Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
115. Maafkan Abang


__ADS_3

Happy Reading...


_____


Kilat menyala, terus beradu di atas langit. Suara gemuruh menggelegar begitu menyeramkan hingga terasa begitu menggetarkan jiwa dari gadis berhijab yang duduk termenung di balik jendela, dia adalah Aisyah.


Matanya terus memandangi rintik air hujan yang mulai turun satu persatu hingga akhirnya turun begitu deras. Hujan lebat di iringi angin kencang membuat Aisyah mulai merinding, bahkan bulu kuduknya mulai berdiri saat melihat pohon-pohon besar mulai bergoyang dengan cepat seolah akan terangkat dari tempatnya.


Sengaja Aisyah membuka jendela itu, merasakan langsung betapa besar badai yang datang di malam itu, yang belum seberapa dari kuatnya badai di dalam hatinya sendiri.


Keadaan hati yang tidak baik membuat Aisyah pasrah jika pohon yang tepat di sebelahnya itu akan tumbang dan menimpanya, harapan yang pupus seolah menghilangkan akal sehatnya dan membiarkan angin kencang itu membawa masuk air hujan ke dalam kamarnya melalui jendela dan mulai membasahi tubuhnya.


Hari yang sebenarnya dia inginkan akan segera datang, hari pernikahannya sendiri. Namun, bukan pria yang akan mengucapkan ikrar suci. Pria yang dia inginkan akan mengucapkan ikrar suci pernikahan sampai kini belum juga datang untuk bertemu dan menjelaskan semuanya.


"Apakah hanya sampai di sini saja hubungan kita bang Rico? Apakah hanya sebatas ini saja takdir yang harus kita jalani?" Ungkapan hatinya begitu sedih, dia benar-benar belum bisa ikhlas dan merelakan segalanya.


Ingin dia berteriak kencang, atau nangis sejadi-jadinya sekarang, namun buat apa? Semuanya tidak ada gunanya lagi. Pernikahan sudah sangat dekat, bahkan tinggal menghitung waktu saja karena esok acara akan di gelar.


Semuanya sudah selesai di persiapkan, Aisyah hanya bisa memandangi altar yang sudah berdiri dengan begitu indah dengan begitu banyak hiasan bunga-bunga asli dan juga bunga buatan.


Waktu sudah menandakan pukul dua dini hari namun Aisyah sama sekali tak bisa memejamkan mata, di temani berkali-kali kilatan yang seolah ingin mendekat dan mengulurkan diri untuk menggapainya. Seandainya bisa, Aisyah ingin menggapainya dan ikut terbang dengannya.


Air hujan yang masuk sudah membasahi tubuhnya begitu saja, dan Aisyah hanya membiarkannya, "Ya Allah, banyak yang berkata, jika di saat hujan turun maka pintu-pintu langit di buka, semua yang berdoa akan di kabulkan, jika aku berdoa meminta sesuatu apapun Engkau akan mengabulkannya? "


"Aku tidak minta hal yang lebih karena aku pikir aku sudah memilikinya, aku hanya minta penjelasan dari kepergian bang Rico. Aku tidak percaya jika bang Rico pergi karena meninggalkanku. "


"Namun jika bang Rico benar pergi karena meninggalkan ku, aku akan ikhlas. Namun jika bang Rico pergi karena berjuang untuk mempertahankan ku, aku mohon wujudkan apa yang menjadi harapannya."


Aisyah menutup mata, merentangkan tangan merasakan satu persatu air hujan yang mengenai tubuhnya, dia sama sekali tak peduli dengan kesehatannya lagi, dia hanya mencari ketenangan.


𝘞𝘢𝘴𝘩𝘩𝘩....


π˜‰π˜³π˜Άπ˜’π˜―π˜¬π˜¬....


Angin berhembus begitu kuat, bukan hanya angin biasa melainkan sebuah badai, Altar dan tenda-tenda yang barusan Aisyah lihat sedikit demi sedikit terangkat dan terbang, seolah alam telah marah dan tak membiarkan altar itu berdiri.


