bingung mau duduk di mana karena tempat itu sudah penuh. Namun itu tak berlangsung lama karena orang-orang yang ada di sebelah Aisyah dan Rico berdiri dan pergi karena sudah selesai makan.
Dengan cepat mereka berdua pun duduk, Shelvia di samping Ana sementara Iqbal di samping Rico hingga keduanya berhadapan.
"Apa sih Kak, jangan marah begitu dong dan jangan berpikir kalau kami ini janjian ya, kami tidak sengaja bertemu di sini. " Ucap Aisyah.
"Terus aku harus percaya begitu? Ti-dak. Aku tidak percaya, palingan kamu memang sengaja meninggalkanku karena kamu mau berduaan dengan bang Rico. " Tuduh Shelvia.
"Tidak, Kak Via. "
"Kenapa kakak marah-marah dengan kak Aisyah? Kak Aisyah benar kok kak. " Ucap Ana yang tak mau melihat Aisyah di marahi oleh Shelvia.
Shelvia menoleh ke arah Ana, gadis cantik dengan pakaian sederhana itu menyita perhatiannya.
"Hey manis..., nama kamu siapa? " Tanya Shelvia yang langsung berubah sembilan puluh derajat.
"Saya Ana, Kak. Tadi aku bertemu dengan Kak Aisyah, dan kak Aisyah mengajakku makan ke sini karena Ana belum makan. " Jawab Ana.
Shelvia melirik ke arah Aisyah dan langsung di angguki olehnya.
"Kamu tinggal di mana, Manis. " Tanya Shelvia.
"Ana...? Ana tinggal di kolong jembatan sana, Kak. " Ucapnya dengan tangan menunjuk jauh ke arah depan sana.
Kata-kata Ana mengejutkan mereka kecuali Aisyah yang memang sudah mengetahuinya sejak awal.
"Kamu tinggal di sana dengan siapa saja.?"
"Dengan teman-teman, Kak."
"Sudah lah Kak Via. Biarkan Ana makan dulu, dia sangat lapar, Kak. "Ucap Aisyah.
_____
Mobil terus melaju dengan pelan, karena jalan memang ramai jadi lajunya harus di perlambat. Ada Farel di kursi pengemudi dan di sebelahnya ada Faisal, keduanya baru pulang dari tempat pengajian Akbar yang melibatkan Faisal sebagai narasumbernya, dan Farel hanya menemaninya saja.
__ADS_1
Meskipun belum genap satu tahun Faisal pulau dari Kairo, namun dia sudah sangat terkenal, tak sedikit yang mengundangnya untuk mengisi acara-acara pengajian.
Tak salah Fahmi menobatkan Faisal sebagai penerus untuk pesantrennya, Faisal bisa melanjutkan mengurus pesantren lebih baik lagi setelah Rayyan nantinya. Di samping Faisal yang pintar, dia juga penuh wibawa sangat luwes jika kelak dia akan menjadi kyai ternama seperti pendiri utama pesantren itu, Kyai Rizal (Abi dari Fahmi)
"Ceramah ustadz Faisal, bagus. Aku jadi fans pertama untuk Ustadz. " Farel menoleh kearah Faisal, dia begitu memuji Faisal, bagaimanapun kehebatan Faisal tak bisa di ragukan lagi.
"Aku baru pertama kali melihat secara langsung saja bisa langsung merinding saat ustadz melantunkan pujian pujian, begitu ngena ke dalam hati. " Pujinya lagi.
"Ahh..., ustadz bisa saja, saya hanya menerapkan apa yang saya pelajari saja, dan juga untuk mempermudah para jamaah memahami apa yang kita katakan saja. " Jawab Faisal.
"Tapi beneran loh, Ustadz. Itu tadi sangat luar biasa. " Ucap Farel lagi.
Maklum Farel baru melihat itu, karena biasanya Hasan yang mengantarkannya karena Hasan sedang ada acara jadi Farel yang menggantikannya.
Di saat melintasi taman kota tak sengaja Faisal melihat Aisyah dan juga Rico yang tengah keluar dari warung, tapi mereka bukan hanya berdua saja, ada anak kecil di tengah-tengah mereka berdua.
"Aisyah." Pekik Faisal.
Seketika membuat Farel juga ikut menoleh dan apa yang di lihat oleh Faisal juga bisa dia lihat. "Aisyah, pak Rico. " Gumam Farel.
Faisal menoleh ke arah Farel dan memintanya untuk memarkirkan mobilnya dan berhenti, Faisal ingin menghampiri Aisyah dan juga Rico.
"Berhenti sebentar, Ustadz. " Perintah Faisal, dan Farel mengangguk menyetujui.
Sementara Aisyah dan juga Rico masih berada di depan warung, tapi ada di pelatarannya. Mereka masih bersama dengan Ana, dan juga ada Shelvia dan juga Iqbal di belakang mereka.
"Bagaimana, kalian akan pulang atau ke tempat lain? apa mau kami antar? " Tanya Rico.
"Iya, Kak. Biar kita berdua saja. Kak Rico dan Kak Iqbal pasti ada hal kan yang harus di kerjakan. " Saut Shelvia.
"Tidak. Aku mah, siap sedia untuk mengantarkan kamu, sampai ke ujung dunia pun oke, siap. " Seru Iqbal.
