Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
144.Tetap Bersabar


__ADS_3

Happy Reading..


___


Meyka berjalan seorang diri saat pulang dari kampus, dia tidak ada teman saat ini karena Shelvia juga tidak masuk, entah apa yang terjadi pada anak itu sampai-sampai dia tidak masuk kampus dan juga tak datang ke pesantren seperti biasanya.


Abi nya juga tak bisa menjemputnya jadi Meyka terpaksa jalan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan yang akan bisa mengantarkan dia pulang sampai rumah.


Dalam perjalanan Meyka terus diam lagian jika bicara juga mau sama siapa tak ada teman di sana. Sampai di jalan raya Meyka langsung duduk menunggu di halte bis. Tak banyak yang ada di sana hanya beberapa mahasiswa yang tidak Meyka kenal juga, dan mereka juga dari jurusan yang berbeda.


Tinnn...


Meyka cepat menoleh, dia pikir itu adalah klakson dari bis yang datang tapi ternyata itu adalah mobil Dari Dante yang sudah berhenti di depan halte.


"Kak Dante?" Meyka mengernyit, kenapa Dante datang lagi ke sana? kali ini tidak mungkin kebetulan lewat kan? mungkin Dante memang sengaja datang tapi untuk apa dan untuk siapa dia datang.


Dante turun dari mobil menghampiri Meyka yang sudah berdiri namun masih tetap diam di tempat.


"Kamu mau pulang?" tanya Dante dan Meyka mengangguk dengan cepat karena dia memang akan pulang sih, "lebih baik pulang bareng aku, kebetulan aku ada urusan di dekat sana," ucap Dante yang sepertinya tengah berbohong.


"Tapi, Kak," sebenarnya Meyka sangat ragu untuk ikut dengan Dante, tak tau kenapa sih, tapi Meyka merasa tidak enak saja. Meyka terus memandangi Dante dan mendapatkan anggukan kecil sekaligus senyum penuh harap, "baik deh, tapi apa tidak merepotkan kak Dante,"


"Tidak, yuk," ajak Dante.


Meyka berjalan dengan pelan mengikuti Dante menuju mobilnya. Dengan cepat Dante membukakan pintu mobil untuk Meyka, membuatnya malu karena merasa di spesial kan oleh Dante, "terima kasih, Kak."


"Hem.., " Dante mengangguk, setelah Meyka masuk dia langsung menutup pintu. Dante terlihat tersenyum dia begitu bahagia meskipun harus sedikit berbohong tapi tak menjadi masalah untuknya yang penting bisa bersama Meyka dan mengantarkan pulang dengan selamat sampai rumah.


Dante masuk mobil dengan cepat dia menyalakan mesin lalu mulai melajukan nya perlahan hingga akhirnya mulai di percepat saat sampai di jalan besar.


"Apa Kak Dante tidak kerja?" tanya Meyka memecah keheningan yang terjadi pada keduanya.


Dante melirik kecil lagi-lagi dia tersenyum kepada Meyka, "kerja, ini baru keluar karena jam istirahat juga karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan. Setelah semuanya beres aku akan kembali lagi ke Resto."

__ADS_1


"Hem..., kamu sudah lama tidak datang ke Resto bagaimana kalau kapan-kapan datang, aku ada menu baru yang belum pernah aku coba, aku akan memasaknya pas kamu datang, aku ingin kamu jadi orang pertama yang mencicipi nya dan memberikan komentar padaku," ucap Dante.


"Kenapa harus Meyka," Meyka mengernyit.


"Ya tidak apa-apa sih, hanya ingin saja," jawab Dante yang jelas dia tak ingin jujur jika itu adalah menu spesial yang sudah dia pelajari sejak beberapa hari dan ingin dia persembahkan untuk Meyka seorang.


"Hemm..., baik, besok Meyka akan datang," jawab Meyka menyetujui.


"Akan aku tunggu besok. aku akan siapin segalanya dari sekarang,"


"Hem..,"


Meskipun tidak tau pasti apa alasannya tapi Meyka mulai curiga dengan Dante yang sering datang dan mengantarkan untuk pulang. Namun Meyka tak berani bertanya karena itu adalah hak Dante.


____


Iqbal duduk menyendiri di Resto Nusantara, dia ingin sekali pergi menemui Shelvia tapi mamanya telah memerintahkan seseorang untuk selalu mengawasinya. Meskipun Iqbal pura-pura tidak tau dan biasa-biasa saja namun sebenarnya dia tau kalau setiap gerak-geriknya di intai oleh orang dan itu adalah suruhan dari Siska.