Aisyah membuka mata, dia terkejut dengan suara-suara yang keras dari jatuhnya material dari tenda-tenda dan altar itu.


"Astaghfirullah hal 'azim, ada apa ini. Pertanda apa ini Ya Allah? " Aisyah terus mengamati tempat sekitar, hujan semakin lebat badai pun berhembus semakin kencang memporak-porandakan sesuatu yang sudah Rayyan dan yang lainnya siapkan.


Aisyah hanya bisa mengamati dan tak bisa melakukan apapun. Haruskah dia bahagia karena semuanya hancur? Ataukah dia harus sedih sekarang? Jika orang yang membuat kekacauan dia bisa mengatasinya, tapi jika alam semesta yang menggerakkannya, apa yang dia bisa lakukan? Tidak ada.


____


Badai semalam benar-benar telah mengacaukan segalanya. Karena semuanya telah hancur tak mungkin acara akan di lakukan tepat waktu, semua harus di undur dan mempersiapkan semuanya lagi.


Semua yang telah berantakan mulai di pasang lagi, awalnya Rayyan begitu lemah karena melihat keadaan semuanya, namun dia tak bisa membuat semua itu akan menggagalkan acara yang telah dia buat.

__ADS_1


Rayyan harus membayar orang lagi untuk membangun semuanya dari awal. Karena itu, acara yang seharusnya di lakukan pagi harus di undur menjadi malam hari.


"Astaghfirullah, kenapa jadi begini?" tanya Rayyan pada dirinya sendiri.


"Ayo cepat-cepat! Semuanya harus kembali terpasang dengan benar! Semuanya harus bisa seperti sebelumnya! " Teriak Rayyan pada orang-orang yang dia suruh untuk memperbaiki semuanya.


"Baik, Pak! " jawab salah satu dari mereka untuk mewakili semuanya.


"Apa-apaan ini, Pa! Kenapa pernikahan ini mendadak sekali! Pasti Papa masih memaksakan kehendak papa, Kan! "


Baru datang Akhsan langsung terbawa amarahnya, sementara Ikhsan masih diam. Dia sama sekali tidak mengetahui semua rencana ini, mereka hanya di minta pulang dengan cepat bahkan alasannya pun tidak di bicarakan.


Seketika Rayyan menoleh, dia menyunggingkan bibir dengan kesal, "Berapa lama kalian berada di negeri orang! Sampai-sampai kamu lupa mengucapkan salam! " sinis Rayyan.


"Assalamu'alaikum." Seru Akhsan dan Ikhsan bersamaan.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Rayyan ketus.


"Pa! Kenapa harus secepat ini, bahkan Faisal saja belum menikah, kenapa harus buru-buru menikahkan Aisyah sih, Pa," Protes Ikhsan.


"Apa papa minta kalian pulang hanya untuk berdebat dengan papa? Tidak! Papa minta kalian pulang karena kalian kakak-kakak dari Aisyah, kalian harus menyaksikan pernikahannya juga! " Kesal Rayyan.


"Kenapa papa, menjadi egois seperti ini sih, Pa!" ucap Akhsan.


"Masuklah, dan temui adik kalian! Dia sangat menantikan kalian. Dan ya, nasehati adik kalian supaya tidak punya pikiran untuk kabur lagi. Kalian sudah dewasa, papa percaya kalian tidak mau keluarga kita tercoreng karena perbuatannya yang sering memalukan, cepat masuk! " Ujar Rayyan.


"Masuk Akhsan, Ikhsan." geram Rayyan.


Mendengar tentang adiknya si kembar langsung masuk dengan terus mengelus dada, bahkan mereka berdua juga tak bisa berbuat apapun lagi.


___


Aisyah duduk di sudut kamarnya, memeluk kakinya sendiri dan menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangan yang berada di kakinya.