"Ogah! Lagian siapa juga yang mau di antar sama situ. " Sungut Shelvia.
Bingung juga pada nih anak, kapan dia bisa lembut, paling nggak dikit saja bisa semakin melelahkan hati Iqbal yang begitu getol mengejar cintanya.
"Ya Allah, dari apa Engkau menciptakan hati nih cewek, keras banget kayak baru karang. " Iqbal terperangah.
Rico terkekeh mendengar keluhan dari Iqbal, tak dia kira kalau cowok yang umurnya satu tahun di atasnya itu bisa mengeluh juga, Rico kira keahlian Iqbal masih bisa berlangsung hingga sekarang, tapi ternyata? " Hehehe.., sabar Iqbal. Sepertinya kamu harus berusaha lebih keras lagi. " Ucap Rico.
"Sabar sih sudah, Ric! Tapi bingung saja kenapa belum luluh juga. " Jawab Iqbal.
"Padahal aku lebih suka sama sifat mu beberapa tahun ini, Bal. Kamu cuek, dingin, ketus, itu lebih terlihat laki banget untuk mu. Tapi untuk sekarang sepertinya aku mulai meragukan mu. " Ujar Rico.
"Meragukan gimana nih, maksudnya? " Iqbal ternganga.
"Hahaha... " Rico hanya bisa menertawakan Iqbal yang masih meratapi nasibnya.
"Aisyah.. " Panggil Faisal yang sudah ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Semua menoleh ke arah Faisal dan ternyata ada Farel juga di belakangnya. Aisyah dan juga Shelvia yang terlihat kaku, mereka seperti tengah Kepergok.
"Bang Faisal. "
"Ngapain kamu di sini? Dan, kenapa harus bersama dengan Rico? " Tanya Faisal.
Faisal tidak membenci Rico, dia juga mendukung jika Rico bisa bersama dengan Aisyah, namun dia hanya tak mau jika Aisyah terus berduaan dengan Rico sebelum ada status yang jelas.
"Aku..? "
"Ini tidak seperti yang yang anda pikirkan, aku dan Aisyah bertemu juga karena tidak sengaja. Lagian kami tidak berdua saja, tapi ada Shelvia dan Iqbal juga bersama kami. " Jawab Rico.
"Bukan itu yang aku takutkan, Ric. Kalian tidak ada hubungan apapun jika ada yang melihat kalian selalu bersama seperti ini, ini tidak akan baik untuk Aisyah dan keluarga kami. " Jawab Faisal.
Bagaimana akan ada hubungan, belum juga terjadi restu dari keluarga Aisyah tidak dia dapatkan.
"Anda tenang saja, saya akan pastikan semuanya akan baik-baik saja. " Jawab Rico.
"Tidak seperti itu, Ric! Kalau kamu memang perduli kamu juga tidak akan menemuinya secara sembunyi-sembunyi. Kamu akan bertemu dengan izin kami dari keluarganya."
Semakin bingung Rico, bagaimana busa dia minta izin?.
"Aku akan maafkan untuk kali ini. Tapi tidak untuk lain kali. Kalau kamu memang peduli dengan kehormatan keluarga kami, aku tantang kamu untuk datang ke rumah dan meminta izin secara langsung. Besok, sebelum jam lima sore aku tunggu kamu di rumah. Kalau kamu tidak datang maka selamanya kamu harus menjauhi Aisyah. " Ucap Faisal dengan tegas.
Farel terperangah tak percaya, bagaimana Faisal bisa mengatakan itu pada Rico di hadapannya, kenapa Faisal seakan tak menganggap keberadaannya. Apakah Faisal sama sekali tak peduli dengan perasaan Farel.
"Bang, itu tidak perlu Bang! " Ucap Aisyah.
"Itu perlu, Syah! Kalau dia memang serius padamu, dia akan datang menemui orang tuamu, semua keluargamu! Bukan hanya kamu saja yang dia temui dengan diam-diam seperti ini. Cinta itu penting, restu juga penting kehormatan juga lebih penting Aisyah. Semua itu harus kalian dapatkan kalau kalian benar-benar ingin bisa bahagia. "
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳. " Batin Faisal.
Rico sangat mendengar kata hati Faisal barusan, semua yang dia katakan benar, dia harus berani maju, kalau seperti ini terus dia seperti seorang pengecut yang tak berani maju dan melakukan apapun dan hanya menunggu takdir.
"Baik. Aku akan datang. " Ucap Rico yakin.
Faisal tersenyum kecil, akhirnya pancingannya berhasil. Rico menyetujuinya.
Faisal menepuk pundak Rico dan tersenyum. "Jika Allah menghendaki semuanya akan menjadi mudah. " Ucapnya.
"Aisyah, pulanglah. Jangan terlalu lama pergi dari rumah, kalau tidak kamu akan tau sendiri kan akibatnya? "
"Iya, Bang. " Aisyah menunduk, dia bingung, dia takut menghadapi hari esok.
"Assalamu'alaikum..." Faisal berjalan pergi dan tentunya ada Farel yang mengikutinya.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘶𝘴𝘵𝘢𝘥𝘻 𝘍𝘢𝘪𝘴𝘢𝘭. 𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘥𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶? " Batin Farel tak habis pikir.
___
__ADS_1
Bersambung....
________________