"Kenapa aku jadi seperti penjahat seperti ini, kenapa kemana-mana aku harus di awasi. Mama bener-bener kelewatan," gumamnya dengan kesal.


π˜—π˜­π˜Άπ˜¬π˜¬....


Sebuah tangan menepuk pundak Iqbal, orang itu juga langsung duduk di kursi sebelahnya.


"Kamu, Ric! tumben datang ke Resto apa sedang puasa makanya kamu datang," ucap Iqbal dengan suara yang angkuh.


Rico terkekeh, dia merasa lucu saja melihat Iqbal yang seperti sekarang. Masalah cintanya cukup rumit, ya sebelas dua belas seperti dirinya tapi Rico mending tidak di intai seperti penjahat.


Rico masih bebas kemanapun dia mau bahkan dia masih bebas menemui Aisyah waktu itu tapi sekarang Iqbal? dia sama sekali tak bisa menemui Shelvia.


"Kamu kenapa, Bal?! di tekuk seperti itu mukanya," tanya Rico memancing.


"Iya di tekuk, soalnya habis di setrika biar rapi," jawab Iqbal, sepertinya hatinya benar-benar tidak baik dia begitu sensi, hanya menjawab pertanyaan Rico saja nadanya harus ketus seperti itu.

__ADS_1


"Jangan di bikin pusing, Bal. Semua akan baik-baik saja, ya tapi kamu juga harus berjuang dan harus meyakinkan mamamu untuk bisa melupakan kebencian pada keluarga Shelvia sih, setelah itu baru kamu bisa bersama dia," ucap Rico.


Iqbal terhenyak, dia menoleh cepat ke arah Rico dia juga bingung bagaimana dan darimana Rico tau semua permasalahannya padahal dia belum mengatakan apapun.


"Darimana kamu tau?" tanyanya dengan kening yang semakin mengkerut.


Rico hanya santai saja saat Iqbal terus menatapnya tajam dan penuh curiga, apa sih yang tidak bisa Rico ketahui semua bisa dia ketahui tanpa siapapun mengatakannya.


"Tidak penting aku bisa tau darimana, yang penting kamu ingat apa yang aku katakan. Kalau aku bilang semua akan baik-baik saja pasti akan baik. Semuanya hanya butuh waktu saja, semua akan indah pada waktunya, Bal. Hanya saja, prosesnya saja yang kadang bikin darah tinggi," jawab Rico menjelaskan.


Iqbal menggeser kursinya untuk semakin dekat dengan Rico, dia benar-benar bingung pada Rico, "Ric! coba kamu katakan padaku, kamu tau dari mana, apa dari Shelvia? apa dia yang menceritakan pada istrimu dan kamu mengetahui darinya?" tebak Iqbal.


Rico menggeleng ya karena memang bukan dari istrinya dia tau, "sudah ya jangan terlalu kepo, tidak baik," jawab Rico.


"Ahh.., kamu nggak asyik, Ric! " Iqbal kembali menggeser menjauh dia kesal saja karena tak bisa mendapatkan penjelasan dari Rico.


"Kayak bocah kamu, Bal. Gitu saja ngambek, kayak cewek labil luh.. " ejek Rico di lanjutkan dengan kekehan kecil.


"Yang penting kamu harus ikhlas, Bal. Jalani dengan senyum juga kendalikan amarahmu, Mamamu maupun Shelvia adalah kedua wanita yang berarti untuk kamu bukan? dan aku juga yakin kamu tidak akan bisa memilih salah satunya, Jadi kamu harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan keduanya," ucap Rico menasehati.


"Kamu benar, Ric. Aku tak akan bisa memilih salah satunya aku harus bisa mendapatkan keduanya."


"Ric, boleh aku minta bantuan mu? aku sangat merindukan Shelvia tapi aku tak bisa pergi, bisakah aku pinjam motormu, aku nggak mungkin pergi dengan mobil noh ada mata-mata dari Mama," bisiknya pada Rico.


"Hahaha..., udah kayak buronan saja kamu, Bal. Oke deh aku bantu. Yuk masuk dulu, " ajak Rico.


Keduanya masuk ke dalam ruangan Rico, dengan cepat Rico melepaskan jaket yang dia pakai dan di berikan pada Iqbal, "pakai ini, kamu tetap akan ketahuan kalau masih pakai jaket mu," ucap Rico.


"Kamu memang cerdas, Rico," Iqbal begitu sumringah.


Keduanya saling tukar jaket demi untuk bisa keluar dari tempat itu tanpa di curigai oleh mata-mata dari Siska.


___

__ADS_1


Bersambung...


________


__ADS_2