Dari pagi Aisyah sama sekali belum keluar dari kamar, bahkan dia masih mengenakan baju yang sama seperti tadi malam, baju yang masih basah karena air hujan.


Sedari tadi Keisha juga yang lainnya terus berusaha ingin bertemu dengannya, tapi Aisyah selalu bilang masih ingin sendiri.


π˜›π˜°π˜¬.. π˜›π˜°π˜¬... π˜›π˜°π˜¬...


"Assalamu'alaikum, Bakpao! Bukain pintu dong! Abang pulang nih! " Terdengar suara teriakan dari Ikhsan sepertinya.


"Bakpao! " Teriak lagi dan sepertinya kali ini adalah Akhsan.


"Kalau tidak bukan abang dobrak loh pintunya!"


Aisyah sama sekali tak peduli mau di rusak sekalian dia tak peduli.

__ADS_1


Lama menunggu tak ada respon apapun, Akhsan juga Ikhsan benar-benar berniat mendobrak pintu karena kunci cadangan pun tidak mereka dapatkan, sepertinya Aisyah memang sengaja melakukan itu.


"Abang buka pintunya ya! Satu, dua, tiga! "


π˜‰π˜³π˜’π˜¬... π˜‰π˜³π˜’π˜¬... π˜‰π˜³π˜’π˜¬...π˜‰π˜³π˜’π˜¬...


Usaha dari Akhsan juga Ikhsan akhirnya bisa membuka pintu di kamar Aisyah. Keduanya mengucapkan maaf sekaligus alhamdulillah setelah merusak pintu.


Akhsan juga Ikhsan mencari-cari Aisyah di mana-mana namun belum juga menemukannya, "Bakpao! Bakpao! Kamu di mana?" Teriak keduanya.


Keduanya terus mencari, hingga akhirnya Ikhsan terkejut saat menemukan Aisyah yang ada di pojokan yang tertutup almari.


"Astaghfirullah hal 'azim, Aisyah! " Ikhsan langsung berlari menghampiri Aisyah.


"Dek, dek! " Ikhsan menggoyangkan tubuh Aisyah, Ikhsan tambah terkejut saat melihat baju yang Aisyah kenakan adalah baju yang basah, bahkan mukena yang dia pakai juga sudah ikutan basah.


"Astaghfirullah, dek. Kenapa kamu jadi seperti ini?" Akhsan pun ikut menarik Aisyah dari sana.


"Bang," Aisyah tetap berusaha tersenyum, namun hanya senyuman yang getir lah yang berhasil dia keluarkan.


"Maafkan abang, dek. Maafkan abang karena kita juga tak bisa melakukan apapun," Ikhsan memeluk Aisyah, dia sangat menyesal karena tak bisa melakukan apapun dan juga tak bisa menemani Aisyah dalam menjalani ujiannya ini.


"Aisyah tidak apa-apa kok, Bang. Aisyah benar-benar tidak apa-apa. Aisyah mau mandi dulu sebentar."


Aisyah melepaskan diri dari Ikhsan, dia terus berusaha untuk tersenyum meskipun tidak di dalam hatinya.


"Hem.. " Akhsan juga Ikhsan hanya mengangguk, mereka benar-benar tidak tega melihat Aisyah yang seperti ini.


"Bang, apa yang harus kita lakukan? Aisyah benar-benar tidak bahagia dengan keputusan papa ini." Tanya Ikhsan.


"Aku juga bingung, Dek. Bahkan Rico juga tidak ada kabar sama sekali, entah di mana tuh anak."


"Bang, kenapa sekarang aku jadi khawatir dengan Rico ya?"


"Kenapa kamu malah mengkhawatirkannya?"


"Rico mempunyai janji yang harus dia tepati, Bang. Aku takut dia...?"


"Kamu benar, kita harus secepatnya menemukannya. Jika yang dia katakan dulu benar, berarti dia tengah menghalau sebuah masalah besar di luar sana."


"Itu yang aku takutkan., Bang."


___


Bersambung...


_______

__ADS_1


__ADS_2